Menjadi mahasiswa Ilmu Perpustakaan bukan hanya tentang belajar mengelola buku. Di balik pekerjaan pustakawan terdapat berbagai keterampilan teknis, digital, administratif, komunikasi, pelayanan, hingga kemampuan mengelola informasi.
Mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan Ilmu Perpustakaan sebaiknya mulai mempersiapkan keterampilan tersebut sejak masih kuliah. Tujuannya bukan hanya agar mendapatkan nilai yang baik, tetapi agar setelah lulus memiliki kemampuan yang benar-benar dapat diterapkan ketika memasuki dunia kerja.
Lulusan Ilmu Perpustakaan dapat bekerja di berbagai jenis perpustakaan. Selain perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan umum, perpustakaan sekolah juga menjadi salah satu bidang yang dapat menjadi pilihan karier, baik pada jenjang SD, SMP, maupun SMA.
Lingkungan kerja setiap perpustakaan tentu memiliki karakteristik yang berbeda. Perpustakaan perguruan tinggi banyak melayani mahasiswa, dosen, dan peneliti. Perpustakaan umum melayani masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Perpustakaan khusus memiliki koleksi dan pengguna yang lebih spesifik.
Sementara itu, perpustakaan sekolah berhubungan erat dengan kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Pemustakanya dapat berupa siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Karena itu, mahasiswa yang ingin bekerja di perpustakaan sekolah perlu memiliki kemampuan tambahan dalam memahami karakter siswa, mengelola koleksi pendidikan, bekerja sama dengan guru, serta mendukung kegiatan literasi.
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga membuat kompetensi pustakawan terus berubah. Perpustakaan tidak lagi hanya membutuhkan orang yang mampu mengelola koleksi tercetak, tetapi juga tenaga yang mampu mengelola data, menggunakan teknologi informasi, memberikan layanan digital, dan membantu pemustaka menemukan serta mengevaluasi informasi.
Lalu, keterampilan apa saja yang perlu dikuasai mahasiswa Ilmu Perpustakaan sebelum terjun ke dunia kerja?
1. Katalogisasi
Katalogisasi merupakan keterampilan dasar yang perlu dikuasai mahasiswa Ilmu Perpustakaan.
Mahasiswa perlu mampu mendeskripsikan bahan perpustakaan sehingga identitas dan karakteristik koleksi dapat diketahui dengan jelas.
Data yang perlu dipahami antara lain:
judul;
pengarang;
edisi;
tempat terbit;
penerbit;
tahun terbit;
ISBN;
jumlah halaman;
ukuran buku;
seri;
catatan;
subjek.
Jangan hanya mempelajari katalogisasi untuk menghadapi ujian. Cobalah mengambil buku secara langsung dan melakukan katalogisasi dari awal.
Perhatikan halaman judul, halaman balik judul, daftar isi, kata pengantar, dan bagian lain yang diperlukan.
Kemampuan melakukan katalogisasi secara praktis akan sangat berguna ketika bekerja di berbagai jenis perpustakaan.
2. Klasifikasi DDC
Skill berikutnya adalah klasifikasi.
Mahasiswa perlu memahami bagaimana menentukan nomor klasifikasi berdasarkan subjek atau isi bahan perpustakaan.
Dewey Decimal Classification atau DDC merupakan salah satu sistem klasifikasi yang penting untuk dipahami mahasiswa Ilmu Perpustakaan.
Mahasiswa tidak seharusnya hanya menghafalkan angka 000 sampai 900.
Yang lebih penting adalah memahami prinsip pengelompokan dan mampu mencari nomor klasifikasi yang tepat berdasarkan pedoman.
Latihan dapat dilakukan dengan mengambil berbagai jenis buku.
Misalnya:
buku bahasa;
buku sastra;
buku pendidikan;
buku sejarah;
buku komputer;
buku agama;
buku ilmu pengetahuan;
buku anak.
Semakin banyak latihan, semakin terasah kemampuan menentukan klasifikasi.
3. Menentukan Tajuk Subjek
Menentukan subjek merupakan keterampilan yang berkaitan erat dengan katalogisasi dan klasifikasi.
Mahasiswa perlu mampu menemukan topik utama yang dibahas dalam sebuah buku.
