-->

Dunia Perpustakaan

"Jelajahi perpustakaan: literasi, pengetahuan, dan rekomendasi bacaan tanpa batas!"

Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi ruang tumbuhnya ide, karakter, dan masa depan. Setiap halaman yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar dalam hidup seseorang.

Cara Mengklasifikasikan Buku Perpustakaan dengan DDC (Dewey Decimal Classification)

 

Perpustakaan sekolah yang rapi bukan hanya soal jumlah koleksi yang banyak, tetapi juga soal seberapa mudah buku itu ditemukan kembali. Sayangnya, tidak sedikit perpustakaan sekolah yang masih menyusun buku hanya berdasarkan ukuran, warna sampul, atau urutan kedatangan buku. Akibatnya, siswa dan guru kesulitan menemukan buku yang mereka butuhkan, dan pustakawan pun kewalahan saat harus menata ulang rak.

Salah satu solusi standar yang digunakan hampir semua perpustakaan di Indonesia adalah Dewey Decimal Classification (DDC). Artikel ini akan membahas secara praktis bagaimana cara mengklasifikasikan buku perpustakaan sekolah menggunakan DDC, lengkap dengan contoh nyata yang bisa langsung dipraktikkan.

Apa Itu DDC?

DDC adalah sistem klasifikasi bahan pustaka yang mengelompokkan buku berdasarkan subjek atau bidang ilmunya, menggunakan notasi angka. Sistem ini dikembangkan oleh Melvil Dewey dan menjadi sistem klasifikasi yang paling banyak dipakai di perpustakaan Indonesia, termasuk perpustakaan sekolah, dibandingkan sistem lain seperti Library of Congress Classification (LCC) atau Universal Decimal Classification (UDC).

Alasan DDC lebih populer di perpustakaan sekolah:

  • Strukturnya sederhana, berupa angka 3 digit yang mudah dipahami siswa.
  • Sudah menjadi standar yang direkomendasikan Perpustakaan Nasional RI.
  • Banyak aplikasi manajemen perpustakaan (seperti SLiMS) sudah terintegrasi dengan sistem DDC.

Bagi pembaca yang ingin memahami teori klasifikasi secara lebih mendalam (jenis konsep, jenis subjek, dan sebagainya), silakan baca artikel dasar teori klasifikasi bahan pustaka di blog ini sebagai pelengkap.

Tabel 10 Kelas Utama DDC

DDC membagi seluruh ilmu pengetahuan ke dalam 10 kelas utama, masing-masing diwakili oleh angka ratusan berikut:

Nomor Kelas Subjek
000 Karya umum, komputer, informasi
100 Filsafat dan psikologi
200 Agama
300 Ilmu sosial
400 Bahasa
500 Ilmu murni (sains)
600 Teknologi dan ilmu terapan
700 Kesenian dan olahraga
800 Kesusastraan
900 Sejarah dan geografi

Untuk perpustakaan sekolah dasar, koleksi biasanya paling banyak berputar di sekitar kelas 300 (ilmu sosial), 500 (sains), 600 (teknologi/keterampilan), 800 (cerita, dongeng, sastra anak), dan 900 (sejarah/geografi).

DDC Sederhana untuk Perpustakaan Sekolah

Tidak semua perpustakaan sekolah perlu menerapkan DDC secara lengkap hingga tiga digit plus tabel pembantu. Berikut panduan sederhana yang bisa disesuaikan dengan jenjang sekolah:

  • Perpustakaan SD: cukup menggunakan 10 kelas utama dan divisi dasarnya (dua digit), misalnya 500 untuk sains, 510 untuk matematika, 570 untuk biologi. Ini sudah cukup membantu siswa menemukan kategori buku secara umum.
  • Perpustakaan SMP: bisa mulai menggunakan tiga digit penuh, misalnya 512 untuk aljabar, 577 untuk ekologi.
  • Perpustakaan SMA/koleksi besar: sebaiknya menerapkan DDC lengkap dengan bantuan indeks relatif dan tabel pembantu, karena jumlah dan variasi koleksi lebih kompleks.

Kuncinya adalah konsistensi. Lebih baik menggunakan DDC sederhana secara konsisten daripada menerapkan DDC lengkap tetapi tidak konsisten antarbuku.

Langkah-Langkah Praktis Mengklasifikasikan Buku

Berikut langkah-langkah yang bisa langsung diterapkan pustakawan sekolah saat mengklasifikasikan buku baru:

1. Analisis Subjek Buku

Tentukan subjek utama buku dengan membaca:

  • Judul buku
  • Sampul belakang atau sinopsis
  • Daftar isi
  • Kata pengantar (jika diperlukan)

Jika judul sudah cukup jelas mencerminkan isi buku (misalnya "Ensiklopedia Hewan Laut"), langkah ini biasanya sudah cukup tanpa perlu membaca seluruh isi buku.

2. Cari Nomor DDC melalui Indeks Relatif

Setelah subjek ditemukan, cari nomor klasifikasinya melalui indeks relatif (daftar subjek yang disusun alfabetis lengkap dengan nomor DDC-nya). Jika perpustakaan belum memiliki buku pedoman DDC lengkap, bisa menggunakan daftar DDC ringkas yang banyak tersedia untuk perpustakaan sekolah, atau menu klasifikasi otomatis pada aplikasi seperti SLiMS.

3. Periksa Kembali ke Bagan Klasifikasi

Pastikan nomor yang ditemukan benar-benar sesuai dengan bagan klasifikasi utama, bukan asal ambil dari indeks. Perhatikan juga apakah ada catatan atau instruksi khusus pada bagan tersebut.

4. Tentukan Nomor Panggil (Call Number)

Nomor panggil adalah identitas lengkap yang ditempel di buku, biasanya terdiri dari tiga bagian:

  1. Nomor klasifikasi DDC
  2. Tiga huruf pertama nama pengarang (atau tajuk entri utama)
  3. Satu huruf pertama judul buku

Contoh: buku karya Andrea Hirata berjudul "Laskar Pelangi" dengan subjek sastra Indonesia (nomor DDC 899.221) akan memiliki nomor panggil:

899.221
AND
l

5. Tempel Label dan Catat ke Buku Induk

Setelah nomor panggil ditentukan, tempelkan label di punggung buku, lalu catat nomor tersebut ke dalam buku induk koleksi atau aplikasi manajemen perpustakaan agar tercatat secara resmi dan bisa dilacak kembali.

