-->

Dunia Perpustakaan

"Jelajahi perpustakaan: literasi, pengetahuan, dan rekomendasi bacaan tanpa batas!"

Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi ruang tumbuhnya ide, karakter, dan masa depan. Setiap halaman yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar dalam hidup seseorang.

Masalah yang Sering Terjadi di Perpustakaan SD dan Cara Mengatasinya

 


Mengelola perpustakaan sekolah dasar ternyata tidak selalu seperti yang dibayangkan.

Banyak orang mengira pekerjaan di perpustakaan hanya menjaga ruangan, menata buku di rak, melayani siswa yang meminjam buku, kemudian mengembalikannya setelah selesai.

Kenyataannya jauh lebih kompleks.

Terlebih bagi pustakawan baru, tenaga perpustakaan, mahasiswa ilmu perpustakaan yang sedang belajar praktik, atau guru yang mendapat tugas tambahan mengelola perpustakaan.

Ketika pertama kali masuk ke ruang perpustakaan, sering kali sudah ada banyak pekerjaan yang menunggu.

Buku belum tertata. Data koleksi belum lengkap. Buku yang rusak bercampur dengan buku yang masih baik. Administrasi belum diperbarui. Ada buku yang tidak diketahui asalnya. Peminjaman belum tercatat dengan baik.

Belum lagi menghadapi siswa.

Ada siswa yang datang hanya untuk bermain. Ada yang berbicara terlalu keras. Ada yang mengambil buku kemudian meninggalkannya di sembarang tempat. Ada yang membawa buku pulang tetapi lupa mengembalikannya.

Masalah lain muncul dari sisi pengelolaan.

Dana perpustakaan terbatas. Koleksi yang dibutuhkan cukup banyak. Komputer mungkin hanya satu. Internet tidak selalu tersedia. Ruang perpustakaan belum ideal. Bahkan pengelolanya sendiri bisa saja tidak memiliki latar belakang ilmu perpustakaan.

Kondisi seperti ini bukan sesuatu yang aneh.

Perpustakaan SD memang memiliki tantangan yang berbeda dengan perpustakaan perguruan tinggi atau perpustakaan umum. Pemustakanya adalah anak-anak yang masih berada pada tahap belajar mengenal aturan, membangun kebiasaan membaca, dan belajar bertanggung jawab terhadap barang yang digunakan bersama.

Karena itu, mengelola perpustakaan SD membutuhkan kemampuan teknis sekaligus kesabaran dan kemampuan menghadapi manusia.

Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah juga menunjukkan bahwa perpustakaan sekolah tidak hanya berkaitan dengan koleksi, tetapi mencakup standar pelayanan, tenaga, sarana dan prasarana, penyelenggaraan, serta pengelolaan. (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2024).

Artinya, masalah perpustakaan memang dapat muncul dari berbagai sisi.

Berikut beberapa masalah yang sangat mungkin ditemui dalam pengelolaan perpustakaan SD beserta cara mengatasinya.

1. Buku Banyak, tetapi Tidak Tertata

Ini merupakan salah satu masalah yang paling mudah ditemukan.

Ketika melihat rak perpustakaan, jumlah bukunya sebenarnya cukup banyak. Namun, susunannya tidak beraturan.

Buku cerita bercampur dengan buku pelajaran.

Buku kelas rendah bercampur dengan buku untuk kelas tinggi.

Buku referensi berada di antara buku bacaan biasa.

Ada pula buku yang tergeletak di meja karena setelah dibaca siswa tidak dikembalikan ke rak.

Bagi pengelola baru, kondisi seperti ini bisa membuat bingung harus memulai dari mana.

Cara mengatasinya

Jangan langsung mencoba merapikan seluruh perpustakaan dalam satu hari.

Mulailah dengan mengelompokkan koleksi.

Misalnya:

  • buku pelajaran;

  • buku cerita;

  • buku pengayaan;

  • buku referensi;

  • buku agama;

  • buku pengetahuan umum;

  • buku untuk kelas rendah;

  • buku untuk kelas tinggi;

  • buku rusak;

  • dan buku yang belum diolah.

Setelah itu, lakukan pengolahan secara bertahap.

Perpustakaan yang berantakan tidak akan menjadi rapi hanya karena buku disusun kembali. Yang dibutuhkan adalah sistem penataan yang konsisten.

2. Data Koleksi Tidak Sesuai dengan Kondisi Sebenarnya

Masalah lain yang cukup sering terjadi adalah jumlah buku dalam administrasi berbeda dengan jumlah buku yang benar-benar ada.

Misalnya dalam buku inventaris tertulis 1.000 eksemplar.

Setelah diperiksa, buku yang ditemukan hanya 800.

Kemudian muncul pertanyaan:

Ke mana 200 buku lainnya?

Belum tentu buku tersebut hilang.

Bisa jadi ada yang berada di kelas, dipinjam guru, dipinjam siswa, rusak, atau sudah tidak digunakan tetapi belum dikeluarkan dari data.

Cara mengatasinya

Lakukan stock opname atau cacah ulang koleksi.

Periksa buku satu per satu dan cocokkan dengan data inventaris yang tersedia.

Jangan langsung menghapus data lama hanya karena tidak menemukan bukunya.

Buat daftar buku yang:

  • ditemukan;

  • tidak ditemukan;

  • rusak;

  • dipinjam;

  • berada di kelas;

  • atau perlu ditelusuri.

Dengan demikian, kondisi koleksi menjadi lebih jelas.

3. Banyak Buku Belum Diolah

Masalah ini sering membuat pustakawan baru merasa kewalahan.

Buku sudah ada, tetapi belum memiliki nomor inventaris.

Ada yang sudah memiliki nomor, tetapi belum diberi klasifikasi.

Ada yang sudah diberi label, tetapi tidak memiliki data katalog.

Akibatnya, pengelola tidak yakin apakah buku tersebut sudah selesai diolah atau belum.

Cara mengatasinya

Buat area khusus:

BUKU BELUM DIOLAH

dan

BUKU SUDAH DIOLAH

Kemudian kerjakan secara bertahap.

Tidak perlu 100 buku sekaligus.

Misalnya 10–20 buku setiap hari.

Urutan sederhananya:

pemeriksaan → inventarisasi → katalogisasi → klasifikasi → nomor panggil → label → penyelesaian fisik → shelving.

Lebih baik sedikit tetapi benar daripada banyak tetapi datanya tidak jelas.

4. Pengelola Tidak Menguasai Semua Teknik Perpustakaan

Ini juga merupakan kenyataan yang cukup sering ditemui.

Tidak semua orang yang mengelola perpustakaan sekolah memiliki latar belakang pendidikan perpustakaan.

Ada guru yang mendapat tugas tambahan.

Ada tenaga administrasi yang diminta membantu.

Ada tenaga perpustakaan yang baru mulai bekerja.

Ada mahasiswa yang baru belajar praktik.

Akibatnya, istilah seperti DDC, katalogisasi, tajuk subjek, nomor panggil, inventarisasi, dan shelving terasa membingungkan.

Cara mengatasinya

Jangan berusaha menguasai semuanya sekaligus.

Pelajari berdasarkan kebutuhan pekerjaan.

Mulai dari:

  1. inventarisasi;

  2. klasifikasi;

  3. katalogisasi;

  4. penataan koleksi;

  5. layanan sirkulasi;

  6. administrasi;

  7. statistik;

  8. pengembangan program.

Gunakan pedoman resmi dan ikuti pelatihan jika tersedia.

Kemampuan teknis akan meningkat melalui praktik berulang.

5. Dana Perpustakaan Terbatas

Dana menjadi salah satu persoalan yang cukup sering dihadapi perpustakaan SD negeri. Kebutuhan perpustakaan sebenarnya cukup banyak, sementara anggaran sekolah harus dibagi untuk berbagai kebutuhan pendidikan lainnya.

Perpustakaan tidak hanya membutuhkan buku pelajaran atau buku teks, tetapi juga buku pengayaan, buku cerita, bacaan anak, buku referensi, serta koleksi lain yang dapat mendukung kegiatan belajar dan minat baca siswa.

Selain pengadaan koleksi, perpustakaan juga membutuhkan biaya untuk berbagai kebutuhan lainnya, seperti perawatan buku, perbaikan rak, penyediaan sarana pendukung, dan kegiatan perpustakaan.

Dalam kondisi anggaran yang terbatas, tentu tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi sekaligus.

Kadang perpustakaan sudah membutuhkan tambahan koleksi, tetapi pada saat yang sama sekolah juga harus memenuhi kebutuhan ruang kelas, sarana pembelajaran, kegiatan siswa, pemeliharaan fasilitas, dan kebutuhan sekolah lainnya.

Akibatnya, pengembangan perpustakaan harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan anggaran sekolah.