Jangan hanya mengandalkan judul.
Judul buku kadang bersifat umum atau menggunakan bahasa yang menarik. Isi sebenarnya baru dapat diketahui setelah melihat daftar isi, pendahuluan, ringkasan, atau bagian lain dari buku.
Kemampuan menentukan subjek akan membantu pemustaka menemukan informasi yang dibutuhkan.
4. Menentukan Nomor Panggil
Mahasiswa juga perlu memahami nomor panggil.
Nomor panggil merupakan identitas yang membantu menentukan lokasi buku di rak.
Mahasiswa harus memahami bagaimana nomor klasifikasi dikombinasikan dengan unsur lain sesuai sistem yang digunakan perpustakaan.
Contohnya dapat berupa kombinasi:
Nomor klasifikasi + tiga huruf nama pengarang + huruf awal judul.
Namun, format nomor panggil dapat disesuaikan dengan kebijakan perpustakaan.
Yang terpenting adalah mahasiswa memahami konsep dan mampu menerapkannya secara konsisten.
5. Mengolah Buku Sampai Siap Masuk Rak
Salah satu latihan terbaik bagi mahasiswa adalah mengolah satu buku secara lengkap.
Mulai dari:
pemeriksaan → inventarisasi → stempel → katalogisasi → klasifikasi → nomor panggil → label → barcode jika digunakan → penyampulan → shelving.
Jika mahasiswa mampu melakukan seluruh proses tersebut, ia akan memiliki gambaran nyata tentang pekerjaan teknis perpustakaan.
Kemampuan ini sangat berguna ketika nantinya bekerja di perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan umum, maupun perpustakaan khusus.
Standar kompetensi pustakawan menempatkan pengorganisasian bahan perpustakaan sebagai salah satu bagian penting kompetensi profesional pustakawan (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2017).
6. Menguasai Microsoft Excel atau Spreadsheet
Pustakawan berhadapan dengan data dalam jumlah besar.
Karena itu, mahasiswa sebaiknya menguasai Excel atau aplikasi spreadsheet lainnya.
Minimal mahasiswa mampu:
membuat tabel;
melakukan sort;
menggunakan filter;
melakukan pencarian data;
menggunakan formula dasar;
membuat rekapitulasi;
menghitung jumlah data;
membuat grafik sederhana.
Excel dapat digunakan untuk mengelola:
data koleksi;
inventaris;
data anggota;
statistik pengunjung;
peminjaman;
pengadaan;
kegiatan perpustakaan.
Skill ini sangat berguna terutama di perpustakaan yang belum memiliki sistem otomasi lengkap.
7. Menggunakan Aplikasi Otomasi Perpustakaan
Perpustakaan modern semakin banyak memanfaatkan teknologi.
Mahasiswa sebaiknya mengenal aplikasi otomasi perpustakaan.
Tidak harus menguasai semua aplikasi, tetapi memahami konsep dasarnya.
Misalnya:
database bibliografis;
data eksemplar;
data anggota;
sirkulasi;
katalog online;
barcode;
laporan;
pencadangan data.
Kemampuan menggunakan aplikasi akan menjadi nilai tambah ketika mahasiswa memasuki dunia kerja.
Perkembangan kompetensi pustakawan juga semakin berkaitan dengan penerapan teknologi informasi dan komunikasi. Perpusnas dalam proses pembaruan kompetensi bidang perpustakaan menekankan kebutuhan agar kompetensi tenaga perpustakaan tetap sesuai dengan perkembangan teknologi dan transformasi digital (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2026).
8. Literasi Informasi
Pustakawan bekerja dengan informasi.
Oleh sebab itu, mahasiswa harus mampu mencari, menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dengan tepat.
Mahasiswa perlu mampu:
menentukan kebutuhan informasi;
menyusun kata kunci;
menggunakan katalog;
melakukan penelusuran informasi;
menemukan sumber akademik;
mengevaluasi sumber;
membandingkan informasi;
mengenali informasi yang meragukan;
menggunakan informasi secara etis.
Kemampuan tersebut nantinya juga dapat diajarkan kepada pemustaka.