Contoh Studi Kasus Klasifikasi Buku Sekolah

Berikut beberapa contoh penerapan langkah di atas pada buku-buku yang umum ada di perpustakaan sekolah dasar:

Contoh 1

  • Judul: Ensiklopedia Sains untuk Anak
  • Subjek: Sains umum
  • Nomor DDC: 500
  • Nomor Panggil: 500 / ENS / e

Contoh 2

  • Judul: Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara
  • Subjek: Sastra/cerita rakyat Indonesia
  • Nomor DDC: 398.2 (folklor) atau 899.221 (sastra Indonesia, tergantung kebijakan sekolah)
  • Nomor Panggil: 398.2 / KUM / k

Contoh 3

  • Judul: Matematika Ceria untuk Kelas 4 SD
  • Subjek: Matematika (buku pelajaran)
  • Nomor DDC: 510
  • Nomor Panggil: 510 / MAT / m

Perhatikan bahwa untuk buku dengan subjek yang bisa masuk ke lebih dari satu kategori (seperti cerita rakyat), sekolah sebaiknya menetapkan satu kebijakan tetap agar penempatan buku konsisten di semua eksemplar serupa.

Kesalahan Umum saat Klasifikasi Buku

Beberapa kesalahan yang sering terjadi di perpustakaan sekolah:

  • Mengklasifikasikan hanya berdasarkan judul tanpa memeriksa isi buku, sehingga buku salah kategori.
  • Nomor panggil tidak konsisten antar-eksemplar buku dengan subjek yang sama.
  • Lupa mencatat perubahan ke buku induk atau sistem setelah label ditempel ulang.
  • Mencampur klasifikasi berdasarkan ciri fisik (ukuran, warna sampul) dengan klasifikasi berdasarkan subjek, sehingga sistem menjadi tidak baku.

Kesalahan semacam ini bisa berdampak besar pada kemudahan pencarian buku, terutama jika koleksi perpustakaan sudah cukup banyak.

Tips Praktis untuk Pustakawan Sekolah

  • Buat cheat sheet daftar nomor DDC yang paling sering dipakai sekolah dan tempel di meja kerja pustakawan agar proses klasifikasi lebih cepat.
  • Jika perpustakaan sudah menggunakan SLiMS atau aplikasi sejenis, manfaatkan fitur template klasifikasi otomatis untuk mempercepat proses input.
  • Jika ragu menentukan nomor klasifikasi suatu buku, konsultasikan dengan pustakawan senior atau petugas perpustakaan daerah/dinas pendidikan setempat.
  • Lakukan evaluasi berkala terhadap konsistensi nomor klasifikasi, terutama saat pergantian petugas perpustakaan.

Penutup

Mengklasifikasikan buku dengan DDC bukan sekadar formalitas administrasi, melainkan langkah penting yang menentukan seberapa mudah koleksi perpustakaan bisa dimanfaatkan oleh siswa dan guru. Dengan memahami langkah-langkah praktis di atas serta menerapkannya secara konsisten, pustakawan sekolah dapat membangun sistem klasifikasi yang rapi, sesuai standar, dan mudah dikelola dalam jangka panjang.

Setelah buku selesai diklasifikasikan, tahap berikutnya biasanya adalah katalogisasi dan pencatatan ke buku induk. Baca juga artikel terkait di blog ini:

  • Langkah-Langkah Inventarisasi Koleksi Buku di Perpustakaan Sekolah
  • Panduan Lengkap Buku Induk Perpustakaan Sekolah
  • Katalogisasi Buku Perpustakaan Sekolah


Referensi

  • Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Pedoman Klasifikasi DDC dan Pengelolaan Perpustakaan.
  • Qolyubi, S., dkk. (2003). Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta: Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga.
  • Sulistyo-Basuki, L. (1993). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia.

Cara Membuat Administrasi Peminjaman dan Pengembalian Buku Perpustakaan Sekolah



Administrasi peminjaman dan pengembalian buku merupakan bagian penting dalam pengelolaan perpustakaan sekolah. Kegiatan ini terlihat sederhana karena hanya berkaitan dengan mencatat buku yang dipinjam dan dikembalikan oleh siswa. Namun, apabila pencatatannya tidak dilakukan dengan tertib, petugas perpustakaan akan kesulitan mengetahui keberadaan koleksi, keterlambatan pengembalian, maupun jumlah buku yang sedang beredar.

Perpustakaan sekolah tidak selalu harus menggunakan aplikasi khusus untuk mengelola layanan sirkulasi. Administrasi peminjaman dan pengembalian dapat dibuat secara sederhana menggunakan buku administrasi, kartu buku, kartu anggota, atau lembar kerja Microsoft Excel. Yang terpenting adalah sistem yang digunakan mampu menjawab beberapa pertanyaan dasar: buku apa yang dipinjam, siapa yang meminjam, kapan dipinjam, kapan harus dikembalikan, dan apakah buku sudah kembali.

Bagi perpustakaan SD, sistem administrasi yang sederhana justru sering lebih mudah diterapkan. Petugas dapat menyesuaikan format dengan jumlah koleksi, jumlah siswa, frekuensi kunjungan, serta kemampuan pengelola perpustakaan.

Artikel ini membahas cara membuat administrasi peminjaman dan pengembalian buku perpustakaan sekolah, mulai dari menyiapkan data, membuat format peminjaman, mencatat pengembalian, menggunakan kartu buku, sampai membuat administrasi sederhana menggunakan Excel.

Apa Itu Administrasi Peminjaman dan Pengembalian Buku?

Administrasi peminjaman dan pengembalian buku adalah kegiatan pencatatan yang dilakukan untuk mengelola peredaran koleksi perpustakaan dari perpustakaan kepada pemustaka dan sebaliknya.

Pada saat siswa meminjam buku, petugas mencatat transaksi peminjaman. Ketika buku dikembalikan, petugas mencatat bahwa transaksi tersebut telah selesai.

Administrasi tersebut dapat menjadi sumber informasi bagi petugas untuk mengetahui kondisi koleksi perpustakaan.

