-->

"Jelajahi perpustakaan: literasi, pengetahuan, dan rekomendasi bacaan tanpa batas!"

Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi ruang tumbuhnya ide, karakter, dan masa depan. Setiap halaman yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar dalam hidup seseorang.

20 Skill yang Wajib Dikuasai Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Sebelum Terjun ke Dunia Kerja

 

Menjadi mahasiswa Ilmu Perpustakaan bukan hanya tentang belajar mengelola buku. Di balik pekerjaan pustakawan terdapat berbagai keterampilan teknis, digital, administratif, komunikasi, pelayanan, hingga kemampuan mengelola informasi.

Mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan Ilmu Perpustakaan sebaiknya mulai mempersiapkan keterampilan tersebut sejak masih kuliah. Tujuannya bukan hanya agar mendapatkan nilai yang baik, tetapi agar setelah lulus memiliki kemampuan yang benar-benar dapat diterapkan ketika memasuki dunia kerja.

Lulusan Ilmu Perpustakaan dapat bekerja di berbagai jenis perpustakaan. Selain perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan umum, perpustakaan sekolah juga menjadi salah satu bidang yang dapat menjadi pilihan karier, baik pada jenjang SD, SMP, maupun SMA.

Lingkungan kerja setiap perpustakaan tentu memiliki karakteristik yang berbeda. Perpustakaan perguruan tinggi banyak melayani mahasiswa, dosen, dan peneliti. Perpustakaan umum melayani masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Perpustakaan khusus memiliki koleksi dan pengguna yang lebih spesifik.

Sementara itu, perpustakaan sekolah berhubungan erat dengan kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Pemustakanya dapat berupa siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Karena itu, mahasiswa yang ingin bekerja di perpustakaan sekolah perlu memiliki kemampuan tambahan dalam memahami karakter siswa, mengelola koleksi pendidikan, bekerja sama dengan guru, serta mendukung kegiatan literasi.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga membuat kompetensi pustakawan terus berubah. Perpustakaan tidak lagi hanya membutuhkan orang yang mampu mengelola koleksi tercetak, tetapi juga tenaga yang mampu mengelola data, menggunakan teknologi informasi, memberikan layanan digital, dan membantu pemustaka menemukan serta mengevaluasi informasi.

Lalu, keterampilan apa saja yang perlu dikuasai mahasiswa Ilmu Perpustakaan sebelum terjun ke dunia kerja?

1. Katalogisasi

Katalogisasi merupakan keterampilan dasar yang perlu dikuasai mahasiswa Ilmu Perpustakaan.

Mahasiswa perlu mampu mendeskripsikan bahan perpustakaan sehingga identitas dan karakteristik koleksi dapat diketahui dengan jelas.

Data yang perlu dipahami antara lain:

  • judul;

  • pengarang;

  • edisi;

  • tempat terbit;

  • penerbit;

  • tahun terbit;

  • ISBN;

  • jumlah halaman;

  • ukuran buku;

  • seri;

  • catatan;

  • subjek.

Jangan hanya mempelajari katalogisasi untuk menghadapi ujian. Cobalah mengambil buku secara langsung dan melakukan katalogisasi dari awal.

Perhatikan halaman judul, halaman balik judul, daftar isi, kata pengantar, dan bagian lain yang diperlukan.

Kemampuan melakukan katalogisasi secara praktis akan sangat berguna ketika bekerja di berbagai jenis perpustakaan.

2. Klasifikasi DDC

Skill berikutnya adalah klasifikasi.

Mahasiswa perlu memahami bagaimana menentukan nomor klasifikasi berdasarkan subjek atau isi bahan perpustakaan.

Dewey Decimal Classification atau DDC merupakan salah satu sistem klasifikasi yang penting untuk dipahami mahasiswa Ilmu Perpustakaan.

Mahasiswa tidak seharusnya hanya menghafalkan angka 000 sampai 900.

Yang lebih penting adalah memahami prinsip pengelompokan dan mampu mencari nomor klasifikasi yang tepat berdasarkan pedoman.

Latihan dapat dilakukan dengan mengambil berbagai jenis buku.

Misalnya:

  • buku bahasa;

  • buku sastra;

  • buku pendidikan;

  • buku sejarah;

  • buku komputer;

  • buku agama;

  • buku ilmu pengetahuan;

  • buku anak.

Semakin banyak latihan, semakin terasah kemampuan menentukan klasifikasi.

3. Menentukan Tajuk Subjek

Menentukan subjek merupakan keterampilan yang berkaitan erat dengan katalogisasi dan klasifikasi.

Mahasiswa perlu mampu menemukan topik utama yang dibahas dalam sebuah buku.

Jangan hanya mengandalkan judul.

Judul buku kadang bersifat umum atau menggunakan bahasa yang menarik. Isi sebenarnya baru dapat diketahui setelah melihat daftar isi, pendahuluan, ringkasan, atau bagian lain dari buku.

Kemampuan menentukan subjek akan membantu pemustaka menemukan informasi yang dibutuhkan.

4. Menentukan Nomor Panggil

Mahasiswa juga perlu memahami nomor panggil.

Nomor panggil merupakan identitas yang membantu menentukan lokasi buku di rak.

Mahasiswa harus memahami bagaimana nomor klasifikasi dikombinasikan dengan unsur lain sesuai sistem yang digunakan perpustakaan.

Contohnya dapat berupa kombinasi:

Nomor klasifikasi + tiga huruf nama pengarang + huruf awal judul.

Namun, format nomor panggil dapat disesuaikan dengan kebijakan perpustakaan.

Yang terpenting adalah mahasiswa memahami konsep dan mampu menerapkannya secara konsisten.

5. Mengolah Buku Sampai Siap Masuk Rak

Salah satu latihan terbaik bagi mahasiswa adalah mengolah satu buku secara lengkap.

Mulai dari:

pemeriksaan → inventarisasi → stempel → katalogisasi → klasifikasi → nomor panggil → label → barcode jika digunakan → penyampulan → shelving.

Jika mahasiswa mampu melakukan seluruh proses tersebut, ia akan memiliki gambaran nyata tentang pekerjaan teknis perpustakaan.

Kemampuan ini sangat berguna ketika nantinya bekerja di perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan umum, maupun perpustakaan khusus.

Standar kompetensi pustakawan menempatkan pengorganisasian bahan perpustakaan sebagai salah satu bagian penting kompetensi profesional pustakawan (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2017).

6. Menguasai Microsoft Excel atau Spreadsheet

Pustakawan berhadapan dengan data dalam jumlah besar.

Karena itu, mahasiswa sebaiknya menguasai Excel atau aplikasi spreadsheet lainnya.

Minimal mahasiswa mampu:

  • membuat tabel;

  • melakukan sort;

  • menggunakan filter;

  • melakukan pencarian data;

  • menggunakan formula dasar;

  • membuat rekapitulasi;

  • menghitung jumlah data;

  • membuat grafik sederhana.

Excel dapat digunakan untuk mengelola:

  • data koleksi;

  • inventaris;

  • data anggota;

  • statistik pengunjung;

  • peminjaman;

  • pengadaan;

  • kegiatan perpustakaan.

Skill ini sangat berguna terutama di perpustakaan yang belum memiliki sistem otomasi lengkap.

7. Menggunakan Aplikasi Otomasi Perpustakaan

Perpustakaan modern semakin banyak memanfaatkan teknologi.

Mahasiswa sebaiknya mengenal aplikasi otomasi perpustakaan.

Tidak harus menguasai semua aplikasi, tetapi memahami konsep dasarnya.

Misalnya:

  • database bibliografis;

  • data eksemplar;

  • data anggota;

  • sirkulasi;

  • katalog online;

  • barcode;

  • laporan;

  • pencadangan data.

Kemampuan menggunakan aplikasi akan menjadi nilai tambah ketika mahasiswa memasuki dunia kerja.

Perkembangan kompetensi pustakawan juga semakin berkaitan dengan penerapan teknologi informasi dan komunikasi. Perpusnas dalam proses pembaruan kompetensi bidang perpustakaan menekankan kebutuhan agar kompetensi tenaga perpustakaan tetap sesuai dengan perkembangan teknologi dan transformasi digital (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2026).

8. Literasi Informasi

Pustakawan bekerja dengan informasi.

Oleh sebab itu, mahasiswa harus mampu mencari, menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dengan tepat.

