Agar perpustakaan sekolah dapat berjalan dengan baik, seorang pustakawan tidak cukup hanya memiliki kemampuan melayani pemustaka. Pustakawan juga perlu menguasai berbagai keahlian teknis perpustakaan yang berkaitan langsung dengan pekerjaan sehari-hari.
Keahlian teknis tersebut mencakup kemampuan mengelola koleksi, melakukan pengolahan bahan pustaka, menyusun layanan sirkulasi, melakukan penelusuran informasi, mengelola administrasi, menggunakan teknologi perpustakaan, hingga membuat laporan kegiatan.
Bagi pustakawan sekolah, kemampuan teknis menjadi semakin penting karena kondisi perpustakaan sekolah sangat beragam. Ada perpustakaan yang sudah menggunakan sistem otomasi, tetapi masih banyak pula yang menggabungkan sistem digital dengan pencatatan sederhana secara manual.
Lalu, kemampuan teknis apa saja yang sebaiknya dimiliki pustakawan sekolah?
Apa yang Dimaksud dengan Keahlian Teknis Pustakawan?
Keahlian teknis pustakawan adalah kemampuan praktis yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan pekerjaan di perpustakaan.
Jika kemampuan komunikasi berkaitan dengan bagaimana pustakawan berinteraksi dengan siswa dan guru, maka kemampuan teknis lebih berhubungan dengan bagaimana pekerjaan perpustakaan dilakukan dengan benar dan sistematis.
Contohnya adalah ketika sebuah buku baru diterima perpustakaan. Pustakawan perlu mengetahui bagaimana mencatat buku tersebut, menentukan identitas koleksi, memberikan nomor klasifikasi, membuat kelengkapan buku, memasukkannya ke dalam katalog atau sistem informasi, kemudian menempatkannya di rak yang sesuai.
Demikian pula ketika siswa meminjam buku. Pustakawan harus mengetahui prosedur pendaftaran anggota, peminjaman, pengembalian, pencatatan transaksi, serta penanganan buku yang terlambat atau rusak.
Artinya, keahlian teknis merupakan bagian penting dari profesionalisme pustakawan.
Mengapa Keahlian Teknis Penting bagi Pustakawan Sekolah?
Perpustakaan sekolah memiliki karakteristik yang berbeda dengan perpustakaan umum maupun perpustakaan perguruan tinggi.
Pemustaka utamanya adalah siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Koleksi juga harus mendukung kebutuhan pembelajaran serta perkembangan minat baca siswa.
Karena itu, pustakawan sekolah perlu memiliki kemampuan teknis yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan pendidikan.
Keahlian teknis yang baik akan membantu pustakawan:
menata koleksi agar mudah ditemukan;
mempercepat pelayanan peminjaman dan pengembalian;
mengetahui kondisi koleksi;
menyediakan informasi yang dibutuhkan siswa dan guru;
menjaga koleksi agar tetap terawat;
menyusun administrasi perpustakaan;
membuat laporan kegiatan secara teratur;
mengembangkan layanan perpustakaan;
memanfaatkan teknologi secara tepat; dan
mendukung kegiatan literasi di sekolah.
Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah yang ditetapkan melalui Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2024 mencakup aspek koleksi, sarana dan prasarana, pelayanan, tenaga, penyelenggaraan, serta pengelolaan perpustakaan. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan perpustakaan sekolah membutuhkan kemampuan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga teknis.
10 Keahlian Teknis yang Perlu Dimiliki Pustakawan Sekolah
1. Mampu Melakukan Seleksi dan Pengadaan Koleksi
Pekerjaan teknis perpustakaan sebenarnya sudah dimulai sebelum buku masuk ke rak.
Pustakawan perlu memahami dasar-dasar pemilihan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan sekolah.
