-->

Dunia Perpustakaan

Panduan Pustakawan dan Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi ruang tumbuhnya ide, karakter, dan masa depan. Setiap halaman yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar dalam hidup seseorang.

Ketentuan Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026 tentang Tenaga Kependidikan dan Pustakawan

 

Selain mengetahui perguruan tinggi yang membuka Program Studi Ilmu Perpustakaan, Perpustakaan dan Sains Informasi, maupun program sejenis, calon mahasiswa juga perlu memahami bagaimana lulusan bidang ini dapat berperan sebagai tenaga kependidikan, khususnya tenaga perpustakaan di satuan pendidikan.

Hal ini menjadi semakin penting setelah diterbitkannya Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 23 Tahun 2026 tentang Standar Tenaga Kependidikan pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.

Peraturan tersebut ditetapkan pada 11 September 2026 dan diundangkan pada 14 September 2026 sebagai Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2026 Nomor 631. Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026 menggantikan Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2025 yang sebelumnya mengatur standar tenaga kependidikan.

Apa yang Dimaksud Tenaga Kependidikan?

Dalam Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026, standar tenaga kependidikan dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu standar pendidik dan standar tenaga kependidikan selain pendidik.

Tenaga kependidikan selain pendidik mencakup beberapa jenis tenaga yang mendukung penyelenggaraan pendidikan, antara lain:

  • pengawas sekolah;

  • penilik;

  • kepala satuan pendidikan;

  • tenaga perpustakaan;

  • tenaga laboratorium;

  • tenaga administrasi;

  • operator data satuan pendidikan; dan

  • tenaga kependidikan selain pendidik lainnya.

Dengan demikian, tenaga perpustakaan merupakan salah satu bagian yang secara khusus diatur dalam standar tenaga kependidikan pada satuan pendidikan.

Syarat Pendidikan untuk Menjadi Tenaga Perpustakaan

Salah satu ketentuan yang paling relevan bagi calon mahasiswa jurusan Perpustakaan adalah mengenai kualifikasi akademik tenaga perpustakaan.

Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026 menetapkan bahwa tenaga perpustakaan paling rendah berkualifikasi D-III bidang ilmu perpustakaan dan informasi.

Artinya, pendidikan formal pada bidang perpustakaan dan informasi menjadi salah satu jalur yang secara langsung sesuai dengan kualifikasi yang ditetapkan untuk tenaga perpustakaan pada satuan pendidikan.

Namun, peraturan tersebut juga memberikan jalur bagi lulusan bidang lain. Seseorang dengan pendidikan paling rendah D-III bidang lain dapat memenuhi kualifikasi apabila memiliki pendidikan dan pelatihan di bidang ilmu perpustakaan dan informasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Dengan demikian, secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:

Latar belakang pendidikanKetentuan untuk tenaga perpustakaan
D-III Ilmu Perpustakaan dan InformasiMemenuhi kualifikasi pendidikan minimal
D-III bidang lainPerlu memiliki pendidikan dan pelatihan bidang ilmu perpustakaan dan informasi sesuai ketentuan
S1/D4 Perpustakaan atau bidang terkaitLebih tinggi dari batas pendidikan minimal, tetapi tetap perlu memperhatikan persyaratan jabatan dan ketentuan instansi

Catatan: kualifikasi pendidikan minimal dalam Permendikdasmen tidak otomatis berarti seseorang langsung diangkat sebagai ASN, pustakawan, atau menduduki jabatan tertentu. Pengangkatan, jabatan, sertifikasi, dan persyaratan kepegawaian dapat mengikuti peraturan lain serta ketentuan instansi masing-masing.

Apakah Lulusan S1 Perpustakaan Bisa Bekerja di Sekolah?

Secara bidang pendidikan, lulusan S1 Ilmu Perpustakaan, S1 Perpustakaan dan Sains Informasi, S1 Perpustakaan dan Informasi, atau program sejenis memiliki latar belakang yang relevan dengan pengelolaan perpustakaan.

Bahkan, sejumlah perguruan tinggi di Indonesia kini menggunakan nomenklatur program yang semakin menekankan keterkaitan antara perpustakaan, informasi, teknologi digital, dan pengelolaan sumber daya informasi.

Contohnya antara lain S1 Ilmu Perpustakaan, S1 Perpustakaan dan Sains Informasi, S1 Perpustakaan dan Informasi, serta program lain yang berada dalam rumpun ilmu perpustakaan dan informasi.

Karena itu, calon mahasiswa yang sejak awal menargetkan karier sebagai tenaga perpustakaan di sekolah dapat mempertimbangkan program studi tersebut sebagai salah satu pilihan pendidikan.

Kompetensi Tenaga Perpustakaan Tidak Hanya Mengelola Buku

Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026 tidak hanya membahas tingkat pendidikan, tetapi juga kompetensi tenaga perpustakaan.

Peran tenaga perpustakaan pada satuan pendidikan semakin luas. Tenaga perpustakaan tidak hanya bertugas menyimpan dan meminjamkan buku, tetapi juga perlu memiliki kemampuan mengelola sumber daya dan layanan perpustakaan untuk mendukung proses pembelajaran.

Kompetensi tersebut antara lain berkaitan dengan:

  • pengelolaan koleksi perpustakaan;

  • pengatalogan dan pengolahan bahan perpustakaan;

  • pengembangan serta promosi layanan perpustakaan;

  • pelaksanaan program literasi informasi;

  • peningkatan kegemaran membaca;

  • pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi;

  • pengintegrasian sumber daya perpustakaan dengan kegiatan pembelajaran; serta

  • pengembangan layanan perpustakaan sesuai kebutuhan peserta didik dan satuan pendidikan.