Mahasiswa perlu mampu:

  • menentukan kebutuhan informasi;

  • menyusun kata kunci;

  • menggunakan katalog;

  • melakukan penelusuran informasi;

  • menemukan sumber akademik;

  • mengevaluasi sumber;

  • membandingkan informasi;

  • mengenali informasi yang meragukan;

  • menggunakan informasi secara etis.

Kemampuan tersebut nantinya juga dapat diajarkan kepada pemustaka.

Pustakawan bukan hanya membantu menemukan informasi, tetapi juga membantu pemustaka memahami cara mendapatkan informasi yang relevan dan dapat dipercaya.

9. Kemampuan Melayani Pemustaka

Sebagus apa pun koleksi perpustakaan, tetap dibutuhkan pustakawan yang mampu memberikan pelayanan.

Mahasiswa perlu berlatih:

  • menyambut pemustaka;

  • memahami kebutuhan informasi;

  • membantu menemukan koleksi;

  • memberikan petunjuk penggunaan perpustakaan;

  • menjawab pertanyaan;

  • memberikan rekomendasi;

  • menangani keluhan;

  • memberikan layanan secara ramah dan profesional.

Kemampuan pelayanan ini berlaku di semua jenis perpustakaan.

Namun, cara penerapannya tentu berbeda sesuai karakter pemustaka.

10. Komunikasi

Komunikasi merupakan soft skill yang penting bagi pustakawan.

Pustakawan harus berkomunikasi dengan berbagai pihak.

Di perpustakaan sekolah, misalnya, pustakawan dapat berkomunikasi dengan:

  • siswa;

  • guru;

  • kepala sekolah;

  • tenaga kependidikan;

  • orang tua;

  • pengelola kegiatan sekolah.

Di perpustakaan perguruan tinggi, pustakawan berkomunikasi dengan mahasiswa, dosen, peneliti, dan tenaga kependidikan.

Di perpustakaan umum, pemustakanya jauh lebih beragam.

Karena itu, mahasiswa perlu belajar menyampaikan informasi dengan jelas, sopan, dan mudah dipahami.

11. Memahami Karakteristik Perpustakaan Sekolah

Mahasiswa Ilmu Perpustakaan sebaiknya mengenal karakter perpustakaan sekolah meskipun nantinya tidak bekerja di sana.

Perpustakaan sekolah memiliki fungsi yang berkaitan dengan proses pendidikan dan pembelajaran.

Pemustakanya dapat berasal dari jenjang:

  • SD/MI;

  • SMP/MTs;

  • SMA/MA/SMK.

Setiap jenjang memiliki karakteristik yang berbeda.

Siswa SD membutuhkan layanan yang lebih sederhana, komunikatif, dan menarik. Koleksinya juga perlu mempertimbangkan perkembangan usia dan kemampuan membaca.

Siswa SMP mulai memiliki kebutuhan informasi yang lebih luas dan dapat diarahkan pada keterampilan penelusuran informasi.

Siswa SMA memiliki kebutuhan yang semakin beragam, termasuk bahan untuk mendukung pembelajaran, tugas, persiapan studi lanjut, dan pengembangan minat.

Karena itu, mahasiswa yang ingin bekerja di perpustakaan sekolah perlu memiliki kemampuan memahami karakter pemustaka anak dan remaja.

12. Mengelola Koleksi Perpustakaan Sekolah

Koleksi perpustakaan sekolah memiliki karakter yang cukup beragam.

Tidak hanya buku cerita, tetapi juga dapat terdiri atas:

  • buku pelajaran;

  • buku pengayaan;

  • buku referensi;

  • ensiklopedia;

  • kamus;

  • atlas;

  • buku keterampilan;

  • buku pengetahuan;

  • bacaan anak dan remaja.

Mahasiswa perlu memahami bahwa pemilihan dan pengelolaan koleksi sekolah harus memperhatikan kebutuhan peserta didik dan mendukung kegiatan pendidikan.

Kemampuan pengelolaan koleksi tersebut akan menjadi bekal penting ketika bekerja di SD, SMP, maupun SMA.

13. Membuat Administrasi Perpustakaan

Mahasiswa jangan hanya belajar mengolah buku.

Administrasi juga merupakan bagian penting dalam pekerjaan perpustakaan.

Mahasiswa sebaiknya mampu membuat:

  • program kerja;

  • SOP;

  • laporan kegiatan;

  • statistik perpustakaan;

  • formulir;

  • daftar inventaris;

  • berita acara;

  • jadwal layanan;

  • dokumen pengadaan;

  • dokumen evaluasi.

Skill administrasi sangat penting di perpustakaan sekolah.

Seorang pustakawan sekolah dapat terlibat dalam berbagai pekerjaan administratif karena perpustakaan merupakan bagian dari sistem penyelenggaraan sekolah.

14. Membuat Program Literasi

Khusus bagi mahasiswa yang ingin masuk perpustakaan sekolah, kemampuan membuat program literasi merupakan nilai tambah.

Program tidak harus rumit.

Contohnya:

  • kunjungan kelas;

  • rekomendasi buku;

  • membaca bersama;

  • bercerita;

  • resensi buku;

  • tantangan membaca;

  • pameran buku;

  • pojok baca;

  • kuis literasi;

  • kegiatan pengenalan perpustakaan.

Mahasiswa perlu belajar membuat program yang sesuai dengan usia siswa dan kemampuan sekolah.

Tujuannya bukan membuat kegiatan sebanyak mungkin, tetapi membuat kegiatan yang benar-benar menarik dan bermanfaat.

15. Mampu Bekerja Sama dengan Guru

Ini merupakan salah satu skill yang sangat penting bagi calon pustakawan sekolah.

Pustakawan tidak dapat bekerja sendiri.

Kerja sama dengan guru dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, misalnya:

  • menyediakan koleksi pendukung pembelajaran;

  • membantu siswa mencari sumber informasi;

  • membuat kegiatan literasi;

  • membuat daftar bacaan;

  • menyelenggarakan kegiatan perpustakaan;

  • mendukung proyek pembelajaran.

Pustakawan yang mampu berkomunikasi dan bekerja sama dengan guru akan lebih mudah menempatkan perpustakaan sebagai bagian dari kegiatan pendidikan.

16. Memahami Stock Opname dan Penyiangan

Mahasiswa perlu memahami bahwa koleksi perpustakaan harus dievaluasi secara berkala.

Stock opname dilakukan untuk mengetahui kondisi dan keberadaan koleksi.

Mahasiswa perlu belajar:

  • mencocokkan data dengan koleksi fisik;

  • mengidentifikasi buku yang hilang;

  • mencatat buku yang rusak;

  • menemukan data yang tidak sesuai;

  • memperbarui data koleksi.

Selain itu, mahasiswa perlu mengenal penyiangan atau weeding.

Tidak semua buku harus dipertahankan selamanya.

Koleksi yang sudah rusak berat, tidak relevan, atau tidak sesuai kebijakan pengembangan koleksi dapat dievaluasi untuk ditindaklanjuti sesuai prosedur perpustakaan.

17. Perawatan Koleksi

Buku dapat mengalami kerusakan akibat penggunaan, debu, kelembapan, serangga, maupun penyimpanan yang tidak tepat.

Mahasiswa perlu memahami dasar perawatan koleksi.

Misalnya:

  • menjaga kebersihan rak;

  • menjaga sirkulasi udara;

  • menangani buku yang rusak;

  • menyimpan buku dengan posisi yang benar;

  • menghindari perlakuan yang dapat mempercepat kerusakan.

Keterampilan ini berlaku di semua jenis perpustakaan.

18. Statistik dan Pengolahan Data

Pustakawan perlu mampu menggunakan data untuk melihat perkembangan perpustakaan.

Data yang dapat dianalisis antara lain:

  • jumlah pengunjung;

  • jumlah peminjaman;

  • jumlah anggota aktif;

  • koleksi yang paling sering dipinjam;

  • pertumbuhan koleksi;

  • jumlah kegiatan;

  • penggunaan layanan digital.

Di perpustakaan sekolah, data tersebut dapat membantu menentukan program berikutnya.

Misalnya, jika buku cerita menjadi koleksi yang paling sering dipinjam siswa, data tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan koleksi.

19. Menulis dan Membuat Konten Digital

Pustakawan masa kini juga perlu mampu berkomunikasi melalui media digital.

Mahasiswa sebaiknya belajar membuat:

  • artikel;

  • berita kegiatan;

  • rekomendasi buku;

  • poster;

  • infografis;

  • konten media sosial;

  • video pendek;

  • materi promosi perpustakaan.

