10 Novel Sastra Indonesia Underrated yang Wajib Dibaca untuk Menambah Wawasan Literasi
Membaca novel Indonesia tidak selalu harus dimulai dari judul-judul yang sudah sangat populer. Di antara banyaknya karya sastra yang dikenal luas oleh masyarakat, terdapat pula sejumlah novel yang mungkin belum terlalu sering dibicarakan, tetapi memiliki cerita, gagasan, dan kekuatan literer yang menarik untuk ditelusuri.
Istilah underrated dalam konteks rekomendasi buku dapat digunakan untuk menggambarkan karya yang belum mendapatkan perhatian sebesar karya-karya lain, meskipun mempunyai kualitas atau daya tarik yang layak dipertimbangkan. Karena itu, mencari novel yang tidak terlalu mainstream justru dapat menjadi pengalaman membaca yang menyenangkan.
Gambar referensi yang Anda berikan menampilkan sepuluh judul novel sastra Indonesia beserta rating Goodreads yang tercantum pada gambar. Daftar tersebut menarik karena memperlihatkan beragam karya, mulai dari Lusifer Lusifer, Tutur Dedes: Doa dan Kutukan, hingga Putri Cina.
Bagi pembaca yang sedang ingin memperluas bacaan sastra Indonesia, daftar seperti ini dapat menjadi titik awal untuk menemukan karya-karya yang mungkin belum pernah dibaca sebelumnya.
Berikut sepuluh novel yang menarik untuk dimasukkan ke dalam daftar bacaan.
1. Lusifer Lusifer
Lusifer Lusifer berada di posisi pertama dalam daftar pada gambar dengan rating Goodreads 4,33.
Judulnya saja sudah mengundang rasa penasaran. Kata "Lusifer" mempunyai konotasi yang kuat dan dapat membawa pembaca pada pertanyaan mengenai manusia, moralitas, pilihan, serta pergulatan antara berbagai sisi kehidupan.
Novel dengan judul yang provokatif seperti ini menarik untuk dibaca bukan hanya karena ceritanya, tetapi juga karena kemungkinan adanya lapisan makna di balik judul dan karakter yang dibangun.
Bagi pembaca sastra, karya semacam ini dapat menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana seorang pengarang mengolah simbol dan persoalan kehidupan menjadi sebuah cerita.
Mengapa menarik dibaca?
- Judulnya memiliki daya tarik yang kuat.
- Dapat menjadi bacaan untuk pembaca yang menyukai karya dengan tema serius.
- Cocok bagi pembaca yang ingin mengeksplorasi karya sastra Indonesia di luar judul-judul mainstream.
Rating yang tercantum pada gambar adalah 4,33, sehingga karya ini menjadi salah satu judul dengan rating tertinggi dalam daftar.
2. Tutur Dedes: Doa dan Kutukan
Berikutnya terdapat Tutur Dedes: Doa dan Kutukan, dengan rating Goodreads 4,32 berdasarkan gambar.
Nama Dedes tentu mengingatkan pembaca pada kisah sejarah dan legenda yang telah lama hidup dalam khazanah masyarakat Indonesia. Mengangkat tokoh atau latar yang berkaitan dengan sejarah Nusantara dapat memberikan pengalaman membaca yang berbeda.
Karya sastra berlatar sejarah memiliki daya tarik tersendiri. Pembaca tidak hanya mengikuti konflik tokoh, tetapi juga dapat memperoleh gambaran mengenai bagaimana masa lalu Indonesia dapat ditafsirkan kembali melalui perspektif sastra.
Kata "doa" dan "kutukan" pada judul juga memberikan kesan adanya pertentangan atau hubungan antara harapan, kekuasaan, nasib, dan konsekuensi dari sebuah pilihan.
Bagi pembaca yang menyukai sastra sejarah dan kisah yang berhubungan dengan Nusantara, novel ini layak dipertimbangkan.
3. Kereta Semar Lembu
Novel ketiga dalam daftar adalah Kereta Semar Lembu dengan rating 4,10.
Judulnya mempunyai nuansa budaya yang kuat. Nama Semar, misalnya, sangat dekat dengan dunia pewayangan dan tradisi budaya Jawa. Kehadiran unsur budaya dalam karya sastra dapat membuat kegiatan membaca menjadi lebih dari sekadar menikmati alur cerita.
