-->

Dunia Perpustakaan

Panduan Pustakawan dan Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi ruang tumbuhnya ide, karakter, dan masa depan. Setiap halaman yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar dalam hidup seseorang.

Pengelolaan dan Perawatan Perangkat Digital di Sekolah: Panduan untuk Guru dan Tenaga Kependidikan



Digitalisasi pembelajaran membawa perubahan pada kebutuhan sarana dan prasarana sekolah. Perangkat seperti Papan Interaktif Digital (PID), laptop, komputer, penyimpanan eksternal, jaringan internet, perangkat audio, kamera, dan berbagai perangkat pendukung lainnya semakin banyak digunakan untuk menunjang kegiatan pembelajaran.

Namun, menyediakan perangkat digital saja belum cukup.

Perangkat yang tersedia perlu didata, digunakan sesuai prosedur, dirawat secara berkala, diamankan, dan dipantau kondisinya. Tanpa pengelolaan yang baik, perangkat yang semula diadakan untuk mendukung pembelajaran dapat mengalami kerusakan, tidak terpakai secara optimal, atau bahkan sulit diketahui keberadaan dan kondisinya.

Materi Bimtek Penguatan Digitalisasi Pembelajaran menjelaskan bahwa pengelolaan perangkat digital mencakup tiga bagian penting, yaitu inventarisasi, penggunaan dan pemanfaatan atau manajemen fasilitas, serta perawatan dan pemeliharaan. Materi tersebut juga membekali guru dan tenaga kependidikan untuk melakukan perawatan serta troubleshooting sederhana terhadap PID, laptop, HDD, dan perangkat digital lainnya.

Karena itu, pengelolaan perangkat digital perlu menjadi bagian dari budaya sekolah.

Perangkat digital bukan hanya milik satu orang atau satu ruangan. Perangkat tersebut merupakan fasilitas sekolah yang harus dikelola agar dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi guru dan murid.

Mengapa Perangkat Digital Perlu Dikelola dengan Baik?

Perangkat digital memiliki karakteristik yang berbeda dengan sebagian sarana pembelajaran konvensional. Selain memiliki nilai pengadaan yang relatif tinggi, perangkat digital juga membutuhkan listrik, koneksi, pembaruan perangkat lunak, penyimpanan data, dan pemeliharaan teknis.

Kerusakan pada salah satu perangkat bahkan dapat mengganggu rangkaian pembelajaran.

Misalnya, ketika PID tidak dapat menyala, pembelajaran yang sudah dirancang menggunakan tampilan digital dapat terganggu. Begitu juga ketika laptop bermasalah, kabel rusak, penyimpanan eksternal mengalami gangguan, atau data bahan ajar tidak memiliki salinan cadangan.

Penelitian tentang manajemen sarana dan prasarana di sekolah dasar menunjukkan bahwa pengelolaan fasilitas mencakup beberapa proses, antara lain perencanaan, pengadaan, pemeliharaan, inventarisasi, dan penghapusan. Pengelolaan yang sistematis diperlukan agar sarana pendidikan dapat mendukung proses pembelajaran secara optimal.

Dalam konteks perangkat digital, prinsip tersebut dapat diterapkan dengan memberikan perhatian khusus pada kondisi fisik perangkat, perangkat lunak, keamanan data, akses penggunaan, serta kesiapan perangkat sebelum digunakan.

Tiga Pilar Pengelolaan Perangkat Digital Sekolah

Berdasarkan materi Bimtek, pengelolaan perangkat digital dapat dipahami melalui tiga kegiatan utama:

  1. Inventarisasi

  2. Penggunaan dan pemanfaatan

  3. Perawatan dan pemeliharaan

Ketiga kegiatan tersebut saling berhubungan.

Inventarisasi memberikan informasi tentang perangkat yang dimiliki sekolah.

Penggunaan dan pemanfaatan memastikan perangkat benar-benar digunakan sesuai fungsi.

Perawatan dan pemeliharaan menjaga perangkat agar tetap dapat digunakan.

Jika salah satu bagian tidak berjalan, pengelolaan perangkat menjadi kurang optimal.


1. Inventarisasi Perangkat Digital

Inventarisasi merupakan langkah awal yang sangat penting.

Sekolah perlu mengetahui perangkat apa saja yang dimiliki, berapa jumlahnya, di mana lokasinya, bagaimana kondisinya, serta siapa yang bertanggung jawab terhadap penggunaannya.

Materi Bimtek memberikan beberapa informasi yang perlu dicatat dalam inventarisasi, antara lain:

  • nama barang;

  • kode barang atau nomor seri;

  • kondisi fisik;

  • lokasi penempatan;

  • PIC atau penanggung jawab;

  • aksesori;

  • catatan khusus;

  • dokumentasi;

  • dokumen pendukung seperti BAST dan BAPP.

Inventarisasi dapat dilakukan menggunakan sistem elektronik maupun secara manual sesuai mekanisme yang diterapkan sekolah.

Contoh data inventaris perangkat digital

Sekolah dapat membuat tabel sederhana seperti berikut:

No.Nama PerangkatKode/SerialLokasiKondisiPenanggung JawabKeterangan
1PIDPID-001Kelas 4BaikGuru Kelas 4Lengkap
2LaptopLT-001Ruang GuruBaikOperatorCharger tersedia
3HDD EksternalHDD-001PerpustakaanBaikPengelolaBackup data
4RouterRT-001Ruang ServerBaikOperatorTerhubung jaringan

Format tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.

Yang paling penting adalah data mudah diperbarui dan dapat digunakan untuk mengetahui kondisi perangkat secara nyata.

2. Verifikasi Data Inventaris

Inventarisasi tidak berhenti pada pencatatan awal.

Data yang tercatat perlu dibandingkan dengan kondisi fisik perangkat.

Misalnya, dalam daftar tertulis sekolah memiliki lima laptop. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata satu laptop sedang diperbaiki, satu berada di ruang lain, dan tiga berada di ruang guru.

Informasi seperti ini perlu diperbarui.

Materi Bimtek menyebutkan pentingnya verifikasi dan validasi dengan melakukan pengecekan ulang antara data fisik dan dokumen inventaris. Perbedaan atau ketidaksesuaian perlu diidentifikasi dan diperbaiki. Hasil verifikasi juga dapat didokumentasikan, termasuk dengan foto kondisi perangkat.

Dengan demikian, inventarisasi bukan sekadar administrasi, tetapi menjadi sumber informasi untuk pengambilan keputusan.

3. Menentukan Penanggung Jawab Perangkat

Perangkat yang digunakan bersama membutuhkan pengelolaan yang jelas.

Sekolah dapat menetapkan PIC atau penanggung jawab sesuai jenis perangkat dan struktur pengelolaan yang berlaku.

Penanggung jawab tidak berarti menjadi satu-satunya orang yang boleh menggunakan perangkat. Perannya lebih kepada memastikan:

  • perangkat tersedia;

  • penggunaan tercatat apabila diperlukan;

  • kondisi perangkat dipantau;

  • masalah dilaporkan;

  • perangkat disimpan dengan benar;

  • jadwal perawatan diperhatikan.

Kejelasan tanggung jawab penting agar tidak terjadi kondisi ketika perangkat rusak tetapi tidak ada pihak yang mengetahui kapan dan bagaimana kerusakan tersebut terjadi.

4. Membuat Aturan Penggunaan Perangkat Digital

Setelah perangkat diinventarisasi, sekolah perlu memiliki aturan penggunaan.

Materi Bimtek mencantumkan beberapa unsur dalam kebijakan penggunaan dan pemanfaatan fasilitas, antara lain tim pengelola, tata tertib, prosedur penggunaan, jadwal penggunaan, pencatatan kunjungan, serta pencatatan saran dan masukan dari pengguna.

Aturan tersebut dapat dibuat sederhana.

Misalnya:

Sebelum menggunakan perangkat:

  • periksa kondisi fisik;

  • pastikan kabel terpasang dengan benar;

  • pastikan perangkat yang dibutuhkan tersedia;

  • siapkan bahan pembelajaran.

Saat menggunakan:

  • gunakan perangkat sesuai fungsi;

  • jangan memberikan tekanan berlebihan pada layar;

  • jangan makan atau minum di dekat perangkat;

  • jangan memasang aplikasi sembarangan;

  • jaga keamanan akun dan data.

Setelah menggunakan:

  • simpan pekerjaan;

  • lakukan backup jika diperlukan;

  • tutup aplikasi;

  • shutdown perangkat sesuai prosedur;

  • rapikan kabel dan aksesori;

  • kembalikan perangkat ke tempat penyimpanan.