Cara Mengatasinya

Dalam kondisi seperti ini, pengelolaan perpustakaan perlu dilakukan berdasarkan kebutuhan dan prioritas, bukan sekadar mengejar banyaknya fasilitas atau jumlah koleksi.

Pustakawan atau pengelola perpustakaan dapat membantu dengan menyediakan data mengenai kondisi perpustakaan, misalnya:

  • jumlah koleksi yang tersedia;
  • kondisi buku;
  • jumlah buku yang rusak;
  • kebutuhan penambahan koleksi;
  • kondisi rak dan sarana perpustakaan;
  • serta kebutuhan lain yang perlu diperhatikan.

Data tersebut dapat menjadi bahan bagi sekolah dalam menentukan kebutuhan dan prioritas pengembangan perpustakaan.

Pengadaan juga tidak harus dilakukan sekaligus dalam jumlah besar. Penambahan koleksi dan sarana dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan perencanaan dan kemampuan anggaran sekolah.

Yang terpenting, keterbatasan dana tidak membuat perpustakaan berhenti berkembang. Kebutuhan yang paling mendasar dapat didahulukan, sementara kebutuhan lainnya dipenuhi secara bertahap.

Dengan cara tersebut, perpustakaan tetap dapat berkembang meskipun belum memiliki anggaran yang besar.

6. Koleksi Sudah Banyak, tetapi Belum Tentu Sesuai dengan Kebutuhan Siswa

Masalah dana berkaitan erat dengan persoalan berikutnya, yaitu kesesuaian koleksi dengan kebutuhan siswa.

Jumlah buku yang banyak belum tentu berarti perpustakaan sudah memiliki koleksi yang ideal.

Dalam kenyataan di sekolah, bisa saja jumlah buku terlihat cukup banyak, tetapi sebagian besar merupakan buku pelajaran atau buku yang diperoleh dari pengadaan, bantuan, maupun sumber lainnya. Sementara itu, ketika siswa mencari bacaan tertentu, buku yang mereka inginkan justru belum tersedia.

Misalnya, siswa membutuhkan lebih banyak buku cerita, bacaan bergambar, buku tentang hewan, pengetahuan populer, ensiklopedia anak, atau bacaan yang sesuai dengan kemampuan membaca mereka. Namun, koleksi yang tersedia mungkin lebih banyak berupa buku pelajaran.

Di sinilah pengelola perpustakaan sering menghadapi kondisi yang cukup sulit.

Pustakawan mengetahui buku apa yang diminati siswa, tetapi pengadaan buku di sekolah mengikuti mekanisme perencanaan dan pengelolaan anggaran sekolah. Pustakawan tidak selalu menjadi pihak yang menentukan secara langsung buku apa yang akhirnya dibeli.

Karena itu, masalahnya bukan sekadar apakah perpustakaan memiliki banyak buku atau tidak, tetapi apakah koleksi yang tersedia sudah sesuai dengan kebutuhan siswa.

Cara Mengatasinya

Pustakawan dapat membantu sekolah dengan memberikan informasi berdasarkan kondisi nyata di perpustakaan.

Perhatikan buku apa yang sering dicari siswa.

Catat buku yang paling sering dipinjam.

Perhatikan pula jenis buku yang berulang kali ditanyakan tetapi belum tersedia.

Misalnya, selama beberapa bulan siswa sering mencari:

  • buku cerita anak;
  • cerita bergambar;
  • buku tentang hewan;
  • buku tentang luar angkasa;
  • ensiklopedia anak;
  • komik edukatif;
  • atau buku pengetahuan sederhana.

Informasi tersebut dapat dicatat sebagai data kebutuhan koleksi.

Data ini kemudian dapat disampaikan kepada kepala sekolah atau pihak yang menangani perencanaan dan pengadaan sebagai bahan pertimbangan.

Dengan demikian, pustakawan tidak mengambil alih kewenangan pengadaan, tetapi memberikan informasi yang berasal dari kebutuhan nyata pengguna perpustakaan.

Hal ini penting karena pengadaan koleksi sebaiknya tidak hanya dilihat dari pertanyaan:

“Buku apa yang bisa dibeli?”

tetapi juga:

“Buku apa yang benar-benar dibutuhkan oleh siswa?”

Buku pelajaran tetap diperlukan karena mendukung kegiatan pembelajaran. Namun, buku pengayaan dan bacaan anak juga memiliki peran penting dalam memperkenalkan berbagai bacaan kepada siswa dan membangun kebiasaan membaca.

Jadi, ketika ada kesempatan menambah koleksi, kebutuhan buku pelajaran dan kebutuhan bacaan siswa sebaiknya sama-sama diperhatikan sesuai prioritas dan kemampuan sekolah.

Selain itu, jangan lupa memanfaatkan koleksi yang sudah tersedia.

Buku yang sebenarnya menarik mungkin hanya tersimpan di rak dan tidak diketahui siswa. Pengelola dapat menampilkan beberapa buku pilihan di tempat yang mudah terlihat, membuat sudut bacaan sederhana, atau memperkenalkan koleksi berdasarkan tema.

Dengan demikian, keterbatasan pengadaan tidak selalu berarti perpustakaan tidak dapat berkembang.

Yang penting adalah mengetahui apa yang dimiliki, apa yang kurang, apa yang dibutuhkan siswa, kemudian menyampaikan informasi tersebut kepada pihak sekolah sebagai bahan pertimbangan pengembangan koleksi.

7. Siswa Datang ke Perpustakaan Hanya untuk Bermain

Ini masalah yang sangat khas perpustakaan SD.

Ketika jam istirahat, siswa datang berkelompok.

Ada yang membaca.

Ada yang mencari buku.

Tetapi ada juga yang berlari-lari, berbicara keras, bermain, atau sekadar berkumpul dengan teman.

Jika pustakawan langsung memarahi mereka, siswa bisa menganggap perpustakaan sebagai tempat yang menakutkan.

Tetapi jika dibiarkan, suasana perpustakaan menjadi tidak nyaman.

Cara mengatasinya

Buat aturan yang sederhana dan mudah dipahami anak.

Misalnya:

Di perpustakaan kita:

  • berjalan, bukan berlari;

  • berbicara dengan suara pelan;

  • mengembalikan buku ke tempatnya;

  • menjaga kebersihan;

  • menjaga buku;

  • dan menghormati teman yang sedang membaca.

Jangan membuat aturan terlalu banyak.

Gunakan bahasa yang ramah anak.

Jika ada siswa yang melanggar, berikan pengingat terlebih dahulu.

8. Siswa Mengambil Buku tetapi Tidak Mengembalikannya ke Rak

Ini masalah kecil tetapi bisa menjadi pekerjaan tambahan yang cukup melelahkan.

Setelah satu jam siswa membaca, beberapa buku tertinggal di meja.

Ada yang diletakkan di rak yang salah.

Ada yang bahkan ditemukan di sudut ruangan.

Cara mengatasinya

Jangan berharap siswa langsung memahami shelving.

Ajarkan kebiasaan sederhana:

“Setelah membaca, letakkan buku di meja pengembalian.”

Dengan demikian, siswa tidak perlu mengembalikan sendiri ke rak jika belum memahami sistem.

Pustakawan kemudian melakukan shelving.

Setelah siswa mulai memahami sistem, mereka dapat dilatih mengembalikan buku secara mandiri.

9. Buku Sering Rusak

Buku anak-anak memang lebih rentan rusak.

Halaman dapat dilipat.

Sampul dapat terlepas.

Buku terkena air.

Ada halaman yang dicoret.

Bahkan terkadang buku robek karena digunakan terlalu keras.

Cara mengatasinya

Jangan hanya membuat larangan.

Ajarkan cara memperlakukan buku.

Misalnya:

“Buku tidak dilipat.”

“Tangan harus bersih sebelum membaca.”

“Jangan mencoret halaman.”

“Gunakan kedua tangan ketika membawa buku.”

Sediakan waktu khusus untuk perawatan koleksi.

Buku yang kerusakannya ringan sebaiknya segera diperbaiki sebelum kerusakan menjadi lebih parah.

10. Siswa Kehilangan Buku

Buku yang dipinjam siswa terkadang tidak kembali.

Alasannya bermacam-macam.

Buku tertinggal di rumah.

Lupa mengembalikan.

Buku terselip.

Buku rusak.

Atau memang hilang.

Cara mengatasinya

Jangan langsung menggunakan pendekatan yang membuat siswa takut.

Lakukan pencatatan yang jelas.

Ketika buku dipinjam, catat:

  • nama siswa;

  • kelas;

  • judul buku;

  • tanggal peminjaman;

  • tanggal pengembalian.

Jika buku belum kembali, lakukan pengingat.