Novel yang memanfaatkan unsur budaya dapat membantu pembaca memahami bahwa sastra sering kali menjadi tempat bertemunya cerita, sejarah, identitas, dan kehidupan masyarakat.
Bagi generasi muda, membaca karya seperti ini juga dapat menjadi salah satu cara untuk mengenal kembali unsur budaya yang mungkin terasa semakin jauh dari kehidupan sehari-hari.
Novel ini menarik bagi pembaca yang:
- menyukai cerita dengan nuansa budaya;
- tertarik pada sastra Indonesia;
- ingin memperluas bacaan di luar novel populer;
- menikmati karya yang mempunyai latar budaya Nusantara.
4. Pulau Batu di Samudra Buatan
Selanjutnya ada Pulau Batu di Samudra Buatan, yang pada gambar memperoleh rating 4,08.
Judulnya memberikan kesan yang cukup unik. Penggunaan kata "pulau", "batu", "samudra", dan "buatan" menghadirkan gambaran tentang ruang, lingkungan, sekaligus sesuatu yang bersifat tidak biasa.
Salah satu hal menarik dari membaca karya sastra adalah kesempatan untuk menafsirkan judul dan cerita melalui perspektif masing-masing pembaca. Dua orang dapat membaca buku yang sama dan mendapatkan kesan yang berbeda.
Karena itu, novel yang belum terlalu sering muncul dalam daftar bacaan populer justru dapat menjadi pengalaman literasi yang menarik.
Pembaca dapat menjadikannya sebagai salah satu pilihan ketika ingin keluar dari pola membaca novel yang sudah umum.
5. Lelaki Harimau
Lelaki Harimau tercantum dalam gambar dengan rating Goodreads 4,04.
Judulnya memiliki daya tarik karena menggabungkan sosok manusia dengan citra harimau. Dalam sastra, simbol seperti hewan dapat digunakan untuk membangun berbagai kemungkinan penafsiran mengenai karakter, kekuatan, naluri, konflik, atau kehidupan manusia.
Novel dengan judul kuat seperti ini juga menunjukkan bagaimana sastra dapat menggunakan bahasa yang sederhana tetapi memunculkan pertanyaan besar di benak pembaca.
Bagi pembaca yang sedang mencari novel Indonesia yang memiliki karakter dan konflik menarik, Lelaki Harimau dapat menjadi salah satu judul yang dimasukkan ke dalam daftar bacaan.
Karya seperti ini juga cocok dibicarakan dalam kegiatan literasi di sekolah, komunitas membaca, maupun klub buku karena dapat membuka ruang diskusi mengenai karakter dan tema cerita.
6. Anak Bajang Mengayun Bulan
Judul keenam adalah Anak Bajang Mengayun Bulan dengan rating yang tercantum sebesar 3,98.
Judulnya memiliki nuansa puitis dan imajinatif. Frasa "mengayun bulan" memberikan gambaran yang tidak biasa dan mengundang pembaca untuk membayangkan dunia yang dibangun oleh pengarang.
Karya sastra yang menggunakan bahasa dan judul dengan nuansa simbolis dapat memberikan pengalaman berbeda bagi pembaca. Kita tidak hanya membaca untuk mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga mencoba memahami makna yang mungkin tersembunyi di balik peristiwa.
Membaca novel seperti ini dapat menjadi latihan yang baik untuk meningkatkan kemampuan interpretasi. Pembaca belajar memperhatikan pilihan kata, karakter, latar, konflik, dan berbagai simbol yang muncul dalam cerita.
7. Keberangkatan
Keberangkatan berada pada urutan ketujuh dalam daftar dengan rating Goodreads 3,77.
Kata "keberangkatan" sendiri memiliki makna yang luas. Seseorang dapat berangkat dari sebuah tempat, meninggalkan seseorang, memasuki kehidupan baru, atau memulai perjalanan yang mengubah dirinya.
Dalam karya sastra, perjalanan sering kali tidak hanya berarti perpindahan secara fisik. Perjalanan dapat menjadi gambaran mengenai perubahan kehidupan seorang tokoh.
Novel seperti ini dapat memberikan ruang kepada pembaca untuk melihat perjalanan manusia dari sudut pandang yang berbeda.