Tidak harus menjadi desainer profesional.

Kemampuan dasar menggunakan aplikasi desain dan membuat konten sederhana sudah menjadi nilai tambah.

Untuk perpustakaan sekolah, media sosial dan konten visual dapat digunakan untuk memperkenalkan koleksi dan kegiatan kepada siswa.

20. Kemampuan Beradaptasi dan Memecahkan Masalah

Skill terakhir yang tidak kalah penting adalah kemampuan beradaptasi.

Kondisi setiap perpustakaan berbeda.

Ada perpustakaan yang sudah memiliki sistem otomasi lengkap. Ada pula yang masih menggunakan pencatatan sederhana.

Ada perpustakaan dengan banyak pustakawan. Ada juga yang hanya memiliki sedikit tenaga.

Ada perpustakaan dengan koleksi besar, sementara perpustakaan sekolah tertentu memiliki koleksi yang terbatas.

Karena itu, lulusan Ilmu Perpustakaan harus mampu melihat kondisi yang ada dan mencari solusi yang sesuai.

Pustakawan tidak harus selalu menggunakan teknologi paling mahal atau sistem paling rumit.

Yang penting adalah mampu menciptakan sistem yang efektif, tertib, dapat dipertanggungjawabkan, dan sesuai kebutuhan pemustaka.

Skill Apa yang Paling Penting untuk Mahasiswa?

Dari berbagai keterampilan tersebut, mahasiswa dapat membuat prioritas.

Skill inti kepustakawanan

  • katalogisasi;

  • klasifikasi;

  • tajuk subjek;

  • nomor panggil;

  • inventarisasi;

  • pengelolaan koleksi;

  • layanan pemustaka.

Skill digital

  • Microsoft Word;

  • Excel;

  • spreadsheet;

  • aplikasi otomasi;

  • pengelolaan database;

  • barcode;

  • penelusuran informasi digital.

Skill administrasi

  • membuat SOP;

  • membuat program kerja;

  • membuat laporan;

  • statistik;

  • pengarsipan;

  • dokumentasi.

Skill komunikasi dan pelayanan

  • komunikasi;

  • kerja sama;

  • pelayanan;

  • literasi informasi;

  • presentasi;

  • pemecahan masalah.

Skill khusus perpustakaan sekolah

  • memahami karakter siswa;

  • mengelola koleksi anak dan remaja;

  • mendukung pembelajaran;

  • bekerja sama dengan guru;

  • membuat kegiatan literasi;

  • mempromosikan perpustakaan.

Dengan pembagian tersebut, mahasiswa dapat melihat bahwa kompetensi pustakawan sebenarnya cukup luas.

Mengapa Mahasiswa Perlu Memahami Berbagai Jenis Perpustakaan?

Jangan sampai mahasiswa hanya mempersiapkan diri untuk satu jenis perpustakaan.

Setelah lulus, kesempatan kerja dapat berasal dari berbagai lingkungan.

Perpustakaan sekolah

Melayani siswa dan warga sekolah serta mendukung proses pendidikan.

Perpustakaan perguruan tinggi

Mendukung kebutuhan informasi mahasiswa, dosen, dan peneliti.

Perpustakaan umum

Melayani masyarakat dengan kebutuhan informasi yang beragam.

Perpustakaan khusus

Menyediakan informasi sesuai bidang lembaga atau organisasi tertentu.

Meskipun karakter setiap perpustakaan berbeda, banyak kompetensi dasar yang tetap sama.

Katalogisasi, klasifikasi, pengelolaan koleksi, layanan, literasi informasi, teknologi, dan administrasi tetap diperlukan.

Karena itu, mahasiswa sebaiknya memiliki kompetensi dasar yang kuat sekaligus kemampuan beradaptasi.

Jangan Menunggu Lulus untuk Membangun Skill

Kesalahan yang sering terjadi adalah mahasiswa baru mulai memikirkan keterampilan kerja ketika sudah mendekati wisuda.

Padahal skill dapat dibangun sejak semester awal.

Misalnya:

Semester awal: belajar komputer, Excel, katalogisasi, dan klasifikasi.

Semester berikutnya: latihan pengolahan koleksi dan aplikasi otomasi.

Tahap berikutnya: belajar administrasi, layanan, dan literasi informasi.

Menjelang lulus: membangun portofolio dan pengalaman praktik.

Dengan cara tersebut, mahasiswa tidak hanya membawa ijazah ketika lulus.

Ia juga membawa pengalaman dan bukti keterampilan.

Bangun Portofolio Sebelum Lulus

Portofolio dapat menjadi bukti bahwa mahasiswa benar-benar mampu melakukan pekerjaan.

Contoh portofolio yang dapat dibuat:

  1. Contoh katalogisasi 10 buku.

  2. Contoh klasifikasi 10 buku.

  3. Contoh nomor panggil.

  4. Contoh inventarisasi.

  5. Contoh SOP perpustakaan.

  6. Contoh program kerja.

  7. Contoh laporan kegiatan.

  8. Contoh pengolahan data Excel.

  9. Contoh penggunaan aplikasi otomasi.

  10. Contoh poster perpustakaan.

  11. Contoh artikel perpustakaan.

  12. Contoh program literasi.

  13. Dokumentasi praktik pengolahan koleksi.

  14. Contoh analisis statistik perpustakaan.

Portofolio tersebut dapat disimpan dalam bentuk digital.

Dengan demikian, ketika melamar pekerjaan, mahasiswa dapat menunjukkan kemampuan yang dimiliki.

Perpustakaan Sekolah sebagai Salah Satu Pilihan Karier

Bagi mahasiswa Ilmu Perpustakaan, perpustakaan sekolah layak dipertimbangkan sebagai salah satu lingkungan kerja.

Perpustakaan sekolah terdapat pada berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA/SMK.

Masing-masing memiliki karakteristik pemustaka yang berbeda.

Mahasiswa yang tertarik bekerja di perpustakaan sekolah sebaiknya mempersiapkan kemampuan teknis sekaligus kemampuan pendidikan dan pelayanan anak.

Namun, pengalaman mempelajari perpustakaan sekolah tidak berarti mahasiswa harus membatasi diri.

Kemampuan yang diperoleh tetap dapat digunakan ketika nantinya bekerja di perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan umum, perpustakaan khusus, atau bidang informasi lainnya.

Dengan kata lain, skill kepustakawanan adalah fondasi, sedangkan jenis perpustakaan menjadi lingkungan tempat skill tersebut diterapkan.

Kesimpulan

Mahasiswa Ilmu Perpustakaan perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi dunia kerja dengan menguasai kombinasi keterampilan teknis, digital, administratif, komunikasi, dan pelayanan.

Keterampilan teknis seperti katalogisasi, klasifikasi, penentuan subjek, nomor panggil, inventarisasi, dan pengolahan koleksi merupakan fondasi yang perlu dikuasai.

Di era digital, kemampuan tersebut perlu dilengkapi dengan Excel, aplikasi otomasi, pengelolaan data, penelusuran informasi, literasi informasi, dan kemampuan menggunakan teknologi.

Mahasiswa juga perlu mengembangkan kemampuan yang berkaitan dengan manusia, seperti komunikasi, pelayanan, kerja sama, pemecahan masalah, dan kemampuan beradaptasi.

Bagi mahasiswa yang ingin bekerja di perpustakaan sekolah, ada tambahan keterampilan yang perlu dipersiapkan, antara lain memahami karakter siswa SD, SMP, dan SMA, mengelola koleksi pendidikan dan bacaan anak, membuat kegiatan literasi, serta bekerja sama dengan guru dan warga sekolah.

Namun, mahasiswa tidak perlu membatasi diri hanya pada satu jenis perpustakaan. Kompetensi yang dibangun selama kuliah dapat diterapkan di perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan umum, perpustakaan khusus, maupun lingkungan kerja yang membutuhkan pengelolaan informasi.

Pada akhirnya, kuliah Ilmu Perpustakaan sebaiknya tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi juga lulusan yang memiliki keterampilan nyata dan siap bekerja.

Karena itu, selama masih menjadi mahasiswa, mulailah bertanya:

“Skill apa yang sudah benar-benar bisa saya kerjakan, bukan hanya saya pahami?”

Jika pertanyaan tersebut dijawab dengan latihan dan portofolio, mahasiswa akan memiliki bekal yang jauh lebih kuat ketika waktunya terjun ke dunia kerja.




