-->

Dunia Perpustakaan

"Jelajahi perpustakaan: literasi, pengetahuan, dan rekomendasi bacaan tanpa batas!"

Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi ruang tumbuhnya ide, karakter, dan masa depan. Setiap halaman yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar dalam hidup seseorang.

Kegiatan Literasi yang Sesuai untuk Kelas Rendah SD: Contoh Program, Bentuk Kegiatan, dan Cara Pelaksanaannya

 


Literasi pada jenjang sekolah dasar merupakan salah satu bagian penting dalam membangun kemampuan belajar peserta didik. Pada kelas rendah, khususnya kelas I, II, dan III, kegiatan literasi memiliki karakteristik yang berbeda dengan kelas atas. Peserta didik kelas rendah masih berada pada tahap perkembangan kemampuan membaca, menulis, menyimak, berbicara, serta mengenal berbagai bentuk informasi secara bertahap. Oleh karena itu, kegiatan literasi perlu dirancang sederhana, menyenangkan, konkret, dan sesuai dengan kemampuan anak.

Kegiatan literasi kelas rendah tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai kegiatan membaca buku dalam waktu tertentu. Pada tahap awal pendidikan dasar, literasi dapat dilakukan melalui kegiatan mendengarkan cerita, mengenal buku, mengamati gambar, mengenal huruf dan kata, membaca bersama, menceritakan gambar, menyusun kata, menulis sederhana, menggambar berdasarkan cerita, serta mengunjungi perpustakaan.

Kegiatan tersebut penting karena pengalaman anak terhadap buku dan aktivitas literasi pada kelas awal dapat memengaruhi kebiasaan mereka pada tahap berikutnya. Anak yang memperoleh pengalaman membaca yang menyenangkan akan lebih mudah membangun hubungan positif dengan buku dan perpustakaan.

Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar menjelaskan bahwa pengembangan literasi di sekolah perlu dilakukan secara terencana dan melibatkan seluruh warga sekolah. Literasi juga tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca secara teknis, tetapi merupakan bagian dari pembentukan budaya belajar di sekolah.

Karena itu, kegiatan literasi kelas I–III perlu mempertimbangkan kemampuan masing-masing jenjang. Kegiatan untuk kelas I sebaiknya lebih banyak menggunakan gambar, cerita lisan, membaca bersama, dan aktivitas yang bersifat konkret. Kelas II mulai diarahkan pada membaca teks sederhana dan menceritakan kembali. Sementara kelas III dapat mulai diberikan kegiatan membaca pemahaman, membuat ringkasan sederhana, mencari informasi, dan menghasilkan karya.

1. Mengapa Literasi Kelas Rendah Perlu Dibuat Menyenangkan?

Anak kelas I–III masih berada dalam tahap perkembangan awal kemampuan membaca dan menulis. Bagi sebagian anak, membaca masih membutuhkan usaha yang cukup besar.

Jika kegiatan literasi hanya dilakukan dengan cara meminta semua siswa membaca buku dalam waktu yang sama, beberapa anak mungkin merasa kesulitan atau bahkan kehilangan minat.

Karena itu, kegiatan literasi kelas rendah perlu menggunakan berbagai metode.

Misalnya:

  • membaca bersama;
  • membaca nyaring;
  • mendengarkan cerita;
  • melihat gambar;
  • bermain kata;
  • menyusun kartu huruf;
  • menyusun kata;
  • menggambar;
  • mewarnai;
  • bernyanyi;
  • bermain peran;
  • menceritakan pengalaman; dan
  • membuat karya sederhana.

Kegiatan tersebut membuat literasi menjadi pengalaman yang lebih aktif.

Tujuannya bukan membuat anak menyelesaikan sebanyak mungkin buku, melainkan membangun kebiasaan berinteraksi dengan bahasa, buku, gambar, informasi, dan karya.

2. Mengenalkan Buku kepada Siswa Kelas I

Sebelum anak terbiasa membaca, mereka perlu mengenal buku.

Kegiatan ini sangat sesuai dilakukan pada awal tahun pelajaran.

Guru atau pustakawan dapat membawa beberapa buku anak ke dalam kelas atau mengajak siswa mengunjungi perpustakaan.

Anak dikenalkan dengan:

  • sampul buku;
  • judul;
  • gambar;
  • nama penulis;
  • halaman;
  • bagian depan dan belakang buku;
  • cara membuka buku;
  • cara memegang buku;
  • cara menyimpan buku; dan
  • cara memperlakukan buku.

Pengenalan tersebut terlihat sederhana, tetapi penting untuk membangun kebiasaan menggunakan koleksi perpustakaan dengan benar.

Pustakawan juga dapat menjelaskan bahwa buku tidak boleh dicoret, dilipat sembarangan, atau dirusak.

3. Membaca Buku Bergambar

Buku bergambar sangat sesuai untuk kelas I dan II.

Guru atau pustakawan dapat memilih buku yang memiliki ilustrasi menarik dan teks yang tidak terlalu panjang.

Anak diajak mengamati gambar sebelum membaca.

Pertanyaan yang dapat diberikan misalnya:

  • Apa yang kalian lihat?
  • Siapa yang ada di gambar?
  • Menurut kalian, apa yang sedang terjadi?
  • Apa yang mungkin terjadi selanjutnya?

Setelah itu, guru membaca cerita dengan suara yang jelas.

Kegiatan tersebut dapat disebut sebagai membaca nyaring.

Anak tidak harus membaca sendiri sepanjang kegiatan.

Pada kelas I, mendengarkan cerita sambil mengamati gambar sudah merupakan pengalaman literasi yang penting.

4. Membaca Bersama

Membaca bersama dapat dilakukan dengan menggunakan teks pendek yang ditampilkan pada papan atau buku besar.

Guru membaca kalimat pertama.

Kemudian siswa mengikuti.

Secara bertahap siswa dapat diajak membaca beberapa kata atau kalimat secara mandiri.

Kegiatan ini dapat membantu siswa yang masih kurang percaya diri.

Anak juga dapat belajar:

  • arah membaca;
  • mengenali kata;
  • mengenali tanda baca;
  • memperhatikan intonasi; dan
  • memahami hubungan antara tulisan dan bunyi.