Dengan perkembangan perpustakaan digital, kemampuan teknologi informasi juga semakin penting bagi tenaga perpustakaan. Pengelolaan koleksi digital, sistem otomasi perpustakaan, basis data, sumber informasi elektronik, literasi digital, hingga layanan berbasis teknologi menjadi bagian yang semakin dekat dengan pekerjaan di bidang ini.

Mengapa Jurusan Ilmu Perpustakaan Semakin Relevan?

Ketentuan mengenai standar tenaga perpustakaan menunjukkan bahwa pendidikan bidang perpustakaan dan informasi memiliki hubungan langsung dengan kebutuhan tenaga kependidikan di satuan pendidikan.

Bagi siswa SMA/SMK/MA yang sedang menentukan jurusan kuliah, hal ini dapat menjadi salah satu pertimbangan untuk memilih Program Studi Ilmu Perpustakaan atau program sejenis.

Kuliah di bidang perpustakaan tidak hanya mempelajari buku dan kegiatan peminjaman. Mahasiswa dapat mempelajari berbagai aspek pengelolaan informasi, antara lain:

  1. pengembangan koleksi;

  2. klasifikasi dan katalogisasi;

  3. layanan perpustakaan;

  4. literasi informasi;

  5. manajemen perpustakaan;

  6. teknologi informasi;

  7. perpustakaan digital;

  8. pengelolaan arsip dan dokumen;

  9. preservasi informasi; dan

  10. pemanfaatan sumber informasi untuk mendukung pembelajaran dan kebutuhan masyarakat.

Karena itu, prospek lulusan tidak selalu terbatas pada perpustakaan sekolah. Lulusan dapat mengembangkan karier di berbagai lingkungan yang membutuhkan pengelolaan informasi, seperti perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan umum, perpustakaan khusus, lembaga pemerintah, pusat dokumentasi, museum, lembaga pendidikan, perusahaan, hingga organisasi yang membutuhkan pengelolaan pengetahuan dan informasi.

Masa Penyesuaian bagi Tenaga Kependidikan yang Sudah Bertugas

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah ketentuan peralihan.

Tenaga kependidikan selain pendidik yang telah diangkat sebelum Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026 berlaku tetap dapat melaksanakan tugasnya. Mereka diberikan waktu untuk memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan, yaitu paling lambat lima tahun sejak peraturan tersebut diundangkan.

Ketentuan ini penting karena penerapan standar baru tidak serta-merta mengharuskan seluruh tenaga kependidikan yang sudah bekerja memenuhi persyaratan baru pada hari pertama berlakunya peraturan.

Bagi tenaga perpustakaan yang saat ini sudah bertugas tetapi latar belakang pendidikannya belum sesuai, masa penyesuaian tersebut dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualifikasi melalui pendidikan maupun pelatihan yang sesuai dengan ketentuan.

Hubungan Permendikdasmen 23 Tahun 2026 dengan Jurusan Perpustakaan

Jika dikaitkan dengan daftar universitas pada artikel ini, Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026 memberikan konteks tambahan mengapa Program Studi Ilmu Perpustakaan dan bidang sejenis tetap penting untuk dipertimbangkan.

Standar terbaru menetapkan bahwa tenaga perpustakaan pada satuan pendidikan paling rendah berkualifikasi D-III bidang ilmu perpustakaan dan informasi, sementara lulusan D-III bidang lain dapat memenuhi ketentuan melalui pendidikan dan pelatihan di bidang ilmu perpustakaan dan informasi sesuai persyaratan.

Dengan demikian, calon mahasiswa yang ingin berkarier di bidang perpustakaan dapat memilih jalur pendidikan yang sesuai sejak awal. Pilihan jenjangnya dapat berupa D-III, D-IV/Sarjana Terapan, atau S1 sesuai program studi yang tersedia di perguruan tinggi.

Bagi yang ingin melanjutkan pengembangan kompetensi ke jenjang yang lebih tinggi, tersedia pula program magister pada bidang ilmu informasi dan perpustakaan di sejumlah perguruan tinggi.

Kesimpulan

Permendikdasmen Nomor 23 Tahun 2026 membawa ketentuan terbaru mengenai standar tenaga kependidikan pada PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Bagi bidang perpustakaan, salah satu ketentuan terpenting adalah bahwa tenaga perpustakaan paling rendah memiliki kualifikasi D-III bidang ilmu perpustakaan dan informasi. Lulusan D-III bidang lain juga dapat memenuhi kualifikasi melalui pendidikan dan pelatihan bidang ilmu perpustakaan dan informasi sesuai ketentuan.

Karena itu, bagi calon mahasiswa yang tertarik menjadi tenaga perpustakaan, pustakawan, pengelola informasi, atau bekerja dalam bidang literasi dan dokumentasi, memilih program studi yang relevan dapat menjadi langkah penting dalam membangun kualifikasi akademik.

Perlu diingat bahwa kualifikasi pendidikan bukan satu-satunya persyaratan untuk setiap jabatan. Ketentuan pengangkatan, sertifikasi, jabatan fungsional, status kepegawaian, serta persyaratan khusus pada masing-masing instansi dapat diatur melalui regulasi lainnya.