Referensi

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2017). Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2017 tentang Standar Kompetensi Pustakawan. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Dachliyani, L. (2018). Literasi informasi: Kompetensi sebagai pendukung pustakawan bergerak. MADIKA: Media Informasi dan Komunikasi Diklat Kepustakawanan, 4(2). Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Daryono. (2020). Kompetensi pustakawan berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) di era perpustakaan digital. MADIKA: Media Informasi dan Komunikasi Diklat Kepustakawanan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Keahlian Khusus Pustakawan SD: 10 Kemampuan Penting yang Harus Dimiliki

 


Pustakawan sekolah dasar memiliki peran yang sangat penting dalam membangun kebiasaan membaca dan mengenalkan dunia informasi kepada anak sejak dini. Perpustakaan SD bukan sekadar tempat menyimpan buku pelajaran dan buku cerita, tetapi dapat menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi siswa.

Karakteristik pemustaka di sekolah dasar juga berbeda dengan pemustaka di jenjang pendidikan lainnya. Anak SD memiliki tingkat perkembangan, kemampuan membaca, minat, perhatian, dan kebutuhan informasi yang beragam. Karena itu, pustakawan SD membutuhkan keahlian khusus agar mampu memberikan layanan yang sesuai dengan karakter anak.

Seorang pustakawan SD mungkin harus menghadapi siswa kelas 1 yang baru belajar membaca, siswa kelas 3 yang mulai menyukai cerita, hingga siswa kelas 6 yang membutuhkan informasi untuk menyelesaikan tugas. Cara melayani mereka tentu tidak dapat disamakan.

Selain kemampuan teknis perpustakaan seperti inventarisasi, klasifikasi, katalogisasi, dan sirkulasi, pustakawan SD perlu memiliki keterampilan lain yang lebih spesifik.

Lalu, keahlian khusus apa yang harus dimiliki pustakawan SD?

Mengapa Pustakawan SD Membutuhkan Keahlian Khusus?

Anak-anak bukanlah pemustaka dewasa dalam ukuran kecil. Mereka memiliki kebutuhan dan karakteristik yang berbeda.

Anak SD umumnya membutuhkan pendekatan yang lebih sederhana, komunikatif, dan menyenangkan. Mereka mungkin belum mampu menjelaskan dengan tepat informasi apa yang sedang dicari. Bahkan, sebagian siswa datang ke perpustakaan bukan untuk mencari informasi, tetapi sekadar ingin melihat-lihat buku atau berkumpul bersama teman.

Dalam situasi seperti ini, pustakawan perlu mampu memahami kebutuhan anak dan mengarahkannya secara positif.

Perpustakaan sekolah sendiri merupakan bagian dari lingkungan pendidikan. Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah mencakup berbagai aspek penyelenggaraan perpustakaan, termasuk koleksi, sarana dan prasarana, pelayanan, tenaga, serta pengelolaan.

Artinya, pustakawan SD tidak hanya berhadapan dengan buku, tetapi juga dengan kegiatan pendidikan dan perkembangan peserta didik.

10 Keahlian Khusus yang Perlu Dimiliki Pustakawan SD

1. Memahami Karakteristik Anak Usia SD

Keahlian pertama yang penting adalah kemampuan memahami karakteristik anak usia sekolah dasar.

Siswa kelas 1 tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan siswa kelas 6. Anak kelas rendah mungkin lebih tertarik pada buku bergambar dengan teks pendek, sementara siswa kelas tinggi mulai mampu membaca buku dengan cerita yang lebih panjang dan informasi yang lebih kompleks.

Pustakawan tidak harus menjadi ahli psikologi anak. Namun, pemahaman dasar mengenai perkembangan anak akan sangat membantu dalam memberikan layanan.

Misalnya, ketika seorang siswa kelas 1 kesulitan menemukan buku, pustakawan tidak cukup hanya mengatakan, “Cari sendiri di rak.”

Pustakawan dapat membantu dengan menunjukkan beberapa pilihan buku dan menjelaskan dengan bahasa yang sederhana.

Pendekatan seperti ini dapat membuat anak merasa diterima dan nyaman berada di perpustakaan.

2. Mampu Memilih Bacaan yang Sesuai untuk Anak

Tidak semua buku anak otomatis sesuai untuk semua usia.

Pustakawan SD perlu memiliki kemampuan memilih bahan bacaan berdasarkan tingkat perkembangan dan kemampuan membaca siswa.

Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • usia pembaca;

  • tingkat kesulitan bahasa;

  • panjang teks;

  • ukuran dan jenis huruf;

  • ilustrasi;

  • tema cerita;

  • kualitas isi;

  • nilai edukatif;

  • keamanan dan kesesuaian konten; serta

  • minat siswa.

Koleksi perpustakaan SD sebaiknya tidak hanya berisi buku pelajaran.

Buku cerita, dongeng, pengetahuan populer, komik edukatif, ensiklopedia anak, atlas, kamus bergambar, buku aktivitas, dan bacaan lain yang sesuai dapat membantu memperkaya pengalaman membaca siswa.

Kemampuan memilih koleksi yang tepat membuat pustakawan tidak sekadar mengumpulkan buku, tetapi benar-benar membangun koleksi yang sesuai dengan kebutuhan anak.

3. Memiliki Kemampuan Storytelling

Storytelling atau bercerita merupakan salah satu keahlian yang sangat bermanfaat bagi pustakawan SD.

Anak-anak umumnya menyukai cerita. Karena itu, kegiatan bercerita dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan buku dan membangun ketertarikan terhadap perpustakaan.

Pustakawan tidak harus menjadi pendongeng profesional.

Kemampuan dasar seperti membaca cerita dengan ekspresi, mengubah intonasi suara, menggunakan gerakan sederhana, dan mengajak anak berinteraksi sudah dapat membuat kegiatan membaca menjadi lebih menarik.

Misalnya, setelah membacakan sebuah cerita, pustakawan dapat bertanya:

“Menurut kalian, mengapa tokoh utama melakukan itu?”

“Atau kalau kalian menjadi tokoh tersebut, apa yang akan kalian lakukan?”

Pertanyaan sederhana seperti itu dapat membuat anak tidak hanya mendengarkan, tetapi juga berpikir dan berbicara.

4. Mampu Menumbuhkan Minat Baca

Pustakawan SD memiliki posisi strategis dalam membantu membangun kebiasaan membaca.

Namun, minat baca anak tidak dapat dipaksakan hanya dengan mengatakan bahwa membaca itu penting.

Pustakawan perlu menciptakan pengalaman membaca yang menyenangkan.

Misalnya dengan membuat:

  • pojok baca;

  • rekomendasi buku mingguan;

  • tantangan membaca;

  • kartu atau jurnal membaca;

  • pajangan buku baru;

  • kegiatan membaca bersama;

  • storytelling;

  • lomba sederhana;

  • pameran buku;

  • daftar buku favorit siswa.

Kegiatan tersebut dapat membuat perpustakaan terasa lebih hidup.

Pustakawan juga perlu memahami bahwa tidak semua anak langsung menyukai buku yang sama. Ada anak yang menyukai cerita, ada yang menyukai hewan, olahraga, luar angkasa, eksperimen, komik, sejarah, atau gambar.

Minat tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan membaca.

5. Mampu Membimbing Anak Menggunakan Perpustakaan

Bagi sebagian siswa kelas rendah, perpustakaan merupakan lingkungan yang masih baru.

Mereka mungkin belum mengetahui cara mencari buku, cara membaca label rak, aturan peminjaman, atau cara mengembalikan buku.

Pustakawan perlu mengajarkan keterampilan dasar tersebut secara bertahap.

Misalnya, siswa dapat diajarkan:

  1. mengenal bagian-bagian perpustakaan;

  2. memahami aturan sederhana;

  3. mengenal jenis koleksi;

  4. mengetahui cara mencari buku;

  5. memahami cara meminjam;

  6. menjaga buku;

  7. mengembalikan buku tepat waktu.

Untuk siswa kelas rendah, penjelasan sebaiknya disampaikan dengan bahasa sederhana dan praktik langsung.

Sementara untuk kelas tinggi, pustakawan dapat mulai mengenalkan katalog, pencarian informasi, dan penggunaan sumber digital.

6. Memiliki Kemampuan Literasi Informasi Anak

Anak SD sekarang tumbuh dalam lingkungan yang penuh informasi.