Untuk siswa SD, pendekatan edukatif biasanya lebih tepat daripada langsung memberikan hukuman berat.

Tujuannya bukan sekadar mendapatkan kembali buku.

Tujuannya adalah mengajarkan tanggung jawab.

11. Perpustakaan Sepi

Ada perpustakaan yang sebenarnya cukup lengkap, tetapi jarang dikunjungi.

Pintu terbuka.

Buku tersedia.

Tetapi siswa tidak datang.

Pengelola kemudian berpikir:

“Anak-anak sekarang memang tidak suka membaca.”

Padahal belum tentu demikian.

Bisa jadi mereka belum mengetahui buku yang menarik di perpustakaan.

Cara mengatasinya

Promosikan koleksi.

Misalnya setiap minggu buat:

“Buku Pilihan Minggu Ini.”

Atau:

“Tahukah Kamu?”

Tampilkan buku yang menarik di tempat yang mudah dilihat.

Guru juga dapat dilibatkan.

Misalnya guru meminta siswa mencari informasi tertentu dari buku perpustakaan.

Dengan demikian, siswa mempunyai alasan untuk datang.

12. Minat Baca Siswa Menurun karena Lebih Tertarik pada Gadget

Salah satu tantangan yang semakin terasa dalam pengelolaan perpustakaan SD adalah perubahan kebiasaan anak dalam mencari hiburan dan informasi.

Dulu, ketika memiliki waktu luang, anak mungkin lebih mudah tertarik mengambil buku cerita atau membaca majalah anak. Sekarang, sebagian anak sudah terbiasa menggunakan gadget untuk menonton video, bermain gim, melihat media sosial, atau menikmati berbagai konten digital.

Akibatnya, ketika berada di perpustakaan, tidak semua siswa langsung tertarik mengambil buku.

Ada siswa yang masuk perpustakaan tetapi hanya sebentar. Ada yang memilih berbicara dengan teman. Ada pula yang mengatakan bahwa membaca buku terasa membosankan dibandingkan menonton video.

Kondisi seperti ini tentu menjadi tantangan bagi perpustakaan sekolah.

Namun, tidak tepat jika anak langsung dianggap malas membaca hanya karena menggunakan gadget. Gadget juga dapat digunakan untuk belajar dan mencari informasi. Persoalannya adalah bagaimana membantu anak agar memiliki kebiasaan menggunakan berbagai sumber informasi secara seimbang.

Cara Mengatasinya

Perpustakaan tidak perlu berusaha “melawan” gadget.

Yang lebih penting adalah membuat anak menemukan pengalaman membaca yang menyenangkan.

Mulailah dari bacaan yang memang disukai anak.

Jika seorang siswa menyukai hewan, berikan buku tentang hewan.

Jika menyukai cerita petualangan, arahkan ke buku cerita petualangan.

Jika tertarik pada luar angkasa, tunjukkan buku tentang planet dan tata surya.

Jangan langsung memaksa anak membaca buku yang terlalu panjang atau terlalu sulit.

Minat baca dapat tumbuh dari pengalaman sederhana.

Pengelola perpustakaan juga dapat membuat kegiatan kecil, misalnya:

  • memperkenalkan satu buku menarik setiap minggu;
  • membuat pajangan buku pilihan;
  • menyediakan sudut bacaan anak;
  • membuat tantangan membaca sederhana;
  • meminta siswa menceritakan kembali buku yang dibacanya;
  • atau menghubungkan buku dengan topik yang sedang mereka sukai.

Yang tidak kalah penting, perpustakaan perlu memahami bahwa anak zaman sekarang tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Karena itu, perpustakaan juga perlu beradaptasi.

Tujuannya bukan menjauhkan anak dari teknologi, melainkan membantu mereka memahami bahwa buku tetap memiliki tempat di tengah perkembangan teknologi digital.

Anak boleh menggunakan gadget, tetapi mereka juga perlu memiliki pengalaman membaca buku, mencari informasi dari sumber yang terpercaya, memahami isi bacaan, dan menikmati cerita tanpa harus selalu bergantung pada layar.

Dengan pendekatan seperti ini, perpustakaan tidak perlu memposisikan gadget sebagai musuh.

Sebaliknya, perpustakaan dapat menjadi tempat yang membantu anak menyeimbangkan kebiasaan membaca dengan penggunaan teknologi.

13. Guru Jarang Memanfaatkan Perpustakaan

Perpustakaan sekolah seharusnya tidak hanya berhubungan dengan siswa.

Guru juga merupakan pengguna penting.

Namun dalam praktiknya, guru mungkin lebih sering menggunakan buku yang sudah dimiliki sendiri atau materi dari internet.

Akibatnya, perpustakaan kurang terlibat dalam kegiatan pembelajaran.

Cara mengatasinya

Jangan menunggu guru datang.

Pustakawan dapat menawarkan bantuan.

Misalnya:

“Bu, kami punya beberapa buku yang bisa digunakan untuk materi hewan. Kalau diperlukan, saya bisa siapkan.”

Pendekatan seperti ini lebih efektif daripada hanya mengatakan:

“Silakan gunakan perpustakaan.”

Tunjukkan bahwa perpustakaan dapat membantu pekerjaan guru.

14. Pengelola Perpustakaan Merangkap Pekerjaan Lain

Ini adalah masalah yang sangat nyata di sekolah.

Seseorang mungkin bertugas mengelola perpustakaan sekaligus menangani administrasi sekolah, data, operator, atau pekerjaan lainnya.

Akibatnya, perpustakaan tidak selalu dapat dibuka dan dikelola sepanjang waktu.

Cara mengatasinya

Buat pekerjaan berdasarkan prioritas.

Bedakan:

pekerjaan wajib

dan

pekerjaan pengembangan.

Pekerjaan wajib misalnya:

  • layanan;

  • pencatatan peminjaman;

  • pengembalian;

  • administrasi dasar;

  • keamanan koleksi.

Pekerjaan pengembangan dapat dilakukan ketika tersedia waktu.

Misalnya:

  • dekorasi;

  • promosi;

  • pembuatan konten;

  • kegiatan tambahan;

  • dan pengembangan program.

Jangan membuat terlalu banyak program jika tenaga pengelola sangat terbatas.

15. Tidak Ada Waktu untuk Mengolah Buku

Masalah ini sering muncul ketika perpustakaan hanya memiliki satu pengelola.

Setiap hari ada siswa yang datang.

Ada peminjaman.

Ada pengembalian.

Ada administrasi sekolah.

Akhirnya buku yang belum diolah semakin menumpuk.

Cara mengatasinya

Buat waktu khusus pengolahan.

Misalnya:

Senin dan Rabu pukul 10.00–11.00 khusus pengolahan koleksi.

Tidak harus lama.

Satu jam yang konsisten lebih baik daripada menunggu waktu luang yang tidak pernah datang.

Jika hanya mampu mengolah 10 buku dalam satu sesi, tidak masalah.

Yang penting pekerjaan terus bergerak.

16. Administrasi Perpustakaan Banyak, tetapi Tidak Terurus

Kadang-kadang pengelola memiliki banyak format administrasi.

Ada buku inventaris.

Ada buku kunjungan.

Ada buku peminjaman.

Ada data anggota.

Ada statistik.

Ada program kerja.

Ada laporan.

Namun semuanya hanya dibuat di awal dan tidak pernah diperbarui.

Cara mengatasinya

Administrasi harus dibuat berdasarkan kebutuhan nyata.

Lebih baik memiliki sedikit dokumen tetapi aktif digunakan daripada banyak dokumen yang hanya menjadi arsip.

Prioritaskan data yang benar-benar diperlukan.

Yang paling penting adalah data tersebut akurat, diperbarui, dan dapat digunakan untuk evaluasi.

17. Kepala Sekolah Belum Memahami Kebutuhan Perpustakaan

Terkadang pengelola perpustakaan merasa sudah mengajukan berbagai kebutuhan, tetapi belum mendapatkan prioritas.

Bukan selalu karena kepala sekolah tidak peduli.

Bisa saja kepala sekolah juga menghadapi banyak kebutuhan lain.

Cara mengatasinya

Jangan hanya mengajukan permintaan:

“Perpustakaan membutuhkan komputer.”

Berikan alasan dan manfaat.

Contohnya:

“Komputer diperlukan untuk pengolahan dan pendataan koleksi agar data buku lebih tertib serta memudahkan pelayanan.”

Begitu juga ketika mengusulkan pembelian buku.

Jelaskan:

  • buku apa yang dibutuhkan;

  • untuk kelas berapa;

  • berapa jumlahnya;

  • mengapa diperlukan;

  • dan bagaimana akan digunakan.

Usulan yang disertai data biasanya lebih mudah dipahami.

18. Perpustakaan Terlalu Fokus pada Administrasi

Administrasi memang penting.