Pustakawan bukan hanya membantu menemukan informasi, tetapi juga membantu pemustaka memahami cara mendapatkan informasi yang relevan dan dapat dipercaya.
9. Kemampuan Melayani Pemustaka
Sebagus apa pun koleksi perpustakaan, tetap dibutuhkan pustakawan yang mampu memberikan pelayanan.
Mahasiswa perlu berlatih:
menyambut pemustaka;
memahami kebutuhan informasi;
membantu menemukan koleksi;
memberikan petunjuk penggunaan perpustakaan;
menjawab pertanyaan;
memberikan rekomendasi;
menangani keluhan;
memberikan layanan secara ramah dan profesional.
Kemampuan pelayanan ini berlaku di semua jenis perpustakaan.
Namun, cara penerapannya tentu berbeda sesuai karakter pemustaka.
10. Komunikasi
Komunikasi merupakan soft skill yang penting bagi pustakawan.
Pustakawan harus berkomunikasi dengan berbagai pihak.
Di perpustakaan sekolah, misalnya, pustakawan dapat berkomunikasi dengan:
siswa;
guru;
kepala sekolah;
tenaga kependidikan;
orang tua;
pengelola kegiatan sekolah.
Di perpustakaan perguruan tinggi, pustakawan berkomunikasi dengan mahasiswa, dosen, peneliti, dan tenaga kependidikan.
Di perpustakaan umum, pemustakanya jauh lebih beragam.
Karena itu, mahasiswa perlu belajar menyampaikan informasi dengan jelas, sopan, dan mudah dipahami.
11. Memahami Karakteristik Perpustakaan Sekolah
Mahasiswa Ilmu Perpustakaan sebaiknya mengenal karakter perpustakaan sekolah meskipun nantinya tidak bekerja di sana.
Perpustakaan sekolah memiliki fungsi yang berkaitan dengan proses pendidikan dan pembelajaran.
Pemustakanya dapat berasal dari jenjang:
SD/MI;
SMP/MTs;
SMA/MA/SMK.
Setiap jenjang memiliki karakteristik yang berbeda.
Siswa SD membutuhkan layanan yang lebih sederhana, komunikatif, dan menarik. Koleksinya juga perlu mempertimbangkan perkembangan usia dan kemampuan membaca.
Siswa SMP mulai memiliki kebutuhan informasi yang lebih luas dan dapat diarahkan pada keterampilan penelusuran informasi.
Siswa SMA memiliki kebutuhan yang semakin beragam, termasuk bahan untuk mendukung pembelajaran, tugas, persiapan studi lanjut, dan pengembangan minat.
Karena itu, mahasiswa yang ingin bekerja di perpustakaan sekolah perlu memiliki kemampuan memahami karakter pemustaka anak dan remaja.
12. Mengelola Koleksi Perpustakaan Sekolah
Koleksi perpustakaan sekolah memiliki karakter yang cukup beragam.
Tidak hanya buku cerita, tetapi juga dapat terdiri atas:
buku pelajaran;
buku pengayaan;
buku referensi;
ensiklopedia;
kamus;
atlas;
buku keterampilan;
buku pengetahuan;
bacaan anak dan remaja.
Mahasiswa perlu memahami bahwa pemilihan dan pengelolaan koleksi sekolah harus memperhatikan kebutuhan peserta didik dan mendukung kegiatan pendidikan.
Kemampuan pengelolaan koleksi tersebut akan menjadi bekal penting ketika bekerja di SD, SMP, maupun SMA.
13. Membuat Administrasi Perpustakaan
Mahasiswa jangan hanya belajar mengolah buku.
Administrasi juga merupakan bagian penting dalam pekerjaan perpustakaan.
Mahasiswa sebaiknya mampu membuat:
program kerja;
SOP;
laporan kegiatan;
statistik perpustakaan;
formulir;
daftar inventaris;
berita acara;
jadwal layanan;
dokumen pengadaan;
dokumen evaluasi.
Skill administrasi sangat penting di perpustakaan sekolah.
Seorang pustakawan sekolah dapat terlibat dalam berbagai pekerjaan administratif karena perpustakaan merupakan bagian dari sistem penyelenggaraan sekolah.