Aturan sederhana seperti ini dapat mengurangi risiko kesalahan penggunaan.


5. Perawatan dan Pemeliharaan Perangkat Digital

Perawatan bertujuan menjaga perangkat tetap dalam kondisi baik.

Materi Bimtek menyebutkan beberapa tujuan perawatan dan pemeliharaan, antara lain menjaga kinerja perangkat tetap optimal, memperpanjang usia pakai, mencegah kerusakan, mengurangi gangguan teknis saat pembelajaran, menjamin keamanan penggunaan, dan menekan biaya perbaikan atau penggantian.

Secara umum, perawatan dapat dibedakan menjadi:

Preventive maintenance

Perawatan dilakukan sebelum terjadi kerusakan.

Contohnya:

  • membersihkan perangkat;

  • memeriksa kabel;

  • memeriksa port;

  • memperbarui perangkat lunak;

  • memeriksa kapasitas penyimpanan;

  • melakukan backup;

  • memeriksa fungsi perangkat secara berkala.

Corrective maintenance

Perbaikan dilakukan setelah perangkat mengalami kerusakan atau malfungsi.

Misalnya, memperbaiki koneksi yang bermasalah atau mengganti komponen yang rusak sesuai prosedur.

Predictive maintenance

Materi Bimtek juga mengenalkan pemeliharaan prediktif, yaitu penggunaan teknologi dan data untuk memprediksi potensi kerusakan sebelum terjadi.

Untuk sekolah, penerapannya dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan sumber daya yang tersedia.


6. Perawatan Papan Interaktif Digital

PID memerlukan perhatian khusus karena memiliki layar sentuh dan komponen elektronik.

Materi Bimtek memberikan beberapa prosedur pemeliharaan PID atau IFP, antara lain:

  • menempatkan perangkat pada permukaan yang stabil dan rata;

  • menghindari sinar matahari langsung;

  • menghindari kelembapan tinggi dan suhu ekstrem;

  • memastikan ventilasi tidak terhalang;

  • memeriksa kondisi fisik layar dan bingkai;

  • memeriksa kabel dan port;

  • tidak sering memindahkan perangkat;

  • menjauhkan perangkat dari jangkauan anak-anak saat tidak digunakan;

  • mencabut sumber listrik ketika terjadi badai petir.

Membersihkan layar PID

Membersihkan layar juga harus dilakukan dengan benar.

Menurut materi Bimtek:

  1. Matikan perangkat terlebih dahulu.

  2. Gunakan kain microfiber lembut dan kering untuk membersihkan debu.

  3. Hindari tisu kasar atau bahan abrasif.

  4. Untuk noda atau sidik jari, gunakan cairan pembersih layar yang sesuai.

  5. Semprotkan cairan pada kain, bukan langsung pada layar.

  6. Bersihkan area antara layar dan bezel dengan lembut.

  7. Hindari memberikan tekanan berlebihan pada layar.

Hal sederhana seperti cara membersihkan layar dapat berpengaruh terhadap usia pakai perangkat.


7. Perawatan Stylus, Kabel, dan Aksesori

Perangkat utama tidak dapat berfungsi optimal jika aksesori pendukungnya tidak dirawat.

Stylus atau pena digital sebaiknya disimpan di tempat khusus agar tidak hilang atau rusak.

Kabel dan aksesori juga perlu diperiksa secara berkala. Materi Bimtek menyarankan penggunaan kabel dan aksesori yang sesuai atau asli ketika menghubungkan perangkat IFP.

Port dan tombol dapat dibersihkan secara berkala menggunakan alat yang sesuai.

Sekolah juga sebaiknya memiliki tempat penyimpanan khusus untuk aksesori sehingga kabel, remote control, stylus, dan perlengkapan lainnya tidak tercecer.

8. Perawatan Laptop Sekolah

Laptop merupakan perangkat yang sangat fleksibel karena dapat digunakan untuk menyiapkan bahan ajar, mengolah data, mengakses sumber belajar, membuat media, melakukan asesmen, dan berbagai aktivitas lainnya.

Karena sering digunakan, laptop perlu dirawat secara rutin.

Materi Bimtek memberikan beberapa praktik pemeliharaan laptop, antara lain:

  • menggunakan laptop di permukaan datar dan bersih;

  • menghindari penggunaan di atas kasur atau bantal;

  • menghindari makan dan minum di dekat laptop;

  • melakukan shutdown dengan benar;

  • membersihkan keyboard dan layar;

  • memeriksa suhu CPU/GPU;

  • memperbarui sistem operasi;

  • membersihkan ventilasi dan kipas;

  • memeriksa kapasitas baterai;

  • melakukan backup data;

  • mengoptimalkan penyimpanan;

  • menghapus program yang tidak digunakan.

Perawatan tersebut tidak harus dilakukan semuanya setiap hari.

Sekolah dapat membuat jadwal sederhana sesuai kebutuhan dan kondisi perangkat.


9. Perawatan Penyimpanan Eksternal

Sekolah juga perlu memperhatikan perangkat penyimpanan seperti HDD eksternal, SSD, flashdisk, atau perangkat penyimpanan lainnya.

Materi Bimtek menyarankan beberapa hal, seperti:

  • memeriksa kondisi casing, kabel, dan konektor;

  • menggunakan fitur safely remove sebelum mencabut perangkat;

  • menghindari benturan;

  • menghindari panas dan kelembapan;

  • menyimpan perangkat pada tempat yang aman;

  • mengelola kapasitas penyimpanan;

  • melakukan pemeriksaan disk;

  • melakukan pemindaian antivirus;

  • melakukan backup data penting secara rutin.

Khusus untuk perangkat penyimpanan, aspek data menjadi sangat penting.

Kerusakan perangkat mungkin dapat diganti, tetapi kehilangan bahan ajar, dokumen administrasi, atau hasil pekerjaan dapat menimbulkan masalah yang lebih besar.

Karena itu, sekolah sebaiknya membiasakan backup data penting secara berkala.


10. Jangan Menyimpan Semua Data Hanya di Satu Perangkat

Salah satu kebiasaan yang perlu dibangun dalam pengelolaan perangkat digital adalah memiliki salinan data penting.

Misalnya, bahan ajar guru sebaiknya tidak hanya tersimpan pada satu laptop.

Salinan dapat disimpan pada media lain sesuai fasilitas dan kebijakan sekolah, seperti:

  • HDD eksternal;

  • SSD;

  • server atau NAS;

  • penyimpanan awan;

  • media penyimpanan sekolah lainnya.

Tujuannya bukan sekadar memperbanyak tempat penyimpanan, tetapi mengurangi risiko kehilangan data ketika satu perangkat mengalami kerusakan.

Perpustakaan sekolah juga dapat berperan dalam membantu pengorganisasian sumber belajar digital, selama mekanisme penyimpanan dan aksesnya sesuai kebijakan sekolah.


11. Membuat Jadwal Pemeliharaan

Pemeliharaan akan lebih mudah dilakukan apabila memiliki jadwal.

Materi Bimtek memberikan contoh interval pemeliharaan IFP sebagai berikut: harian, mingguan, bulanan, triwulanan, dan semesteran.

Sekolah dapat mengadaptasinya menjadi jadwal sederhana.

IntervalContoh Pemeriksaan
HarianKondisi fisik, kebersihan, fungsi dasar
MingguanKabel, port, suara, gambar, koneksi
BulananPembaruan aplikasi dan pembersihan
TriwulananFungsi sentuh dan dudukan
SemesteranPemeriksaan menyeluruh perangkat dan aksesori

Jadwal tersebut merupakan contoh yang dapat disesuaikan. Sekolah tidak harus menerapkan interval yang sama untuk semua jenis perangkat.

Laptop, PID, router, HDD, dan perangkat lainnya memiliki kebutuhan pemeliharaan yang berbeda.


12. Troubleshooting Sederhana

Troubleshooting merupakan proses sistematis untuk menemukan, menganalisis, dan memperbaiki masalah teknis atau operasional perangkat. Materi Bimtek menempatkan troubleshooting sebagai bagian dari kompetensi dasar dalam pengelolaan perangkat digital.

Kemampuan troubleshooting sederhana penting karena tidak semua masalah harus langsung ditangani teknisi.

Contohnya, apabila PID tidak menyala, pemeriksaan awal dapat dimulai dari sumber listrik dan kabel.

Jika layar sentuh tidak merespons, dapat diperiksa kebersihan layar dan dilakukan restart sesuai prosedur.

Jika tampilan tidak muncul dari laptop, dapat diperiksa sumber input dan kabel koneksi.