Misalnya, perpustakaan memiliki 500 eksemplar buku. Dari jumlah tersebut, ternyata 75 buku sedang dipinjam siswa. Tanpa pencatatan yang baik, petugas mungkin hanya melihat bahwa buku tersebut tidak ada di rak.

Dengan administrasi peminjaman, petugas dapat mengetahui bahwa buku tersebut memang sedang dipinjam dan siapa yang meminjamnya.

Mengapa Administrasi Peminjaman Buku Penting?

Administrasi peminjaman bukan sekadar formalitas. Pencatatan yang baik dapat membantu perpustakaan menjaga koleksi dan memberikan layanan yang lebih teratur.

Beberapa manfaatnya antara lain:

1. Mengetahui keberadaan buku

Petugas dapat mengetahui apakah buku berada di rak, sedang dipinjam, sedang diperbaiki, atau mengalami masalah lainnya.

2. Mengetahui peminjam buku

Jika sebuah buku belum kembali, petugas dapat melihat data peminjam berdasarkan catatan transaksi.

3. Memantau batas waktu pengembalian

Tanggal pengembalian dapat dicatat sehingga petugas dapat mengetahui buku yang sudah melewati batas waktu peminjaman.

4. Mengurangi risiko kehilangan koleksi

Pencatatan yang tertib membantu perpustakaan melakukan penelusuran apabila buku tidak ditemukan.

5. Menjadi bahan evaluasi layanan

Data peminjaman dapat digunakan untuk mengetahui buku yang paling sering dipinjam, kelas yang aktif berkunjung, atau jenis koleksi yang paling diminati siswa.

Administrasi Apa Saja yang Perlu Disiapkan?

Sebelum membuat administrasi peminjaman dan pengembalian, perpustakaan sekolah sebaiknya menentukan terlebih dahulu dokumen apa saja yang akan digunakan.

Untuk sistem sederhana, beberapa administrasi yang dapat disiapkan adalah:

  1. Buku induk/inventaris koleksi

  2. Kartu anggota

  3. Kartu buku

  4. Buku atau formulir peminjaman

  5. Buku atau formulir pengembalian jika diperlukan

  6. Daftar rekap peminjaman

  7. Daftar buku yang terlambat dikembalikan

  8. Rekapitulasi statistik peminjaman

Tidak semua perpustakaan harus memiliki seluruh dokumen tersebut dalam bentuk terpisah.

Jika perpustakaan menggunakan Excel, beberapa administrasi dapat digabungkan dalam satu file dengan beberapa lembar kerja.

Menentukan Identitas Buku Sebelum Membuat Administrasi Peminjaman

Administrasi peminjaman akan lebih mudah apabila setiap buku sudah memiliki identitas yang jelas.

Salah satu identitas yang dapat digunakan adalah nomor inventaris.

Misalnya, perpustakaan menggunakan sistem:

Buku bacaan: 00001

Buku pelajaran: BP-00001

Pada stempel inventaris dapat digunakan format yang lebih lengkap, misalnya:

2026/PS/00001

atau:

2026/PS/BP-00001

Dengan demikian, petugas dapat menghubungkan buku yang dipinjam dengan data pada buku induk.

Misalnya siswa meminjam buku dengan nomor inventaris 00025. Petugas tidak perlu hanya mengandalkan judul buku karena bisa saja terdapat beberapa buku dengan judul yang sama.

Nomor inventaris menjadi identitas yang membantu membedakan setiap eksemplar.

Format Administrasi Peminjaman Buku

Format peminjaman dapat dibuat sederhana.

Contoh:

BUKU PEMINJAMAN PERPUSTAKAAN

No.TanggalNama PeminjamKelasNo. InventarisJudul BukuTanggal KembaliParaf
111/09/2026SitiV00025Cerita Anak Nusantara18/09/2026
211/09/2026BudiIVBP-00008Matematika IV18/09/2026
312/09/2026RinaVI00037Ensiklopedia Sains19/09/2026

Format tersebut sudah cukup untuk mencatat transaksi dasar.

Jika perpustakaan menggunakan kartu anggota, kolom Nomor Anggota dapat ditambahkan.

Contohnya:

No.TanggalNo. AnggotaNamaKelasNo. InventarisJudulJatuh Tempo

Dengan adanya nomor anggota, petugas tidak selalu harus menuliskan informasi siswa secara lengkap.

Informasi yang Sebaiknya Dicatat Saat Peminjaman

Saat melakukan transaksi peminjaman, beberapa informasi penting perlu dicatat.

Tanggal peminjaman

Tanggal menunjukkan kapan buku keluar dari perpustakaan.

Identitas peminjam

Dapat berupa nama siswa, nomor anggota, atau keduanya.

Kelas

Kelas membantu membedakan siswa dengan nama yang sama dan memudahkan rekap berdasarkan kelas.

Nomor inventaris

Nomor inventaris menunjukkan buku atau eksemplar yang dipinjam.

Judul buku

Judul tetap sebaiknya dicatat meskipun sudah ada nomor inventaris. Hal ini memudahkan pemeriksaan dan mengurangi kesalahan pencatatan.

Tanggal pengembalian

Tanggal ini menunjukkan batas waktu buku harus dikembalikan.

Keterangan

Kolom keterangan dapat digunakan jika ada kondisi khusus, misalnya buku diperpanjang, rusak, atau belum dikembalikan.

Cara Mencatat Pengembalian Buku

Pengembalian buku perlu dicatat agar status transaksi berubah dari dipinjam menjadi sudah kembali.

Misalnya:

Siswa Siti meminjam buku dengan nomor inventaris 00025 pada 11 September 2026 dan harus mengembalikannya pada 18 September 2026.

Ketika buku dikembalikan, petugas dapat mencatat tanggal pengembalian aktual.

Contohnya:

Tanggal Pinjam: 11 September 2026
Tanggal Jatuh Tempo: 18 September 2026
Tanggal Kembali: 17 September 2026

Dengan demikian, petugas dapat mengetahui bahwa buku telah dikembalikan satu hari sebelum batas waktu.

Jika buku terlambat, tanggal pengembalian aktual tetap dicatat.

Misalnya:

Tanggal Jatuh Tempo: 18 September 2026
Tanggal Kembali: 21 September 2026

Petugas kemudian dapat memberikan keterangan terlambat 3 hari apabila perpustakaan menggunakan sistem pencatatan keterlambatan.