5. Mendengarkan Cerita

Literasi tidak selalu harus dilakukan melalui aktivitas membaca.

Mendengarkan juga merupakan bagian penting dalam perkembangan kemampuan berbahasa.

Pustakawan atau guru dapat membacakan sebuah cerita kepada siswa.

Setelah cerita selesai, guru dapat bertanya:

  • Siapa tokohnya?
  • Di mana cerita terjadi?
  • Apa masalahnya?
  • Apa yang dilakukan tokoh?
  • Bagaimana cerita berakhir?
  • Apa pesan cerita?

Untuk kelas I, pertanyaan dapat dibuat sangat sederhana.

Untuk kelas II dan III, pertanyaan dapat mulai diarahkan pada alasan dan pendapat.

6. Bercerita Berdasarkan Gambar

Kegiatan ini sangat cocok untuk kelas I.

Guru menunjukkan sebuah gambar.

Misalnya gambar:

anak sedang membaca di perpustakaan.

Kemudian siswa diminta menjelaskan apa yang mereka lihat.

Tidak perlu langsung meminta siswa membuat cerita panjang.

Cukup dengan kalimat sederhana:

"Anak itu sedang membaca buku."

Kemudian guru dapat mengembangkan:

"Di mana anak itu membaca?"

"Mengapa dia membaca?"

Dengan cara ini, anak belajar mengembangkan kosakata dan kemampuan berbicara.

7. Mengurutkan Gambar Cerita

Guru menyiapkan tiga sampai lima gambar yang menceritakan suatu peristiwa.

Gambar kemudian diacak.

Siswa diminta mengurutkan gambar sesuai jalan cerita.

Setelah itu, siswa menceritakan urutannya.

Kegiatan ini melatih:

  • pengamatan;
  • pemahaman urutan;
  • kemampuan berpikir logis;
  • kemampuan berbicara; dan
  • pemahaman cerita.

Untuk kelas II dan III, jumlah gambar dapat ditambah.

8. Kartu Huruf dan Kata

Kegiatan menggunakan kartu dapat membuat pembelajaran literasi lebih menarik.

Guru dapat menyediakan kartu:

a – i – b – u

Kemudian siswa menyusunnya menjadi:

IBU

Setelah itu dapat dilanjutkan menjadi:

IBU MEMBACA.

Kegiatan dapat dilakukan secara individu maupun kelompok.

Pada kelas I, fokusnya dapat berupa pengenalan huruf dan kata.

Pada kelas II, dapat berupa penyusunan kalimat.

Pada kelas III, dapat dikembangkan menjadi permainan membuat kalimat berdasarkan kata tertentu.

9. Berburu Kata di Buku

Kegiatan ini dapat dilakukan di perpustakaan.

Guru memberikan sebuah kata kepada siswa.

Misalnya:

"buku"

Siswa mencari kata tersebut dalam buku yang dibacanya.

Untuk kelas I, siswa dapat mencari kata yang sangat familiar.

Untuk kelas II dan III, kata dapat dibuat lebih beragam.

Kegiatan ini membuat siswa terbiasa memperhatikan teks ketika membaca.

10. Jurnal Membaca Sederhana

Jurnal membaca untuk kelas rendah tidak perlu rumit.

Pada kelas I, jurnal dapat berupa:

Judul buku:
Gambar yang saya sukai:
Tokoh yang saya sukai:

Siswa dapat menggambar dan menulis sedikit.

Untuk kelas II:

Judul buku:
Tokoh:
Cerita singkat:
Bagian yang saya sukai:

Untuk kelas III, format dapat ditambah:

Judul:
Penulis:
Isi singkat:
Kata baru:
Pesan cerita:

Dengan demikian, jurnal membaca berkembang sesuai kemampuan siswa.

11. Menggambar Isi Cerita

Setelah membaca atau mendengarkan cerita, siswa diminta menggambar bagian yang paling mereka sukai.

Misalnya cerita tentang persahabatan.

Siswa dapat menggambar dua tokoh yang sedang bermain.

Setelah selesai menggambar, siswa diminta menjelaskan gambar tersebut.

Kegiatan ini menggabungkan:

menyimak → memahami → menggambar → berbicara.

12. Mewarnai Tokoh Cerita

Untuk kelas I, kegiatan mewarnai dapat menjadi bagian dari literasi.

Guru menyediakan gambar yang berkaitan dengan buku atau cerita yang dibaca.

Setelah mewarnai, siswa ditanya:

  • Siapa tokoh dalam gambar?
  • Apa yang dilakukan tokoh?
  • Apa yang terjadi dalam cerita?

Dengan demikian, kegiatan mewarnai tetap memiliki hubungan dengan aktivitas literasi.

13. Menceritakan Kembali Cerita

Kelas II dan III dapat mulai diarahkan untuk menceritakan kembali cerita yang telah dibaca.

Siswa tidak perlu menghafalkan teks.

Mereka dapat menggunakan kata-kata sendiri.

Guru dapat memberikan panduan:

Awalnya...

Kemudian...

Setelah itu...

Akhirnya...

Kata penghubung tersebut membantu anak menyampaikan cerita secara runtut.

14. Bermain Peran Berdasarkan Cerita

Bermain peran merupakan kegiatan yang menarik untuk kelas rendah.

Setelah membaca cerita, siswa memilih tokoh.

Misalnya cerita memiliki tokoh:

  • ibu;
  • anak;
  • guru;
  • teman; dan
  • penjaga perpustakaan.

Siswa memainkan peran masing-masing.

Kegiatan ini membantu anak memahami karakter dan kejadian dalam cerita.

Selain itu, anak belajar berbicara dan bekerja sama.

15. Menyusun Kalimat Sederhana

Untuk kelas II dan III, guru dapat memberikan beberapa kartu kata.

Contohnya:

Ani – membaca – buku – di – perpustakaan.

Siswa menyusun kartu menjadi kalimat yang benar.

Kemudian kalimat tersebut dapat dikembangkan:

Ani membaca buku cerita di perpustakaan.

Kegiatan ini membantu siswa memahami susunan kalimat sekaligus memperkaya kosakata.