Untuk artikel yang membahas pilihan kuliah tahun 2026, ketentuan ini sebaiknya dibaca bersama informasi resmi perguruan tinggi dan peraturan kepegawaian yang berlaku agar pembaca tidak menyamakan antara syarat pendidikan tenaga perpustakaan dengan syarat pengangkatan sebagai ASN atau jabatan fungsional pustakawan.




Referensi

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2026). Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2026 tentang Standar Tenaga Kependidikan pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.

Naibaho, K. (2020). Konsep pengembangan standar kompetensi tenaga perpustakaan pasca UU No. 43 Tahun 2007: Sebuah usulan. Media Pustakawan, 16(3–4), 108–115. https://doi.org/10.37014/medpus.v16i3&4.916

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2017). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2017 tentang Standar Kompetensi Jabatan Fungsional Pustakawan.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2024). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi.

Republik Indonesia. (2007). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.

Republik Indonesia. (2022a). Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2022 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan.

Republik Indonesia. (2022b). Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2022 tentang Jabatan Fungsional Asisten Perpustakaan.

Digital Marketing untuk Perpustakaan Sekolah: Strategi Meningkatkan Kunjungan dan Literasi



Apa Itu Digital Marketing Perpustakaan Sekolah?

Istilah digital marketing sering dikaitkan dengan dunia bisnis.

Namun prinsipnya juga dapat digunakan oleh perpustakaan sekolah.

Dalam konteks perpustakaan, digital marketing bukan berarti menjual buku.

Digital marketing dapat dipahami sebagai pemanfaatan berbagai media digital untuk memperkenalkan perpustakaan, koleksi, layanan, program, kegiatan, dan manfaat perpustakaan kepada masyarakat sekolah.

Media yang digunakan dapat berupa:

  • Website.

  • Blog.

  • Instagram.

  • Facebook.

  • YouTube.

  • WhatsApp.

  • Video pendek.

  • Email sekolah.

  • Mesin pencari.

  • Formulir digital.

Tujuan akhirnya bukan sekadar mendapatkan banyak pengikut.

Tujuannya adalah membuat informasi perpustakaan lebih mudah ditemukan dan membantu pengguna memanfaatkan layanan.

Mengapa Digital Marketing Penting untuk Perpustakaan Sekolah?

Siswa saat ini memperoleh banyak informasi melalui perangkat digital.

Jika perpustakaan hanya mengandalkan papan pengumuman, informasi mungkin tidak menjangkau seluruh siswa.

Media digital memberikan kesempatan untuk menyampaikan informasi lebih cepat dan dalam berbagai bentuk.

Penelitian tentang promosi perpustakaan sekolah melalui media sosial di SMA Negeri 2 Metro menunjukkan bahwa media sosial dapat membantu mengenalkan perpustakaan, koleksi, dan layanan kepada siswa.

Sementara penelitian Al As'hal dan Nadhila (2026) memperlihatkan bagaimana Instagram digunakan dalam promosi digital dan library school branding di lingkungan madrasah.

Namun, digital marketing tidak berarti semua platform harus digunakan sekaligus.

Justru perpustakaan perlu memilih media yang mampu dikelola secara konsisten.

Mulai dari Menentukan Tujuan

Sebelum membuat akun atau membuat konten, tentukan tujuan.

Contohnya:

Tujuan 1: meningkatkan kunjungan perpustakaan.

Tujuan 2: memperkenalkan koleksi baru.

Tujuan 3: meningkatkan peminjaman.

Tujuan 4: memperkenalkan layanan digital.

Tujuan 5: meningkatkan partisipasi kegiatan literasi.

Tujuan berbeda membutuhkan strategi berbeda.

Jika tujuan utama adalah memperkenalkan koleksi baru, konten foto buku dan video rekomendasi dapat menjadi prioritas.

Jika tujuan adalah meningkatkan kunjungan, konten perlu memberikan alasan yang jelas untuk datang ke perpustakaan.

1. Manfaatkan Blog Perpustakaan

Blog dapat menjadi pusat informasi digital perpustakaan.

Artikel yang dibuat dapat membahas:

  • Rekomendasi buku.

  • Koleksi baru.

  • Kegiatan literasi.

  • Cara menggunakan perpustakaan.

  • Panduan mencari informasi.

  • Literasi digital.

  • Teknologi perpustakaan.

  • Profil perpustakaan.

  • Prestasi siswa.

  • Kegiatan membaca.

Blog memiliki kelebihan karena informasi dapat ditemukan kembali melalui mesin pencari.

Google menjelaskan bahwa SEO bertujuan membantu mesin pencari memahami konten sekaligus membantu pengguna menemukan halaman yang relevan.

Karena itu, artikel perpustakaan sebaiknya ditulis dengan bahasa yang jelas dan struktur yang mudah dibaca.

2. Gunakan SEO Secara Natural

SEO tidak berarti memasukkan kata kunci sebanyak mungkin.

Justru artikel harus ditulis untuk pembaca.

Misalnya, jika artikel membahas:

Promosi Perpustakaan Sekolah melalui Instagram

kata kunci tersebut dapat digunakan secara natural dalam:

  • Judul.

  • Paragraf pembuka.

  • Heading.

  • Deskripsi.

  • URL jika memungkinkan.

  • Alt text gambar.

Namun jangan mengulang:

promosi perpustakaan sekolah, promosi perpustakaan sekolah, promosi perpustakaan sekolah...

secara berlebihan.

Google menekankan pentingnya konten yang bermanfaat, unik, mudah dibaca, dan dibuat dengan mengutamakan pengguna.