Perlukah Membuat Buku Pengembalian Terpisah?

Tidak selalu.

Perpustakaan dapat menggunakan satu tabel peminjaman yang memiliki kolom Tanggal Kembali.

Dengan cara tersebut, ketika buku dikembalikan, petugas tinggal mengisi tanggal pengembalian.

Misalnya:

NamaBukuTanggal PinjamJatuh TempoTanggal KembaliStatus
SitiCerita Anak11/09/202618/09/202617/09/2026Kembali
BudiMatematika IV11/09/202618/09/2026-Dipinjam

Format seperti ini cukup praktis untuk perpustakaan sekolah.

Namun, jika perpustakaan memiliki kebutuhan administrasi tertentu, buku pengembalian tersendiri juga dapat dibuat.

Cara Menggunakan Kartu Buku

Kartu buku yang ditempatkan di dalam buku dapat digunakan sebagai alat bantu pencatatan.

Misalnya sebuah buku memiliki nomor inventaris:

00025

Pada kartu buku dicantumkan:

Judul Buku: Cerita Anak Nusantara
Nomor Inventaris: 00025

Kemudian tersedia tabel:

No.NamaKelasTanggal PinjamTanggal KembaliParaf
1SitiV11/09/202617/09/2026
2BudiV20/09/202627/09/2026

Dengan kartu tersebut, riwayat peminjaman dapat dilihat langsung pada buku.

Jika perpustakaan menggunakan administrasi digital, kartu buku dapat tetap digunakan sebagai pelengkap atau tidak digunakan lagi apabila sistem digital sudah dianggap cukup.

Hubungan Kartu Buku dengan Buku Peminjaman

Kartu buku dan buku peminjaman sebenarnya dapat saling melengkapi.

Buku peminjaman mencatat transaksi dari berbagai koleksi.

Sementara kartu buku mencatat riwayat transaksi sebuah buku.

Misalnya dalam buku peminjaman terdapat catatan:

Siti meminjam buku 00025.

Ketika petugas mengambil buku dengan nomor inventaris 00025, kartu bukunya juga dapat menunjukkan riwayat peminjaman buku tersebut.

Namun, apabila penggunaan dua pencatatan dirasa terlalu berat, perpustakaan dapat memilih sistem yang lebih sederhana sesuai kebutuhannya.

Cara Membuat Administrasi Peminjaman Menggunakan Excel

Perpustakaan sekolah dapat menggunakan Microsoft Excel untuk membuat administrasi peminjaman dan pengembalian.

Buat satu file khusus, misalnya:

Administrasi Perpustakaan 2026.xlsx

Kemudian buat beberapa sheet.

Sheet 1: Data Koleksi

Kolom yang dapat digunakan:

  • Nomor inventaris

  • Judul

  • Pengarang

  • Penerbit

  • Tahun terbit

  • Jenis koleksi

  • Jumlah eksemplar

  • Kondisi

  • Keterangan

Sheet 2: Data Anggota

Kolom:

  • Nomor anggota

  • Nama siswa

  • Kelas

  • Tahun

  • Keterangan

Sheet 3: Peminjaman

Kolom:

  • Nomor transaksi

  • Tanggal pinjam

  • Nomor anggota

  • Nama peminjam

  • Kelas

  • Nomor inventaris

  • Judul

  • Tanggal jatuh tempo

  • Tanggal kembali

  • Status

  • Keterangan

Dengan pembagian tersebut, administrasi dapat lebih mudah dicari dan diperbarui.

Membuat Status Buku

Pada administrasi Excel, petugas dapat membuat kolom status.

Contohnya:

Dipinjam

Kembali

Terlambat

Rusak

Hilang

Status tersebut membantu petugas melakukan pemantauan.

Misalnya saat ingin mengetahui buku yang masih berada di tangan siswa, petugas dapat memeriksa transaksi dengan status Dipinjam.

Cara Membuat Rekap Buku yang Terlambat

Perpustakaan juga dapat membuat daftar khusus untuk buku yang belum dikembalikan sesuai tanggal yang telah ditentukan.

Contohnya:

No.NamaKelasBukuTanggal PinjamJatuh TempoKeterlambatan
1BudiVMatematika01/09/202608/09/20263 hari
2SitiVICerita Anak02/09/202609/09/20262 hari

Data ini dapat membantu petugas mengingatkan siswa dengan cara yang baik.

Untuk perpustakaan SD, pendekatan yang digunakan sebaiknya bersifat edukatif. Tujuannya bukan sekadar memberikan sanksi, tetapi membiasakan siswa bertanggung jawab terhadap buku yang dipinjam.

Bagaimana Jika Buku Rusak Saat Dikembalikan?

Saat buku dikembalikan, petugas sebaiknya memeriksa kondisi buku.

Beberapa kondisi yang dapat dicatat antara lain:

  • Baik

  • Sampul rusak

  • Halaman sobek

  • Halaman hilang

  • Terkena air

  • Tulisan atau coretan

  • Rusak berat

Jika ditemukan kerusakan, kondisi tersebut dapat dicatat pada kolom keterangan.

Contohnya:

Tanggal kembali: 15 September 2026
Kondisi: Sampul rusak
Keterangan: Perlu diperbaiki

Dengan demikian, perpustakaan memiliki catatan mengenai kondisi koleksi setelah digunakan.

Bagaimana Jika Buku Hilang?

Jika buku tidak dikembalikan karena hilang, petugas sebaiknya tidak menghapus begitu saja data transaksi dan data koleksinya.

Nomor inventaris buku tetap dicatat, tetapi status koleksinya dapat diubah menjadi Hilang.

Contohnya:

Nomor Inventaris: 00045
Judul: Cerita Rakyat Indonesia
Status: Hilang
Keterangan: Hilang dalam peminjaman

Catatan tersebut penting agar jumlah koleksi pada buku induk dapat disesuaikan dengan kondisi sebenarnya.

Jika sekolah memiliki prosedur penggantian buku, informasi tersebut juga dapat dicatat sesuai ketentuan yang berlaku di sekolah.

Aturan Peminjaman Perlu Dibuat Sederhana

Administrasi akan lebih mudah jika perpustakaan memiliki aturan peminjaman yang jelas.