16. Membuat Kamus Mini

Kegiatan kamus mini dapat dilakukan mulai kelas II.

Setiap siswa memiliki sebuah buku kecil.

Ketika menemukan kata baru, siswa mencatat:

Kata: perpustakaan
Arti: tempat untuk membaca dan meminjam buku.

Untuk kelas III, siswa dapat menambahkan contoh kalimat.

Misalnya:

Saya membaca buku di perpustakaan.

Kamus mini dapat terus dikembangkan selama satu semester.

17. Pojok Baca Kelas

Pojok baca dapat menjadi bagian penting dalam kegiatan literasi kelas rendah.

Koleksi dapat berupa:

  • buku cerita;
  • buku bergambar;
  • buku pengetahuan sederhana;
  • majalah anak;
  • buku dongeng; dan
  • buku karya siswa.

Penataan tidak perlu mahal.

Yang penting buku mudah dijangkau anak dan menarik untuk dilihat.

Koleksi juga sebaiknya diganti secara berkala agar siswa tidak merasa bosan.

18. Kunjungan Perpustakaan

Kegiatan kunjungan perpustakaan sebaiknya dilakukan secara rutin.

Untuk kelas I, kunjungan pertama dapat berupa pengenalan perpustakaan.

Siswa diperkenalkan dengan:

  • ruang perpustakaan;
  • rak buku;
  • koleksi;
  • aturan;
  • cara memilih buku;
  • cara membaca; dan
  • cara mengembalikan buku.

Pada kunjungan berikutnya, siswa dapat mulai memilih buku sendiri dengan pendampingan.

Kelas II dan III dapat mulai diberikan kesempatan meminjam buku sesuai aturan perpustakaan.

19. Tantangan Membaca Sederhana

Tantangan membaca untuk kelas rendah sebaiknya tidak dibuat terlalu berat.

Misalnya:

Tantangan Kelas I

"Saya membaca 5 buku."

Tantangan Kelas II

"Saya membaca 8 buku."

Tantangan Kelas III

"Saya membaca 10 buku."

Jumlah tersebut bukan standar wajib, melainkan contoh yang dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah dan ketersediaan koleksi.

Yang lebih penting adalah anak merasa berhasil menyelesaikan target.

Setiap selesai membaca, siswa dapat memberi tanda pada kartu tantangan.

20. Kartu Apresiasi Pembaca

Anak kelas rendah membutuhkan apresiasi.

Pustakawan dapat memberikan kartu apresiasi sederhana seperti:

Pembaca Aktif

atau

Aku Suka Membaca

Apresiasi tidak harus berupa hadiah.

Bisa berupa:

  • sertifikat;
  • stiker;
  • bintang literasi;
  • pajangan karya;
  • kesempatan memilih buku terlebih dahulu; atau
  • penghargaan sederhana pada akhir semester.

Tujuan utamanya adalah memberikan pengalaman positif terhadap aktivitas membaca.

21. Membuat Puisi Sederhana

Kelas III mulai dapat dikenalkan dengan puisi sederhana.

Tema yang dekat dengan kehidupan anak dapat digunakan.

Misalnya:

Bukuku

Buku adalah temanku
Kubaca setiap hari
Banyak ilmu di dalamnya
Membuatku semakin mengerti

Siswa kemudian dapat membuat puisi sendiri dengan bantuan guru.

Tidak perlu menuntut struktur puisi yang rumit.

Fokusnya adalah keberanian menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan.

22. Membuat Cerita dari Pengalaman

Siswa kelas III dapat diminta menulis pengalaman sederhana.

Contohnya:

Pengalamanku di Perpustakaan

Guru dapat memberikan kerangka:

Hari/Tanggal:
Saya pergi ke:
Saya membaca:
Hal yang saya sukai:
Perasaan saya:

Kerangka tersebut membantu siswa yang belum mampu menulis cerita secara mandiri.

23. Membuat Komik Sederhana

Komik dapat menjadi kegiatan literasi yang menyenangkan.

Siswa membaca cerita kemudian memilih bagian tertentu untuk dibuat menjadi gambar.

Setiap gambar diberi dialog sederhana.

Misalnya:

"Ayo kita membaca buku!"

"Baik, aku memilih buku tentang hewan."

Kegiatan ini menggabungkan membaca, memahami cerita, menulis, dan menggambar.

24. Mading Literasi Kelas Rendah

Mading tidak harus berisi tulisan panjang.

Untuk kelas rendah, mading dapat berisi:

  • gambar;
  • hasil mewarnai;
  • tulisan kata;
  • kalimat sederhana;
  • puisi;
  • cerita pendek;
  • komik;
  • foto kegiatan membaca; dan
  • rekomendasi buku.

Karya siswa sebaiknya diberi nama agar anak merasa dihargai.

Mading dapat diperbarui setiap bulan atau setiap tema tertentu.

25. Literasi Berbasis Permainan

Permainan dapat menjadi pendekatan yang efektif untuk kelas rendah.

Contohnya:

Tebak Kata

Guru memberikan petunjuk dan siswa menebak kata.

Sambung Kata

Siswa menyebutkan kata secara bergiliran.

Puzzle Kalimat

Siswa menyusun kata menjadi kalimat.

Tebak Tokoh

Guru memberikan ciri-ciri tokoh dalam cerita dan siswa menebak.

Bingo Literasi

Siswa memiliki kartu berisi aktivitas seperti:

  • membaca buku;
  • menemukan kata baru;
  • menceritakan cerita;
  • mengunjungi perpustakaan.

Ketika kegiatan selesai, siswa memberikan tanda.

Permainan seperti ini membuat kegiatan literasi terasa lebih ringan dan menyenangkan.

26. Literasi Kelas I, II, dan III Perlu Bertahap

Program literasi kelas rendah sebaiknya tidak disamaratakan.

Kelas I

Fokus pada:

  • mengenal buku;
  • mendengarkan cerita;
  • membaca gambar;
  • mengenal huruf dan kata;
  • membaca bersama;
  • bercerita sederhana;
  • menggambar;
  • mewarnai.