3. Hubungkan Artikel Satu dengan Artikel Lain

Ini sangat penting untuk blog perpustakaan.

Misalnya artikel:

Promosi Perpustakaan Sekolah melalui Instagram

dapat mengarah ke:

Program Promosi Perpustakaan Sekolah yang Kreatif

Kemudian artikel tersebut dapat mengarah ke:

Promosi Koleksi Buku Baru

Dengan demikian, pembaca dapat menjelajahi beberapa artikel yang masih berkaitan.

Strategi ini juga membantu Google memahami hubungan antarhalaman.

Gunakan teks tautan yang jelas.

Contoh:

Baca juga: Cara Membuat Poster Promosi Perpustakaan Sekolah

lebih informatif daripada:

Klik di sini.

4. Gunakan Instagram sebagai Etalase

Jika blog adalah pusat informasi, Instagram dapat menjadi etalase.

Gunakan Instagram untuk memperkenalkan artikel baru.

Contoh:

Punya ide membuat promosi perpustakaan lebih menarik?
Kami membahas 7 program promosi yang dapat diterapkan di sekolah.
Baca selengkapnya di blog perpustakaan.

Dengan demikian, media sosial mengarahkan pembaca menuju artikel yang lebih lengkap.

5. Gunakan Video Pendek

Tidak semua informasi harus dibuat dalam bentuk artikel.

Buat video:

3 Cara Menemukan Buku di Perpustakaan

atau:

5 Buku Baru Minggu Ini

atau:

Apa yang Bisa Kamu Lakukan di Perpustakaan?

Video pendek dapat dipublikasikan melalui media sosial.

Konten video juga dapat menjadi pintu masuk bagi siswa yang lebih menyukai informasi visual.

6. Manfaatkan WhatsApp Secara Bijak

WhatsApp sangat dekat dengan lingkungan sekolah.

Perpustakaan dapat memanfaatkannya untuk:

  • Pengumuman kegiatan.

  • Pengingat pengembalian buku.

  • Informasi buku baru.

  • Undangan kegiatan.

  • Berbagi tautan artikel.

Namun hindari mengirim terlalu banyak pesan.

Gunakan informasi yang benar-benar bermanfaat.

Jika menggunakan grup kelas atau nomor pribadi siswa, ikuti aturan sekolah dan perlindungan privasi yang berlaku.

7. Bangun Identitas Digital Perpustakaan

Perpustakaan sekolah perlu memiliki identitas yang konsisten.

Misalnya:

Nama: Perpustakaan SMA X

Tagline: Membaca, Belajar, Berkembang

Gunakan identitas yang sama pada:

  • Blog.

  • Instagram.

  • Poster.

  • Banner.

  • Video.

Identitas yang konsisten membantu siswa mengenali kanal resmi perpustakaan.

8. Buat Konten dengan Empat Pilar

Agar tidak kehabisan ide, gunakan empat kelompok konten.

Edukasi

Contoh:

Cara mencari sumber informasi yang kredibel.

Koleksi

Contoh:

5 buku baru minggu ini.

Aktivitas

Contoh:

Kegiatan bedah buku.

Interaksi

Contoh:

Buku apa yang ingin kalian baca?

Empat pilar ini dapat menjadi dasar kalender konten.

9. Libatkan Guru

Digital marketing perpustakaan tidak harus dilakukan oleh pustakawan sendirian.

Guru dapat dilibatkan.

Misalnya:

Rekomendasi Buku dari Guru Bahasa Indonesia

atau:

Buku Pilihan Guru IPA

Konten seperti ini dapat membuat promosi lebih beragam.

Guru juga dapat membantu menghubungkan buku dengan pembelajaran.

10. Libatkan Siswa

Siswa dapat menjadi bagian dari strategi digital.

Contohnya:

Student Book Review

Siswa membuat video singkat:

"Saya merekomendasikan buku ini karena..."

Atau:

Pembaca Bulan Ini

Tampilkan siswa yang aktif membaca.

Dengan persetujuan dan mengikuti kebijakan sekolah terkait publikasi peserta didik, konten seperti ini dapat membuat perpustakaan terasa lebih dekat dengan komunitas sekolah.

11. Ukur Hasil Digital Marketing

Jangan hanya melihat jumlah pengikut.

Gunakan beberapa indikator.

Website/Blog

  • Jumlah pengunjung.

  • Artikel yang paling banyak dibaca.

  • Kata kunci yang mendatangkan pembaca.

  • Lama kunjungan jika tersedia.

  • Halaman yang paling sering dikunjungi.

Instagram

  • Jangkauan.

  • Tayangan.

  • Interaksi.

  • Bagikan.

  • Simpan.

  • Kunjungan profil.

Perpustakaan

Yang paling penting adalah apakah aktivitas digital memiliki hubungan dengan penggunaan perpustakaan.

Perhatikan:

  • Jumlah kunjungan.

  • Jumlah peminjaman.

  • Peserta kegiatan.

  • Permintaan koleksi.

  • Pertanyaan siswa.

Data tersebut tidak harus sempurna.

Catatan sederhana sudah dapat membantu evaluasi.

12. Jangan Mengejar Viral

Salah satu kesalahan dalam digital marketing adalah mengejar jumlah tayangan semata.

Sebuah video mungkin mendapatkan ribuan tayangan tetapi tidak membuat siswa mengetahui layanan perpustakaan.

Sebaliknya, sebuah postingan dengan jumlah tayangan lebih kecil mungkin membuat siswa datang dan meminjam buku.