Misalnya:

  • siswa wajib mencatat atau melaporkan setiap peminjaman;

  • buku dikembalikan sesuai tanggal yang ditentukan;

  • buku harus dijaga agar tidak rusak;

  • buku yang hilang harus segera dilaporkan;

  • siswa tidak boleh meminjam menggunakan identitas siswa lain;

  • perpanjangan masa pinjam dicatat oleh petugas.

Aturan tidak perlu terlalu banyak. Untuk perpustakaan SD, aturan yang sederhana dan mudah dipahami biasanya lebih mudah diterapkan.

Tentukan Lama Peminjaman

Perpustakaan sekolah juga dapat menentukan lama peminjaman berdasarkan kebutuhan.

Misalnya:

Lama peminjaman: 7 hari.

Jika siswa meminjam pada 11 September, maka tanggal pengembalian ditetapkan pada 18 September.

Namun, lama peminjaman dapat disesuaikan dengan kebijakan masing-masing sekolah.

Buku pelajaran yang digunakan secara rutin mungkin membutuhkan aturan yang berbeda dengan buku bacaan.

Administrasi Peminjaman Tidak Harus Rumit

Kesalahan yang sering terjadi dalam pengelolaan perpustakaan adalah membuat terlalu banyak formulir tanpa mempertimbangkan kemampuan petugas dan kebutuhan sebenarnya.

Administrasi yang baik bukan berarti harus memiliki banyak buku dan lembar pencatatan.

Yang lebih penting adalah data yang diperlukan tersedia dan dapat ditelusuri.

Untuk perpustakaan SD dengan jumlah koleksi yang tidak terlalu besar, sistem sederhana dapat terdiri atas:

Buku induk koleksi + data anggota + catatan peminjaman/pengembalian + kartu buku.

Jika sudah menggunakan Excel, beberapa catatan tersebut dapat dibuat dalam satu file.

Contoh Sistem Administrasi yang Sederhana

Misalnya sebuah perpustakaan SD menggunakan sistem berikut:

Nomor inventaris buku bacaan: 00001

Nomor inventaris buku pelajaran: BP-00001

Pada stempel inventaris:

Buku bacaan: 2026/PS/00001

Buku pelajaran: 2026/PS/BP-00001

Kemudian pada administrasi peminjaman:

TanggalNamaKelasNo. InventarisJudulJatuh TempoTanggal KembaliStatus
11/09/2026SitiV00001Cerita Anak18/09/202617/09/2026Kembali
11/09/2026BudiVBP-00001Matematika V18/09/2026-Dipinjam

Dengan sistem tersebut, petugas sudah dapat mengetahui status buku tanpa membuat administrasi yang terlalu kompleks.

Tips Agar Administrasi Peminjaman Rapi

Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat membuat administrasi perpustakaan lebih tertib.

Catat transaksi pada saat buku dipinjam

Jangan menunda pencatatan karena dapat menyebabkan transaksi terlupakan.

Gunakan nomor inventaris secara konsisten

Jangan mencatat nomor yang berbeda antara buku, kartu buku, dan administrasi.

Periksa buku saat dikembalikan

Jangan hanya mencatat tanggal kembali. Kondisi buku juga sebaiknya diperhatikan.

Lakukan pengecekan berkala

Petugas dapat memeriksa daftar buku yang masih dipinjam setiap minggu atau sesuai kebutuhan.

Simpan data dengan aman

Jika menggunakan Excel, buat salinan atau cadangan data secara berkala agar tidak kehilangan administrasi ketika terjadi kerusakan perangkat.

Buat sistem yang mampu dilanjutkan oleh petugas lain

Administrasi perpustakaan sebaiknya tidak hanya dipahami oleh satu orang. Penamaan file, kode, dan cara pencatatan perlu dibuat jelas sehingga dapat dilanjutkan apabila terjadi pergantian pengelola.

Kesimpulan

Administrasi peminjaman dan pengembalian buku perpustakaan sekolah merupakan bagian penting dalam menjaga keteraturan layanan sirkulasi dan keberadaan koleksi.

Administrasi tidak harus dibuat rumit. Perpustakaan sekolah dapat menggunakan buku peminjaman, kartu buku, kartu anggota, atau Excel sesuai kebutuhan dan kemampuan pengelolanya.

Hal yang paling penting adalah setiap transaksi dapat ditelusuri dengan jelas. Data minimal yang perlu diperhatikan adalah identitas peminjam, kelas, nomor inventaris buku, judul buku, tanggal peminjaman, tanggal jatuh tempo, tanggal pengembalian, dan status buku.

Nomor inventaris juga perlu digunakan secara konsisten. Jika perpustakaan menggunakan nomor seperti 00001 untuk koleksi umum dan BP-00001 untuk buku pelajaran, nomor tersebut dapat digunakan dalam administrasi peminjaman. Penulisan yang lebih lengkap seperti 2026/PS/00001 atau 2026/PS/BP-00001 dapat digunakan pada stempel inventaris sesuai sistem internal perpustakaan.

Saat buku dikembalikan, petugas tidak hanya mencatat tanggal kembali, tetapi juga sebaiknya memeriksa kondisi buku. Jika buku terlambat, rusak, atau hilang, informasi tersebut dapat dicatat sehingga riwayat koleksi tetap jelas.

Pada akhirnya, administrasi perpustakaan yang baik bukanlah administrasi yang paling banyak formulirnya, melainkan administrasi yang jelas, konsisten, mudah digunakan, mudah ditelusuri, dan sesuai dengan kondisi perpustakaan sekolah.

Bagi perpustakaan SD yang masih mengelola koleksi secara manual, sistem sederhana pun sudah dapat berjalan dengan baik apabila dilakukan secara disiplin. Sementara bagi perpustakaan yang mulai menggunakan teknologi, administrasi tersebut dapat dikembangkan menggunakan Excel atau aplikasi perpustakaan tanpa harus menghilangkan prinsip dasar pencatatan koleksi dan transaksi.