Namun, troubleshooting sederhana memiliki batas.

Jika masalah berhubungan dengan kerusakan hardware, panel retak, komponen listrik, atau kondisi yang membutuhkan pembongkaran perangkat, penanganan sebaiknya dilakukan oleh pihak yang memiliki kompetensi atau layanan teknis yang sesuai.

Contoh Masalah dan Pemeriksaan Awal

MasalahPemeriksaan Awal
PID tidak menyalaPeriksa kabel dan sumber listrik
Layar sentuh tidak meresponsBersihkan layar dan restart perangkat
Tampilan buramPeriksa pengaturan resolusi/display
Tampilan bergerak sendiriPeriksa apakah layar kotor atau basah
Gambar tidak munculPeriksa input source dan kabel
Stylus bermasalahPeriksa koneksi dan kondisi stylus
Laptop lambatPeriksa aplikasi berjalan dan kapasitas penyimpanan
Data eksternal tidak terbacaPeriksa kabel/koneksi dan kondisi media

Tabel ini merupakan ringkasan dari contoh troubleshooting dalam materi Bimtek.


13. Dokumentasikan Setiap Masalah

Satu hal yang sering terlupakan adalah dokumentasi.

Ketika perangkat mengalami masalah, sekolah sebaiknya mencatat:

  • nama perangkat;

  • nomor inventaris;

  • tanggal kejadian;

  • jenis masalah;

  • pengguna terakhir;

  • tindakan awal;

  • hasil pemeriksaan;

  • tindak lanjut;

  • status perangkat.

Dokumentasi akan membantu sekolah melihat pola kerusakan.

Misalnya, jika sebuah laptop mengalami masalah yang sama beberapa kali, sekolah dapat mempertimbangkan apakah perangkat membutuhkan perawatan lebih lanjut atau penggantian.

Data tersebut juga dapat membantu perencanaan kebutuhan sarana pada periode berikutnya.


14. Pengelolaan Perangkat Digital Membutuhkan Kolaborasi

Pengelolaan perangkat digital bukan hanya tugas operator sekolah atau tenaga administrasi.

Guru memiliki peran dalam penggunaan yang benar.

Murid perlu diberi pemahaman tentang tata cara menggunakan perangkat.

Penanggung jawab sarana membantu inventarisasi dan pemeliharaan.

Kepala sekolah memastikan pengelolaan berjalan.

Perpustakaan dapat membantu dalam pengelolaan sumber belajar digital.

Teknisi atau pihak yang memiliki kompetensi teknis menangani masalah yang membutuhkan penanganan khusus.

Dengan pembagian peran tersebut, perangkat tidak menjadi tanggung jawab satu orang saja.

Penelitian mengenai strategi pengelolaan sarana dan prasarana di sekolah dasar juga menunjukkan pentingnya perencanaan, pengadaan, inventarisasi, pemanfaatan, pemeliharaan, dan pengawasan dalam pengelolaan fasilitas sekolah.


15. Checklist Sederhana Pengelolaan Perangkat Digital Sekolah

Sekolah dapat menggunakan checklist berikut sebagai langkah awal.

A. Inventarisasi

☐ Semua perangkat sudah tercatat
☐ Kode/nomor seri tersedia
☐ Kondisi perangkat sudah diperiksa
☐ Lokasi perangkat tercatat
☐ Penanggung jawab ditentukan
☐ Aksesori tercatat
☐ Dokumentasi kondisi tersedia

B. Penggunaan

☐ Ada tata tertib penggunaan
☐ Ada prosedur penggunaan
☐ Jadwal penggunaan tersedia jika diperlukan
☐ Penggunaan perangkat dapat dipantau
☐ Pengguna memahami prosedur dasar

C. Perawatan

☐ Perangkat dibersihkan secara berkala
☐ Kabel dan port diperiksa
☐ Perangkat lunak diperbarui
☐ Penyimpanan diperiksa
☐ Data penting dibackup
☐ Aksesori disimpan dengan baik

D. Troubleshooting

☐ Masalah perangkat dicatat
☐ Pemeriksaan awal dilakukan
☐ Masalah yang tidak dapat ditangani dilaporkan
☐ Riwayat perbaikan terdokumentasi

Checklist tersebut dapat dikembangkan menjadi formulir digital sekolah.


16. Mengarah ke Pengelolaan Digital

Apabila sekolah sudah terbiasa melakukan pencatatan secara manual, langkah berikutnya dapat berupa digitalisasi pengelolaan.

Materi Bimtek mengenalkan konsep digitalisasi perawatan, yaitu pencatatan, pemantauan, dan pengelolaan aktivitas perawatan secara digital. Materi tersebut juga menyebutkan CMMS sebagai salah satu contoh pendekatan dalam pengelolaan pemeliharaan.

Dalam praktik sederhana, sekolah tidak harus langsung menggunakan sistem yang kompleks.

Sekolah dapat memulai dengan:

  • spreadsheet inventaris;

  • formulir pelaporan kerusakan;

  • kalender pemeliharaan;

  • folder dokumentasi;

  • pencatatan riwayat perbaikan;

  • daftar perangkat berdasarkan lokasi;

  • pencatatan kondisi perangkat secara berkala.

Dengan sistem sederhana tersebut, data perangkat menjadi lebih mudah diperbarui dan ditelusuri.


17. Menghubungkan Pengelolaan Perangkat dengan Pembelajaran

Tujuan akhir pengelolaan perangkat bukan sekadar menjaga barang agar tetap bagus.

Tujuan akhirnya adalah memastikan perangkat dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran.

Penelitian tentang pemanfaatan teknologi informasi di sekolah dasar menunjukkan bahwa teknologi dapat digunakan sebagai alat bantu administrasi, media pembelajaran, maupun sumber belajar. Penelitian tersebut juga mengidentifikasi bahwa keterampilan guru dan ketersediaan fasilitas merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pemanfaatan teknologi.

Karena itu, pengelolaan perangkat perlu dikaitkan dengan pertanyaan:

“Apakah perangkat yang dimiliki sekolah benar-benar dimanfaatkan untuk pembelajaran?”

Sekolah dapat melakukan evaluasi sederhana:

  • Perangkat apa yang paling sering digunakan?

  • Perangkat apa yang jarang digunakan?

  • Apa penyebab perangkat jarang digunakan?

  • Apakah guru membutuhkan pelatihan?

  • Apakah perangkat mengalami kendala teknis?

  • Apakah sumber belajar yang tersedia sudah sesuai?

  • Apakah perangkat membantu kegiatan literasi dan numerasi?

Pertanyaan tersebut dapat membantu sekolah mengubah pengelolaan perangkat dari sekadar administrasi menjadi bagian dari peningkatan kualitas pembelajaran.

Penutup

Pengelolaan perangkat digital sekolah merupakan bagian penting dari keberhasilan digitalisasi pembelajaran.

Perangkat seperti PID, laptop, HDD, jaringan, dan berbagai perangkat pendukung tidak cukup hanya tersedia. Perangkat tersebut perlu diinventarisasi, digunakan sesuai prosedur, dirawat, dipelihara, diamankan, dan dievaluasi pemanfaatannya.

Inventarisasi membantu sekolah mengetahui aset yang dimiliki.

Aturan penggunaan membantu menjaga perangkat tetap aman.

Perawatan preventif membantu mengurangi risiko kerusakan.

Backup membantu melindungi data.

Troubleshooting sederhana membantu mengatasi gangguan awal.

Dokumentasi membantu sekolah mengambil keputusan berdasarkan kondisi nyata.

Yang tidak kalah penting, semua kegiatan tersebut harus diarahkan pada satu tujuan: memastikan perangkat digital benar-benar mendukung pembelajaran yang interaktif, efektif, aman, dan bermakna.

Dalam konteks perpustakaan sekolah, pengelolaan perangkat digital juga dapat menjadi bagian dari pengembangan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar. Perangkat dan sumber belajar digital dapat dikelola secara bersama agar guru dan murid lebih mudah memanfaatkannya.

Dengan pengelolaan yang baik, perangkat digital bukan sekadar aset sekolah, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang terus berkembang.