Buku yang dibeli atau diterima tidak seharusnya hanya berdasarkan jumlah atau harga. Pustakawan perlu mempertimbangkan kesesuaian dengan kurikulum, usia siswa, tingkat perkembangan peserta didik, kebutuhan guru, minat baca, kualitas isi, kemutakhiran informasi, serta kondisi koleksi yang sudah dimiliki.
Pustakawan juga perlu mampu mengidentifikasi koleksi yang perlu ditambah.
Misalnya, jika koleksi bacaan untuk kelas rendah masih sedikit, pengadaan dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Begitu juga jika koleksi pengetahuan umum, ensiklopedia, atlas, kamus, atau buku cerita masih terbatas.
Kemampuan melakukan seleksi koleksi membuat pengadaan buku menjadi lebih terarah.
2. Menguasai Inventarisasi Bahan Pustaka
Setelah koleksi diterima, buku perlu dicatat sebagai bagian dari inventarisasi perpustakaan.
Inventarisasi bertujuan agar perpustakaan memiliki data mengenai koleksi yang dimiliki.
Pustakawan perlu memahami informasi penting yang dicatat, seperti nomor inventaris, tanggal penerimaan, sumber perolehan, judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit, dan informasi lain yang diperlukan sesuai sistem administrasi perpustakaan.
Sumber koleksi juga perlu dicatat dengan jelas.
Buku dapat berasal dari pembelian, bantuan, hibah, sumbangan, maupun sumber lainnya. Pencatatan yang baik akan memudahkan perpustakaan mengetahui asal-usul koleksi.
Inventarisasi juga akan membantu ketika perpustakaan melakukan stock opname atau evaluasi kondisi koleksi.
3. Mampu Melakukan Klasifikasi Koleksi
Klasifikasi merupakan salah satu keahlian teknis yang penting dalam pengelolaan perpustakaan.
Melalui klasifikasi, koleksi dapat dikelompokkan berdasarkan subjek atau bidang ilmu tertentu sehingga penempatannya di rak menjadi lebih teratur.
Salah satu sistem klasifikasi yang banyak dikenal dalam perpustakaan adalah Dewey Decimal Classification (DDC).
Pustakawan sekolah sebaiknya memahami prinsip dasar klasifikasi sehingga dapat menentukan nomor klasifikasi yang sesuai dengan isi buku.
Misalnya, buku yang membahas matematika tidak seharusnya ditempatkan secara acak hanya berdasarkan ukuran atau warna sampul.
Dengan pengelompokan berdasarkan subjek, siswa akan lebih mudah menemukan buku yang berkaitan dengan bidang yang sedang dipelajarinya.
Namun, pustakawan juga perlu menyesuaikan penerapan klasifikasi dengan kondisi perpustakaan sekolah. Sistem yang digunakan harus mudah dipahami dan dapat diterapkan secara konsisten.
4. Mampu Membuat Katalog atau Data Bibliografis
Buku yang tersusun rapi belum tentu mudah ditemukan apabila perpustakaan tidak memiliki data bibliografis yang baik.
Pustakawan perlu memahami informasi dasar mengenai sebuah koleksi, seperti judul, pengarang, penerbit, tahun terbit, ISBN jika tersedia, jumlah halaman, dan informasi fisik lainnya.
Data tersebut dapat digunakan untuk membuat katalog atau dimasukkan ke dalam sistem otomasi perpustakaan.
Dalam perpustakaan yang sudah menggunakan aplikasi, data koleksi dapat dicari melalui katalog daring atau OPAC.
Kemampuan membuat dan mengelola data bibliografis membantu pustakawan menyediakan informasi koleksi secara lebih sistematis.
Bagi perpustakaan sekolah yang masih sederhana, katalog tidak harus selalu menggunakan sistem yang rumit. Yang terpenting adalah data koleksi tersusun dengan baik dan mudah ditelusuri.
5. Mampu Melakukan Pelabelan dan Penyelesaian Fisik Buku
Keahlian teknis pustakawan juga berkaitan dengan pekerjaan fisik pada koleksi.