Referensi

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2018). Pedoman pengolahan bahan perpustakaan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2022). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2022 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2022). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2022 tentang Pedoman Akreditasi Perpustakaan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Cara Membuat Kartu Buku Perpustakaan Sekolah: Format, Fungsi, dan Contohnya

 


Kartu buku merupakan salah satu perlengkapan administrasi yang dapat digunakan dalam pengelolaan perpustakaan sekolah. Meskipun saat ini banyak perpustakaan mulai menggunakan pencatatan berbasis komputer, kartu buku masih dapat membantu perpustakaan yang pengelolaannya dilakukan secara manual maupun menggunakan sistem sederhana.

Bagi perpustakaan sekolah dasar (SD), kartu buku dapat menjadi alat bantu untuk mengetahui riwayat peminjaman sebuah buku. Ketika seorang siswa meminjam buku, informasi peminjaman dapat dicatat pada kartu yang ditempatkan di dalam buku tersebut. Dengan demikian, petugas dapat melihat siapa yang sedang meminjam buku, kapan buku dipinjam, dan kapan buku seharusnya dikembalikan.

Pembuatan kartu buku sebenarnya tidak sulit. Perpustakaan tidak perlu menggunakan desain yang rumit. Yang terpenting adalah informasi yang dicantumkan cukup untuk membantu proses administrasi dan mudah dibaca oleh petugas.

Dalam artikel ini akan dibahas pengertian kartu buku, fungsi, informasi yang perlu dicantumkan, cara membuatnya, contoh format kartu buku, cara penggunaannya, serta perbedaannya dengan kartu anggota dan buku peminjaman.

Apa Itu Kartu Buku Perpustakaan?

Kartu buku adalah kartu yang ditempatkan pada sebuah buku perpustakaan dan digunakan untuk mencatat transaksi peminjaman buku tersebut.

Kartu ini melekat pada buku, bukan pada anggota perpustakaan.

Artinya, jika perpustakaan memiliki 100 buku, setiap buku yang menggunakan sistem kartu buku memiliki kartu yang berkaitan dengan buku tersebut. Ketika buku dipinjam, petugas mencatat informasi peminjam pada kartu.

Contohnya, sebuah buku cerita memiliki nomor inventaris:

00025

Maka kartu buku yang berada di dalam buku tersebut juga mencantumkan nomor inventaris 00025.

Jika buku dipinjam oleh siswa bernama Rani, petugas dapat mencatat:

Nama peminjam: Rani
Tanggal pinjam: 10 September 2026
Tanggal kembali: 17 September 2026

Ketika buku dikembalikan, petugas dapat memberikan tanda bahwa transaksi tersebut telah selesai.

Dengan demikian, kartu buku berfungsi sebagai catatan sederhana mengenai perjalanan peminjaman sebuah buku.

Apa Fungsi Kartu Buku di Perpustakaan Sekolah?

Kartu buku memiliki beberapa fungsi yang cukup membantu, terutama pada perpustakaan sekolah yang masih menggunakan administrasi manual.

1. Mencatat riwayat peminjaman buku

Fungsi utama kartu buku adalah mencatat siapa yang meminjam sebuah buku.

Petugas dapat melihat catatan tersebut ketika buku dikembalikan atau ketika terjadi masalah dalam peminjaman.

2. Membantu mengetahui buku sedang dipinjam siapa

Jika sebuah buku tidak berada di rak, petugas dapat memeriksa kartu buku untuk mengetahui siapa yang terakhir meminjamnya.

Misalnya buku dengan nomor inventaris 00025 tidak ditemukan di rak. Setelah diperiksa, pada kartu buku terdapat catatan bahwa buku tersebut dipinjam oleh siswa kelas V.

Informasi tersebut membantu petugas melakukan penelusuran.

3. Membantu pencatatan administrasi

Kartu buku menjadi salah satu dokumen pendukung dalam kegiatan layanan sirkulasi.

Pencatatan tersebut dapat digunakan bersama dengan buku peminjaman atau sistem administrasi lainnya.

4. Memudahkan pengelolaan perpustakaan secara manual

Tidak semua perpustakaan sekolah memiliki aplikasi perpustakaan yang lengkap. Pada kondisi tersebut, kartu buku dapat menjadi alat bantu yang sederhana dan murah.

5. Menjadi catatan yang melekat pada buku

Berbeda dengan buku peminjaman yang berisi banyak transaksi dari berbagai koleksi, kartu buku secara khusus berkaitan dengan satu buku.

Karena ditempatkan di dalam buku, petugas dapat langsung menghubungkan catatan dengan koleksi yang bersangkutan.

Apakah Setiap Buku Harus Memiliki Kartu Buku?

Tidak ada keharusan bahwa setiap perpustakaan sekolah harus menggunakan kartu buku dengan format tertentu.

Kartu buku merupakan salah satu bentuk administrasi layanan sirkulasi. Perpustakaan dapat menyesuaikan sistem administrasinya dengan kondisi, kebutuhan, dan teknologi yang digunakan.

Jika perpustakaan sudah menggunakan aplikasi yang mencatat seluruh transaksi peminjaman secara digital, kartu buku mungkin tidak terlalu diperlukan.

Namun, bagi perpustakaan sekolah yang masih menggunakan sistem manual atau semi-digital, kartu buku masih dapat digunakan sebagai alat bantu.

Perpustakaan juga dapat memilih hanya menggunakan kartu buku pada koleksi tertentu apabila memang diperlukan.

Hal yang lebih penting adalah adanya sistem pencatatan yang memungkinkan petugas mengetahui koleksi apa yang dipinjam, siapa yang meminjam, dan kapan buku harus dikembalikan.

Apa Saja Isi Kartu Buku?

Kartu buku sebaiknya dibuat sederhana tetapi informatif.

Beberapa informasi yang dapat dicantumkan antara lain:

  1. Nama perpustakaan

  2. Judul buku

  3. Nomor inventaris

  4. Nomor panggil jika digunakan

  5. Kolom nama atau identitas peminjam

  6. Tanggal peminjaman

  7. Tanggal pengembalian

  8. Paraf atau tanda petugas

  9. Keterangan jika diperlukan

Tidak semua informasi tersebut wajib dimasukkan. Perpustakaan dapat menyesuaikannya dengan kebutuhan.

Untuk perpustakaan SD, kartu buku yang sederhana justru lebih mudah digunakan.