Referensi

Erroyani, S. A. (2022). Manajemen sarana dan prasarana di sekolah dasar. Kalam Cendekia: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 10(2). https://doi.org/10.20961/jkc.v10i2.65772

Prasetyo, E. B. (2015). Pola pemanfaatan teknologi informasi di sekolah dasar. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan, 7(2). https://doi.org/10.21831/jpipfip.v7i2.4916

Maulida, F., Sulfiani, S., Az Zahro, F., Syapuan, A., & Jihadilla, N. (2025). Strategi pengelolaan sarana dan prasarana di lembaga pendidikan sekolah dasar. Jurnal Dinamika Manajemen Pendidikan, 8(2), 143–155. https://doi.org/10.26740/jdmp.v8n2.p143-155

Papan Interaktif Digital (PID) sebagai Media Pembelajaran Interaktif di Sekolah

 


Digitalisasi pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan laptop, jaringan internet, atau berbagai aplikasi pembelajaran. Sekolah juga mulai memanfaatkan perangkat yang dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih visual, interaktif, dan kolaboratif. Salah satu perangkat tersebut adalah Papan Interaktif Digital (PID).

Papan Interaktif Digital dapat digunakan untuk menampilkan bahan ajar digital, menulis dan menggambar secara langsung pada layar, memberikan anotasi terhadap materi, menampilkan video atau simulasi, menghubungkan perangkat lain, serta menyimpan hasil pembelajaran. Dengan karakteristik tersebut, PID dapat menjadi salah satu bagian dari ekosistem pembelajaran digital di sekolah.

Dalam materi Bimtek Penguatan Digitalisasi Pembelajaran, PID diperkenalkan sebagai salah satu perangkat tampilan dan pembelajaran digital. Fungsinya tidak berhenti pada menampilkan materi di depan kelas, tetapi dapat digunakan untuk mendukung interaksi guru dan murid, kolaborasi, pemanfaatan multimedia, serta dokumentasi hasil pembelajaran.

Karena itu, keberadaan PID sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai pengganti papan tulis atau proyektor. Yang lebih penting adalah bagaimana guru memanfaatkan fitur perangkat tersebut untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Apa Itu Papan Interaktif Digital?

Papan Interaktif Digital adalah perangkat layar digital berukuran besar yang memungkinkan pengguna berinteraksi langsung dengan tampilan melalui sentuhan atau perangkat pena digital.

Berbeda dengan layar presentasi biasa, PID memiliki kemampuan interaktif. Guru tidak hanya menampilkan slide, tetapi dapat menulis, menggambar, menghapus, memindahkan objek, memberikan anotasi, membuka berbagai sumber belajar digital, dan mengajak murid berinteraksi langsung dengan materi.

Dalam materi Bimtek, perangkat digital pembelajaran dikelompokkan ke dalam beberapa kategori, antara lain perangkat tampilan dan presentasi kelas, perangkat komputasi, jaringan dan konektivitas, audio dan multimedia, perangkat perekaman, penyimpanan data, perangkat administrasi, serta perangkat keamanan dan proteksi. PID termasuk dalam kelompok perangkat tampilan dan presentasi kelas.

Namun, fungsi PID dapat melampaui fungsi perangkat presentasi apabila dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran yang dirancang secara interaktif.

Misalnya, ketika guru mengajarkan materi Bahasa Indonesia tentang struktur teks, guru dapat menampilkan sebuah teks pada PID kemudian meminta murid menandai bagian orientasi, isi, dan penutup secara langsung. Dalam pembelajaran matematika, guru dapat menggunakan papan digital untuk menampilkan soal, membuat gambar bangun, atau melakukan anotasi terhadap langkah penyelesaian.

Dengan demikian, nilai utama PID bukan hanya terletak pada spesifikasi perangkat, tetapi pada cara perangkat tersebut digunakan dalam proses pembelajaran.

Fitur Papan Interaktif Digital yang Mendukung Pembelajaran

Materi Bimtek mengenai pengenalan perangkat digital menjelaskan sejumlah fitur PID yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran. Fitur tersebut dapat dikelompokkan menjadi fitur interaksi dan kolaborasi, audio-visual, konektivitas, keamanan, serta integrasi dengan berbagai layanan digital.

1. Layar sentuh interaktif

Fitur layar sentuh memungkinkan guru dan murid melakukan berbagai aktivitas secara langsung pada layar.

Pengguna dapat:

  • menulis;

  • menggambar;

  • menghapus;

  • memindahkan objek;

  • memberikan tanda atau anotasi;

  • mengembangkan tampilan pembelajaran secara langsung.

Fitur ini membuat kegiatan pembelajaran menjadi lebih dinamis dibandingkan penggunaan media yang hanya ditampilkan secara satu arah.

Misalnya, guru menampilkan sebuah gambar pada layar kemudian meminta murid mengidentifikasi bagian-bagian tertentu. Murid dapat maju ke depan kelas dan memberikan tanda pada gambar tersebut.

Interaksi semacam ini membuat teknologi menjadi bagian dari aktivitas belajar, bukan sekadar alat untuk menyajikan informasi.

2. Papan tulis digital

PID juga memiliki fungsi sebagai papan tulis digital. Materi Bimtek menyebutkan berbagai alat bantu yang dapat digunakan, seperti penggaris, segitiga, busur derajat, dan pena digital.

Guru dapat memanfaatkan fitur tersebut sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.

Dalam matematika, misalnya, papan digital dapat digunakan untuk menggambar bangun geometri atau menjelaskan proses penyelesaian soal.

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, guru dapat menulis kata, kalimat, membuat bagan, atau memberikan anotasi terhadap teks.

Dalam IPAS, guru dapat membuat sketsa sederhana, memberikan label pada gambar, atau menjelaskan hubungan antarkomponen suatu sistem.

Keuntungan lainnya adalah hasil tulisan atau pembahasan dapat menjadi bagian dari dokumentasi pembelajaran apabila perangkat mendukung fungsi penyimpanan.

3. Kolaborasi secara langsung

Salah satu potensi penting PID adalah mendukung kolaborasi guru dan murid.

Guru dapat menampilkan permasalahan, kemudian murid secara bergantian memberikan jawaban, membuat anotasi, atau mempresentasikan hasil kerja kelompok.

Dengan pola tersebut, PID dapat menjadi ruang bersama untuk membangun pemahaman.

Hal ini sejalan dengan konsep interaktivitas dalam pengembangan media pembelajaran. Interaktivitas bukan sekadar membuat murid mengklik tombol, tetapi harus memberikan kesempatan untuk berpikir, memberikan respons, memperoleh umpan balik, dan terlibat dalam proses belajar.

Materi Bimtek mengenai media pembelajaran interaktif juga menekankan bahwa interaksi dapat berlangsung antara murid dengan konten, murid dengan murid, serta murid dengan guru.

4. Integrasi multimedia

PID dapat digunakan untuk menampilkan berbagai bentuk sumber belajar digital, seperti:

  • gambar;

  • video;

  • audio;

  • presentasi;

  • animasi;

  • simulasi;

  • bahan ajar digital;

  • sumber informasi berbasis web.

Integrasi berbagai media dapat membantu guru menjelaskan konsep yang sulit apabila hanya disampaikan melalui teks.

Penelitian tentang media pembelajaran interaktif di sekolah dasar juga menunjukkan bahwa media digital dapat dikembangkan untuk mendukung pemahaman dan keterlibatan peserta didik. Misalnya, penelitian Thohir, Renata, dan Utama (2024) mengenai video interaktif untuk siswa sekolah dasar menunjukkan bahwa media yang dikembangkan memperoleh penilaian validitas dan kepraktisan yang baik dalam konteks penelitian tersebut.

Artinya, perangkat seperti PID akan semakin bermanfaat apabila dipadukan dengan bahan ajar yang memang dirancang untuk mendukung tujuan pembelajaran.

5. Menyimpan dan membagikan hasil pembelajaran

Fitur penyimpanan juga penting dalam kegiatan pembelajaran.

Hasil diskusi yang ditulis pada papan digital dapat disimpan sebagai dokumentasi. Guru kemudian dapat menggunakannya kembali untuk kegiatan berikutnya atau membagikannya kepada murid apabila sistem dan perangkat yang digunakan memungkinkan.

Fungsi tersebut dapat membantu guru membangun dokumentasi proses belajar.

Misalnya, pada awal pembelajaran guru meminta murid membuat peta konsep tentang suatu materi. Setelah diskusi, peta konsep tersebut disempurnakan bersama dan disimpan. Pada pertemuan berikutnya, guru dapat membuka kembali hasil tersebut sebagai pengingat materi sebelumnya.

6. Akses terhadap sumber informasi digital

PID yang terhubung dengan internet dapat digunakan untuk mengakses berbagai sumber belajar digital.

Namun, akses informasi yang luas tetap perlu disertai kemampuan literasi digital. Guru perlu memilih sumber yang relevan, memeriksa kredibilitas informasi, dan menyesuaikan materi dengan usia serta kebutuhan murid.