Kelas II

Fokus pada:

  • membaca teks sederhana;
  • memahami isi cerita;
  • menceritakan kembali;
  • menulis kalimat;
  • jurnal membaca sederhana;
  • kosakata;
  • bermain peran;
  • membuat komik.

Kelas III

Fokus pada:

  • membaca pemahaman;
  • menemukan informasi;
  • membuat ringkasan sederhana;
  • menceritakan kembali;
  • membuat pertanyaan;
  • menulis cerita;
  • puisi;
  • mencari informasi dari buku;
  • presentasi sederhana.

Pembagian tersebut memungkinkan kemampuan literasi berkembang secara bertahap.

27. Peran Pustakawan dalam Literasi Kelas Rendah

Pustakawan mempunyai peran penting dalam membangun pengalaman awal anak terhadap perpustakaan.

Pustakawan dapat:

  1. mengenalkan perpustakaan;
  2. membantu siswa memilih buku;
  3. menyiapkan koleksi yang sesuai usia;
  4. membuat jadwal kunjungan;
  5. melaksanakan kegiatan membaca nyaring;
  6. mendokumentasikan kegiatan;
  7. membuat pojok literasi;
  8. memajang karya siswa;
  9. mengelola kartu atau jurnal membaca; dan
  10. memberikan apresiasi kepada siswa.

Pustakawan juga perlu bekerja sama dengan guru kelas.

Guru mengetahui perkembangan kemampuan belajar siswa, sedangkan pustakawan dapat membantu menyediakan sumber bacaan dan lingkungan literasi.

Kolaborasi keduanya akan membuat program lebih efektif.

28. Contoh Jadwal Literasi Kelas Rendah

Program dapat dibuat sederhana.

WaktuKegiatan
Setiap hari/terjadwalMembaca atau menyimak cerita
Minggu ke-1Kunjungan perpustakaan
Minggu ke-2Membaca buku pilihan
Minggu ke-3Bercerita/menceritakan kembali
Minggu ke-4Kegiatan kreatif berdasarkan bacaan
Setiap bulanPajangan karya siswa
Setiap semesterTantangan membaca
Setiap semesterApresiasi pembaca aktif
Setiap tahunPekan Literasi

Jadwal dapat disesuaikan dengan kalender kegiatan sekolah.

29. Indikator Keberhasilan Literasi Kelas Rendah

Keberhasilan program tidak harus diukur dari banyaknya buku yang selesai dibaca.

Beberapa indikator yang dapat digunakan adalah:

  1. siswa tertarik mengunjungi perpustakaan;
  2. siswa mampu memilih buku sesuai minat dengan bimbingan;
  3. siswa mau mendengarkan cerita;
  4. siswa berpartisipasi dalam kegiatan membaca;
  5. siswa mampu menyebutkan informasi sederhana dari bacaan;
  6. siswa mampu menceritakan kembali cerita;
  7. siswa mengenal dan menggunakan kosakata baru;
  8. siswa menghasilkan karya sederhana;
  9. jumlah kunjungan dan peminjaman buku meningkat;
  10. kegiatan literasi terdokumentasi secara rutin.

Untuk kelas I, indikator dapat lebih menekankan pada minat, keterlibatan, menyimak, dan pengenalan buku.

Untuk kelas II, indikator dapat mulai menekankan membaca, memahami, dan menceritakan kembali.

Untuk kelas III, indikator dapat dikembangkan menuju pemahaman, penulisan, pencarian informasi, dan penyampaian gagasan.

30. Evaluasi Program

Evaluasi kegiatan literasi dapat dilakukan secara sederhana.

Pustakawan bersama guru dapat melihat:

  • jumlah kunjungan;
  • jumlah peminjaman;
  • jurnal membaca;
  • hasil karya;
  • keaktifan siswa;
  • dokumentasi kegiatan;
  • kemampuan siswa menyampaikan isi bacaan; dan
  • tanggapan siswa terhadap kegiatan.

Evaluasi tidak harus selalu berupa nilai.

Untuk kelas rendah, pengamatan terhadap kebiasaan, minat, keberanian, dan perkembangan kemampuan juga sangat penting.

Kesimpulan

Kegiatan literasi untuk kelas rendah SD perlu dirancang berdasarkan tahap perkembangan peserta didik. Kelas I, II, dan III membutuhkan pengalaman literasi yang berbeda dari kelas IV, V, dan VI.

Pada kelas I, kegiatan dapat dimulai dengan mengenal buku, mendengarkan cerita, membaca gambar, membaca bersama, mengenal huruf dan kata, menggambar, serta bercerita sederhana.

Pada kelas II, kegiatan dapat dikembangkan melalui membaca cerita sederhana, jurnal membaca, menceritakan kembali, permainan kata, kamus mini, bermain peran, dan membuat komik.

Sementara itu, kelas III dapat mulai diarahkan pada kegiatan yang lebih kompleks seperti membaca pemahaman, mencari informasi, membuat ringkasan sederhana, membuat pertanyaan, menulis cerita, membuat puisi, presentasi sederhana, dan menghasilkan karya literasi.

Hal yang paling penting adalah kegiatan literasi tidak dibuat sebagai aktivitas yang membebani anak. Anak kelas rendah perlu memperoleh pengalaman bahwa buku itu menarik, membaca itu menyenangkan, perpustakaan adalah tempat yang menyenangkan, dan karya mereka dihargai.

Program literasi yang baik juga tidak harus mahal. Sekolah dapat memanfaatkan koleksi perpustakaan yang sudah tersedia, buku cerita anak, karya siswa, gambar, kartu kata, serta lingkungan sekitar sebagai sumber kegiatan.

Dengan kegiatan yang sederhana tetapi dilakukan secara konsisten, perpustakaan dapat menjadi salah satu pusat pembentukan budaya literasi sejak kelas rendah.

Pada akhirnya, tujuan kegiatan literasi bukan sekadar membuat anak mampu membaca. Lebih jauh, literasi diharapkan membantu anak membangun kebiasaan membaca, memahami informasi, berkomunikasi, berpikir, berkarya, dan menikmati proses belajar.