Tetapi perpustakaan bukan sekadar kumpulan dokumen.

Jangan sampai seluruh energi habis untuk membuat laporan sementara siswa tidak pernah menggunakan koleksi.

Administrasi seharusnya membantu pengelolaan, bukan menjadi tujuan utama.

Cara mengatasinya

Gunakan data administrasi untuk menjawab pertanyaan:

  • Buku apa yang paling banyak dipinjam?

  • Kelas mana yang paling sering berkunjung?

  • Koleksi apa yang jarang digunakan?

  • Buku apa yang perlu ditambah?

  • Kapan perpustakaan paling ramai?

  • Program apa yang berhasil?

Dengan demikian, administrasi memiliki fungsi nyata.

19. Pengelola Merasa Harus Membuat Perpustakaan Langsung Sempurna

Ini adalah masalah yang sering tidak terlihat.

Ketika melihat contoh perpustakaan sekolah di internet, pengelola mungkin merasa perpustakaannya sangat jauh tertinggal.

Rak bagus.

Karpet nyaman.

Koleksi banyak.

Komputer lengkap.

Program literasi beragam.

Kemudian muncul pikiran:

“Perpustakaan saya kapan bisa seperti itu?”

Jangan membandingkan kondisi awal dengan perpustakaan yang sudah bertahun-tahun berkembang.

Mulailah dari yang tersedia.

Jika hanya memiliki satu rak, rapikan satu rak itu.

Jika hanya memiliki 300 buku, olah 300 buku tersebut dengan baik.

Jika belum memiliki komputer, gunakan sistem manual yang tertib.

Perpustakaan berkembang secara bertahap.

20. Sulit Menentukan Mana yang Harus Dikerjakan Lebih Dahulu

Ketika pekerjaan terlalu banyak, semuanya terasa penting.

Akibatnya pengelola berpindah-pindah pekerjaan.

Hari ini menata rak.

Besok membuat program.

Lusa mengolah buku.

Kemudian membuat administrasi.

Akhirnya tidak ada pekerjaan yang benar-benar selesai.

Cara mengatasinya

Gunakan prinsip:

Data → Koleksi → Layanan → Program.

Pertama, benahi data.

Kemudian benahi koleksi.

Setelah itu benahi layanan.

Barulah mengembangkan program.

Urutan tersebut akan membuat pekerjaan lebih terarah.

21. Bagaimana Menghadapi Siswa yang Tidak Suka Membaca?

Tidak semua siswa akan langsung menyukai buku.

Jangan memaksa semua anak membaca buku yang sama.

Anak memiliki minat yang berbeda.

Ada yang suka cerita.

Ada yang suka hewan.

Ada yang suka kendaraan.

Ada yang suka komik edukatif.

Ada yang suka ensiklopedia.

Ada yang hanya tertarik melihat gambar.

Semua itu dapat menjadi pintu masuk.

Cara mengatasinya

Tanyakan:

“Kamu suka membaca tentang apa?”

Kemudian bantu menemukan buku yang sesuai.

Jika seorang anak awalnya hanya membaca buku bergambar, jangan langsung menganggapnya tidak suka membaca.

Bisa jadi itu merupakan tahap awal sebelum ia tertarik pada bacaan yang lebih panjang.

22. Bagaimana Jika Siswa Berisik?

Perpustakaan SD tidak mungkin selalu sunyi seperti perpustakaan perguruan tinggi.

Anak-anak tetap akan berbicara.

Yang perlu dibangun bukan keheningan mutlak, tetapi suasana yang nyaman untuk membaca dan belajar.

Gunakan aturan sederhana.

Misalnya:

“Boleh berbicara, tetapi gunakan suara perpustakaan.”

Jika anak terlalu berisik, dekati dan ingatkan dengan tenang.

Hubungan yang baik dengan siswa justru akan membantu pengelola mengatur perpustakaan.

23. Perpustakaan Kurang Menarik bagi Anak

Kadang masalahnya bukan pada koleksi, tetapi suasana.

Ruangan terlalu kaku.

Rak terlalu tinggi.

Buku anak diletakkan di tempat yang sulit dijangkau.

Tidak ada tanda yang mudah dipahami.

Cara mengatasinya

Tidak perlu mengeluarkan banyak biaya.

Lakukan perubahan kecil.

Misalnya:

  • buat sudut buku pilihan;

  • pasang tulisan sederhana;

  • kelompokkan buku berdasarkan tema;

  • letakkan buku yang menarik di bagian depan;

  • sediakan tempat duduk yang nyaman;

  • dan buat ruang terasa ramah anak.

Perpustakaan tidak harus mewah untuk menjadi menarik.

24. Apa yang Harus Dilakukan Jika Dana Sangat Terbatas?

Jika dana benar-benar terbatas, jangan menghentikan pengembangan perpustakaan.

Cari solusi yang realistis.

Misalnya:

  • memaksimalkan koleksi yang sudah ada;

  • memperbaiki buku rusak;

  • melakukan pertukaran atau kerja sama koleksi jika memungkinkan;

  • mengusulkan pengadaan berdasarkan prioritas;

  • memanfaatkan sumber daya sekolah yang tersedia;

  • dan membangun kerja sama dengan warga sekolah.

Namun, bantuan atau sumbangan buku juga tetap perlu diperiksa.

Jangan memasukkan semua buku sumbangan ke koleksi tanpa melihat kesesuaiannya.

Buku gratis belum tentu buku yang dibutuhkan.

25. Masalah Terbesar Kadang Bukan Buku, tetapi Sistem

Perpustakaan yang memiliki 1.000 buku tetapi tidak memiliki sistem akan lebih sulit dikelola dibandingkan perpustakaan yang memiliki 500 buku tetapi datanya tertib.

Karena itu, jangan hanya mengejar jumlah koleksi.

Bangun sistem.

Mulai dari:

koleksi → data → pengolahan → layanan → statistik → evaluasi.

Jika sistem sudah terbentuk, penambahan buku baru akan lebih mudah dikelola.

Prioritas Masalah Perpustakaan SD yang Harus Diselesaikan

Jika Anda baru ditugaskan mengelola perpustakaan dan menemukan banyak masalah sekaligus, gunakan urutan prioritas berikut.

Prioritas pertama: Data

Ketahui jumlah dan kondisi koleksi.

Prioritas kedua: Koleksi

Pisahkan, inventarisasi, olah, dan tata.

Prioritas ketiga: Layanan

Pastikan peminjaman dan pengembalian dapat berjalan.

Prioritas keempat: Administrasi

Catat kegiatan dan transaksi secara teratur.

Prioritas kelima: Ruang

Buat ruang aman, bersih, nyaman, dan mudah digunakan.

Prioritas keenam: Program

Setelah dasar kuat, mulai kembangkan kegiatan literasi.

Dengan urutan ini, pengelola tidak akan terlalu mudah merasa kewalahan.

Tidak Semua Masalah Harus Diselesaikan Sekaligus

Inilah hal terpenting yang perlu dipahami pengelola perpustakaan sekolah.

Jika hari ini Anda menemukan:

  • 500 buku belum diolah;

  • rak kurang;

  • administrasi belum lengkap;

  • siswa jarang membaca;

  • dana terbatas;

  • komputer belum tersedia;

  • ruang kurang nyaman;

  • dan guru belum memanfaatkan perpustakaan,

jangan mencoba menyelesaikan semuanya sekaligus.

Pilih satu masalah yang paling mendasar.

Misalnya:

“Bulan ini saya fokus menertibkan data koleksi.”

Setelah selesai:

“Bulan depan saya fokus memperbaiki layanan.”

Kemudian:

“Bulan berikutnya saya mulai mengembangkan kegiatan.”

Perpustakaan akan berkembang sedikit demi sedikit.

Perpustakaan SD Membutuhkan Kesabaran

Mengelola perpustakaan SD bukan hanya pekerjaan teknis.

Ada pekerjaan administrasi.

Ada pekerjaan pengolahan buku.

Ada pekerjaan pelayanan.

Ada pekerjaan merawat koleksi.

Ada pekerjaan berkomunikasi dengan guru.

Dan ada pekerjaan menghadapi anak-anak.

Karena itu, pengelola membutuhkan kesabaran.

Kadang seorang siswa datang hanya untuk bertanya hal sederhana.

Kadang buku yang baru ditata kembali berantakan.

Kadang siswa lupa mengembalikan buku.

Kadang program yang sudah direncanakan tidak berjalan sesuai harapan.

Semua itu bagian dari proses.

Jangan mengukur keberhasilan perpustakaan hanya dari seberapa rapi raknya.

Lihat juga apakah siswa mulai datang.

Apakah mereka mulai mengenal buku.

Apakah guru mulai memanfaatkan koleksi.