Untuk perpustakaan sekolah, kualitas interaksi lebih penting daripada sekadar angka.

13. Buat Kalender Digital Marketing

Contoh kalender sederhana:

Senin: artikel blog.

Selasa: Instagram Story.

Rabu: rekomendasi buku.

Kamis: video pendek.

Jumat: kegiatan atau interaksi siswa.

Tidak harus dilakukan setiap hari.

Sesuaikan dengan kemampuan pengelola.

Konsistensi lebih penting daripada membuat terlalu banyak konten kemudian berhenti.

14. Hubungkan Digital dan Offline

Digital marketing tidak boleh membuat perpustakaan hanya sibuk di internet.

Tujuan akhirnya tetap layanan perpustakaan.

Contoh:

Konten digital:

"Ada 10 buku baru minggu ini."

Aktivitas offline:

Buku dipajang di rak khusus.

Hasil yang diharapkan:

Siswa datang dan meminjam.

Dengan demikian, digital marketing menjadi jembatan antara informasi digital dan aktivitas nyata di perpustakaan.

Kesimpulan

Digital marketing untuk perpustakaan sekolah bukan tentang menjadikan perpustakaan seperti perusahaan komersial.

Digital marketing adalah cara memanfaatkan teknologi untuk membuat perpustakaan lebih mudah dikenal, ditemukan, dan digunakan oleh siswa serta komunitas sekolah.

Strateginya dapat dimulai dari blog, SEO, Instagram, video, WhatsApp, dan kolaborasi dengan guru serta siswa.

Tidak perlu menggunakan semua platform sekaligus.

Pilih media yang paling sesuai dengan kondisi sekolah.

Kemudian buat konten secara konsisten, ukur responsnya, dan perbaiki berdasarkan data.

Yang paling penting, jangan sampai digital marketing hanya menghasilkan angka.

Tujuan akhirnya adalah:

lebih banyak siswa mengetahui perpustakaan, lebih banyak siswa memanfaatkan koleksi, lebih banyak siswa mengikuti kegiatan, dan semakin kuat hubungan perpustakaan dengan komunitas sekolah.




Daftar Referensi

Google Search Central. (2025). Panduan Memulai Search Engine Optimization: Dasar-Dasar. Google for Developers. https://developers.google.com/search/docs/fundamentals/seo-starter-guide?hl=id

IFLA School Libraries Section Standing Committee. (2015). IFLA school library guidelines (2nd rev. ed.). International Federation of Library Associations and Institutions.

Al As'hal, A. ‘A., & Nadhila, D. I. (2026). Promosi digital melalui media sosial Instagram: Sarana peningkatan library school branding MTsN 8 Kediri. Media Pustakawan, 33(1), 70–84. https://doi.org/10.37014/medpus.v33i1.5280

Promosi Koleksi Buku Baru di Perpustakaan Sekolah: 10 Cara Agar Siswa Tertarik Membaca


Buku Baru Tidak Otomatis Dibaca

Perpustakaan sekolah tentu merasa senang ketika mendapatkan koleksi baru.

Buku-buku datang, dicatat, diolah, diberi label, kemudian ditempatkan di rak.

Namun ada satu pertanyaan penting:

Apakah siswa mengetahui bahwa buku tersebut sudah tersedia?

Inilah alasan promosi koleksi buku baru penting.

Koleksi yang bagus tidak akan dimanfaatkan secara maksimal jika pengguna tidak mengetahui keberadaannya.

Promosi koleksi bukan berarti memaksa siswa membaca buku tertentu. Tujuannya adalah membantu siswa menemukan bahan bacaan yang mungkin sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka.

Dalam pengelolaan perpustakaan sekolah, kegiatan promosi juga dapat menjadi bagian dari komunikasi antara perpustakaan dan pengguna.

1. Buat Rak Khusus Buku Baru

Cara paling sederhana adalah membuat:

RAK BUKU BARU

Letakkan rak di tempat yang mudah dilihat.

Jangan menyembunyikan koleksi baru di antara seluruh koleksi lama.

Gunakan papan kecil:

BARU DATANG!

atau:

SUDAH KAMU LIHAT?

Rak khusus membuat koleksi baru terlihat berbeda.

2. Tampilkan Sampul Buku

Sampul buku memiliki peran penting dalam menarik perhatian.

Jangan selalu menampilkan punggung buku.

Jika memungkinkan, tampilkan bagian depan buku pada display.

Buat susunan yang rapi.

Buku yang menarik secara visual dapat membuat siswa berhenti dan melihat lebih dekat.

3. Buat "Buku Pilihan Pustakawan"

Pustakawan dapat memilih beberapa buku.

Misalnya:

5 Buku Pilihan Pustakawan Bulan Ini

Setiap buku diberikan keterangan singkat:

Judul: ...
Tema: ...
Cocok untuk: ...
Mengapa direkomendasikan: ...

Rekomendasi pribadi pustakawan dapat membantu siswa yang bingung memilih buku.

4. Buat "Kalau Kamu Suka..."

Tidak semua siswa mengetahui judul buku yang mereka cari.

Mereka mungkin hanya tahu topiknya.

Misalnya:

"Saya suka buku tentang luar angkasa."

Pustakawan dapat membuat kategori:

Kalau kamu suka astronomi → lihat rak ini.

Kalau kamu suka sejarah → coba koleksi ini.

Kalau kamu suka cerita petualangan → mulai dari sini.

Cara ini mempermudah proses penemuan koleksi.

5. Promosikan Buku Baru di Instagram

Buat satu unggahan untuk koleksi baru.