14. Membuat Program Literasi
Khusus bagi mahasiswa yang ingin masuk perpustakaan sekolah, kemampuan membuat program literasi merupakan nilai tambah.
Program tidak harus rumit.
Contohnya:
kunjungan kelas;
rekomendasi buku;
membaca bersama;
bercerita;
resensi buku;
tantangan membaca;
pameran buku;
pojok baca;
kuis literasi;
kegiatan pengenalan perpustakaan.
Mahasiswa perlu belajar membuat program yang sesuai dengan usia siswa dan kemampuan sekolah.
Tujuannya bukan membuat kegiatan sebanyak mungkin, tetapi membuat kegiatan yang benar-benar menarik dan bermanfaat.
15. Mampu Bekerja Sama dengan Guru
Ini merupakan salah satu skill yang sangat penting bagi calon pustakawan sekolah.
Pustakawan tidak dapat bekerja sendiri.
Kerja sama dengan guru dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, misalnya:
menyediakan koleksi pendukung pembelajaran;
membantu siswa mencari sumber informasi;
membuat kegiatan literasi;
membuat daftar bacaan;
menyelenggarakan kegiatan perpustakaan;
mendukung proyek pembelajaran.
Pustakawan yang mampu berkomunikasi dan bekerja sama dengan guru akan lebih mudah menempatkan perpustakaan sebagai bagian dari kegiatan pendidikan.
16. Memahami Stock Opname dan Penyiangan
Mahasiswa perlu memahami bahwa koleksi perpustakaan harus dievaluasi secara berkala.
Stock opname dilakukan untuk mengetahui kondisi dan keberadaan koleksi.
Mahasiswa perlu belajar:
mencocokkan data dengan koleksi fisik;
mengidentifikasi buku yang hilang;
mencatat buku yang rusak;
menemukan data yang tidak sesuai;
memperbarui data koleksi.
Selain itu, mahasiswa perlu mengenal penyiangan atau weeding.
Tidak semua buku harus dipertahankan selamanya.
Koleksi yang sudah rusak berat, tidak relevan, atau tidak sesuai kebijakan pengembangan koleksi dapat dievaluasi untuk ditindaklanjuti sesuai prosedur perpustakaan.
17. Perawatan Koleksi
Buku dapat mengalami kerusakan akibat penggunaan, debu, kelembapan, serangga, maupun penyimpanan yang tidak tepat.
Mahasiswa perlu memahami dasar perawatan koleksi.
Misalnya:
menjaga kebersihan rak;
menjaga sirkulasi udara;
menangani buku yang rusak;
menyimpan buku dengan posisi yang benar;
menghindari perlakuan yang dapat mempercepat kerusakan.
Keterampilan ini berlaku di semua jenis perpustakaan.
18. Statistik dan Pengolahan Data
Pustakawan perlu mampu menggunakan data untuk melihat perkembangan perpustakaan.
Data yang dapat dianalisis antara lain:
jumlah pengunjung;
jumlah peminjaman;
jumlah anggota aktif;
koleksi yang paling sering dipinjam;
pertumbuhan koleksi;
jumlah kegiatan;
penggunaan layanan digital.
Di perpustakaan sekolah, data tersebut dapat membantu menentukan program berikutnya.
Misalnya, jika buku cerita menjadi koleksi yang paling sering dipinjam siswa, data tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan koleksi.
19. Menulis dan Membuat Konten Digital
Pustakawan masa kini juga perlu mampu berkomunikasi melalui media digital.
Mahasiswa sebaiknya belajar membuat:
artikel;
berita kegiatan;
rekomendasi buku;
poster;
infografis;
konten media sosial;
video pendek;
materi promosi perpustakaan.
Tidak harus menjadi desainer profesional.
Kemampuan dasar menggunakan aplikasi desain dan membuat konten sederhana sudah menjadi nilai tambah.
Untuk perpustakaan sekolah, media sosial dan konten visual dapat digunakan untuk memperkenalkan koleksi dan kegiatan kepada siswa.
20. Kemampuan Beradaptasi dan Memecahkan Masalah
Skill terakhir yang tidak kalah penting adalah kemampuan beradaptasi.
Kondisi setiap perpustakaan berbeda.