Apakah data semakin tertib.

Dan apakah pengelolaan perpustakaan menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.


Kesimpulan

Masalah yang muncul di perpustakaan SD sangat beragam.

Masalah tidak hanya berkaitan dengan buku, tetapi juga menyangkut pengelolaan pekerjaan, administrasi, tenaga, dana, fasilitas, layanan, guru, dan perilaku siswa.

Buku dapat berantakan.

Data koleksi dapat tidak sesuai.

Banyak buku belum diolah.

Dana terbatas.

Pengelola dapat merangkap pekerjaan lain.

Siswa dapat berisik, lupa mengembalikan buku, atau belum terbiasa menjaga koleksi.

Guru mungkin belum banyak memanfaatkan perpustakaan.

Perpustakaan juga dapat menjadi sepi meskipun memiliki cukup banyak koleksi.

Semua masalah tersebut membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Namun ada satu prinsip yang dapat menjadi pegangan:

Jangan mencoba menyelesaikan semua masalah sekaligus.

Kenali masalahnya.

Tentukan prioritas.

Kerjakan secara bertahap.

Catat hasilnya.

Kemudian evaluasi.

Untuk pengelola baru, pekerjaan dapat dimulai dari hal paling mendasar:

rapikan data, tertibkan koleksi, bangun layanan, kemudian kembangkan program.

Tidak perlu menunggu perpustakaan memiliki ruangan yang sempurna, koleksi yang sangat banyak, komputer yang lengkap, atau anggaran besar.

Gunakan apa yang tersedia.

Perbaiki apa yang bisa diperbaiki.

Ajarkan siswa secara perlahan.

Libatkan guru.

Komunikasikan kebutuhan kepada kepala sekolah dengan data yang jelas.

Dan yang paling penting, jangan merasa gagal hanya karena perpustakaan belum seperti yang diharapkan.

Perpustakaan sekolah adalah sesuatu yang tumbuh secara bertahap.

Hari ini mungkin baru satu rak yang berhasil ditata.

Besok mungkin sepuluh buku berhasil diolah.

Minggu depan beberapa siswa mulai rutin berkunjung.

Bulan berikutnya guru mulai memanfaatkan koleksi.

Kemajuan kecil seperti itu tetap berarti.

Pada akhirnya, perpustakaan SD bukan hanya tentang berapa banyak buku yang dimiliki, tetapi tentang seberapa baik koleksi tersebut dikelola dan seberapa besar manfaatnya bagi siswa dan warga sekolah.

Jika masalah muncul, jangan langsung berpikir bahwa perpustakaan tidak dapat berkembang.

Justru dari masalah itulah pengelola dapat mengetahui bagian mana yang harus diperbaiki.

Perpustakaan yang baik bukan perpustakaan yang tidak memiliki masalah, tetapi perpustakaan yang terus belajar mengatasi masalahnya.




Referensi

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2024). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Murgono, M. (2020). Pembinaan perpustakaan sekolah dasar di Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang. Media Pustakawan, 15(3), 114–119. https://doi.org/10.37014/medpus.v15i3.952

Dachliyani, L. (2019). Manajemen informasi perpustakaan: Tuntunan praktis untuk perpustakaan umum dan perpustakaan sekolah. Bee Media Pustaka.

Cara Mengolah Buku Perpustakaan Sekolah untuk Pemula: Urutan dari Inventarisasi hingga Shelving

 


Bagi pustakawan baru, mahasiswa ilmu perpustakaan, atau guru yang mendapat tugas tambahan mengelola perpustakaan sekolah, mengetahui bahwa buku harus diinventarisasi saja ternyata belum cukup.

Setelah mengetahui kondisi perpustakaan, menghitung koleksi, dan memisahkan buku berdasarkan jenisnya, muncul masalah baru:

“Setelah ini bukunya harus diapakan?”

Buku yang ada di meja semakin banyak. Ada buku baru, buku lama, buku cerita, buku pelajaran, kamus, atlas, dan berbagai jenis koleksi lainnya. Sebagian sudah memiliki nomor inventaris, sebagian belum. Ada buku yang memiliki label, tetapi tidak diketahui dari mana nomor tersebut berasal. Ada pula buku yang sudah lama berada di perpustakaan tetapi belum pernah dicatat secara lengkap.

Di sinilah banyak pengelola perpustakaan pemula mulai merasa bingung.

Apakah buku harus diberi stempel terlebih dahulu?

Apakah harus dicatat ke buku induk?

Setelah itu apakah langsung diberi nomor klasifikasi?

Bagaimana menentukan nomor klasifikasinya?

Apakah semua buku harus dibuat katalog?

Kapan buku boleh dimasukkan ke rak?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat wajar.

Pengolahan bahan perpustakaan memang memiliki beberapa tahapan yang saling berhubungan. Perpustakaan Nasional RI dalam pedoman pengolahan bahan perpustakaan menjelaskan kegiatan pengolahan sebagai proses yang dilakukan secara terstandar agar bahan perpustakaan dapat diorganisasikan dan informasi mengenai koleksi dapat ditemukan kembali dengan baik.

Bagi pemula, kuncinya bukan menghafalkan semua istilah sekaligus.

Kuncinya adalah memahami urutan pekerjaannya.

Apa Itu Pengolahan Bahan Perpustakaan?

Secara sederhana, pengolahan bahan perpustakaan adalah serangkaian pekerjaan untuk membuat sebuah buku atau bahan perpustakaan tercatat, dikenali, dikelompokkan, diberi identitas, dan ditempatkan sehingga mudah ditemukan kembali.

Jadi, ketika sebuah buku datang ke perpustakaan, pekerjaan belum selesai hanya karena buku tersebut sudah menjadi milik perpustakaan.

Buku tersebut perlu diproses agar dapat menjadi bagian dari koleksi yang terorganisasi.

Secara umum, pekerjaan pengolahan dapat meliputi:

  1. pemeriksaan bahan;

  2. inventarisasi;

  3. pemberian stempel atau identitas kepemilikan;

  4. katalogisasi;

  5. klasifikasi;

  6. penentuan tajuk subjek;

  7. pemberian nomor panggil;

  8. pelabelan;

  9. penyelesaian fisik buku;

  10. pemasangan barcode jika digunakan;

  11. input ke sistem perpustakaan jika menggunakan otomasi; dan

  12. shelving atau penempatan buku di rak.

Dalam bahan ajar untuk tenaga perpustakaan sekolah, pengolahan bahan perpustakaan juga dijelaskan mencakup inventarisasi, katalogisasi, klasifikasi, penyelesaian, serta pengaturan atau penempatan koleksi.

Dengan memahami gambaran tersebut, kita bisa melihat bahwa mengolah buku bukan sekadar menempelkan label pada punggung buku.

Mengapa Buku Harus Diolah?

Bayangkan sebuah perpustakaan memiliki 1.000 buku, tetapi semua buku hanya disusun berdasarkan ukuran.

Buku kecil di rak pertama.

Buku besar di rak kedua.

Buku berwarna merah di rak ketiga.

Buku berwarna biru di rak keempat.

Sekilas memang terlihat rapi.

Tetapi ketika seorang siswa bertanya:

“Bu, saya mau mencari buku tentang hewan. Ada di mana?”

Pustakawan akan kesulitan menjawab jika tidak ada sistem pengelolaan koleksi.

Itulah salah satu alasan buku perlu diolah.

Pengolahan membuat koleksi menjadi lebih teratur dan membantu pustakawan maupun pemustaka menemukan informasi yang dibutuhkan.

Dalam standar kompetensi pustakawan, pengolahan bahan perpustakaan juga merupakan salah satu kompetensi yang mencakup katalogisasi, klasifikasi, dan penentuan tajuk subjek.

Jangan Langsung Mengolah Semua Buku Sekaligus

Ini merupakan hal penting bagi pemula.

Jika perpustakaan memiliki ratusan atau ribuan buku, jangan langsung mengambil semua buku dari rak dan mengolahnya sekaligus.

Cara tersebut justru dapat membuat pekerjaan semakin membingungkan.

Gunakan sistem batch atau kelompok kecil.

Misalnya:

Hari ini: 20 buku

Besok:

20 buku lagi

Hari berikutnya:

20 buku lagi

Dengan cara tersebut, Anda dapat memastikan setiap buku melewati seluruh tahapan dengan benar.

Jangan sampai 100 buku sudah diberi nomor klasifikasi, tetapi belum dicatat inventarisnya.

Atau 100 buku sudah diberi label, tetapi belum memiliki data yang jelas.

Prinsip yang baik untuk pemula adalah:

Selesaikan satu buku dari awal sampai akhir sebelum melanjutkan ke kelompok berikutnya.

Dengan begitu, Anda akan lebih mudah memahami alurnya.