Contoh Format Kartu Buku Perpustakaan

Format kartu buku dapat dibuat seperti berikut:

PERPUSTAKAAN SEKOLAH

KARTU BUKU

Judul Buku : __________________________

Nomor Inventaris : ____________________

Nomor Panggil : _______________________

No.Nama PeminjamKelasTanggal PinjamTanggal KembaliParaf
1
2
3
4
5

Format tersebut sudah cukup untuk digunakan dalam administrasi peminjaman sederhana.

Jika ingin lebih praktis, kolom nomor panggil juga dapat dihilangkan dan hanya menggunakan nomor inventaris sebagai identitas buku.

Kartu Buku Harus Mengikuti Nomor Inventaris

Salah satu hal penting dalam pembuatan kartu buku adalah mencantumkan nomor inventaris.

Nomor inventaris membuat kartu dapat dihubungkan dengan data pada buku induk.

Misalnya perpustakaan menggunakan sistem:

Buku bacaan: 00001

Buku pelajaran: BP-00001

Maka kartu buku juga dapat mencantumkan nomor tersebut.

Contohnya:

Judul: Kumpulan Cerita Anak
Nomor Inventaris: 00001

Untuk buku pelajaran:

Judul: Matematika Kelas V
Nomor Inventaris: BP-00001

Jika pada stempel inventaris digunakan format yang lebih lengkap, misalnya:

2026/PS/00001

atau:

2026/PS/BP-00001

nomor tersebut juga dapat dicantumkan pada kartu buku apabila perpustakaan menghendakinya.

Dengan demikian, terdapat hubungan antara buku fisik, kartu buku, dan buku induk.

Apakah Nomor Inventaris dan Nomor Panggil Harus Dicantumkan Bersama?

Tidak selalu.

Nomor inventaris dan nomor panggil memiliki fungsi berbeda.

Nomor inventaris digunakan untuk identitas administrasi koleksi, sedangkan nomor panggil digunakan untuk membantu penempatan dan pencarian buku di rak.

Jika perpustakaan telah menerapkan sistem klasifikasi dan nomor panggil, keduanya dapat dicantumkan pada kartu buku.

Contohnya:

Nomor Inventaris: 00025

Nomor Panggil: 398.2

Namun, apabila perpustakaan sekolah masih menggunakan sistem sederhana dan belum menerapkan nomor panggil secara lengkap, kartu buku dapat cukup mencantumkan nomor inventaris.

Cara Membuat Kartu Buku Perpustakaan Sekolah

Pembuatan kartu buku dapat dilakukan secara manual menggunakan kertas atau dibuat menggunakan komputer.

Berikut langkah-langkah sederhananya.

Langkah 1: Tentukan ukuran kartu

Gunakan ukuran yang cukup kecil agar kartu dapat ditempatkan di dalam buku tanpa mengganggu kenyamanan pembaca.

Ukuran dapat disesuaikan dengan ukuran buku. Tidak perlu terlalu besar.

Misalnya menggunakan kertas berukuran sekitar seperempat atau sepertiga halaman A4.

Yang terpenting, kartu memiliki ruang yang cukup untuk mencatat beberapa transaksi peminjaman.

Langkah 2: Buat identitas buku

Pada bagian atas kartu tuliskan:

PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Kemudian tuliskan judul buku dan nomor inventaris.

Contoh:

Judul: Aku Suka Membaca
Nomor Inventaris: 00035

Jika diperlukan, dapat ditambahkan nomor panggil.

Langkah 3: Buat tabel transaksi

Buat beberapa kolom untuk mencatat transaksi peminjaman.

Kolom yang paling sederhana adalah:

Nama Peminjam | Kelas | Tanggal Pinjam | Tanggal Kembali | Paraf

Kolom tersebut dapat disesuaikan dengan sistem layanan perpustakaan.

Langkah 4: Cetak kartu

Jika jumlah koleksi cukup banyak, kartu sebaiknya dibuat menggunakan Microsoft Word atau Excel agar formatnya seragam.

Petugas kemudian dapat mencetak kartu sesuai jumlah buku.

Langkah 5: Masukkan kartu ke dalam buku

Kartu buku dapat ditempatkan pada kantong kartu yang ditempel di bagian dalam sampul belakang buku.

Dengan demikian, kartu tidak mudah terlepas.

Perpustakaan dapat membuat kantong kartu dari kertas atau menggunakan kantong khusus yang sesuai.

Cara Menggunakan Kartu Buku Saat Ada Peminjaman

Ketika siswa meminjam buku, petugas mencatat transaksi pada kartu buku.

Misalnya:

Nama: Siti
Kelas: V
Tanggal Pinjam: 11 September 2026
Tanggal Kembali: 18 September 2026

Petugas juga dapat memberikan paraf atau tanda sesuai prosedur perpustakaan.

Saat buku dikembalikan, petugas memastikan tanggal pengembalian tercatat.

Jika perpustakaan menggunakan kartu buku secara manual, pencatatan harus dilakukan secara rutin agar tidak ada transaksi yang terlewat.

Apakah Nama Peminjam Harus Ditulis Lengkap?

Sebaiknya nama peminjam ditulis dengan cukup jelas sehingga petugas dapat mengenali siswa tersebut.

Untuk perpustakaan SD, nama lengkap dapat digunakan.

Jika diperlukan, kolom kelas juga penting karena siswa dalam satu sekolah dapat memiliki nama yang sama.

Contohnya:

Andi – V A

lebih mudah dibedakan daripada hanya menulis:

Andi

Perpustakaan juga dapat menambahkan nomor anggota apabila memiliki sistem kartu anggota.

Perbedaan Kartu Buku dan Kartu Anggota

Kartu buku sering dianggap sama dengan kartu anggota, padahal keduanya berbeda.

Kartu buku berkaitan dengan koleksi.

Kartu anggota berkaitan dengan pemustaka atau anggota perpustakaan.

Contohnya, satu buku cerita memiliki satu kartu buku.

Sementara satu siswa yang menjadi anggota perpustakaan memiliki satu kartu anggota.

Jika siswa bernama Budi meminjam tiga buku, maka tiga buku tersebut masing-masing memiliki kartu buku sendiri.

Kartu anggota Budi tetap hanya satu.

Perbedaan ini penting agar administrasi perpustakaan tidak tercampur.

Perbedaan Kartu Buku dan Buku Peminjaman

Kartu buku juga berbeda dengan buku peminjaman.