Mereka dapat menemukan informasi melalui Google, YouTube, media sosial, aplikasi, dan berbagai platform digital.

Namun, kemampuan menemukan informasi tidak otomatis berarti mampu menentukan apakah informasi tersebut benar.

Pustakawan dapat mulai mengenalkan literasi informasi sejak usia sekolah dasar.

Materinya tidak perlu rumit.

Misalnya, siswa dapat diajak memahami:

  • siapa yang membuat informasi;

  • dari mana informasi berasal;

  • apakah informasi tersebut masuk akal;

  • kapan informasi dibuat;

  • apakah ada sumber lain yang mendukung;

  • dan mengapa kita tidak boleh langsung percaya pada semua informasi di internet.

Pembelajaran seperti ini sangat penting karena anak perlu memiliki kebiasaan memeriksa informasi sejak dini.

7. Mampu Berkomunikasi dengan Anak

Kemampuan komunikasi pustakawan SD tidak dapat disamakan dengan komunikasi kepada pemustaka dewasa.

Bahasa yang digunakan harus mudah dipahami.

Pustakawan perlu menghindari istilah yang terlalu teknis ketika berbicara dengan siswa kelas rendah.

Misalnya, daripada mengatakan:

“Silakan melakukan penelusuran berdasarkan nomor klasifikasi.”

Lebih mudah mengatakan:

“Kalau kamu mencari buku tentang hewan, coba kita lihat rak ini.”

Cara berbicara yang sederhana membuat anak lebih mudah memahami instruksi.

Selain itu, pustakawan perlu memiliki kesabaran. Anak-anak mungkin bertanya hal yang sama berkali-kali, berbicara terlalu keras, atau belum memahami aturan perpustakaan.

Pustakawan perlu mengarahkan mereka tanpa membuat anak merasa takut datang ke perpustakaan.

8. Mampu Mengelola Perpustakaan sebagai Ruang yang Ramah Anak

Keahlian khusus pustakawan SD juga berkaitan dengan kemampuan menciptakan suasana perpustakaan yang nyaman bagi anak.

Ruang perpustakaan sebaiknya tidak hanya dipenuhi rak buku.

Jika memungkinkan, dapat disediakan area membaca yang nyaman, pajangan buku, sudut cerita, atau ruang untuk kegiatan kelompok.

Pustakawan dapat membantu mengatur koleksi agar anak mudah menemukan buku.

Untuk siswa kelas rendah, misalnya, koleksi dapat dikelompokkan dengan cara yang lebih sederhana sehingga mereka tidak merasa kesulitan ketika mencari bacaan.

Lingkungan yang ramah anak dapat membuat siswa merasa bahwa perpustakaan merupakan tempat yang menyenangkan, bukan tempat yang penuh larangan.

9. Mampu Mengelola Kegiatan Literasi Sekolah

Pustakawan SD juga perlu memiliki kemampuan mengelola kegiatan literasi yang sesuai dengan kondisi sekolah.

Kegiatan literasi tidak harus selalu berupa membaca buku dalam waktu tertentu.

Pustakawan dapat mengembangkan kegiatan seperti:

  • membaca bersama;

  • membaca nyaring;

  • storytelling;

  • rekomendasi buku;

  • jurnal membaca;

  • pameran karya siswa;

  • resensi sederhana;

  • membuat poster berdasarkan buku;

  • kuis tentang buku;

  • berbagi cerita;

  • kunjungan terjadwal ke perpustakaan.

Kegiatan tersebut sebaiknya disesuaikan dengan usia siswa dan tidak membuat membaca terasa sebagai tugas tambahan yang membosankan.

Pustakawan dapat bekerja sama dengan guru untuk menghubungkan koleksi perpustakaan dengan kegiatan pembelajaran.

Dengan demikian, perpustakaan dapat menjadi bagian dari proses belajar di sekolah.

10. Memahami Dasar Perlindungan dan Keamanan Anak

Pustakawan SD bekerja dengan anak-anak sehingga perlu memahami prinsip dasar lingkungan yang aman dan nyaman bagi siswa.

Pustakawan perlu menjaga komunikasi tetap profesional, menghargai privasi anak, serta menciptakan suasana perpustakaan yang bebas dari tindakan yang membuat siswa merasa terintimidasi.

Ketika terjadi konflik antarsiswa di perpustakaan, pustakawan perlu mengetahui batas perannya dan berkoordinasi dengan guru atau pihak sekolah apabila diperlukan.

Keamanan anak bukan hanya berkaitan dengan kondisi fisik ruangan, tetapi juga dengan bagaimana anak diperlakukan ketika berada di perpustakaan.

Perpustakaan seharusnya menjadi salah satu ruang sekolah yang membuat anak merasa aman untuk membaca, bertanya, dan belajar.

Keahlian Teknis Tetap Menjadi Dasar

Walaupun memiliki keahlian khusus dalam menghadapi anak, pustakawan SD tetap harus menguasai pekerjaan teknis perpustakaan.

Kemampuan tersebut antara lain:

  • inventarisasi;

  • klasifikasi;

  • katalogisasi;

  • pelabelan;

  • layanan sirkulasi;

  • pemeliharaan koleksi;

  • penyiangan;

  • pengelolaan data;

  • statistik perpustakaan; dan

  • penggunaan sistem informasi.

Keahlian khusus dan keahlian teknis sebenarnya saling melengkapi.

Pustakawan yang pandai berinteraksi dengan anak tetapi tidak mampu mengelola koleksi akan mengalami kesulitan dalam menyediakan bahan bacaan.

Sebaliknya, pustakawan yang sangat baik dalam katalogisasi tetapi tidak mampu berkomunikasi dengan siswa juga akan kesulitan membangun perpustakaan yang aktif.

Karena itu, pustakawan SD idealnya memiliki dua kemampuan sekaligus: kemampuan mengelola perpustakaan dan kemampuan memahami pemustakanya.

Pustakawan SD Tidak Harus Menjadi Guru

Pustakawan sekolah memang bekerja dalam lingkungan pendidikan, tetapi pustakawan tidak harus mengambil alih tugas guru.

Peran pustakawan adalah mendukung proses pendidikan melalui layanan dan sumber informasi yang tersedia di perpustakaan.

Pustakawan dapat membantu siswa menemukan buku, mengenalkan cara mencari informasi, mengadakan kegiatan literasi, dan menyediakan lingkungan membaca yang nyaman.

Sementara kegiatan pembelajaran utama tetap menjadi tanggung jawab guru sesuai tugas dan kewenangannya.

Kolaborasi antara guru dan pustakawan justru dapat membuat fungsi perpustakaan menjadi lebih optimal.

Misalnya, ketika guru mengajarkan tema tertentu, pustakawan dapat membantu menyiapkan koleksi yang relevan.

Apakah Pustakawan SD Harus Pandai Berbicara di Depan Banyak Orang?

Tidak selalu.

Kemampuan berbicara di depan banyak orang memang bermanfaat, terutama ketika pustakawan mengadakan kegiatan literasi atau storytelling.

Namun, menjadi pustakawan SD tidak berarti harus selalu tampil di depan banyak siswa.

Pustakawan yang tidak terlalu nyaman berbicara di depan kelompok besar tetap dapat memberikan layanan yang baik.

Kegiatan dapat dilakukan dalam kelompok kecil. Pustakawan juga dapat menggunakan buku, poster, kartu rekomendasi, video, atau media digital sebagai alat bantu.

Yang terpenting adalah mampu berkomunikasi dengan siswa secara ramah dan efektif.

Teknologi Juga Perlu Dikenalkan kepada Anak

Pustakawan SD masa kini juga perlu memiliki kemampuan dasar dalam teknologi informasi.

Perpustakaan dapat menjadi tempat anak belajar menggunakan sumber informasi digital secara tepat.

Pustakawan dapat mengenalkan penggunaan katalog digital, pencarian informasi, buku digital, sumber belajar daring, serta etika menggunakan informasi dari internet.

Namun, pengenalan teknologi perlu disesuaikan dengan usia siswa.

Untuk anak kelas rendah, kegiatan dapat berupa mengenalkan buku digital sederhana.

Untuk siswa kelas tinggi, pustakawan dapat mulai mengenalkan cara mencari informasi melalui sumber yang dapat dipercaya.

Kemampuan digital ini penting karena anak tidak hanya hidup di lingkungan buku cetak, tetapi juga di lingkungan informasi digital.