Teknologi tidak otomatis membuat pembelajaran menjadi lebih baik. Kualitas pembelajaran tetap bergantung pada bagaimana guru memilih, mengolah, dan menggunakan sumber digital tersebut.

PID Bukan Sekadar Pengganti Papan Tulis

Salah satu kesalahan dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran adalah menggunakan perangkat baru dengan pola pembelajaran lama.

Misalnya, papan tulis biasa diganti dengan PID, tetapi seluruh proses pembelajaran tetap berupa guru menjelaskan dan murid mendengarkan.

Dalam kondisi seperti itu, kemampuan interaktif PID belum dimanfaatkan secara optimal.

PID seharusnya dapat digunakan untuk menciptakan aktivitas belajar yang lebih aktif.

Contohnya:

Pembelajaran satu arah:

Guru menampilkan materi → guru menjelaskan → murid mencatat.

Pembelajaran interaktif:

Guru menampilkan permasalahan → murid mengamati → murid berdiskusi → murid memberikan respons pada PID → guru memberikan umpan balik → kelas menyimpulkan hasil pembelajaran.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi pembelajaran bukan hanya perubahan alat, tetapi juga dapat mendorong perubahan cara menggunakan teknologi dalam pembelajaran.

Materi Bimtek sendiri menekankan bahwa digitalisasi tidak berhenti pada tersedianya perangkat. Kemampuan guru dalam menggunakan perangkat secara tepat untuk mendukung pembelajaran menjadi bagian penting dari proses digitalisasi.

Contoh Pemanfaatan PID dalam Pembelajaran

PID dapat digunakan pada berbagai mata pelajaran. Berikut beberapa contoh sederhana.

Bahasa Indonesia

Guru menampilkan sebuah teks bacaan.

Murid diminta:

  1. membaca teks;

  2. menemukan informasi penting;

  3. menandai kata kunci;

  4. mengidentifikasi gagasan utama;

  5. menyampaikan hasil temuan;

  6. memberikan anotasi pada teks melalui PID.

Dengan cara ini, PID menjadi alat untuk mendukung aktivitas literasi membaca.

Matematika

Guru menampilkan sebuah persoalan matematika.

Murid dapat maju ke depan untuk:

  • menuliskan langkah penyelesaian;

  • menggambar bangun;

  • memberikan tanda pada informasi penting;

  • membandingkan beberapa strategi penyelesaian.

Guru kemudian dapat mendiskusikan jawaban tersebut bersama seluruh kelas.

IPAS

Guru menampilkan gambar, video, atau simulasi.

Murid mengamati kemudian menjawab pertanyaan berdasarkan tampilan yang tersedia. Guru dapat menambahkan anotasi pada gambar untuk memperjelas konsep.

Pembelajaran berbasis proyek

PID juga dapat digunakan untuk mempresentasikan hasil proyek.

Kelompok murid dapat menampilkan produk digital, gambar, diagram, atau hasil penelitian sederhana. Kelompok lain memberikan pertanyaan dan tanggapan.

Dengan demikian, PID menjadi salah satu ruang presentasi dan kolaborasi.

PID dan Media Pembelajaran Interaktif

Penggunaan PID sebaiknya dipadukan dengan desain media pembelajaran yang baik.

Materi Bimtek mengenai perancangan media pembelajaran interaktif menjelaskan bahwa media harus mempertimbangkan karakteristik murid, materi, fasilitas sekolah, dan tujuan pembelajaran. Materi tersebut juga menekankan pentingnya menghindari tampilan yang terlalu ramai dan mengurangi beban kognitif yang tidak diperlukan.

Hal ini penting karena layar besar dengan banyak animasi, gambar, teks, suara, dan efek tidak selalu berarti pembelajaran lebih baik.

Guru tetap perlu mempertimbangkan:

  • Apa tujuan pembelajaran?

  • Informasi apa yang benar-benar diperlukan?

  • Aktivitas apa yang harus dilakukan murid?

  • Apakah tampilan mudah dipahami?

  • Apakah media sesuai dengan usia murid?

  • Apakah teknologi benar-benar membantu mencapai tujuan pembelajaran?

Dengan pertanyaan tersebut, guru dapat menghindari penggunaan teknologi hanya karena perangkat tersedia.

Penelitian mengenai media pembelajaran interaktif di sekolah dasar juga menunjukkan bahwa berbagai bentuk media digital dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pembelajaran. Misalnya, penelitian Suwastini, Agung, dan Sujana (2022) mengembangkan LKPD interaktif untuk pembelajaran IPA sekolah dasar dan melaporkan hasil validasi serta uji coba yang menunjukkan kelayakan media dalam konteks penelitian tersebut.

Pemanfaatan PID untuk Literasi dan Numerasi

Salah satu arah penting digitalisasi pembelajaran adalah mendukung penguatan literasi dan numerasi.

PID dapat dimanfaatkan untuk membuat kegiatan literasi dan numerasi lebih visual dan interaktif.

Dalam literasi, misalnya, guru dapat menggunakan PID untuk:

  • membaca teks bersama;

  • menandai informasi penting;

  • menyusun peta konsep;

  • mengurutkan informasi;

  • membandingkan isi beberapa teks;

  • mendiskusikan makna kata;

  • menganalisis struktur teks.

Dalam numerasi, PID dapat digunakan untuk:

  • menampilkan tabel;

  • membuat diagram;

  • membaca grafik;

  • memvisualisasikan bangun;

  • mengurutkan bilangan;

  • memecahkan masalah kontekstual;

  • membandingkan strategi penyelesaian.

Dengan demikian, perangkat digital dapat menjadi sarana untuk mengubah konsep abstrak menjadi tampilan yang lebih mudah diamati dan didiskusikan.

Peran Guru Tetap Menjadi Kunci

Kehadiran PID tidak menghilangkan peran guru.

Justru, guru perlu memiliki kemampuan untuk menentukan kapan teknologi digunakan dan kapan tidak diperlukan.

Guru perlu memahami hubungan antara:

tujuan pembelajaran → aktivitas murid → media → teknologi → asesmen.

Jika tujuan pembelajaran adalah melatih kemampuan membaca kritis, maka PID dapat digunakan untuk menampilkan teks dan mendukung proses anotasi serta diskusi.

Jika tujuan pembelajaran adalah melatih kemampuan memecahkan masalah, PID dapat digunakan untuk menampilkan kasus, mengumpulkan strategi penyelesaian, dan membandingkan jawaban.

Jadi, perangkat mengikuti kebutuhan pembelajaran, bukan sebaliknya.

Penelitian mengenai kompetensi pedagogis digital guru juga menunjukkan pentingnya kemampuan guru dalam menghadapi perkembangan teknologi pembelajaran. Teknologi perlu diintegrasikan dengan kompetensi pedagogis agar penggunaannya tidak berhenti pada penguasaan perangkat.

Peran Perpustakaan dalam Mendukung Pemanfaatan PID

Sebagai pusat sumber belajar, perpustakaan sekolah juga dapat mengambil bagian dalam ekosistem pembelajaran digital.

Perpustakaan dapat membantu menyediakan dan mengorganisasi sumber belajar yang dapat digunakan bersama PID, seperti:

  • buku digital;

  • ensiklopedia digital;

  • koleksi gambar edukatif;

  • video pembelajaran;

  • sumber literasi;

  • bahan referensi;

  • katalog sumber belajar digital.

Perpustakaan juga dapat berkolaborasi dengan guru untuk membuat daftar sumber digital yang relevan dengan mata pelajaran tertentu.

Dengan demikian, PID tidak berdiri sendiri. Perangkat tersebut menjadi bagian dari ekosistem yang terdiri atas guru, murid, sumber belajar, perangkat digital, jaringan, dan pengelolaan sekolah.

Inilah alasan mengapa pembahasan PID relevan ditempatkan dalam konteks perpustakaan sekolah. Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan koleksi cetak, tetapi dapat berperan dalam mendukung akses dan pemanfaatan sumber belajar digital.

Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Menggunakan PID

Agar pemanfaatan PID berjalan baik, sekolah perlu memperhatikan beberapa hal.

1. Kesiapan perangkat

Perangkat harus diperiksa sebelum digunakan. Kabel, koneksi, layar, pena digital, dan sumber listrik perlu dipastikan berfungsi.

2. Kesiapan guru

Guru perlu mendapatkan kesempatan untuk berlatih menggunakan perangkat.

Pelatihan sebaiknya tidak hanya menjelaskan tombol dan fungsi teknis, tetapi juga memberikan contoh penggunaannya dalam pembelajaran.