Referensi 

Faizah, D. U., Sufyadi, S., Anggraini, L., Waluyo, W., Dewayani, S., Muldian, W., & Roosaria, R. (2016). Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Setiawan, R., Komalasari, K., Misiyanto, M., Mardianto, A., Islami, A., & Nurani, D. (2019). Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar (Edisi 2). Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Wiedarti, P., Laksono, K., & Retnaningsih, P. (2018). Desain induk Gerakan Literasi Sekolah (Edisi 2). Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kegiatan Literasi yang Sesuai untuk Kelas Atas SD: Contoh Program, Bentuk Kegiatan, dan Cara Pelaksanaannya

 


Literasi di sekolah dasar sering kali masih dipahami secara sederhana sebagai kegiatan membaca buku selama beberapa menit sebelum pembelajaran dimulai. Padahal, kegiatan literasi memiliki ruang lingkup yang jauh lebih luas. Membaca merupakan salah satu bagian penting, tetapi peserta didik juga perlu belajar memahami informasi, menemukan gagasan utama, menyampaikan pendapat, menulis, berdiskusi, mencari informasi, serta menghasilkan karya berdasarkan apa yang telah dibacanya.

Pada kelas atas sekolah dasar, yaitu kelas IV, V, dan VI, kegiatan literasi perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan peserta didik. Pada tahap ini, siswa tidak lagi hanya diarahkan untuk mampu membaca dengan lancar. Mereka mulai perlu dilatih untuk memahami isi bacaan, menghubungkan informasi, memberikan tanggapan, menyimpulkan, membandingkan informasi, dan menggunakan informasi untuk menghasilkan sesuatu.

Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menempatkan literasi sebagai upaya menyeluruh yang melibatkan warga sekolah dan lingkungan pendidikan. Salah satu kegiatan yang dikenal dalam GLS adalah membaca buku nonpelajaran sebelum pembelajaran, tetapi pelaksanaan literasi di sekolah dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan yang sesuai dengan kondisi dan tahap perkembangan peserta didik.

Karena itu, program literasi untuk kelas IV, V, dan VI sebaiknya tidak dibuat monoton. Jika setiap hari siswa hanya diminta mengambil buku, membaca dalam diam, kemudian mengembalikannya tanpa tindak lanjut, kegiatan tersebut berisiko menjadi rutinitas administratif tanpa memberikan pengalaman literasi yang bermakna.

Kegiatan membaca tetap penting, tetapi perlu dilanjutkan dengan aktivitas lain. Misalnya, setelah membaca sebuah cerita, siswa dapat menceritakan kembali isi cerita, menemukan tokoh dan permasalahan, menuliskan pesan yang diperoleh, membuat pertanyaan, berdiskusi dengan teman, atau mengubah informasi yang diperoleh menjadi sebuah karya.

Dengan demikian, kegiatan literasi kelas atas dapat menjadi sarana untuk membangun budaya membaca sekaligus kemampuan berpikir dan berkomunikasi.

1. Mengapa Kegiatan Literasi Kelas Atas Perlu Dibedakan?

Peserta didik kelas IV, V, dan VI memiliki kemampuan yang berbeda dibandingkan siswa kelas I–III. Mereka umumnya sudah memiliki kemampuan membaca yang lebih berkembang sehingga kegiatan literasi dapat diarahkan pada tingkat pemahaman yang lebih tinggi.

Pada kelas bawah, kegiatan seperti mengenal buku, membaca gambar, mendengarkan cerita, membaca kalimat sederhana, dan menceritakan kembali secara singkat masih sangat relevan.

Sementara itu, kelas atas dapat mulai diarahkan pada kegiatan seperti:

  • menemukan informasi penting;
  • menentukan gagasan utama;
  • membuat ringkasan;
  • memberikan pendapat;
  • membandingkan dua informasi;
  • membuat pertanyaan berdasarkan bacaan;
  • melakukan diskusi;
  • membuat resensi sederhana;
  • menulis cerita;
  • mencari informasi dari sumber tertentu;
  • mempresentasikan hasil membaca; dan
  • menghasilkan karya berdasarkan informasi yang diperoleh.

Perbedaan tersebut penting agar kegiatan literasi tidak terlalu mudah bagi siswa kelas atas.

Program literasi juga sebaiknya tidak selalu berbentuk tugas tertulis. Peserta didik membutuhkan variasi aktivitas agar membaca tetap menjadi kegiatan yang menyenangkan. Dalam pengembangan GLS, terdapat berbagai cara membaca, termasuk membaca mandiri, membaca nyaring, membaca bersama, dan membaca terpandu.

Dengan demikian, guru dan pustakawan dapat memilih metode sesuai tujuan kegiatan.

2. Membaca Buku Nonpelajaran Secara Rutin

Kegiatan pertama yang tetap menjadi dasar adalah membaca buku nonpelajaran.

Buku yang digunakan tidak harus selalu berupa cerita. Siswa kelas atas dapat membaca:

  • cerita anak;
  • novel anak;
  • kumpulan cerpen;
  • biografi sederhana;
  • ensiklopedia anak;
  • buku pengetahuan populer;
  • buku tentang lingkungan;
  • buku budaya;
  • buku sejarah populer;
  • buku keterampilan;
  • majalah anak; atau
  • bahan bacaan lain yang sesuai usia.

Kegiatan membaca dapat dilakukan selama waktu tertentu secara rutin.

Namun, guru dan pustakawan perlu memperhatikan bahwa tujuan kegiatan bukan sekadar membuat siswa "duduk dan membaca". Siswa perlu diberi kesempatan memilih bacaan sesuai minatnya.

Misalnya, siswa yang menyukai hewan dapat memilih ensiklopedia hewan, sedangkan siswa yang menyukai cerita dapat memilih buku fiksi.

Kebebasan memilih bacaan dapat membantu membangun hubungan positif antara siswa dan buku.

3. Jurnal Membaca

Jurnal membaca sangat sesuai diterapkan pada kelas IV–VI.

Jurnal tidak perlu dibuat rumit. Siswa dapat mencatat:

  1. tanggal membaca;
  2. judul buku;
  3. nama penulis;
  4. halaman yang dibaca;
  5. informasi penting;
  6. kata baru;
  7. hal menarik dari bacaan; dan
  8. kesimpulan atau tanggapan pribadi.