Kemampuan Membaca Buku Anak Juga Penting

Salah satu keahlian yang sering terlupakan adalah kemauan pustakawan untuk membaca buku anak.

Pustakawan akan lebih mudah merekomendasikan buku apabila mengenal koleksinya.

Tidak mungkin pustakawan membaca seluruh koleksi perpustakaan. Namun, pustakawan dapat membaca secara bertahap beberapa buku yang dianggap penting atau populer.

Dengan membaca buku anak, pustakawan dapat mengetahui:

  • isi cerita;

  • tingkat kesulitan bacaan;

  • karakter tokoh;

  • tema;

  • nilai yang disampaikan;

  • kesesuaian usia; dan

  • daya tarik buku.

Pustakawan kemudian dapat memberikan rekomendasi yang lebih personal.

Misalnya:

“Kalau kamu suka cerita tentang petualangan, coba baca buku ini.”

Rekomendasi sederhana seperti itu dapat membuat anak merasa dibantu.

Pustakawan SD Perlu Kreatif

Kreativitas juga menjadi salah satu keahlian penting.

Tidak semua kegiatan perpustakaan membutuhkan biaya besar.

Kreativitas dapat digunakan untuk memanfaatkan bahan yang tersedia di sekolah.

Misalnya, pustakawan dapat membuat:

  • pohon literasi;

  • papan rekomendasi buku;

  • kartu tantangan membaca;

  • sudut buku favorit;

  • rak “Buku Pilihan Minggu Ini”;

  • kuis sederhana;

  • kartu tebak tokoh cerita;

  • atau kegiatan berbagi cerita.

Tujuannya bukan membuat perpustakaan terlihat ramai semata, tetapi menciptakan pengalaman positif yang membuat siswa ingin kembali.

Keahlian Khusus Pustakawan SD Dapat Dikembangkan Secara Bertahap

Tidak semua pustakawan SD harus langsung menguasai seluruh keahlian tersebut.

Pengembangan dapat dilakukan secara bertahap.

Pustakawan dapat memulai dengan memahami karakter siswa, mengenal koleksi yang dimiliki, memperbaiki cara melayani siswa, kemudian mengembangkan kegiatan literasi.

Setelah itu, keterampilan dapat diperluas ke literasi informasi, teknologi, pengelolaan koleksi digital, dan pengembangan program perpustakaan.

Belajar sedikit demi sedikit tetapi konsisten akan lebih mudah dilakukan daripada mencoba menguasai semuanya sekaligus.

Kesimpulan

Pustakawan SD membutuhkan keahlian yang tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan buku dan administrasi perpustakaan.

Karakteristik siswa sekolah dasar membuat pustakawan perlu memiliki kemampuan khusus dalam memahami dan melayani anak.

Sepuluh keahlian penting yang dapat dikembangkan pustakawan SD adalah:

  1. memahami karakteristik anak usia SD;

  2. memilih bacaan yang sesuai;

  3. memiliki kemampuan storytelling;

  4. menumbuhkan minat baca;

  5. membimbing anak menggunakan perpustakaan;

  6. mengenalkan literasi informasi;

  7. berkomunikasi dengan anak;

  8. menciptakan ruang perpustakaan yang ramah anak;

  9. mengelola kegiatan literasi sekolah; dan

  10. memahami dasar perlindungan serta keamanan anak.

Keahlian tersebut tetap perlu didukung oleh kemampuan teknis seperti klasifikasi, katalogisasi, inventarisasi, sirkulasi, pemeliharaan koleksi, administrasi, dan pemanfaatan teknologi.

Pada akhirnya, pustakawan SD bukan hanya seseorang yang mengelola buku. Pustakawan juga dapat menjadi orang yang membantu anak menemukan buku pertama yang membuatnya jatuh cinta pada membaca.

Satu buku yang tepat, satu cerita yang menarik, atau satu percakapan sederhana di perpustakaan mungkin terlihat kecil. Namun bagi seorang anak, pengalaman tersebut dapat menjadi awal dari kebiasaan membaca yang terbawa hingga dewasa.

Karena itu, semakin baik keahlian pustakawan dalam memahami anak, semakin besar pula peluang perpustakaan sekolah menjadi ruang belajar yang hidup, ramah, dan menyenangkan.




Referensi

International Federation of Library Associations and Institutions. (2015). The IFLA school library guidelines. IFLA.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2024). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

International Literacy Association. (2018). Children's rights to read: A position statement of the International Literacy Association. International Literacy Association.

Keahlian Teknis Pustakawan Sekolah: 10 Kemampuan yang Wajib Dikuasai

 


Pustakawan sekolah memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan pendidikan. Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan dan meminjamkan buku, tetapi juga menjadi salah satu sumber belajar yang dapat membantu siswa dan pendidik memperoleh informasi yang dibutuhkan.

Agar perpustakaan sekolah dapat berjalan dengan baik, seorang pustakawan tidak cukup hanya memiliki kemampuan melayani pemustaka. Pustakawan juga perlu menguasai berbagai keahlian teknis perpustakaan yang berkaitan langsung dengan pekerjaan sehari-hari.

Keahlian teknis tersebut mencakup kemampuan mengelola koleksi, melakukan pengolahan bahan pustaka, menyusun layanan sirkulasi, melakukan penelusuran informasi, mengelola administrasi, menggunakan teknologi perpustakaan, hingga membuat laporan kegiatan.

Bagi pustakawan sekolah, kemampuan teknis menjadi semakin penting karena kondisi perpustakaan sekolah sangat beragam. Ada perpustakaan yang sudah menggunakan sistem otomasi, tetapi masih banyak pula yang menggabungkan sistem digital dengan pencatatan sederhana secara manual.

Lalu, kemampuan teknis apa saja yang sebaiknya dimiliki pustakawan sekolah?

Apa yang Dimaksud dengan Keahlian Teknis Pustakawan?

Keahlian teknis pustakawan adalah kemampuan praktis yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan pekerjaan di perpustakaan.

Jika kemampuan komunikasi berkaitan dengan bagaimana pustakawan berinteraksi dengan siswa dan guru, maka kemampuan teknis lebih berhubungan dengan bagaimana pekerjaan perpustakaan dilakukan dengan benar dan sistematis.

Contohnya adalah ketika sebuah buku baru diterima perpustakaan. Pustakawan perlu mengetahui bagaimana mencatat buku tersebut, menentukan identitas koleksi, memberikan nomor klasifikasi, membuat kelengkapan buku, memasukkannya ke dalam katalog atau sistem informasi, kemudian menempatkannya di rak yang sesuai.

Demikian pula ketika siswa meminjam buku. Pustakawan harus mengetahui prosedur pendaftaran anggota, peminjaman, pengembalian, pencatatan transaksi, serta penanganan buku yang terlambat atau rusak.

Artinya, keahlian teknis merupakan bagian penting dari profesionalisme pustakawan.

Mengapa Keahlian Teknis Penting bagi Pustakawan Sekolah?

Perpustakaan sekolah memiliki karakteristik yang berbeda dengan perpustakaan umum maupun perpustakaan perguruan tinggi.

Pemustaka utamanya adalah siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Koleksi juga harus mendukung kebutuhan pembelajaran serta perkembangan minat baca siswa.

Karena itu, pustakawan sekolah perlu memiliki kemampuan teknis yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan pendidikan.

Keahlian teknis yang baik akan membantu pustakawan:

  • menata koleksi agar mudah ditemukan;

  • mempercepat pelayanan peminjaman dan pengembalian;

  • mengetahui kondisi koleksi;

  • menyediakan informasi yang dibutuhkan siswa dan guru;

  • menjaga koleksi agar tetap terawat;

  • menyusun administrasi perpustakaan;

  • membuat laporan kegiatan secara teratur;

  • mengembangkan layanan perpustakaan;

  • memanfaatkan teknologi secara tepat; dan

  • mendukung kegiatan literasi di sekolah.

Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah yang ditetapkan melalui Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2024 mencakup aspek koleksi, sarana dan prasarana, pelayanan, tenaga, penyelenggaraan, serta pengelolaan perpustakaan. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan perpustakaan sekolah membutuhkan kemampuan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga teknis.

10 Keahlian Teknis yang Perlu Dimiliki Pustakawan Sekolah

1. Mampu Melakukan Seleksi dan Pengadaan Koleksi

Pekerjaan teknis perpustakaan sebenarnya sudah dimulai sebelum buku masuk ke rak.