3. Kesiapan bahan ajar

Materi yang ditampilkan harus disiapkan terlebih dahulu. Tampilan sebaiknya sederhana, jelas, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

4. Koneksi internet

Jika pembelajaran memerlukan akses internet, sekolah perlu mempertimbangkan kestabilan jaringan serta menyediakan alternatif apabila koneksi mengalami gangguan.

5. Keamanan dan privasi

Materi Bimtek juga memperkenalkan aspek keamanan dan kenyamanan perangkat, termasuk pengamanan kamera dan pengaturan perangkat.

Guru perlu memperhatikan data yang ditampilkan pada layar, terutama apabila menggunakan akun, dokumen, atau informasi pribadi murid.

6. Perawatan perangkat

PID merupakan fasilitas sekolah yang perlu dikelola dan dirawat.

Layar sentuh perlu dijaga kebersihannya, perangkat tidak boleh mendapat tekanan fisik berlebihan, dan penggunaan kabel serta aksesori perlu dilakukan dengan benar.

Jika terjadi gangguan, sekolah perlu memiliki prosedur sederhana untuk melakukan pemeriksaan awal atau melaporkan masalah kepada pihak yang bertanggung jawab.

Memulai Pemanfaatan PID di Sekolah

Sekolah yang baru mulai menggunakan PID tidak perlu langsung membuat pembelajaran yang sangat kompleks.

Langkah sederhana dapat dimulai dengan:

Pertama, kenali fungsi dasar perangkat.

Guru mencoba menulis, menghapus, membuka bahan ajar, memberikan anotasi, menyimpan hasil, dan menghubungkan perangkat lain.

Kedua, pilih satu materi pembelajaran.

Tidak perlu mengubah seluruh pembelajaran sekaligus. Pilih satu materi yang memang terbantu dengan visualisasi atau interaksi.

Ketiga, buat aktivitas sederhana.

Misalnya murid diminta mengamati gambar, menandai informasi, mengurutkan objek, menjawab soal, atau menjelaskan hasil diskusi.

Keempat, lakukan refleksi.

Guru melihat apakah PID benar-benar membantu murid memahami materi.

Kelima, kembangkan secara bertahap.

Setelah guru terbiasa, pemanfaatan PID dapat dikembangkan dengan video, simulasi, bahan ajar interaktif, diskusi kolaboratif, atau model pembelajaran digital lainnya.

Materi perencanaan pembelajaran juga menempatkan PID sebagai salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan bersama sumber belajar digital seperti Ruang Murid, e-learning, simulasi, dan teknologi lainnya.

Penutup

Papan Interaktif Digital merupakan salah satu perangkat yang dapat mendukung digitalisasi pembelajaran di sekolah. Fitur layar sentuh, papan tulis digital, integrasi multimedia, konektivitas, penyimpanan, dan kolaborasi memberikan peluang bagi guru untuk menciptakan pembelajaran yang lebih aktif dan visual.

Namun, keberadaan PID tidak otomatis menghasilkan pembelajaran yang interaktif.

Kunci utamanya tetap berada pada perencanaan pembelajaran, kompetensi guru, kualitas bahan ajar, aktivitas murid, serta kesesuaian teknologi dengan tujuan pembelajaran.

PID sebaiknya tidak hanya digunakan sebagai layar presentasi yang lebih modern. Perangkat ini dapat dimanfaatkan sebagai ruang bersama untuk berpikir, berdiskusi, mengeksplorasi informasi, memecahkan masalah, membuat anotasi, mempresentasikan hasil, dan mendokumentasikan proses belajar.

Dalam konteks perpustakaan sekolah, PID juga dapat dihubungkan dengan pengelolaan sumber belajar digital. Perpustakaan dapat membantu menyediakan sumber informasi yang dapat dimanfaatkan guru dan murid melalui perangkat digital.

Pada akhirnya, digitalisasi pembelajaran bukan tentang seberapa banyak perangkat yang dimiliki sekolah, tetapi tentang seberapa bermakna perangkat tersebut digunakan untuk mendukung proses belajar murid.






Referensi

Aprilia, T., Djono, D., & A'isyah, A. (2024). Utilization of interactive e-flipbook media oriented toward contextual approaches to learning in elementary schools. Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan, 11(2). https://doi.org/10.21831/jitp.v11i2.71434

Suwastini, N. M. S., Agung, A. A. G., & Sujana, I. W. (2022). LKPD sebagai media pembelajaran interaktif berbasis pendekatan saintifik dalam muatan IPA sekolah dasar. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, 6(2). https://doi.org/10.23887/jppp.v6i2.48304

Thohir, M. A., Renata, M. O., & Utama, C. (2024). Development of interactive video on material changes to improve learning outcomes of elementary school students. DIDAKTIKA: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, 7(1), 59–67. https://doi.org/10.21831/didaktika.v7i1.70129

Pemanfaatan Perangkat Digital dalam Pembelajaran: PID, Laptop, dan Penyimpanan Digital

 


Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan dalam cara sekolah melaksanakan pembelajaran. Jika sebelumnya proses belajar banyak mengandalkan buku cetak, papan tulis, dan media konvensional, kini sekolah memiliki lebih banyak pilihan perangkat untuk mendukung kegiatan belajar.

Laptop, Papan Interaktif Digital (PID), proyektor, jaringan internet, penyimpanan digital, perangkat audio, kamera, hingga berbagai perangkat pendukung lainnya dapat menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran.

Namun, keberadaan perangkat tersebut belum otomatis membuat pembelajaran menjadi digital.

Perangkat baru memberikan manfaat ketika digunakan secara tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Materi Bimbingan Teknis Penguatan Digitalisasi Pembelajaran menjelaskan bahwa perangkat digital pembelajaran merupakan alat berbasis teknologi yang digunakan untuk membantu guru dan peserta didik dalam mengakses, menampilkan, mengolah, menyimpan, serta membagikan informasi pembelajaran secara lebih interaktif, efektif, dan bermakna.

Karena itu, pemanfaatan perangkat digital di sekolah perlu dipahami tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi pembelajaran.

Apa Saja Perangkat Digital Pembelajaran?

Perangkat digital pembelajaran tidak hanya berupa laptop atau komputer.

Dalam materi Bimtek, perangkat digital sekolah dikelompokkan ke dalam beberapa kategori, yaitu perangkat tampilan dan presentasi kelas, perangkat komputasi dan pembelajaran, jaringan dan konektivitas internet, audio dan pendukung multimedia, perangkat perekaman dan produksi konten, perangkat cetak dan administrasi, penyimpanan data dan backup, serta perangkat keamanan dan proteksi.

Pengelompokan tersebut menunjukkan bahwa ekosistem digital sekolah sebenarnya cukup luas.

Beberapa perangkat yang umum dijumpai antara lain:

  • Papan Interaktif Digital atau PID;

  • laptop;

  • komputer;

  • tablet;

  • proyektor;

  • smart TV;

  • router;

  • access point;

  • modem;

  • speaker;

  • mikrofon;

  • kamera;

  • webcam;

  • hard disk eksternal;

  • SSD;

  • flashdisk;

  • cloud drive;

  • printer;

  • scanner;

  • UPS atau stabilizer; dan

  • perangkat keamanan lainnya.

Masing-masing perangkat memiliki fungsi yang berbeda.

Guru dan tenaga kependidikan perlu memahami fungsi tersebut agar perangkat tidak hanya tersedia, tetapi benar-benar dimanfaatkan secara optimal.

Papan Interaktif Digital sebagai Media Pembelajaran

Salah satu perangkat yang semakin menarik perhatian dalam digitalisasi pembelajaran adalah Papan Interaktif Digital (PID).

PID bukan sekadar layar besar yang digunakan untuk menampilkan presentasi. Berdasarkan materi Bimtek, perangkat ini memiliki fitur interaktif dan kolaboratif yang memungkinkan pengguna menulis, menggambar, menghapus, serta memindahkan objek langsung pada layar. PID juga dapat digunakan sebagai papan tulis digital dan mendukung berbagai sumber multimedia.

Fitur tersebut memberikan peluang bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih aktif.

Misalnya, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, guru dapat menampilkan sebuah teks bacaan pada layar. Murid kemudian dapat diajak menandai gagasan utama, menemukan informasi tertentu, mengelompokkan kata, atau membahas struktur teks secara bersama-sama.

Dalam pembelajaran matematika, guru dapat menampilkan gambar, tabel, grafik, atau objek tertentu untuk kemudian dianalisis bersama.

Dengan demikian, PID dapat menjadi ruang interaksi antara guru, murid, dan materi pembelajaran.