Ada perpustakaan yang sudah memiliki sistem otomasi lengkap. Ada pula yang masih menggunakan pencatatan sederhana.
Ada perpustakaan dengan banyak pustakawan. Ada juga yang hanya memiliki sedikit tenaga.
Ada perpustakaan dengan koleksi besar, sementara perpustakaan sekolah tertentu memiliki koleksi yang terbatas.
Karena itu, lulusan Ilmu Perpustakaan harus mampu melihat kondisi yang ada dan mencari solusi yang sesuai.
Pustakawan tidak harus selalu menggunakan teknologi paling mahal atau sistem paling rumit.
Yang penting adalah mampu menciptakan sistem yang efektif, tertib, dapat dipertanggungjawabkan, dan sesuai kebutuhan pemustaka.
Skill Apa yang Paling Penting untuk Mahasiswa?
Dari berbagai keterampilan tersebut, mahasiswa dapat membuat prioritas.
Skill inti kepustakawanan
katalogisasi;
klasifikasi;
tajuk subjek;
nomor panggil;
inventarisasi;
pengelolaan koleksi;
layanan pemustaka.
Skill digital
Microsoft Word;
Excel;
spreadsheet;
aplikasi otomasi;
pengelolaan database;
barcode;
penelusuran informasi digital.
Skill administrasi
membuat SOP;
membuat program kerja;
membuat laporan;
statistik;
pengarsipan;
dokumentasi.
Skill komunikasi dan pelayanan
komunikasi;
kerja sama;
pelayanan;
literasi informasi;
presentasi;
pemecahan masalah.
Skill khusus perpustakaan sekolah
memahami karakter siswa;
mengelola koleksi anak dan remaja;
mendukung pembelajaran;
bekerja sama dengan guru;
membuat kegiatan literasi;
mempromosikan perpustakaan.
Dengan pembagian tersebut, mahasiswa dapat melihat bahwa kompetensi pustakawan sebenarnya cukup luas.
Mengapa Mahasiswa Perlu Memahami Berbagai Jenis Perpustakaan?
Jangan sampai mahasiswa hanya mempersiapkan diri untuk satu jenis perpustakaan.
Setelah lulus, kesempatan kerja dapat berasal dari berbagai lingkungan.
Perpustakaan sekolah
Melayani siswa dan warga sekolah serta mendukung proses pendidikan.
Perpustakaan perguruan tinggi
Mendukung kebutuhan informasi mahasiswa, dosen, dan peneliti.
Perpustakaan umum
Melayani masyarakat dengan kebutuhan informasi yang beragam.
Perpustakaan khusus
Menyediakan informasi sesuai bidang lembaga atau organisasi tertentu.
Meskipun karakter setiap perpustakaan berbeda, banyak kompetensi dasar yang tetap sama.
Katalogisasi, klasifikasi, pengelolaan koleksi, layanan, literasi informasi, teknologi, dan administrasi tetap diperlukan.
Karena itu, mahasiswa sebaiknya memiliki kompetensi dasar yang kuat sekaligus kemampuan beradaptasi.
Jangan Menunggu Lulus untuk Membangun Skill
Kesalahan yang sering terjadi adalah mahasiswa baru mulai memikirkan keterampilan kerja ketika sudah mendekati wisuda.
Padahal skill dapat dibangun sejak semester awal.
Misalnya:
Semester awal: belajar komputer, Excel, katalogisasi, dan klasifikasi.
Semester berikutnya: latihan pengolahan koleksi dan aplikasi otomasi.
Tahap berikutnya: belajar administrasi, layanan, dan literasi informasi.
Menjelang lulus: membangun portofolio dan pengalaman praktik.
Dengan cara tersebut, mahasiswa tidak hanya membawa ijazah ketika lulus.
Ia juga membawa pengalaman dan bukti keterampilan.
Bangun Portofolio Sebelum Lulus
Portofolio dapat menjadi bukti bahwa mahasiswa benar-benar mampu melakukan pekerjaan.
Contoh portofolio yang dapat dibuat:
Contoh katalogisasi 10 buku.
Contoh klasifikasi 10 buku.
Contoh nomor panggil.
Contoh inventarisasi.
Contoh SOP perpustakaan.
Contoh program kerja.
Contoh laporan kegiatan.