Untuk kelas IV, format dapat dibuat sederhana.

Untuk kelas V, siswa dapat mulai menambahkan tanggapan terhadap bacaan.

Untuk kelas VI, jurnal dapat dikembangkan menjadi catatan reflektif yang meminta siswa menjelaskan alasan mereka menyukai atau tidak menyukai suatu bacaan.

Jurnal membaca juga bermanfaat bagi guru dan pustakawan karena dapat menjadi salah satu bukti bahwa kegiatan membaca benar-benar dilaksanakan.

4. Menceritakan Kembali Isi Buku

Kegiatan berikutnya adalah menceritakan kembali.

Setelah membaca buku, siswa diberi kesempatan menyampaikan isi bacaan menggunakan bahasa sendiri.

Kegiatan ini dapat dilakukan secara:

  • individu;
  • berpasangan;
  • kelompok kecil; atau
  • presentasi di depan kelas.

Guru tidak perlu menuntut siswa menghafalkan seluruh isi cerita.

Yang lebih penting adalah siswa mampu menjelaskan informasi utama secara runtut.

Misalnya:

"Buku yang saya baca bercerita tentang seorang anak yang menemukan anak kucing. Masalahnya adalah anak kucing tersebut tidak diketahui pemiliknya. Tokoh utama kemudian berusaha mencari pemiliknya..."

Kegiatan semacam ini melatih kemampuan memahami bacaan sekaligus kemampuan berbicara.

5. Membuat Ringkasan Bacaan

Ringkasan merupakan kegiatan yang sangat cocok untuk kelas IV–VI.

Siswa membaca sebuah teks kemudian menentukan bagian yang dianggap penting.

Setelah itu, informasi tersebut ditulis kembali menggunakan kalimat sendiri.

Guru dapat mengajarkan bahwa ringkasan bukan sekadar menyalin seluruh isi buku.

Siswa perlu belajar membedakan antara:

informasi utama dan informasi tambahan.

Contohnya, setelah membaca teks tentang manfaat menjaga kebersihan lingkungan, siswa dapat diminta menemukan:

  • masalah yang dibahas;
  • penyebab masalah;
  • dampak;
  • solusi; dan
  • kesimpulan.

Kemampuan membuat ringkasan akan berguna tidak hanya dalam kegiatan literasi, tetapi juga ketika siswa belajar berbagai mata pelajaran.

6. Menemukan Gagasan Utama

Kelas atas juga dapat diberikan kegiatan mencari gagasan utama.

Guru atau pustakawan menyediakan teks pendek yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.

Kemudian siswa menjawab pertanyaan seperti:

  • Apa yang menjadi pokok pembahasan?
  • Informasi apa yang paling penting?
  • Apa yang ingin disampaikan penulis?
  • Kalimat mana yang mendukung gagasan tersebut?

Kegiatan ini melatih siswa membaca dengan tujuan.

Siswa tidak hanya membaca setiap kata, tetapi belajar memahami struktur informasi.

7. Membuat Pertanyaan dari Bacaan

Salah satu kegiatan sederhana tetapi efektif adalah meminta siswa membuat pertanyaan sendiri.

Setelah membaca teks, siswa membuat lima pertanyaan berdasarkan bacaan.

Contohnya:

  • Siapa tokoh utama dalam cerita?
  • Di mana peristiwa terjadi?
  • Mengapa masalah tersebut terjadi?
  • Bagaimana tokoh menyelesaikan masalah?
  • Apa pesan yang dapat diambil?

Untuk kelas V dan VI, tingkat pertanyaan dapat dinaikkan.

Siswa tidak hanya membuat pertanyaan "siapa", "kapan", dan "di mana", tetapi juga pertanyaan yang membutuhkan alasan dan pendapat.

8. Diskusi Buku

Diskusi buku merupakan kegiatan yang sangat baik untuk kelas atas.

Siswa dapat membaca satu buku atau teks yang sama kemudian mendiskusikannya dalam kelompok.

Beberapa hal yang dapat dibahas antara lain:

  • tokoh;
  • karakter tokoh;
  • masalah;
  • alur;
  • latar;
  • pesan;
  • informasi penting;
  • bagian yang menarik; dan
  • pendapat siswa.

Guru dapat memberikan aturan sederhana bahwa setiap anggota kelompok harus memiliki kesempatan berbicara.

Dengan cara tersebut, literasi tidak hanya mengembangkan kemampuan membaca tetapi juga kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi.

9. Presentasi Buku

Siswa kelas IV–VI dapat diberikan kesempatan melakukan presentasi buku sederhana.

Setiap siswa memilih satu buku yang telah dibaca.

Kemudian siswa menyampaikan:

Identitas buku → isi singkat → bagian menarik → pesan → pendapat pribadi.

Untuk kelas IV, presentasi dapat berlangsung sekitar 3–5 menit.

Kelas V dapat diberikan waktu lebih panjang.

Kelas VI dapat diarahkan untuk membuat presentasi yang lebih sistematis.

Kegiatan ini sangat baik untuk melatih keberanian berbicara di depan orang lain.

10. Resensi Buku Sederhana

Resensi buku dapat mulai diterapkan terutama pada kelas V dan VI.

Siswa tidak harus langsung membuat resensi seperti orang dewasa.

Format sederhana dapat terdiri atas:

  1. judul buku;
  2. penulis;
  3. penerbit;
  4. isi atau ringkasan;
  5. kelebihan buku;
  6. kekurangan buku;
  7. pesan yang diperoleh; dan
  8. rekomendasi.

Guru perlu menjelaskan bahwa memberikan penilaian terhadap buku harus disertai alasan.

Misalnya, bukan hanya:

"Bukunya bagus."

Tetapi:

"Saya menyukai buku ini karena bahasanya mudah dipahami dan ceritanya dekat dengan kehidupan anak."

Dengan demikian, siswa belajar mengemukakan pendapat disertai alasan.

11. Berburu Informasi di Perpustakaan

Kegiatan ini sangat cocok untuk menguatkan fungsi perpustakaan sebagai sumber belajar.

Guru memberikan sebuah tema atau pertanyaan.