Pustakawan perlu memahami dasar-dasar pemilihan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan sekolah.

Buku yang dibeli atau diterima tidak seharusnya hanya berdasarkan jumlah atau harga. Pustakawan perlu mempertimbangkan kesesuaian dengan kurikulum, usia siswa, tingkat perkembangan peserta didik, kebutuhan guru, minat baca, kualitas isi, kemutakhiran informasi, serta kondisi koleksi yang sudah dimiliki.

Pustakawan juga perlu mampu mengidentifikasi koleksi yang perlu ditambah.

Misalnya, jika koleksi bacaan untuk kelas rendah masih sedikit, pengadaan dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Begitu juga jika koleksi pengetahuan umum, ensiklopedia, atlas, kamus, atau buku cerita masih terbatas.

Kemampuan melakukan seleksi koleksi membuat pengadaan buku menjadi lebih terarah.

2. Menguasai Inventarisasi Bahan Pustaka

Setelah koleksi diterima, buku perlu dicatat sebagai bagian dari inventarisasi perpustakaan.

Inventarisasi bertujuan agar perpustakaan memiliki data mengenai koleksi yang dimiliki.

Pustakawan perlu memahami informasi penting yang dicatat, seperti nomor inventaris, tanggal penerimaan, sumber perolehan, judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit, dan informasi lain yang diperlukan sesuai sistem administrasi perpustakaan.

Sumber koleksi juga perlu dicatat dengan jelas.

Buku dapat berasal dari pembelian, bantuan, hibah, sumbangan, maupun sumber lainnya. Pencatatan yang baik akan memudahkan perpustakaan mengetahui asal-usul koleksi.

Inventarisasi juga akan membantu ketika perpustakaan melakukan stock opname atau evaluasi kondisi koleksi.

3. Mampu Melakukan Klasifikasi Koleksi

Klasifikasi merupakan salah satu keahlian teknis yang penting dalam pengelolaan perpustakaan.

Melalui klasifikasi, koleksi dapat dikelompokkan berdasarkan subjek atau bidang ilmu tertentu sehingga penempatannya di rak menjadi lebih teratur.

Salah satu sistem klasifikasi yang banyak dikenal dalam perpustakaan adalah Dewey Decimal Classification (DDC).

Pustakawan sekolah sebaiknya memahami prinsip dasar klasifikasi sehingga dapat menentukan nomor klasifikasi yang sesuai dengan isi buku.

Misalnya, buku yang membahas matematika tidak seharusnya ditempatkan secara acak hanya berdasarkan ukuran atau warna sampul.

Dengan pengelompokan berdasarkan subjek, siswa akan lebih mudah menemukan buku yang berkaitan dengan bidang yang sedang dipelajarinya.

Namun, pustakawan juga perlu menyesuaikan penerapan klasifikasi dengan kondisi perpustakaan sekolah. Sistem yang digunakan harus mudah dipahami dan dapat diterapkan secara konsisten.

4. Mampu Membuat Katalog atau Data Bibliografis

Buku yang tersusun rapi belum tentu mudah ditemukan apabila perpustakaan tidak memiliki data bibliografis yang baik.

Pustakawan perlu memahami informasi dasar mengenai sebuah koleksi, seperti judul, pengarang, penerbit, tahun terbit, ISBN jika tersedia, jumlah halaman, dan informasi fisik lainnya.

Data tersebut dapat digunakan untuk membuat katalog atau dimasukkan ke dalam sistem otomasi perpustakaan.

Dalam perpustakaan yang sudah menggunakan aplikasi, data koleksi dapat dicari melalui katalog daring atau OPAC.

Kemampuan membuat dan mengelola data bibliografis membantu pustakawan menyediakan informasi koleksi secara lebih sistematis.

Bagi perpustakaan sekolah yang masih sederhana, katalog tidak harus selalu menggunakan sistem yang rumit. Yang terpenting adalah data koleksi tersusun dengan baik dan mudah ditelusuri.

5. Mampu Melakukan Pelabelan dan Penyelesaian Fisik Buku

Keahlian teknis pustakawan juga berkaitan dengan pekerjaan fisik pada koleksi.

Buku yang telah diolah perlu diberi kelengkapan tertentu agar mudah dikelola dan ditempatkan di rak.

Pustakawan dapat melakukan pelabelan, misalnya label nomor panggil, barcode apabila menggunakan sistem barcode, serta identitas perpustakaan sesuai kebutuhan.

Buku juga perlu dilengkapi perlindungan fisik agar lebih tahan terhadap penggunaan berulang.

Pekerjaan sederhana seperti melapisi buku, memperbaiki bagian yang rusak, membersihkan koleksi, dan menata buku berdasarkan nomor panggil merupakan bagian penting dalam pemeliharaan koleksi.

Walaupun terlihat sederhana, pekerjaan tersebut berpengaruh terhadap usia dan kondisi koleksi.

6. Menguasai Layanan Sirkulasi

Layanan sirkulasi merupakan salah satu layanan yang paling sering berhubungan langsung dengan siswa.

Pustakawan perlu menguasai prosedur:

  • pendaftaran anggota;

  • peminjaman buku;

  • pengembalian buku;

  • perpanjangan peminjaman;

  • pencatatan keterlambatan;

  • penanganan buku hilang;

  • penanganan buku rusak; dan

  • pembuatan statistik sirkulasi.

Sistem sirkulasi dapat dilakukan secara manual maupun menggunakan aplikasi.

Pada sistem manual, pustakawan dapat menggunakan kartu anggota, buku peminjaman, atau formulir tertentu.

Sementara itu, perpustakaan yang sudah menggunakan sistem otomasi dapat memanfaatkan barcode atau sistem identifikasi lainnya untuk mempercepat transaksi.

Apa pun sistem yang digunakan, prosedurnya harus jelas dan konsisten.

7. Mampu Melakukan Penelusuran Informasi

Pustakawan sekolah bukan hanya orang yang menjaga buku. Pustakawan juga perlu mampu membantu siswa dan guru menemukan informasi yang dibutuhkan.

Kemampuan penelusuran informasi menjadi semakin penting karena sumber informasi sekarang sangat banyak.

Pustakawan perlu mengetahui cara mencari informasi melalui katalog perpustakaan, mesin pencari, sumber digital, situs resmi, jurnal, ensiklopedia, dan sumber informasi lainnya.

Yang tidak kalah penting adalah kemampuan mengevaluasi informasi.

Ketika siswa menemukan informasi di internet, pustakawan dapat membantu mereka memeriksa siapa yang menerbitkan informasi tersebut, apakah sumbernya jelas, kapan informasi dibuat, serta apakah informasi tersebut dapat dipercaya.

Dengan demikian, pustakawan sekolah dapat berperan dalam membangun keterampilan literasi informasi siswa.

8. Mampu Melakukan Pemeliharaan dan Penyiangan Koleksi

Koleksi perpustakaan tidak selamanya berada dalam kondisi baik.

Buku dapat rusak, hilang, tidak relevan, atau informasinya sudah terlalu lama.

Karena itu, pustakawan perlu memahami dasar-dasar pemeliharaan koleksi.

Pemeliharaan dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan ruangan, mengatur sirkulasi udara, melindungi buku dari kelembapan, memperbaiki kerusakan ringan, serta menata buku dengan benar.

Selain pemeliharaan, pustakawan juga perlu memahami penyiangan atau weeding.

Penyiangan merupakan kegiatan mengidentifikasi dan mengeluarkan koleksi tertentu dari jajaran koleksi berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

Koleksi yang sudah rusak berat, tidak relevan, tidak sesuai kebutuhan, atau memiliki kondisi tertentu dapat dievaluasi untuk menentukan apakah masih layak dipertahankan.

Penyiangan bukan berarti mengurangi koleksi secara sembarangan. Justru kegiatan ini bertujuan agar koleksi perpustakaan tetap relevan dan dapat dimanfaatkan secara optimal.

9. Menguasai Administrasi dan Statistik Perpustakaan

Kemampuan administrasi sering kali dianggap sebagai pekerjaan sederhana, padahal sangat penting untuk menunjukkan perkembangan perpustakaan.

Pustakawan sekolah perlu mampu membuat dan menyimpan berbagai dokumen yang berkaitan dengan kegiatan perpustakaan.

Contohnya:

  • data koleksi;

  • data anggota;

  • data kunjungan;

  • data peminjaman;

  • data pengembalian;

  • daftar buku baru;

  • laporan kegiatan;

  • statistik layanan;

  • data koleksi rusak atau hilang; dan

  • dokumen pengembangan perpustakaan.