Tetapi jangan hanya menampilkan foto tumpukan buku.

Gunakan format:

5 Buku Baru yang Wajib Kamu Lihat Minggu Ini

Kemudian tampilkan satu per satu.

Tambahkan:

  • Sampul.

  • Judul.

  • Tema.

  • Kalimat pengantar.

  • Lokasi buku.

  • Ajakan berkunjung.

Penelitian Perpusnas mengenai promosi perpustakaan sekolah melalui media sosial menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan koleksi dan meningkatkan pemanfaatan perpustakaan.

6. Buat Video "Unboxing Buku"

Ketika buku baru datang, rekam proses membuka paket.

Video sederhana:

"Buku baru datang! Yuk lihat apa saja yang ada di dalam paket."

Tampilkan beberapa judul.

Video seperti ini dapat menjadi konten Reels atau Story.

Tidak perlu terlalu formal.

Justru suasana spontan dapat membuat konten terasa lebih dekat.

7. Libatkan Siswa dalam Memilih Koleksi

Promosi koleksi tidak hanya dilakukan setelah buku datang.

Siswa juga dapat dilibatkan sebelum pengadaan.

Misalnya membuat survei:

Buku apa yang ingin kalian lihat di perpustakaan?

Pilihan:

  • Novel.

  • Sains.

  • Teknologi.

  • Sejarah.

  • Biografi.

  • Komik edukasi.

  • Keterampilan.

Hasil survei dapat menjadi salah satu masukan bagi perpustakaan.

Ketika buku yang diusulkan siswa akhirnya tersedia, buat promosi:

Kalian yang minta, sekarang bukunya sudah datang!

Cara ini dapat menciptakan hubungan yang lebih kuat antara siswa dan koleksi.

8. Buat Display Tematik

Tidak semua buku baru harus dipromosikan satu per satu.

Kelompokkan berdasarkan tema.

Misalnya:

Bulan Teknologi

  • Artificial Intelligence.

  • Komputer.

  • Robotika.

  • Pemrograman.

  • Internet.

Bulan Sejarah

  • Sejarah Indonesia.

  • Tokoh nasional.

  • Peristiwa penting.

  • Budaya.

Bulan Literasi

  • Novel.

  • Cerpen.

  • Puisi.

  • Buku menulis.

Display tematik membuat rak lebih mudah dipahami.

9. Gunakan Kutipan Pendek dari Buku

Jika sesuai dengan hak cipta dan tujuan penggunaannya, perpustakaan dapat menggunakan kutipan singkat yang relevan untuk memperkenalkan buku.

Namun, jangan menyalin isi buku secara panjang.

Alternatif lain adalah membuat kalimat pengantar sendiri.

Contohnya:

"Buku ini cocok untuk kamu yang ingin mengenal dunia astronomi dari dasar."

Pesan tersebut berasal dari pustakawan, bukan menyalin isi buku.

10. Buat Program "Bawa Pulang Buku Baru"

Perpustakaan dapat membuat kampanye:

Buku Baru Menunggu untuk Dibaca

Sediakan display yang memudahkan siswa mengambil buku.

Tambahkan ajakan:

Pilih satu. Baca. Ceritakan kembali.

Jika sistem peminjaman memungkinkan, siswa dapat langsung meminjam buku tersebut.

Jangan Menganggap Buku Baru Harus Selalu Buku yang Paling Populer

Koleksi baru memiliki fungsi yang beragam.

Ada buku untuk pembelajaran.

Ada buku referensi.

Ada buku pengembangan diri.

Ada buku fiksi.

Ada buku untuk guru.

Ada buku yang mendukung kegiatan proyek.

Promosi sebaiknya tidak hanya menggunakan istilah "buku paling bagus".

Lebih baik menjelaskan untuk siapa buku tersebut dan apa manfaatnya.

Gunakan Data Peminjaman

Setelah melakukan promosi, perhatikan data.

Misalnya:

KoleksiSebelum PromosiSetelah Promosi
Novel8 peminjaman19
Sains411
Sejarah37

Data tersebut dapat membantu pustakawan mengetahui jenis promosi yang memiliki respons baik.

Data juga dapat digunakan untuk pengembangan koleksi berikutnya.

Hindari Promosi yang Berlebihan

Jika setiap hari siswa melihat poster:

AYO BACA!

pesan tersebut lama-lama dapat terasa biasa.

Buat variasi.

Hari ini:

Buku Baru

Besok:

Rekomendasi Pustakawan

Minggu depan:

Buku Pilihan Siswa

Kemudian:

Kalau Kamu Suka Teknologi...

Variasi membuat komunikasi tidak terasa monoton.

Kesimpulan

Promosi koleksi buku baru merupakan bagian penting dari layanan perpustakaan sekolah.

Buku baru tidak cukup hanya diletakkan di rak.

Siswa perlu dibantu untuk mengetahui keberadaan buku, memahami isi atau temanya, dan menemukan alasan mengapa buku tersebut mungkin menarik bagi mereka.

Strateginya dapat dimulai dari rak buku baru, display tematik, rekomendasi pustakawan, media sosial, video pendek, survei siswa, hingga pemanfaatan data peminjaman.

Yang paling penting adalah membuat promosi berorientasi pada pengguna.

Tanyakan bukan hanya:

"Buku apa yang baru?"

Tetapi juga:

"Mengapa buku ini relevan bagi siswa?"