Contohnya:

"Cari tiga informasi tentang hewan yang hidup di Indonesia."

Siswa kemudian mencari informasi dari buku yang tersedia di perpustakaan.

Mereka mencatat:

  • judul sumber;
  • informasi yang ditemukan; dan
  • halaman tempat informasi tersebut ditemukan.

Kegiatan ini melatih keterampilan mencari informasi sekaligus mengenalkan siswa pada penggunaan koleksi referensi.

Untuk kelas VI, kegiatan dapat dikembangkan menjadi pencarian informasi dari beberapa sumber.

12. Membandingkan Dua Bacaan

Kelas atas dapat dilatih membandingkan informasi.

Misalnya siswa diberikan dua teks tentang lingkungan.

Siswa diminta mencari:

AspekBacaan 1Bacaan 2
Topik......
Informasi utama......
Persamaan......
Perbedaan......
Kesimpulan......

Kegiatan ini membantu siswa memahami bahwa satu topik dapat dijelaskan dengan cara berbeda.

13. Menulis Cerita Pendek

Literasi membaca sebaiknya dapat menghasilkan kegiatan menulis.

Setelah membaca beberapa cerita, siswa dapat diminta membuat cerita sendiri.

Tema dapat disesuaikan dengan kehidupan mereka, misalnya:

  • persahabatan;
  • pengalaman di sekolah;
  • menjaga lingkungan;
  • keluarga;
  • kejujuran;
  • perpustakaan;
  • hewan peliharaan; atau
  • cita-cita.

Guru dapat memberikan struktur sederhana:

awal cerita → muncul masalah → penyelesaian → akhir cerita.

Hasil karya dapat dikumpulkan menjadi kumpulan cerpen siswa.

Ini juga dapat menjadi produk literasi sekolah yang menarik untuk dipajang di perpustakaan.

14. Menulis Puisi

Puisi juga dapat menjadi bagian kegiatan literasi kelas atas.

Tema dapat dibuat sederhana dan dekat dengan kehidupan siswa.

Contohnya:

  • sekolahku;
  • guruku;
  • perpustakaan;
  • buku;
  • alam;
  • ibu;
  • persahabatan;
  • cita-cita; dan
  • lingkungan.

Puisi siswa dapat dipajang di Pojok Literasi atau Mading Perpustakaan.

Kegiatan tersebut memberikan penghargaan terhadap hasil karya siswa sehingga mereka merasa bahwa membaca dan menulis memiliki hasil nyata.

15. Membuat Komik Berdasarkan Bacaan

Kegiatan komik cocok bagi siswa yang menyukai gambar.

Siswa membaca sebuah cerita kemudian mengubah bagian penting cerita menjadi beberapa panel gambar.

Setiap panel dapat berisi:

  • gambar;
  • dialog;
  • keterangan singkat.

Kegiatan ini mengajarkan siswa memilih informasi penting dan mengubahnya ke dalam bentuk visual.

16. Mading Literasi

Mading dapat menjadi media publikasi karya siswa.

Isi mading dapat berupa:

  • puisi;
  • cerpen;
  • resensi;
  • informasi buku baru;
  • rekomendasi bacaan;
  • kata-kata inspiratif;
  • hasil gambar;
  • komik;
  • artikel siswa; dan
  • informasi kegiatan perpustakaan.

Mading sebaiknya diperbarui secara berkala agar siswa memiliki alasan untuk terus melihatnya.

Karya yang ditampilkan juga dapat digilir sehingga kesempatan diberikan kepada berbagai siswa.

17. Tantangan Membaca

Program Tantangan Membaca dapat dilakukan setiap semester.

Misalnya:

"Baca 5 Buku dalam 1 Semester."

Target tidak perlu dibuat terlalu tinggi.

Yang penting adalah target dapat dicapai dan siswa memiliki pengalaman membaca berbagai jenis buku.

Untuk membuatnya menarik, perpustakaan dapat menyediakan kartu atau lembar pemantauan.

Setelah menyelesaikan buku, siswa mengisi:

  • judul buku;
  • tanggal selesai;
  • kesan singkat; dan
  • tanda tangan guru/pustakawan.

Program tersebut dapat diakhiri dengan pemberian apresiasi kepada siswa yang aktif membaca.

18. Literasi Digital

Literasi kelas atas juga dapat diperluas ke kemampuan menggunakan informasi digital secara bijak.

Siswa dapat dikenalkan pada pertanyaan:

  • Dari mana informasi diperoleh?
  • Siapa yang membuat informasi?
  • Apakah informasi tersebut dapat dipercaya?
  • Apakah informasi berasal dari sumber yang jelas?
  • Apakah informasi tersebut sesuai dengan fakta?

Kegiatan tidak harus menggunakan internet setiap saat.

Guru dapat memberikan dua informasi sederhana dan meminta siswa membandingkannya.

Tujuannya adalah membangun kebiasaan bahwa siswa tidak langsung percaya terhadap semua informasi yang mereka lihat.

19. Kegiatan Literasi Berbasis Proyek

Kelas V dan VI dapat diberikan proyek literasi sederhana.

Contohnya:

Proyek "Mengenal Lingkungan Sekolah"

Siswa:

  1. membaca informasi tentang lingkungan;
  2. mengamati lingkungan sekolah;
  3. mencatat temuan;
  4. mencari informasi tambahan dari buku;
  5. membuat tulisan;
  6. membuat poster; dan
  7. mempresentasikan hasilnya.

Kegiatan tersebut menggabungkan membaca, mencari informasi, menulis, berbicara, dan menghasilkan karya.

20. Bedah Buku

Bedah buku tidak harus dilakukan dengan cara formal.

Pustakawan dapat memilih satu buku yang sesuai dengan usia siswa.

Kemudian kegiatan dilakukan dengan pertanyaan sederhana:

Sebelum membaca

  • Apa yang dapat kalian perkirakan dari judul?
  • Apa yang kalian lihat dari sampul?

Saat membaca

  • Apa masalah yang muncul?
  • Siapa tokoh utamanya?

Setelah membaca

  • Apa pesan buku?
  • Bagian mana yang paling menarik?
  • Apakah kalian setuju dengan tindakan tokoh?
  • Apa yang akan kalian lakukan jika mengalami hal yang sama?