PID Bukan Sekadar Pengganti Proyektor

Hal penting yang perlu dipahami adalah perbedaan antara menampilkan materi dan menggunakan teknologi secara interaktif.

Jika PID hanya digunakan untuk menampilkan slide presentasi, fungsi interaktifnya belum dimanfaatkan secara optimal.

Sebaliknya, guru dapat memanfaatkan fitur PID untuk melibatkan murid.

Contohnya:

Aktivitas membaca

Guru menampilkan sebuah bacaan. Murid secara bergantian menemukan informasi penting dan menandainya pada layar.

Aktivitas mengelompokkan

Guru menampilkan beberapa kata atau informasi. Murid mengelompokkannya sesuai kategori yang telah ditentukan.

Aktivitas memecahkan masalah

Guru menampilkan sebuah permasalahan. Murid memberikan alternatif penyelesaian dan mendiskusikannya bersama.

Aktivitas refleksi

Guru menampilkan beberapa pertanyaan reflektif. Murid memberikan jawaban dan membahasnya bersama teman.

Aktivitas tersebut membuat PID menjadi bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar perangkat presentasi.

Laptop sebagai Perangkat Kerja Guru dan Murid

Laptop merupakan salah satu perangkat komputasi yang dapat mendukung berbagai aktivitas pembelajaran.

Guru dapat menggunakan laptop untuk menyiapkan bahan ajar, membuat presentasi, mengolah data, mencari sumber belajar, membuat media pembelajaran, mengelola asesmen, serta menyimpan dokumen.

Murid juga dapat menggunakan laptop untuk membaca sumber digital, mengerjakan tugas, membuat produk, melakukan pencarian informasi, atau mengikuti aktivitas pembelajaran tertentu.

Namun, pemanfaatan laptop perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.

Tidak semua kegiatan belajar harus menggunakan laptop.

Guru perlu mempertimbangkan apakah penggunaan laptop memang memberikan manfaat terhadap aktivitas belajar yang sedang dirancang.

Jika tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan diskusi, membaca buku, pengamatan lingkungan, atau praktik langsung, penggunaan laptop tidak harus dipaksakan.

Sebaliknya, ketika teknologi dapat membantu menghadirkan sumber informasi, visualisasi, pengolahan data, atau aktivitas interaktif yang sulit dilakukan secara konvensional, laptop dapat menjadi perangkat yang sangat membantu.

Penyimpanan Digital: Bagian yang Sering Terlupakan

Ketika membicarakan perangkat digital, pembahasan sering berfokus pada laptop atau layar interaktif.

Padahal, penyimpanan data juga merupakan bagian penting dari ekosistem digital sekolah.

Materi Bimtek memasukkan hard disk eksternal, NAS, SSD, flashdisk, dan cloud drive sebagai contoh perangkat penyimpanan data dan backup.

Penyimpanan digital diperlukan karena guru dan sekolah menghasilkan berbagai macam data.

Contohnya:

  • bahan ajar;

  • modul;

  • presentasi;

  • video pembelajaran;

  • foto kegiatan;

  • dokumen administrasi;

  • hasil pekerjaan murid;

  • instrumen asesmen;

  • hasil asesmen;

  • dokumen kegiatan sekolah; dan

  • berbagai sumber belajar digital.

Jika data tersebut hanya tersimpan pada satu laptop atau satu flashdisk, risiko kehilangan data akan lebih besar.

Karena itu, sekolah perlu mulai membangun kebiasaan melakukan pencadangan data.

Mengapa Backup Data Penting?

Bayangkan seorang guru telah membuat bahan ajar selama beberapa minggu.

Semua file tersimpan dalam satu laptop.

Kemudian laptop mengalami kerusakan.

Jika tidak ada salinan cadangan, bahan ajar tersebut dapat hilang.

Masalah serupa dapat terjadi ketika flashdisk rusak, file terhapus secara tidak sengaja, atau perangkat mengalami gangguan.

Karena itu, data penting sebaiknya memiliki salinan cadangan.

Pencadangan dapat dilakukan menggunakan perangkat penyimpanan eksternal maupun penyimpanan berbasis awan (cloud storage), sesuai fasilitas dan kebijakan yang berlaku di sekolah.

Yang terpenting bukan hanya memiliki tempat penyimpanan, tetapi memiliki kebiasaan pengelolaan data yang teratur.

Pengelolaan File yang Rapi Memudahkan Pembelajaran

Pemanfaatan penyimpanan digital juga perlu diikuti dengan pengelolaan file yang baik.

Guru dapat membuat struktur folder yang sederhana dan konsisten.

Misalnya:

Pembelajaran

→ Kelas 4
→ Bahasa Indonesia
→ Modul Ajar
→ Media
→ Asesmen
→ Hasil Pekerjaan Murid

Dengan struktur seperti itu, guru akan lebih mudah menemukan dokumen ketika dibutuhkan.

Penamaan file juga sebaiknya dibuat konsisten.

Contohnya:

Modul_Ajar_Bahasa_Indonesia_Kelas_4_Teks_Narasi

atau

Asesmen_Bahasa_Indonesia_Kelas_4_Materi_Teks_Narasi

Kebiasaan sederhana seperti ini menjadi semakin penting ketika jumlah dokumen digital semakin banyak.

Perangkat Digital Membutuhkan Jaringan

Perangkat digital juga berkaitan dengan konektivitas.

Materi Bimtek menyebutkan beberapa perangkat jaringan seperti router, access point Wi-Fi, modem, switch, kabel LAN, dan repeater.

Jaringan memungkinkan perangkat terhubung dengan internet maupun perangkat lainnya sesuai konfigurasi yang digunakan sekolah.

Dalam pembelajaran, konektivitas dapat digunakan untuk mengakses sumber belajar, platform pendidikan, sumber informasi, maupun layanan digital lainnya.

Namun, sekolah perlu mempertimbangkan kondisi jaringan yang tersedia.

Tidak semua kegiatan pembelajaran harus bergantung pada internet.

Guru dapat menyiapkan bahan pembelajaran yang dapat digunakan secara luring apabila koneksi internet tidak tersedia atau mengalami gangguan.

Dengan demikian, pembelajaran tetap dapat berjalan.

Perangkat Digital Juga Membutuhkan Perawatan

Perangkat digital merupakan aset sekolah yang perlu dikelola.

Pemanfaatan perangkat secara terus-menerus tanpa perawatan dapat menyebabkan penurunan kinerja atau kerusakan.

Perawatan dapat dimulai dari hal-hal sederhana.

Misalnya:

  • menjaga kebersihan perangkat;

  • menggunakan perangkat sesuai petunjuk;

  • menjaga kabel dan konektor;

  • menyimpan perangkat pada tempat yang aman;

  • menghindari benturan;

  • menjaga perangkat dari cairan;

  • menggunakan sumber listrik yang sesuai;

  • melakukan pencadangan data;

  • melakukan pemeriksaan perangkat secara berkala; dan

  • melaporkan kerusakan kepada pihak yang bertanggung jawab.

Perawatan tidak hanya menjadi tugas teknisi.

Guru sebagai pengguna juga memiliki peran dalam menjaga perangkat yang digunakan untuk pembelajaran.

Pengelolaan Perangkat Perlu Didukung Inventarisasi

Selain perawatan, sekolah juga perlu mengetahui perangkat apa saja yang dimiliki.

Inventarisasi membantu sekolah mengetahui:

  • jenis perangkat;

  • jumlah perangkat;

  • lokasi perangkat;

  • kondisi perangkat;

  • pengguna atau penanggung jawab;

  • kelengkapan perangkat; dan

  • kebutuhan pemeliharaan.

Data inventaris juga dapat membantu sekolah menentukan prioritas ketika akan melakukan perbaikan, pengadaan, atau pengembangan sarana digital.

Pengelolaan perangkat yang baik membuat sekolah tidak hanya mengetahui berapa banyak perangkat yang dimiliki, tetapi juga mengetahui seberapa jauh perangkat tersebut digunakan dan dalam kondisi seperti apa.

Keamanan Perangkat dan Data

Digitalisasi pembelajaran juga membawa tanggung jawab terhadap keamanan.

Perangkat digital dapat menyimpan data penting. Karena itu, sekolah perlu memperhatikan keamanan fisik perangkat maupun keamanan data.

Materi Bimtek memasukkan CCTV, kunci perangkat, UPS atau stabilizer, lemari penyimpanan, dan perangkat lunak sebagai bagian dari keamanan dan proteksi perangkat digital.