Ketika promosi menjawab kebutuhan tersebut, koleksi perpustakaan memiliki peluang lebih besar untuk ditemukan dan dimanfaatkan.




Daftar Referensi

IFLA School Libraries Section Standing Committee. (2015). IFLA school library guidelines (2nd rev. ed.). International Federation of Library Associations and Institutions.

Sukarno, L. G. (2017). Promosi perpustakaan melalui media sosial di Perpustakaan SMA Negeri 2 Metro. Media Pustakawan, 24(4), 56–61. https://doi.org/10.37014/medpus.v24i4.526

Al As'hal, A. ‘A., & Nadhila, D. I. (2026). Promosi digital melalui media sosial Instagram: Sarana peningkatan library school branding MTsN 8 Kediri. Media Pustakawan, 33(1), 70–84. https://doi.org/10.37014/medpus.v33i1.5280

7 Program Promosi Perpustakaan Sekolah yang Kreatif dan Mudah Dilaksanakan

 


Mengapa Perpustakaan Sekolah Membutuhkan Program Promosi?

Perpustakaan sekolah dapat memiliki koleksi yang lengkap, ruang yang nyaman, dan pustakawan yang aktif. Namun, semua fasilitas tersebut tidak akan memberikan manfaat maksimal jika siswa tidak mengetahui atau tidak tertarik menggunakannya.

Karena itu, promosi perpustakaan perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Promosi tidak harus selalu berupa iklan.

Dalam konteks perpustakaan sekolah, promosi dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang membuat siswa berinteraksi langsung dengan koleksi, layanan, pustakawan, dan ruang perpustakaan.

IFLA menekankan pentingnya perpustakaan sekolah memiliki program dan layanan yang mendukung kebutuhan siswa dan komunitas sekolah. Komunikasi dan promosi menjadi bagian dari upaya memperkuat keberadaan perpustakaan di sekolah.

Dengan pendekatan tersebut, promosi bukan sekadar "mengajak siswa datang", tetapi memberikan alasan yang jelas mengapa siswa perlu datang.

Berikut tujuh program yang dapat diterapkan.

1. Program "Buku Pilihan Siswa"

Program ini memberi kesempatan kepada siswa memilih buku yang mereka sukai.

Caranya sederhana.

Setiap bulan, perpustakaan menampilkan beberapa buku pilihan.

Siswa memberikan suara.

Buku dengan jumlah suara terbanyak menjadi:

Buku Pilihan Siswa Bulan Ini

Buku tersebut dapat ditempatkan di rak khusus.

Kemudian perpustakaan dapat membuat poster:

Buku Pilihan Siswa – September

Program ini memiliki dua manfaat.

Pertama, siswa merasa memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat.

Kedua, pustakawan memperoleh informasi mengenai minat pengguna.

Hasil pilihan siswa juga dapat menjadi bahan evaluasi pengembangan koleksi.

2. Tantangan Membaca

Buat kegiatan membaca yang memiliki target sederhana.

Misalnya:

Tantangan Membaca 15 Menit

Siswa membaca selama 15 menit setiap hari.

Tidak perlu langsung membuat target membaca puluhan buku.

Fokus awalnya adalah membangun kebiasaan.

Perpustakaan dapat menyediakan kartu tantangan.

Setiap kali siswa menyelesaikan kegiatan membaca, mereka mencatat:

  • Tanggal.

  • Judul buku.

  • Jumlah halaman.

  • Satu hal menarik yang mereka pelajari.

Pada akhir bulan, siswa yang aktif dapat memperoleh apresiasi.

Penghargaan tidak harus berupa hadiah mahal.

Bisa berupa:

  • Sertifikat.

  • Piagam.

  • Bookmark.

  • Kesempatan memilih buku display.

  • Profil pembaca di media sosial perpustakaan.

3. Pekan Perpustakaan

Perpustakaan dapat mengadakan Pekan Perpustakaan satu kali dalam satu semester atau setahun.

Tidak perlu membuat acara yang terlalu besar.

Kegiatan dapat dibagi menjadi beberapa hari.

Hari pertama: Pameran buku.

Hari kedua: Kuis literasi.

Hari ketiga: Bedah buku.

Hari keempat: Lomba resensi.

Hari kelima: Penghargaan pembaca aktif.

Kegiatan tersebut dapat disesuaikan dengan kalender sekolah.

Pekan perpustakaan juga dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan layanan yang belum banyak diketahui siswa.

4. Duta Perpustakaan

Siswa dapat dilibatkan sebagai duta perpustakaan.

Duta perpustakaan bukan berarti siswa menggantikan pekerjaan pustakawan.

Perannya adalah membantu komunikasi dan promosi.

Misalnya:

  • Mengajak teman mengikuti kegiatan.

  • Membantu membuat konten.

  • Memberikan rekomendasi buku.

  • Menjadi moderator kegiatan.

  • Membantu mengenalkan ruang perpustakaan kepada siswa baru.

Program ini dapat menciptakan hubungan yang lebih dekat antara perpustakaan dan siswa.

Penelitian terbaru mengenai kampanye duta perpustakaan di Indonesia juga menunjukkan bahwa karakter seperti kemampuan berkomunikasi, konektivitas, kepemimpinan, kompetensi, dan kemampuan persuasi menjadi aspek yang diteliti dalam efektivitas peran duta perpustakaan.

5. Mystery Book

Ini adalah program promosi yang dapat membuat siswa penasaran.

Bungkus beberapa buku dengan kertas.

Jangan tampilkan sampulnya.

Tuliskan beberapa petunjuk.