Buku peminjaman biasanya digunakan untuk mencatat transaksi dari banyak buku dan banyak anggota.

Sedangkan kartu buku hanya berkaitan dengan satu koleksi.

Misalnya:

Buku peminjaman mencatat:

Budi meminjam buku A.

Siti meminjam buku B.

Rina meminjam buku C.

Sementara kartu buku A hanya mencatat riwayat peminjaman buku A.

Dengan demikian, keduanya dapat saling melengkapi apabila perpustakaan menggunakan sistem manual.

Bagaimana Jika Perpustakaan Menggunakan Excel?

Kartu buku tetap dapat digunakan meskipun administrasi perpustakaan sudah menggunakan Excel.

Misalnya data utama transaksi dicatat dalam Excel, sedangkan kartu buku digunakan sebagai identitas fisik buku.

Dalam Excel dapat dibuat tabel:

No.Nomor InventarisJudulPeminjamKelasTanggal PinjamTanggal Kembali
100001Cerita NusantaraSitiV10/09/202617/09/2026
2BP-00001Matematika VBudiV10/09/202617/09/2026

Dengan sistem tersebut, pencatatan digital dan kartu fisik dapat berjalan bersama.

Namun, jika perpustakaan sudah menggunakan aplikasi yang secara otomatis mencatat seluruh transaksi, petugas perlu mempertimbangkan apakah kartu buku masih diperlukan atau tidak.

Kartu Buku untuk Buku Pelajaran

Buku pelajaran juga dapat dibuatkan kartu buku apabila buku tersebut diperlakukan sebagai koleksi perpustakaan dan dapat dipinjam.

Misalnya:

Judul: Bahasa Indonesia Kelas VI

Nomor Inventaris: BP-00015

Maka kartu bukunya mencantumkan:

Nomor Inventaris: BP-00015

Pada bagian transaksi dapat dicatat siswa yang meminjam buku tersebut.

Hal ini juga dapat membantu ketika sekolah memiliki banyak eksemplar buku pelajaran.

Misalnya terdapat sepuluh buku Matematika dengan nomor:

BP-00001 sampai BP-00010

Masing-masing eksemplar dapat memiliki identitas yang jelas.

Apakah Semua Koleksi Harus Diberi Kartu Buku?

Tidak selalu.

Perpustakaan dapat menyesuaikan penggunaannya berdasarkan sistem layanan.

Kartu buku paling bermanfaat untuk koleksi yang memang sering dipinjam melalui layanan sirkulasi.

Untuk koleksi referensi yang hanya boleh dibaca di tempat, perpustakaan dapat menggunakan sistem pencatatan yang berbeda.

Jadi, pembuatan kartu buku sebaiknya tidak sekadar dilakukan karena mengikuti kebiasaan perpustakaan lain, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan koleksi.

Tips Agar Kartu Buku Tidak Mudah Rusak

Karena kartu buku sering berada di dalam buku dan dapat disentuh berkali-kali, bahan yang digunakan sebaiknya cukup kuat.

Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

  • menggunakan kertas yang cukup tebal;

  • mencetak dengan tulisan yang jelas;

  • tidak membuat tabel terlalu kecil;

  • menempatkan kartu pada bagian dalam buku;

  • menggunakan kantong kartu agar kartu tidak mudah jatuh;

  • mengganti kartu jika sudah penuh atau rusak;

  • memastikan nomor inventaris pada kartu sesuai dengan buku.

Jika kartu sudah penuh, perpustakaan dapat membuat kartu lanjutan tanpa mengubah identitas buku.

Apakah Kartu Buku Masih Relevan di Era Digital?

Masih bisa relevan, terutama bagi perpustakaan sekolah yang belum menggunakan sistem otomasi secara penuh.

Teknologi memang dapat membuat pencatatan peminjaman menjadi lebih cepat. Namun, tidak semua perpustakaan sekolah memiliki fasilitas, perangkat, atau sumber daya manusia yang sama.

Pada perpustakaan dengan administrasi sederhana, kartu buku dapat menjadi alat bantu yang praktis.

Sebaliknya, jika perpustakaan sudah menggunakan sistem otomasi yang lengkap, petugas dapat mengandalkan sistem digital dan menggunakan kartu buku hanya jika memang dianggap perlu.

Jadi, keberadaan kartu buku tidak harus dipandang sebagai kewajiban yang harus selalu ada, tetapi sebagai salah satu alat administrasi yang dapat digunakan sesuai kebutuhan.

Kesimpulan

Kartu buku perpustakaan sekolah merupakan kartu yang berkaitan langsung dengan sebuah koleksi dan dapat digunakan untuk mencatat transaksi peminjaman buku.

Pembuatan kartu buku tidak harus rumit. Untuk perpustakaan SD, format sederhana yang berisi judul buku, nomor inventaris, nama peminjam, kelas, tanggal peminjaman, tanggal pengembalian, dan paraf sudah dapat menjadi pilihan praktis.

Nomor inventaris sebaiknya dicantumkan agar kartu buku dapat dihubungkan dengan buku fisik dan data dalam buku induk. Jika perpustakaan menggunakan sistem seperti 00001 untuk koleksi umum dan BP-00001 untuk buku pelajaran, sistem tersebut dapat diterapkan pula pada kartu buku.

Kartu buku berbeda dengan kartu anggota. Kartu buku melekat pada koleksi, sedangkan kartu anggota berkaitan dengan pemustaka. Kartu buku juga berbeda dengan buku peminjaman yang mencatat transaksi berbagai koleksi.

Pada akhirnya, sistem administrasi perpustakaan sebaiknya dibuat sederhana, konsisten, mudah digunakan, dan mudah ditelusuri. Jika perpustakaan masih menggunakan sistem manual, kartu buku dapat menjadi salah satu alat bantu yang bermanfaat. Jika perpustakaan sudah menggunakan sistem digital, penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Dengan pengelolaan yang tertib, kartu buku bukan sekadar selembar kertas di dalam buku, tetapi dapat membantu petugas menjaga keteraturan administrasi dan mengetahui riwayat peminjaman koleksi perpustakaan.




Referensi

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2018). Pedoman pengolahan bahan perpustakaan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2022). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2022 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2022). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2022 tentang Pedoman Akreditasi Perpustakaan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Back To Top