Bagi pembaca yang ingin memperluas wawasan mengenai novel Indonesia, Keberangkatan dapat dimasukkan sebagai salah satu pilihan dalam daftar bacaan.
8. Mati, Bertahun yang Lalu
Berikutnya adalah Mati, Bertahun yang Lalu, dengan rating Goodreads 3,68 berdasarkan gambar.
Judul ini terdengar reflektif dan langsung mengarah pada tema waktu serta kematian. Namun, dalam membaca karya sastra, pembaca sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan isi buku hanya dari judul.
Justru salah satu kenikmatan membaca adalah menemukan bagaimana sebuah judul memperoleh maknanya setelah pembaca mengikuti keseluruhan cerita.
Novel dengan tema yang berat juga dapat memberikan kesempatan untuk melakukan refleksi. Pembaca mungkin diajak memikirkan kembali hubungan manusia dengan masa lalu, kehilangan, ingatan, dan perjalanan kehidupan.
Untuk kegiatan literasi, buku seperti ini juga dapat menjadi bahan diskusi yang menarik karena tema-temanya berpotensi membuka berbagai sudut pandang.
9. Duri dan Kutuk
Duri dan Kutuk menempati posisi kesembilan dalam gambar dengan rating 3,67.
Judulnya terdengar tajam dan penuh konflik. Kata "duri" dapat mengingatkan pada sesuatu yang menyakitkan, sementara "kutuk" membawa kesan mengenai konsekuensi atau sesuatu yang membayangi kehidupan tokoh.
Bagi pembaca yang menyukai karya dengan judul kuat dan atmosfer cerita yang serius, buku ini dapat menjadi pilihan untuk memperkaya pengalaman membaca sastra Indonesia.
Tidak semua buku harus dibaca karena sedang viral. Ada kalanya sebuah karya justru menarik karena kita menemukannya melalui rekomendasi, katalog perpustakaan, komunitas literasi, atau daftar bacaan yang jarang dibicarakan.
Inilah salah satu alasan mengapa eksplorasi terhadap novel underrated penting dilakukan.
10. Putri Cina
Judul terakhir dalam daftar adalah Putri Cina, dengan rating Goodreads 3,59 sebagaimana tercantum pada gambar.
Judul tersebut langsung membawa pembaca pada kemungkinan adanya hubungan dengan identitas, sejarah, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat Tionghoa dalam konteks Indonesia.
Sastra Indonesia mempunyai kekayaan tema yang sangat luas karena masyarakat Indonesia sendiri terdiri atas berbagai latar budaya dan sejarah.
Karya yang mengangkat pengalaman kelompok masyarakat tertentu dapat membantu pembaca melihat Indonesia dari perspektif yang lebih beragam. Membaca karya semacam ini juga dapat memperluas pemahaman bahwa pengalaman sejarah dan kebudayaan dapat dituturkan melalui berbagai bentuk karya sastra.
Karena itu, Putri Cina dapat menjadi salah satu pilihan menarik bagi pembaca yang ingin memperluas perspektif dalam membaca sastra Indonesia.
Mengapa Kita Perlu Membaca Novel Indonesia yang Tidak Terlalu Populer?
Popularitas memang dapat membantu sebuah buku mendapatkan perhatian. Namun, popularitas bukan satu-satunya alasan untuk menentukan apakah sebuah karya layak dibaca.
Ada beberapa alasan mengapa pembaca sebaiknya sesekali mencari novel yang belum terlalu populer.
1. Menemukan perspektif baru
Novel memberikan kesempatan kepada pembaca untuk melihat kehidupan melalui pengalaman tokoh dan dunia yang dibangun pengarang.
Semakin beragam buku yang dibaca, semakin banyak pula perspektif yang dapat kita temui.
2. Memperluas wawasan tentang sastra Indonesia
Sastra Indonesia tidak hanya terdiri atas beberapa judul yang sering muncul di media sosial. Ada begitu banyak karya dari berbagai periode, genre, pengarang, dan latar budaya.
Membaca karya yang kurang populer dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas peta bacaan tersebut.
3. Menemukan buku yang sesuai dengan selera pribadi
Buku yang sangat populer belum tentu cocok untuk semua orang.
Sebaliknya, buku yang jarang dibicarakan bisa saja justru menjadi karya yang sangat disukai oleh seorang pembaca.