Pertanyaan semacam ini membantu siswa membaca secara lebih aktif.

21. Pekan Literasi Sekolah

Sekolah juga dapat membuat kegiatan khusus berupa Pekan Literasi.

Kegiatan dapat berlangsung selama satu minggu.

Contohnya:

Hari Senin: Membaca bersama
Hari Selasa: Bercerita
Hari Rabu: Lomba puisi
Hari Kamis: Resensi buku
Hari Jumat: Pameran karya literasi

Kelas IV, V, dan VI dapat diberikan kegiatan yang lebih menantang dibandingkan kelas I–III.

Pekan literasi juga dapat menjadi sarana memperkenalkan koleksi perpustakaan kepada siswa.

22. Peran Pustakawan dalam Literasi Kelas Atas

Program literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab guru kelas.

Pustakawan dapat berperan sebagai penggerak kegiatan literasi di sekolah.

Beberapa tugas yang dapat dilakukan antara lain:

  1. menyiapkan koleksi bacaan;
  2. membantu siswa memilih buku;
  3. membuat jadwal kunjungan;
  4. mencatat peminjaman;
  5. membuat rekomendasi buku;
  6. mengelola pojok literasi;
  7. mendokumentasikan kegiatan;
  8. memajang karya siswa;
  9. mengadakan kegiatan literasi perpustakaan; dan
  10. bekerja sama dengan guru dalam pelaksanaan program.

Panduan GLS sendiri menekankan bahwa gerakan literasi merupakan upaya yang melibatkan warga sekolah dan bukan pekerjaan satu pihak saja.

Oleh karena itu, kerja sama antara kepala sekolah, guru, pustakawan, peserta didik, dan orang tua akan membuat program lebih berkelanjutan.

23. Contoh Jadwal Literasi Kelas Atas

Agar program mudah diterapkan, kegiatan dapat dibuat sederhana seperti berikut:

WaktuKegiatan
Setiap hari/terjadwalMembaca buku nonpelajaran
Minggu ke-1Kunjungan dan pemilihan buku
Minggu ke-2Jurnal membaca
Minggu ke-3Menceritakan/presentasi buku
Minggu ke-4Diskusi atau kegiatan kreatif
Setiap bulanRekap kegiatan literasi
Setiap semesterPameran karya
Setiap semesterTantangan membaca
Setiap tahunPekan Literasi

Jadwal tersebut tentu dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah.

Tidak semua kegiatan harus dilakukan setiap minggu. Justru lebih baik memiliki program yang sederhana, konsisten, terdokumentasi, dan dapat dilaksanakan daripada membuat program terlalu banyak tetapi tidak berjalan.

24. Perbedaan Kegiatan Kelas IV, V, dan VI

Agar program tidak terasa sama setiap tahun, tingkat kesulitan dapat dinaikkan secara bertahap.

Kelas IV

Fokus pada:

  • membaca pemahaman;
  • menemukan informasi;
  • kosakata;
  • ringkasan sederhana;
  • menceritakan kembali;
  • presentasi singkat;
  • puisi dan cerita.

Kelas V

Fokus pada:

  • membaca kritis sederhana;
  • diskusi;
  • resensi;
  • mencari informasi;
  • membandingkan bacaan;
  • menulis cerita/artikel;
  • presentasi.

Kelas VI

Fokus pada:

  • analisis bacaan;
  • literasi informasi;
  • diskusi;
  • bedah buku;
  • resensi;
  • pencarian informasi dari beberapa sumber;
  • presentasi;
  • karya literasi.

Dengan pembagian tersebut, kemampuan siswa dapat berkembang dari membaca dan memahami menuju menganalisis, menilai, mengolah, dan menghasilkan informasi.

Kesimpulan

Kegiatan literasi untuk kelas atas SD sebaiknya tidak berhenti pada kegiatan membaca buku. Membaca merupakan fondasi, tetapi pengalaman literasi dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan yang membuat siswa aktif menggunakan informasi.

Program yang dapat diterapkan antara lain membaca buku nonpelajaran, jurnal membaca, ringkasan, menceritakan kembali, menemukan gagasan utama, membuat pertanyaan, diskusi buku, presentasi, resensi, berburu informasi di perpustakaan, membandingkan bacaan, menulis cerpen, menulis puisi, membuat komik, mading literasi, tantangan membaca, literasi digital, proyek literasi, dan bedah buku.

Yang paling penting adalah kegiatan tersebut disesuaikan dengan usia dan kemampuan siswa.

Kelas IV dapat diarahkan untuk memperkuat pemahaman bacaan. Kelas V dapat mulai diberikan kegiatan yang membutuhkan pengolahan dan penilaian informasi. Kelas VI dapat diarahkan pada kegiatan literasi yang lebih kompleks, seperti analisis bacaan, pencarian informasi, diskusi, resensi, dan presentasi.

Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi dapat berkembang menjadi pusat kegiatan literasi sekolah.

Program literasi yang baik bukanlah program yang memiliki kegiatan paling banyak. Program yang baik adalah program yang dapat dilaksanakan secara konsisten, menyenangkan bagi siswa, memiliki tujuan yang jelas, menghasilkan karya atau pengalaman belajar, serta dapat didokumentasikan dan dievaluasi.

Panduan resmi GLS SD juga menempatkan sekolah sebagai lingkungan yang perlu membangun budaya literasi secara menyeluruh. Oleh sebab itu, kegiatan literasi kelas atas sebaiknya dirancang sebagai bagian dari budaya sekolah, bukan sekadar kegiatan tambahan.


Referensi 

  1. Faizah, D. U., Sufyadi, S., Anggraini, L., Waluyo, W., Dewayani, S., Muldian, W., & Roosaria, R. (2016). Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  2. Setiawan, R., Komalasari, K., Misiyanto, M., Mardianto, A., Islami, A., & Nurani, D. (2019). Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar (Edisi 2). Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  3. Wiedarti, P., Laksono, K., & Retnaningsih, P. (2018). Desain induk Gerakan Literasi Sekolah (Edisi 2). Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Back To Top