Guru juga perlu memiliki kebiasaan sederhana untuk menjaga keamanan data.

Misalnya:

  • tidak membagikan kata sandi secara sembarangan;

  • tidak meninggalkan perangkat dalam kondisi terbuka;

  • mencadangkan data penting;

  • berhati-hati terhadap file atau tautan yang tidak dikenal;

  • menjaga data pribadi murid;

  • menggunakan perangkat sesuai kewenangan; dan

  • memastikan file penting tidak mudah diakses oleh pihak yang tidak berkepentingan.

Keamanan menjadi semakin penting ketika sekolah semakin banyak menggunakan teknologi digital.

Bagaimana Memanfaatkan Perangkat Digital untuk Literasi?

Perangkat digital dapat digunakan untuk mendukung kegiatan literasi.

Guru dapat menggunakan laptop atau PID untuk menghadirkan berbagai jenis teks.

Misalnya:

  • cerita;

  • artikel;

  • berita;

  • infografis;

  • poster;

  • teks prosedur;

  • teks informasi; dan

  • berbagai bahan bacaan lainnya.

Murid tidak hanya diminta membaca.

Guru dapat merancang aktivitas untuk menemukan informasi, membandingkan isi teks, mengidentifikasi gagasan utama, menarik kesimpulan, atau menyampaikan pendapat.

Dengan demikian, teknologi menjadi sarana untuk memperluas pengalaman literasi.

Perpustakaan sekolah juga dapat mengambil peran dalam menyediakan dan mengorganisasi sumber belajar digital yang dapat digunakan guru dan murid.

Hal tersebut membuka peluang bagi perpustakaan untuk berkembang sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran digital sekolah.

Bagaimana Memanfaatkan Perangkat Digital untuk Numerasi?

Pemanfaatan perangkat digital juga dapat mendukung numerasi.

Guru dapat menampilkan data dalam bentuk:

  • tabel;

  • diagram;

  • grafik;

  • gambar;

  • angka;

  • ukuran; dan

  • informasi kuantitatif lainnya.

Murid kemudian dapat diajak membaca, membandingkan, menghitung, menganalisis, dan mengambil kesimpulan berdasarkan data.

Contohnya, guru menampilkan data jumlah buku yang dipinjam siswa selama satu minggu.

Murid dapat diminta menentukan hari dengan jumlah peminjaman tertinggi, menghitung selisih peminjaman, mencari rata-rata sederhana, atau membuat grafik berdasarkan data tersebut.

Aktivitas seperti ini dapat menghubungkan pembelajaran dengan situasi nyata.

Perpustakaan Dapat Mendukung Ekosistem Digital Sekolah

Dalam konteks perpustakaan sekolah, perkembangan perangkat digital memberikan peluang baru.

Perpustakaan tidak hanya mengelola koleksi buku fisik.

Perpustakaan dapat turut mendukung pengelolaan dan pemanfaatan sumber belajar digital sesuai dengan kebijakan sekolah dan ketersediaan fasilitas.

Sumber belajar digital dapat membantu guru menemukan bahan pendukung pembelajaran.

Murid juga dapat memperoleh akses terhadap bahan bacaan atau sumber informasi yang relevan.

Dengan demikian, perpustakaan dapat berkembang sebagai salah satu pusat sumber belajar yang mendukung pembelajaran digital.

Peran tersebut menjadi semakin penting ketika sekolah mulai mengembangkan budaya belajar yang memanfaatkan berbagai sumber informasi.

Jangan Mengukur Digitalisasi dari Jumlah Perangkat

Sekolah yang memiliki banyak perangkat belum tentu telah berhasil melakukan digitalisasi pembelajaran.

Sebaliknya, sekolah dengan perangkat yang lebih terbatas tetap dapat memanfaatkan teknologi secara bermakna apabila guru mampu menggunakannya sesuai kebutuhan.

Karena itu, beberapa pertanyaan berikut dapat digunakan untuk melakukan refleksi:

Apakah perangkat digunakan secara rutin?

Apakah pengguna memahami fungsi perangkat?

Apakah perangkat digunakan untuk aktivitas belajar murid?

Apakah perangkat dirawat dengan baik?

Apakah data pembelajaran dikelola dan dicadangkan?

Apakah guru memperoleh dukungan untuk meningkatkan kompetensi digital?

Pertanyaan tersebut membantu sekolah melihat digitalisasi dari sisi pemanfaatan, bukan hanya pengadaan.

Strategi Memulai Pemanfaatan Perangkat Digital

Sekolah tidak perlu mengubah seluruh pembelajaran sekaligus.

Pemanfaatan perangkat digital dapat dikembangkan secara bertahap.

Tahap pertama: memetakan perangkat

Catat perangkat yang tersedia dan kondisi masing-masing.

Tahap kedua: mengenali fungsi

Guru perlu memahami fungsi dasar setiap perangkat yang digunakan.

Tahap ketiga: menentukan kebutuhan pembelajaran

Tentukan kegiatan pembelajaran yang dapat terbantu oleh perangkat digital.

Tahap keempat: mencoba pada kegiatan sederhana

Mulai dengan satu aktivitas pembelajaran.

Tahap kelima: melakukan refleksi

Amati apakah teknologi benar-benar membantu proses belajar.

Tahap keenam: mengembangkan pemanfaatan

Jika penggunaan awal berhasil, guru dapat mengembangkan aktivitas yang lebih beragam.

Pendekatan bertahap dapat membantu guru membangun kepercayaan diri dalam menggunakan teknologi.

Kolaborasi Guru dan Pengelola Sekolah

Pemanfaatan perangkat digital tidak dapat dibebankan kepada satu orang.

Sekolah perlu membangun kerja sama antara kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, pengelola sarana prasarana, dan pihak lain yang terkait.

Guru dapat memberikan informasi tentang kebutuhan pembelajaran.

Pengelola sarana dapat membantu memastikan perangkat tersedia dan terawat.

Perpustakaan dapat mendukung penyediaan sumber belajar.

Pimpinan sekolah dapat mendorong pengembangan kompetensi dan pemanfaatan teknologi secara berkelanjutan.

Dengan kolaborasi tersebut, perangkat digital dapat dikelola sebagai bagian dari ekosistem sekolah.

Penutup

Perangkat digital memiliki peran yang semakin penting dalam mendukung pembelajaran di sekolah.

PID dapat digunakan untuk menghadirkan pembelajaran interaktif. Laptop dapat mendukung guru dan murid dalam mengakses, membuat, dan mengolah berbagai sumber belajar. Perangkat penyimpanan membantu menjaga dokumen dan data pembelajaran. Jaringan memungkinkan berbagai perangkat terhubung dan mengakses sumber digital.

Namun, semua perangkat tersebut tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila hanya berhenti pada pengadaan.

Digitalisasi pembelajaran membutuhkan pemanfaatan, pengelolaan, perawatan, keamanan, dan integrasi dengan tujuan pembelajaran.

Materi Bimtek menegaskan bahwa digitalisasi pembelajaran tidak berhenti pada tersedianya perangkat, tetapi pada kemampuan guru memanfaatkannya secara tepat untuk mendukung proses belajar.

Bagi sekolah, tantangannya bukan hanya menyediakan perangkat digital, tetapi membangun kebiasaan menggunakan perangkat secara bertanggung jawab dan bermakna.

Bagi guru, tantangannya bukan menguasai sebanyak mungkin teknologi, melainkan memilih dan menggunakan teknologi yang benar-benar membantu murid belajar.

Sementara bagi perpustakaan sekolah, perkembangan digital membuka peluang untuk memperkuat perannya sebagai pusat sumber belajar yang menyediakan dan mendukung akses terhadap berbagai sumber informasi.

Pada akhirnya, perangkat hanyalah sarana. Nilai pendidikan muncul dari bagaimana perangkat tersebut digunakan untuk membantu guru mengajar dan murid belajar.




Referensi 

Prasetyo, E. B. (2015). Pola pemanfaatan teknologi informasi di sekolah dasar. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan, 7(2). https://doi.org/10.21831/jpipfip.v7i2.4916

Ningsih, I. W., Widodo, A., & Asrin, A. (2021). Urgensi kompetensi literasi digital dalam pembelajaran pada masa pandemi Covid-19. Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan, 8(2), 132–139. https://doi.org/10.21831/jitp.v8i1.35912

Bentri, A., Hidayati, A., Saputra, A., & Arina, N. (2025). The analysis of teacher digital pedagogical competencies in facing technological development in learning. Cakrawala Pendidikan, 44(2). https://doi.org/10.21831/cp.v44i2.70839

Back To Top