Urutan Pengolahan Buku Perpustakaan untuk Pemula

Agar tidak bingung, gunakan alur berikut:

Buku diterima

Periksa kondisi dan kelengkapan

Inventarisasi

Stempel kepemilikan

Katalogisasi

Analisis subjek

Klasifikasi

Tentukan nomor panggil

Buat label

Penyelesaian fisik

Input ke sistem/katalog jika ada

Shelving

Buku siap dilayankan

Urutan tersebut dapat disesuaikan dengan sistem yang digunakan perpustakaan. Namun, bagi pemula, alur seperti ini sangat membantu agar pekerjaan tidak terlewat.

Sekarang mari kita bahas satu per satu.

1. Periksa Buku Sebelum Diolah

Jangan langsung menulis nomor inventaris.

Pertama, periksa kondisi buku.

Lihat apakah:

  • sampul lengkap;

  • halaman lengkap;

  • tidak ada halaman yang hilang;

  • tidak rusak berat;

  • tulisan masih terbaca;

  • informasi bibliografis tersedia;

  • dan buku memang sesuai untuk menjadi koleksi perpustakaan.

Periksa juga apakah buku tersebut merupakan buku baru atau sudah pernah menjadi koleksi.

Hal ini penting karena buku yang sudah pernah dicatat tidak boleh sembarangan diberi nomor inventaris baru.

Untuk buku yang baru diperoleh, periksa pula sumber perolehannya.

Misalnya:

  • pembelian;

  • bantuan;

  • hibah;

  • sumbangan;

  • atau sumber lain.

Informasi tersebut akan berguna ketika melakukan inventarisasi.

2. Beri Stempel Kepemilikan

Setelah buku diperiksa, salah satu pekerjaan yang dapat dilakukan adalah memberikan tanda bahwa buku tersebut merupakan milik perpustakaan.

Biasanya digunakan stempel atau cap perpustakaan.

Stempel dapat ditempatkan pada bagian tertentu yang konsisten, misalnya halaman judul atau halaman tertentu sesuai kebijakan perpustakaan.

Tujuannya adalah memberikan identitas kepemilikan.

Jangan menempatkan stempel sembarangan sampai menutupi informasi penting pada buku.

Untuk perpustakaan sekolah, sebaiknya tentukan aturan sederhana:

“Setiap buku milik perpustakaan diberi stempel pada lokasi yang sama.”

Konsistensi jauh lebih penting daripada membuat aturan yang rumit.

3. Lakukan Inventarisasi

Setelah buku diperiksa, lakukan inventarisasi.

Inilah bagian yang sering disebut buku induk atau buku inventaris koleksi.

Dalam materi tenaga perpustakaan sekolah, inventarisasi meliputi pemeriksaan bahan perpustakaan, pemberian stempel, pencatatan koleksi dalam buku induk, dan pemberian nomor induk. Setiap eksemplar diberikan nomor induk tersendiri.

Data inventaris dapat mencakup:

  • nomor inventaris;

  • tanggal diterima;

  • judul;

  • pengarang;

  • penerbit;

  • tahun terbit;

  • sumber perolehan;

  • harga jika tersedia;

  • dan keterangan.

Misalnya:

No.TanggalJudulPengarangPenerbitTahunSumber
00128-08-2026Petualangan di HutanA. BudiPustaka Anak2025Pembelian

Nomor inventaris harus dibuat konsisten.

Jangan hari ini menggunakan:

001

besok:

B-002

kemudian:

INV/03/2026

kecuali perpustakaan memang memiliki sistem penomoran tertentu.

Untuk perpustakaan kecil, sistem sederhana dan konsisten lebih mudah dikelola.

4. Pahami Perbedaan Nomor Inventaris dan Nomor Klasifikasi

Ini adalah salah satu kebingungan terbesar bagi pemula.

Nomor inventaris bukan nomor klasifikasi.

Keduanya memiliki fungsi berbeda.

Nomor inventaris

Menunjukkan identitas sebuah eksemplar dalam administrasi koleksi.

Misalnya:

001

Nomor klasifikasi

Menunjukkan subjek atau kelompok ilmu tempat buku tersebut berada.

Misalnya sebuah buku tentang ilmu hewan dapat memperoleh nomor klasifikasi tertentu berdasarkan sistem klasifikasi yang digunakan.

Jadi, satu buku bisa memiliki:

Nomor inventaris: 001

dan

Nomor klasifikasi: 590

Keduanya bukan hal yang sama.

Memahami perbedaan ini akan membuat pekerjaan pengolahan menjadi jauh lebih mudah.

5. Lakukan Katalogisasi

Setelah inventarisasi, tahap berikutnya adalah katalogisasi.

Bagi pemula, kata “katalogisasi” terdengar menakutkan.

Padahal, secara sederhana, katalogisasi adalah proses membuat deskripsi mengenai sebuah koleksi agar koleksi tersebut dapat dikenali dan ditemukan kembali.

Informasi yang dicatat antara lain:

  • judul;

  • pengarang;

  • edisi;

  • penerbit;

  • tempat terbit;

  • tahun terbit;

  • jumlah halaman;

  • ukuran buku;

  • ISBN jika ada;

  • dan informasi lain yang diperlukan.

Perpustakaan Nasional RI memiliki Pedoman Pengolahan Bahan Perpustakaan yang membahas berbagai aspek pengolahan dan katalogisasi. Pedoman tersebut digunakan sebagai acuan agar pengolahan dapat dilakukan secara lebih akurat dan konsisten.

6. Jangan Menentukan Klasifikasi Hanya dari Judul

Setelah data bibliografis dicatat, masuk ke tahap yang sering dianggap paling sulit:

klasifikasi.

Kesalahan yang sering dilakukan pemula adalah melihat judul buku kemudian langsung menentukan nomor klasifikasi.

Padahal, judul belum tentu menunjukkan keseluruhan isi buku.

Contohnya, sebuah buku berjudul:

“Petualangan di Hutan”

Belum tentu merupakan buku ilmu kehutanan.

Bisa saja buku tersebut merupakan cerita anak.

Karena itu, sebelum menentukan klasifikasi, pahami isi buku.

Lihat:

  • halaman judul;

  • daftar isi;

  • kata pengantar;

  • pendahuluan;

  • isi buku;

  • dan informasi lain yang membantu memahami subjek.

Prinsip sederhananya:

Klasifikasi ditentukan berdasarkan isi atau subjek utama buku, bukan sekadar judulnya.

Perpusnas memiliki panduan klasifikasi yang menggunakan DDC dan juga membahas teknik analisis subjek serta penentuan tajuk subjek.

7. Kenali DDC Sebelum Mengklasifikasikan Buku

Salah satu sistem klasifikasi yang dikenal luas di perpustakaan adalah Dewey Decimal Classification (DDC).

DDC mengelompokkan pengetahuan ke dalam sepuluh kelas utama.

Secara umum:

000 – Karya umum, ilmu komputer, informasi

100 – Filsafat dan psikologi

200 – Agama

300 – Ilmu sosial

400 – Bahasa

500 – Ilmu murni

600 – Teknologi dan ilmu terapan

700 – Seni dan rekreasi

800 – Sastra

900 – Sejarah dan geografi

Bagi pemula, jangan langsung berusaha menghafalkan seluruh angka.

Yang lebih penting adalah memahami logikanya.

Misalnya:

Buku tentang matematika masuk kelompok ilmu murni.

Buku tentang bahasa masuk kelompok bahasa.

Buku tentang sastra masuk kelompok sastra.

Setelah memahami kelas utama, barulah belajar nomor yang lebih spesifik.

8. Analisis Subjek Sebelum Menentukan Nomor Klasifikasi

Sebelum membuka tabel DDC, tanyakan:

“Buku ini sebenarnya membahas apa?”

Misalnya buku berjudul:

“Mengenal Tata Surya untuk Anak”

Subjek utamanya adalah tata surya atau astronomi.

Berbeda dengan buku:

“Cerita Petualangan di Planet Mars”

Walaupun sama-sama berbicara tentang planet, buku kedua merupakan karya sastra/cerita.

Artinya, judul atau kata tertentu dalam buku tidak otomatis menentukan klasifikasi.

Inilah alasan pustakawan perlu membaca dan memahami isi koleksi.

9. Tentukan Tajuk Subjek

Selain nomor klasifikasi, pustakawan dapat menentukan tajuk subjek.

Tajuk subjek membantu menggambarkan topik yang dibahas dalam koleksi.

Misalnya sebuah buku membahas:

Kucing

Tajuk subjeknya dapat diarahkan pada istilah yang sesuai dengan pedoman yang digunakan.

Bagi perpustakaan sekolah kecil, pemula tidak perlu langsung membuat sistem tajuk subjek yang sangat kompleks.