Data tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi layanan dan menyusun rencana pengembangan perpustakaan.

Misalnya, apabila data menunjukkan bahwa siswa kelas tertentu paling sering meminjam buku cerita, perpustakaan dapat mempertimbangkan penambahan koleksi bacaan sejenis.

Dengan demikian, statistik perpustakaan bukan sekadar angka untuk laporan, tetapi dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

10. Mampu Menggunakan Teknologi Perpustakaan

Keahlian teknis pustakawan sekolah saat ini juga berkaitan dengan teknologi.

Pustakawan perlu memiliki kemampuan menggunakan perangkat dan aplikasi yang mendukung kegiatan perpustakaan.

Teknologi dapat digunakan untuk:

  • katalogisasi;

  • sirkulasi;

  • pengelolaan anggota;

  • pencatatan inventaris;

  • pembuatan laporan;

  • penyimpanan data;

  • promosi perpustakaan;

  • komunikasi dengan pemustaka; dan

  • penyediaan akses terhadap sumber informasi digital.

Namun, pustakawan tidak harus menguasai semua aplikasi.

Lebih baik menguasai beberapa teknologi yang benar-benar digunakan daripada memiliki banyak aplikasi tetapi tidak mampu memanfaatkannya secara optimal.

Keahlian Teknis yang Sering Terlupakan: Stock Opname

Salah satu pekerjaan teknis yang perlu mendapat perhatian adalah stock opname.

Stock opname dilakukan untuk mencocokkan data koleksi yang tercatat dengan kondisi koleksi yang sebenarnya.

Dalam kegiatan ini, pustakawan dapat memeriksa apakah buku masih tersedia, berada di tempat yang seharusnya, sedang dipinjam, rusak, atau hilang.

Kegiatan tersebut membantu perpustakaan mengetahui kondisi koleksi secara nyata.

Stock opname juga dapat menjadi dasar untuk memperbaiki data koleksi dan menentukan tindakan berikutnya.

Misalnya, jika ditemukan banyak buku yang tidak lagi ada di rak tetapi masih tercatat sebagai koleksi, pustakawan perlu menelusuri penyebabnya.

Pustakawan Sekolah Perlu Menguasai Semuanya?

Tidak.

Pustakawan tidak harus langsung menguasai seluruh keahlian teknis secara sempurna.

Kemampuan dapat dikembangkan secara bertahap berdasarkan kebutuhan perpustakaan.

Pustakawan sekolah yang baru mulai mengelola perpustakaan dapat memprioritaskan kemampuan dasar seperti:

  1. inventarisasi;

  2. klasifikasi;

  3. katalogisasi sederhana;

  4. pelabelan;

  5. layanan sirkulasi;

  6. administrasi;

  7. statistik; dan

  8. pemeliharaan koleksi.

Setelah kemampuan dasar tersebut dikuasai, keterampilan dapat dikembangkan ke arah otomasi, pengelolaan koleksi digital, penelusuran informasi, pembuatan konten, dan layanan berbasis teknologi.

Yang penting adalah setiap keterampilan yang dipelajari benar-benar diterapkan dalam pekerjaan.

Perbedaan Keahlian Teknis dan Kompetensi Digital

Keahlian teknis perpustakaan dan kompetensi digital memang saling berhubungan, tetapi keduanya tidak sama.

Keahlian teknis berkaitan dengan pekerjaan inti perpustakaan, seperti klasifikasi, katalogisasi, inventarisasi, sirkulasi, pemeliharaan koleksi, dan administrasi.

Sementara itu, kompetensi digital berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi untuk mendukung pekerjaan tersebut.

Contohnya, seorang pustakawan harus memahami prinsip klasifikasi. Jika perpustakaan menggunakan aplikasi otomasi, pustakawan kemudian perlu mampu memasukkan data klasifikasi tersebut ke dalam sistem.

Jadi, teknologi seharusnya menjadi alat yang mendukung pekerjaan teknis, bukan menggantikan pemahaman pustakawan terhadap dasar-dasar pengelolaan perpustakaan.

Cara Meningkatkan Keahlian Teknis Pustakawan Sekolah

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan teknis.

Belajar dari standar dan pedoman perpustakaan

Pustakawan dapat mempelajari standar nasional, pedoman pengelolaan perpustakaan, serta berbagai bahan pembelajaran yang diterbitkan oleh lembaga yang berwenang.

Mengikuti pelatihan

Pelatihan merupakan salah satu cara efektif untuk meningkatkan keterampilan, terutama untuk kemampuan seperti klasifikasi, katalogisasi, otomasi, preservasi, dan layanan informasi.

Praktik secara langsung

Keahlian teknis tidak cukup dipelajari melalui teori.

Misalnya, setelah mempelajari klasifikasi, pustakawan dapat langsung mencoba menentukan nomor klasifikasi beberapa buku di perpustakaan.

Membuat SOP

Pekerjaan teknis akan lebih mudah dilakukan apabila perpustakaan memiliki prosedur yang jelas.

SOP dapat dibuat untuk berbagai kegiatan, seperti pengadaan, pengolahan buku, peminjaman, pengembalian, pelayanan anggota, pemeliharaan, dan penyiangan.

Melakukan evaluasi secara berkala

Pustakawan dapat mengevaluasi pekerjaan setiap beberapa bulan.

Apa yang sudah berjalan? Apa yang masih sulit? Data apa yang belum lengkap? Layanan apa yang belum dimanfaatkan siswa?

Evaluasi sederhana dapat menjadi dasar untuk menentukan keterampilan yang perlu ditingkatkan berikutnya.

Pustakawan Sekolah Bukan Sekadar Penjaga Buku

Persepsi bahwa pustakawan hanya bertugas menjaga buku sudah tidak sesuai dengan perkembangan perpustakaan saat ini.

Pustakawan sekolah memiliki pekerjaan yang jauh lebih luas.

Ia mengelola informasi, mengelola koleksi, memberikan layanan, membantu penelusuran informasi, mendukung kegiatan pembelajaran, mengembangkan literasi, menjaga administrasi, serta beradaptasi dengan teknologi.

Karena itu, penguasaan keahlian teknis menjadi bagian penting dari profesionalisme pustakawan sekolah.

Pustakawan yang mampu mengelola koleksi dengan baik akan membuat informasi lebih mudah ditemukan. Pustakawan yang mampu mengelola layanan dengan baik akan membuat siswa merasa nyaman menggunakan perpustakaan. Pustakawan yang mampu mengelola data dengan baik akan lebih mudah mengevaluasi perkembangan layanan.

Pada akhirnya, seluruh keahlian tersebut memiliki satu tujuan yang sama, yaitu membuat perpustakaan mampu memberikan layanan informasi yang efektif dan bermanfaat bagi warga sekolah.

Kesimpulan

Keahlian teknis pustakawan sekolah mencakup berbagai kemampuan yang berkaitan langsung dengan pengelolaan perpustakaan.

Sepuluh kemampuan yang penting antara lain:

  1. seleksi dan pengadaan koleksi;

  2. inventarisasi bahan pustaka;

  3. klasifikasi;

  4. katalogisasi dan pengelolaan data bibliografis;

  5. pelabelan dan penyelesaian fisik buku;

  6. layanan sirkulasi;

  7. penelusuran informasi;

  8. pemeliharaan dan penyiangan koleksi;

  9. administrasi dan statistik perpustakaan; serta

  10. penggunaan teknologi perpustakaan.

Tidak semua kemampuan tersebut harus dikuasai sekaligus. Pustakawan dapat mengembangkannya secara bertahap sesuai kebutuhan dan kondisi perpustakaan sekolah.

Yang terpenting adalah memiliki kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki pengelolaan perpustakaan.

Perpustakaan sekolah yang baik tidak hanya ditentukan oleh banyaknya jumlah buku, luas ruangan, atau tersedianya komputer. Kualitas pengelolaan dan kompetensi pustakawan juga menjadi faktor penting agar seluruh sumber daya perpustakaan benar-benar dapat dimanfaatkan oleh siswa dan guru.




Referensi

International Federation of Library Associations and Institutions. (2022). IFLA guidelines for continuing professional development: Principles and best practices. IFLA.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2024). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Reitz, J. M. (2014). Online dictionary for library and information science. ABC-CLIO.

Back To Top