Karena itu, jangan takut mencoba judul yang belum banyak dikenal.
4. Membantu membangun budaya membaca
Kebiasaan membaca tidak harus selalu mengikuti tren. Pembaca dapat membangun daftar bacaan berdasarkan rasa ingin tahu dan minat pribadi.
Perpustakaan, toko buku, katalog daring, komunitas literasi, serta rekomendasi dari pembaca lain dapat menjadi sumber untuk menemukan buku baru.
Cara Memilih Novel Sastra Indonesia untuk Dibaca
Jika Anda masih bingung menentukan buku mana yang akan dibaca terlebih dahulu, gunakan beberapa pertimbangan berikut.
Pertama, lihat temanya. Pilih tema yang memang membuat Anda penasaran.
Kedua, baca sinopsisnya. Sinopsis dapat membantu mengetahui gambaran umum cerita tanpa harus membaca keseluruhan buku.
Ketiga, perhatikan ulasan pembaca. Rating dapat menjadi informasi tambahan, tetapi jangan menjadikannya satu-satunya ukuran.
Keempat, pertimbangkan gaya bahasa. Ada novel yang menggunakan bahasa ringan dan ada pula yang membutuhkan konsentrasi lebih tinggi.
Kelima, sesuaikan dengan tujuan membaca. Jika ingin hiburan, pilih cerita yang sesuai selera. Jika ingin meningkatkan wawasan literasi, pertimbangkan karya yang menawarkan tema sosial, budaya, sejarah, atau persoalan kemanusiaan.
Daftar 10 Novel dalam Gambar
Sebagai ringkasan, berikut daftar judul dan rating Goodreads yang tercantum pada gambar yang Anda kirim:
| No. | Judul Novel | Rating pada Gambar |
|---|---|---|
| 1 | Lusifer Lusifer | ⭐ 4,33 |
| 2 | Tutur Dedes: Doa dan Kutukan | ⭐ 4,32 |
| 3 | Kereta Semar Lembu | ⭐ 4,10 |
| 4 | Pulau Batu di Samudra Buatan | ⭐ 4,08 |
| 5 | Lelaki Harimau | ⭐ 4,04 |
| 6 | Anak Bajang Mengayun Bulan | ⭐ 3,98 |
| 7 | Keberangkatan | ⭐ 3,77 |
| 8 | Mati, Bertahun yang Lalu | ⭐ 3,68 |
| 9 | Duri dan Kutuk | ⭐ 3,67 |
| 10 | Putri Cina | ⭐ 3,59 |
Catatan: rating di atas mengikuti angka yang terlihat pada gambar referensi dan dapat berubah seiring waktu karena rating Goodreads bersifat dinamis.
Penutup
Membaca sastra Indonesia berarti membuka pintu untuk mengenal lebih banyak cerita, pemikiran, budaya, sejarah, dan pengalaman manusia. Karena itu, daftar bacaan tidak perlu selalu berisi buku yang sedang populer.
Sepuluh judul dalam daftar di atas dapat menjadi titik awal bagi pembaca yang ingin melakukan eksplorasi lebih jauh terhadap karya sastra Indonesia. Mulai dari Lusifer Lusifer, Tutur Dedes: Doa dan Kutukan, Kereta Semar Lembu, Pulau Batu di Samudra Buatan, hingga Putri Cina, setiap judul menawarkan kesempatan bagi pembaca untuk menemukan pengalaman membaca yang berbeda.
Yang terpenting, jangan menjadikan label underrated sebagai jaminan bahwa sebuah buku pasti cocok untuk semua orang. Gunakan daftar tersebut sebagai peta awal untuk menemukan bacaan baru.
Pada akhirnya, buku yang baik adalah buku yang mampu membuat pembacanya berhenti sejenak, berpikir, merasakan sesuatu, atau bahkan melihat kehidupan dari sudut pandang yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Jadi, novel mana yang paling membuat Anda penasaran untuk dibaca terlebih dahulu?
Referensi
Eagleton, T. (2008). Literary theory: An introduction (Anniversary ed.). University of Minnesota Press.
Nurgiyantoro, B. (2015). Teori pengkajian fiksi. Gadjah Mada University Press.
Wellek, R., & Warren, A. (2016). Teori kesusastraan. Gramedia Pustaka Utama.