Yang terpenting adalah memahami konsep dasarnya.

Ketika kemampuan sudah meningkat, barulah pengelola dapat mempelajari pedoman tajuk subjek secara lebih mendalam.

10. Tentukan Nomor Panggil

Setelah klasifikasi ditentukan, tahap berikutnya adalah membuat nomor panggil.

Nomor panggil merupakan identitas yang membantu menentukan lokasi buku di rak.

Umumnya nomor panggil dapat terdiri atas nomor klasifikasi dan unsur lain seperti tiga huruf nama pengarang atau unsur judul, sesuai sistem yang digunakan perpustakaan.

Misalnya secara sederhana:

590

KUS

Artinya, buku tersebut ditempatkan berdasarkan kelompok 590 dan kode pengarang yang digunakan.

Namun, jangan membuat format sendiri secara sembarangan.

Tentukan satu pola dan gunakan secara konsisten.

Tujuan akhirnya sederhana:

Ketika buku dicari, pustakawan dapat mengetahui di rak mana buku tersebut harus berada.

11. Buat Label Buku

Setelah nomor panggil ditentukan, nomor tersebut dapat dibuat menjadi label.

Label biasanya ditempel pada bagian punggung buku agar mudah dilihat ketika buku berada di rak.

Contoh sederhana:

590

KUS

Label harus ditempel dengan rapi dan konsisten.

Jika semua buku menggunakan posisi label yang sama, pustakawan akan lebih mudah melakukan shelving dan siswa lebih mudah mengenali posisi buku.

12. Lakukan Penyelesaian Fisik Buku

Buku yang sudah diberi label belum tentu langsung siap masuk rak.

Periksa kembali kondisi fisiknya.

Jika diperlukan, lakukan:

  • pelapisan sampul;

  • pemasangan kantong buku jika sistem menggunakannya;

  • pemasangan kartu buku jika masih menggunakan sistem manual;

  • pemasangan barcode;

  • penguatan bagian tertentu;

  • atau tindakan lain sesuai kebutuhan.

Untuk perpustakaan yang sudah menggunakan sistem otomasi, barcode dapat digunakan untuk membantu transaksi sirkulasi.

Namun, perpustakaan tidak harus memaksakan semua teknologi sekaligus.

Jika belum menggunakan barcode, sistem manual yang tertib masih dapat digunakan sesuai kondisi perpustakaan.

13. Input Data ke Aplikasi Jika Perpustakaan Menggunakan Otomasi

Jika perpustakaan menggunakan aplikasi otomasi, data koleksi kemudian dimasukkan ke dalam sistem.

Misalnya:

  • judul;

  • pengarang;

  • penerbit;

  • tahun;

  • ISBN;

  • klasifikasi;

  • subjek;

  • nomor panggil;

  • dan informasi lainnya.

Katalog yang dapat ditelusuri secara daring dikenal sebagai OPAC atau Online Public Access Catalog. Pedoman pengolahan Perpusnas juga membahas katalog terpasang atau katalog terbacakan mesin untuk mendukung penelusuran koleksi secara daring.

Namun, jangan menganggap bahwa semua perpustakaan sekolah harus langsung menggunakan sistem otomasi yang kompleks.

Yang terpenting adalah data koleksi terorganisasi dan dapat ditemukan kembali.

14. Shelving: Buku Baru Boleh Masuk Rak

Setelah semua tahap pengolahan selesai, buku dapat ditempatkan di rak.

Inilah yang disebut shelving.

Shelving bukan sekadar memasukkan buku ke ruang rak.

Buku harus ditempatkan berdasarkan sistem yang sudah ditentukan.

Misalnya:

000 → 100 → 200 → 300 → dan seterusnya.

Di dalam kelompok yang sama, susun sesuai aturan yang digunakan perpustakaan.

Pastikan nomor panggil terlihat.

Jangan menempatkan buku secara terbalik atau terlalu padat.

Untuk perpustakaan SD, tinggi rak juga perlu diperhatikan agar koleksi tertentu dapat dijangkau siswa dengan aman.

Jangan Campurkan Buku yang Sudah dan Belum Diolah

Ini merupakan tips sederhana tetapi sangat penting.

Buat dua area:

BUKU BELUM DIOLAH

dan

BUKU SUDAH DIOLAH

Jika buku yang sudah diolah bercampur dengan buku yang belum diolah, Anda akan terus bertanya:

“Buku ini sudah pernah saya proses atau belum?”

Akhirnya ada risiko satu buku diolah dua kali atau justru tidak pernah diolah.

Sediakan satu meja atau rak khusus untuk koleksi yang belum selesai.

Setelah selesai, pindahkan ke area koleksi siap rak.

Bagaimana Jika Buku Lama Tidak Memiliki Nomor Inventaris?

Ini masalah yang sering ditemukan ketika seseorang baru mengambil alih perpustakaan.

Jangan langsung memberikan nomor baru kepada semua buku.

Pertama, periksa apakah ada buku induk atau daftar inventaris lama.

Kemudian cocokkan buku dengan data yang tersedia.

Jika nomor lama masih dapat ditelusuri dan sistemnya masih digunakan, pertimbangkan untuk mempertahankannya.

Jika data lama tidak dapat diverifikasi atau sistem inventaris perlu dibenahi, lakukan penataan administrasi secara terencana.

Jangan menghapus sejarah koleksi tanpa alasan yang jelas.

Buku lama tetap merupakan bagian dari riwayat perpustakaan.

Bagaimana Jika Buku Sudah Memiliki Label tetapi Tidak Ada Data?

Ini juga sering terjadi.

Misalnya di punggung buku tertulis:

372.6

tetapi tidak ada data inventaris.

Jangan langsung menganggap label tersebut benar.

Periksa:

  1. isi buku;

  2. data lama;

  3. nomor inventaris;

  4. daftar koleksi;

  5. sistem klasifikasi yang digunakan.

Jika nomor tersebut benar, data dapat disesuaikan.

Jika ternyata tidak sesuai, lakukan koreksi.

Prinsipnya:

Jangan mempertahankan kesalahan hanya karena sudah terlanjur ditempel.

Bagaimana dengan Buku Pelajaran?

Buku pelajaran membutuhkan perhatian khusus.

Di perpustakaan sekolah biasanya terdapat buku teks, buku pengayaan, buku referensi, dan berbagai jenis koleksi lainnya.

Peraturan Perpusnas No. 4 Tahun 2024 membedakan antara buku teks pelajaran, buku teks utama, buku pengayaan, dan buku referensi dalam standar perpustakaan SD/MI.

Karena itu, jangan mencampurkan seluruh buku tanpa mempertimbangkan jenis koleksinya.

Pustakawan perlu mengetahui fungsi masing-masing koleksi.

Misalnya, buku teks yang digunakan untuk pembelajaran dapat memiliki pengelolaan yang berbeda dari buku bacaan umum atau buku cerita.

Apakah Semua Buku Harus Dibuat Katalog?

Secara prinsip, koleksi perlu memiliki data yang dapat digunakan untuk identifikasi dan temu kembali.

Namun, cara pengelolaannya dapat berbeda sesuai kondisi perpustakaan.

Perpustakaan yang masih kecil mungkin menggunakan daftar koleksi sederhana.

Perpustakaan yang sudah berkembang dapat menggunakan katalog elektronik.

Yang penting adalah data tersebut:

  • akurat;

  • konsisten;

  • mudah diperbarui;

  • dan mudah digunakan untuk menemukan koleksi.

Jangan membuat sistem yang terlalu rumit sehingga pengelola sendiri kesulitan menggunakannya.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Pemula dalam Mengolah Buku

Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.

1. Langsung memberi label

Buku langsung diberi nomor tanpa inventarisasi dan analisis subjek.

Akibatnya, ketika data diperiksa kembali, nomor tersebut sulit ditelusuri.

2. Menentukan klasifikasi hanya dari judul

Judul belum tentu menggambarkan subjek utama.

3. Mengolah terlalu banyak buku sekaligus

Akibatnya pekerjaan sulit dikontrol.

4. Tidak mencatat sumber buku

Padahal sumber perolehan penting untuk administrasi.

5. Membuat nomor inventaris dan nomor klasifikasi menjadi satu

Keduanya memiliki fungsi berbeda.

6. Menggunakan sistem yang berubah-ubah

Hari ini menggunakan satu format, bulan berikutnya menggunakan format lain.

7. Tidak mencatat perubahan

Jika nomor klasifikasi diperbaiki, perubahan sebaiknya diperbarui pada data koleksi.

8. Menganggap pengolahan selesai setelah buku masuk rak

Sebenarnya setelah buku masuk rak, pekerjaan berlanjut pada pemeliharaan, layanan, penyusunan kembali, dan evaluasi koleksi.