Contoh pengolahan data Excel.
Contoh penggunaan aplikasi otomasi.
Contoh poster perpustakaan.
Contoh artikel perpustakaan.
Contoh program literasi.
Dokumentasi praktik pengolahan koleksi.
Contoh analisis statistik perpustakaan.
Portofolio tersebut dapat disimpan dalam bentuk digital.
Dengan demikian, ketika melamar pekerjaan, mahasiswa dapat menunjukkan kemampuan yang dimiliki.
Perpustakaan Sekolah sebagai Salah Satu Pilihan Karier
Bagi mahasiswa Ilmu Perpustakaan, perpustakaan sekolah layak dipertimbangkan sebagai salah satu lingkungan kerja.
Perpustakaan sekolah terdapat pada berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA/SMK.
Masing-masing memiliki karakteristik pemustaka yang berbeda.
Mahasiswa yang tertarik bekerja di perpustakaan sekolah sebaiknya mempersiapkan kemampuan teknis sekaligus kemampuan pendidikan dan pelayanan anak.
Namun, pengalaman mempelajari perpustakaan sekolah tidak berarti mahasiswa harus membatasi diri.
Kemampuan yang diperoleh tetap dapat digunakan ketika nantinya bekerja di perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan umum, perpustakaan khusus, atau bidang informasi lainnya.
Dengan kata lain, skill kepustakawanan adalah fondasi, sedangkan jenis perpustakaan menjadi lingkungan tempat skill tersebut diterapkan.
Kesimpulan
Mahasiswa Ilmu Perpustakaan perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi dunia kerja dengan menguasai kombinasi keterampilan teknis, digital, administratif, komunikasi, dan pelayanan.
Keterampilan teknis seperti katalogisasi, klasifikasi, penentuan subjek, nomor panggil, inventarisasi, dan pengolahan koleksi merupakan fondasi yang perlu dikuasai.
Di era digital, kemampuan tersebut perlu dilengkapi dengan Excel, aplikasi otomasi, pengelolaan data, penelusuran informasi, literasi informasi, dan kemampuan menggunakan teknologi.
Mahasiswa juga perlu mengembangkan kemampuan yang berkaitan dengan manusia, seperti komunikasi, pelayanan, kerja sama, pemecahan masalah, dan kemampuan beradaptasi.
Bagi mahasiswa yang ingin bekerja di perpustakaan sekolah, ada tambahan keterampilan yang perlu dipersiapkan, antara lain memahami karakter siswa SD, SMP, dan SMA, mengelola koleksi pendidikan dan bacaan anak, membuat kegiatan literasi, serta bekerja sama dengan guru dan warga sekolah.
Namun, mahasiswa tidak perlu membatasi diri hanya pada satu jenis perpustakaan. Kompetensi yang dibangun selama kuliah dapat diterapkan di perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan umum, perpustakaan khusus, maupun lingkungan kerja yang membutuhkan pengelolaan informasi.
Pada akhirnya, kuliah Ilmu Perpustakaan sebaiknya tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi juga lulusan yang memiliki keterampilan nyata dan siap bekerja.
Karena itu, selama masih menjadi mahasiswa, mulailah bertanya:
“Skill apa yang sudah benar-benar bisa saya kerjakan, bukan hanya saya pahami?”
Jika pertanyaan tersebut dijawab dengan latihan dan portofolio, mahasiswa akan memiliki bekal yang jauh lebih kuat ketika waktunya terjun ke dunia kerja.
Referensi
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2017). Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2017 tentang Standar Kompetensi Pustakawan. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Dachliyani, L. (2018). Literasi informasi: Kompetensi sebagai pendukung pustakawan bergerak. MADIKA: Media Informasi dan Komunikasi Diklat Kepustakawanan, 4(2). Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Daryono. (2020). Kompetensi pustakawan berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) di era perpustakaan digital. MADIKA: Media Informasi dan Komunikasi Diklat Kepustakawanan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Thanks for reading 20 Skill yang Wajib Dikuasai Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Sebelum Terjun ke Dunia Kerja. Please share...!
0 Komentar untuk "20 Skill yang Wajib Dikuasai Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Sebelum Terjun ke Dunia Kerja"