Contoh:

MYSTERY BOOK #01
Cocok untuk kamu yang suka petualangan.
Tokoh utamanya harus menghadapi perjalanan yang tidak terduga.
Berani memilih?

Siswa memilih berdasarkan petunjuk.

Setelah membaca, siswa dapat memberikan ulasan singkat.

Program ini menarik karena mengubah kegiatan memilih buku menjadi pengalaman.

6. Rak "Kalau Kamu Suka..."

Program ini menggunakan rekomendasi berbasis minat.

Misalnya:

Kalau kamu suka cerita petualangan, coba buku ini.

atau:

Kalau kamu suka teknologi, coba koleksi ini.

atau:

Kalau kamu suka sejarah, mulai dari rak ini.

Konsep ini membantu siswa yang belum tahu harus mulai mencari buku dari mana.

Perpustakaan tidak hanya menyediakan koleksi, tetapi membantu pengguna menemukan koleksi yang sesuai.

7. Hari Bebas Tugas: Baca dan Santai

Buat satu waktu khusus ketika siswa dapat datang ke perpustakaan tanpa kewajiban mengerjakan tugas.

Misalnya:

Jumat Membaca

Siswa dapat memilih buku dan membaca dalam suasana santai.

Jika ruang memungkinkan, perpustakaan dapat menyediakan:

  • Musik dengan volume rendah.

  • Bantal baca.

  • Kursi santai.

  • Display buku.

  • Rekomendasi bacaan.

Tujuan kegiatan ini adalah membangun persepsi bahwa perpustakaan bukan hanya tempat mengerjakan tugas.

Perpustakaan juga dapat menjadi ruang untuk menikmati bacaan.

Gabungkan Program Offline dan Digital

Promosi program akan lebih kuat jika kegiatan di perpustakaan dipublikasikan melalui media digital.

Contohnya:

Sebelum kegiatan:

"Tiga hari lagi Pekan Perpustakaan!"

Saat kegiatan:

Video pendek suasana kegiatan.

Setelah kegiatan:

Foto dan cerita hasil kegiatan.

Dengan demikian, satu kegiatan dapat menghasilkan rangkaian komunikasi.

Buat Program yang Sesuai Kemampuan

Tidak semua sekolah memiliki anggaran besar.

Jangan membuat program yang terlalu rumit.

Program sederhana dapat dimulai dari:

  • Display buku.

  • Kartu membaca.

  • Papan rekomendasi.

  • Kuis.

  • Poster.

  • Media sosial.

  • Pemilihan buku favorit.

Yang penting adalah konsistensi.

Program yang sederhana tetapi berjalan setiap bulan dapat lebih mudah dikelola dibandingkan program besar yang hanya dilakukan sekali.

Tentukan Indikator Keberhasilan

Setiap program sebaiknya memiliki indikator.

Misalnya:

Tantangan membaca:

  • Jumlah peserta.

  • Jumlah buku dibaca.

  • Jumlah peserta yang menyelesaikan tantangan.

Pekan perpustakaan:

  • Jumlah peserta.

  • Jumlah kunjungan.

  • Jumlah peminjaman.

Duta perpustakaan:

  • Jumlah konten yang dibuat.

  • Kegiatan yang dibantu.

  • Respons siswa.

Data tidak harus rumit.

Catatan sederhana sudah cukup.

Promosi Harus Berkelanjutan

Salah satu masalah dalam promosi perpustakaan adalah kegiatan dilakukan hanya ketika ada acara.

Setelah acara selesai, promosi berhenti.

Lebih baik membuat kalender tahunan.

Contoh:

Januari: Program Buku Pilihan.

Februari: Tantangan Membaca.

Maret: Kuis Literasi.

April: Pekan Buku.

Mei: Duta Perpustakaan.

Juni: Evaluasi dan apresiasi.

Program kemudian diulang dan dikembangkan.

Kesimpulan

Program promosi perpustakaan sekolah tidak harus mahal atau rumit.

Yang dibutuhkan adalah kreativitas, konsistensi, dan pemahaman terhadap kebutuhan siswa.

Buku Pilihan Siswa, Tantangan Membaca, Pekan Perpustakaan, Duta Perpustakaan, Mystery Book, rak rekomendasi, dan kegiatan membaca santai merupakan contoh yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.

Promosi yang baik bukan hanya membuat perpustakaan terlihat aktif.

Lebih dari itu, promosi harus membantu siswa menemukan alasan untuk menggunakan perpustakaan.

Ketika siswa merasa dilibatkan, menemukan buku yang sesuai, menikmati kegiatan, dan mendapatkan pengalaman positif, perpustakaan dapat menjadi bagian yang lebih dekat dengan kehidupan sekolah.



Daftar Referensi

Ali, I., Sikumbang, N., Firstia, R. L., Zahra, S. F., Ilafi, F., Husna, A., Putra, A. S., Dharmawan, H., Kurniadi, A., Gumilar, R. A., et al. (2026). Data-driven analysis of library-ambassador success factors in library campaigns in Indonesia. IFLA Journal. https://doi.org/10.1177/03400352261424426

IFLA School Libraries Section Standing Committee. (2015). IFLA school library guidelines (2nd rev. ed.). International Federation of Library Associations and Institutions.

Sukarno, L. G. (2017). Promosi perpustakaan melalui media sosial di Perpustakaan SMA Negeri 2 Metro. Media Pustakawan, 24(4), 56–61. https://doi.org/10.37014/medpus.v24i4.526

Back To Top