Contoh Pengolahan Satu Buku dari Awal sampai Akhir

Agar lebih mudah dipahami, mari kita gunakan contoh sederhana.

Misalnya perpustakaan menerima sebuah buku:

Judul: Mengenal Hewan di Sekitar Kita
Pengarang: Budi Santoso
Penerbit: Pustaka Anak
Tahun: 2025

Tahap 1 – Pemeriksaan

Buku diperiksa.

Kondisinya baik.

Tahap 2 – Stempel

Buku diberi stempel perpustakaan.

Tahap 3 – Inventarisasi

Buku diberi nomor inventaris:

001

Data dicatat dalam buku induk atau sistem.

Tahap 4 – Katalogisasi

Data bibliografis buku dicatat.

Tahap 5 – Analisis subjek

Setelah membaca isi buku, diketahui bahwa buku membahas berbagai jenis hewan.

Tahap 6 – Klasifikasi

Pustakawan menentukan nomor klasifikasi berdasarkan pedoman yang digunakan.

Tahap 7 – Nomor panggil

Nomor klasifikasi digabung dengan kode pengarang sesuai sistem perpustakaan.

Tahap 8 – Label

Nomor panggil ditempel pada punggung buku.

Tahap 9 – Penyelesaian fisik

Jika diperlukan, buku diberi sampul pelindung atau barcode.

Tahap 10 – Input sistem

Jika perpustakaan menggunakan aplikasi, data dimasukkan.

Tahap 11 – Shelving

Buku ditempatkan pada rak sesuai nomor panggil.

Sekarang buku tersebut bukan sekadar “buku yang dimiliki sekolah”.

Buku tersebut sudah menjadi koleksi perpustakaan yang terorganisasi dan dapat ditemukan kembali.

Apakah Pustakawan Pemula Harus Menguasai Semua Ini?

Tidak harus langsung.

Bahkan orang yang baru lulus dari program studi ilmu perpustakaan pun membutuhkan latihan praktik.

Begitu juga guru yang mendapat tugas tambahan.

Yang paling penting adalah memahami alur kerja.

Jika alurnya sudah dipahami, keterampilan teknis dapat dipelajari satu per satu.

Mulailah dengan:

inventarisasi → katalogisasi → analisis subjek → klasifikasi → nomor panggil → label → shelving.

Setelah memahami alur tersebut, barulah belajar lebih mendalam mengenai pedoman dan standar yang digunakan.

Jangan Takut Membuka Pedoman

Salah satu kesalahan pengelola baru adalah merasa harus hafal semuanya.

Tidak perlu.

Pustakawan profesional pun menggunakan pedoman.

Perpusnas menyediakan Pedoman Pengolahan Bahan Perpustakaan yang dapat menjadi salah satu rujukan untuk memahami proses pengolahan. Pedoman tersebut mencakup pengatalogan dan berbagai aspek pengorganisasian informasi.

Untuk klasifikasi, tersedia pula berbagai panduan Perpusnas yang membantu memahami penggunaan DDC dan analisis subjek.

Jadi, ketika ragu, jangan menebak.

Cari pedomannya.

Bagaimana Jika Hanya Mengelola Perpustakaan SD dengan Koleksi Sedikit?

Tidak masalah.

Prinsip pengelolaan tetap sama.

Perpustakaan dengan 300 buku tetap membutuhkan data yang jelas.

Bahkan koleksi yang sedikit seharusnya menjadi kesempatan untuk membangun sistem yang rapi sejak awal.

Misalnya, jika hanya memiliki 300 buku, pengelola dapat mengolah 10–20 buku setiap hari.

Dalam beberapa minggu, sebagian besar koleksi sudah tertata.

Setelah sistem terbentuk, buku baru yang datang akan lebih mudah diolah karena pengelola sudah memiliki pola kerja.

Buat Lembar Kontrol Pengolahan Buku

Agar tidak bingung, buat satu lembar kontrol.

Contohnya:

No.JudulInventarisKatalogKlasifikasiLabelShelving
1Buku A    ✓    ✓         ✓    ✓     ✓
2Buku B    ✓    ✓         ✓    ✓     -
3Buku C   ✓      -                      -    -     -

Dari tabel tersebut langsung terlihat buku mana yang belum selesai.

Cara sederhana seperti ini sangat membantu pustakawan pemula.

Urutan Sederhana yang Perlu Diingat

Jika semua penjelasan di atas terasa panjang, cukup ingat kalimat berikut:

PERIKSA → CATAT → KENALI → KELOMPOKKAN → BERI IDENTITAS → LENGKAPI → LETAKKAN

Atau dalam istilah perpustakaan:

Pemeriksaan → Inventarisasi → Katalogisasi → Klasifikasi → Nomor Panggil → Pelabelan → Penyelesaian → Shelving.

Jangan melompat-lompat terlalu banyak.

Setelah Buku Selesai Diolah, Apa Selanjutnya?

Jangan berhenti pada shelving.

Buku yang sudah masuk rak harus mulai dimanfaatkan.

Pastikan:

  • siswa mengetahui keberadaan buku;

  • guru mengetahui koleksi yang tersedia;

  • layanan peminjaman berjalan;

  • data transaksi dicatat;

  • buku dikembalikan ke rak dengan benar;

  • kondisi buku dipantau;

  • dan koleksi dievaluasi secara berkala.

Perpustakaan yang bukunya sangat rapi tetapi tidak pernah digunakan belum dapat dikatakan berhasil sepenuhnya.

Tujuan akhir pengolahan adalah membuat koleksi siap ditemukan dan siap dimanfaatkan.


Jangan Terburu-buru, yang Penting Benar

Bagi pengelola baru, melihat ratusan buku yang belum diolah memang dapat membuat stres.

Rasanya pekerjaan tidak akan pernah selesai.

Tetapi ingat:

Perpustakaan tidak dibangun dalam satu hari.

Anda tidak harus menyelesaikan 1.000 buku sekaligus.

Selesaikan 10 buku dengan benar.

Besok 10 buku lagi.

Kemudian 10 buku lagi.

Lama-kelamaan rak yang semula berantakan akan berubah menjadi koleksi yang tertata.

Lebih baik mengolah 20 buku dengan data yang benar daripada mengolah 200 buku tetapi nomor inventaris, klasifikasi, dan katalogisasinya tidak jelas.

Kesimpulan

Setelah melakukan inventarisasi dan mengetahui kondisi koleksi, pekerjaan pustakawan baru belum selesai.

Tahap berikutnya adalah pengolahan bahan perpustakaan.

Pengolahan bertujuan agar buku tidak hanya tercatat sebagai milik perpustakaan, tetapi juga dapat diidentifikasi, dikelompokkan, ditemukan, dan dimanfaatkan dengan mudah.

Bagi pemula, urutan pekerjaan dapat dipahami sebagai berikut:

  1. memeriksa kondisi buku;

  2. memberikan identitas kepemilikan;

  3. melakukan inventarisasi;

  4. melakukan katalogisasi;

  5. menganalisis subjek;

  6. menentukan klasifikasi;

  7. menentukan nomor panggil;

  8. membuat label;

  9. melakukan penyelesaian fisik;

  10. memasukkan data ke sistem jika menggunakan otomasi; dan

  11. menempatkan buku di rak atau shelving.

Yang perlu diingat adalah nomor inventaris dan nomor klasifikasi memiliki fungsi berbeda.

Nomor inventaris berkaitan dengan pencatatan koleksi, sedangkan nomor klasifikasi membantu mengelompokkan koleksi berdasarkan subjek.

Pustakawan pemula juga tidak perlu langsung menguasai seluruh teknik pengolahan dalam satu waktu.

Mulailah dengan jumlah buku yang sedikit.

Gunakan pedoman.

Kerjakan secara konsisten.

Dan jangan takut untuk belajar kembali ketika menemukan buku yang sulit diklasifikasikan atau dikatalogisasi.

Karena tujuan akhir pengolahan bukan sekadar membuat buku terlihat rapi.

Tujuan pengolahan adalah membuat koleksi perpustakaan terorganisasi sehingga ketika seorang siswa bertanya, “Saya ingin mencari buku tentang hewan,” pustakawan dapat membantu menemukan bukunya dengan cepat.

Itulah alasan mengapa proses pengolahan menjadi salah satu pekerjaan penting dalam pengelolaan perpustakaan.

Buku yang belum diolah hanyalah kumpulan bahan bacaan.

Tetapi buku yang dicatat, diorganisasi, diberi identitas, dan ditempatkan dengan sistem yang jelas akan menjadi koleksi perpustakaan yang benar-benar dapat dimanfaatkan.





Referensi

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2018). Pedoman pengolahan bahan perpustakaan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2024). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2017). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2017 tentang Standar Kompetensi Tenaga Perpustakaan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Back To Top