Buku yang telah diolah perlu diberi kelengkapan tertentu agar mudah dikelola dan ditempatkan di rak.
Pustakawan dapat melakukan pelabelan, misalnya label nomor panggil, barcode apabila menggunakan sistem barcode, serta identitas perpustakaan sesuai kebutuhan.
Buku juga perlu dilengkapi perlindungan fisik agar lebih tahan terhadap penggunaan berulang.
Pekerjaan sederhana seperti melapisi buku, memperbaiki bagian yang rusak, membersihkan koleksi, dan menata buku berdasarkan nomor panggil merupakan bagian penting dalam pemeliharaan koleksi.
Walaupun terlihat sederhana, pekerjaan tersebut berpengaruh terhadap usia dan kondisi koleksi.
6. Menguasai Layanan Sirkulasi
Layanan sirkulasi merupakan salah satu layanan yang paling sering berhubungan langsung dengan siswa.
Pustakawan perlu menguasai prosedur:
pendaftaran anggota;
peminjaman buku;
pengembalian buku;
perpanjangan peminjaman;
pencatatan keterlambatan;
penanganan buku hilang;
penanganan buku rusak; dan
pembuatan statistik sirkulasi.
Sistem sirkulasi dapat dilakukan secara manual maupun menggunakan aplikasi.
Pada sistem manual, pustakawan dapat menggunakan kartu anggota, buku peminjaman, atau formulir tertentu.
Sementara itu, perpustakaan yang sudah menggunakan sistem otomasi dapat memanfaatkan barcode atau sistem identifikasi lainnya untuk mempercepat transaksi.
Apa pun sistem yang digunakan, prosedurnya harus jelas dan konsisten.
7. Mampu Melakukan Penelusuran Informasi
Pustakawan sekolah bukan hanya orang yang menjaga buku. Pustakawan juga perlu mampu membantu siswa dan guru menemukan informasi yang dibutuhkan.
Kemampuan penelusuran informasi menjadi semakin penting karena sumber informasi sekarang sangat banyak.
Pustakawan perlu mengetahui cara mencari informasi melalui katalog perpustakaan, mesin pencari, sumber digital, situs resmi, jurnal, ensiklopedia, dan sumber informasi lainnya.
Yang tidak kalah penting adalah kemampuan mengevaluasi informasi.
Ketika siswa menemukan informasi di internet, pustakawan dapat membantu mereka memeriksa siapa yang menerbitkan informasi tersebut, apakah sumbernya jelas, kapan informasi dibuat, serta apakah informasi tersebut dapat dipercaya.
Dengan demikian, pustakawan sekolah dapat berperan dalam membangun keterampilan literasi informasi siswa.
8. Mampu Melakukan Pemeliharaan dan Penyiangan Koleksi
Koleksi perpustakaan tidak selamanya berada dalam kondisi baik.
Buku dapat rusak, hilang, tidak relevan, atau informasinya sudah terlalu lama.
Karena itu, pustakawan perlu memahami dasar-dasar pemeliharaan koleksi.
Pemeliharaan dapat dilakukan dengan cara menjaga kebersihan ruangan, mengatur sirkulasi udara, melindungi buku dari kelembapan, memperbaiki kerusakan ringan, serta menata buku dengan benar.
Selain pemeliharaan, pustakawan juga perlu memahami penyiangan atau weeding.
Penyiangan merupakan kegiatan mengidentifikasi dan mengeluarkan koleksi tertentu dari jajaran koleksi berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
Koleksi yang sudah rusak berat, tidak relevan, tidak sesuai kebutuhan, atau memiliki kondisi tertentu dapat dievaluasi untuk menentukan apakah masih layak dipertahankan.
Penyiangan bukan berarti mengurangi koleksi secara sembarangan. Justru kegiatan ini bertujuan agar koleksi perpustakaan tetap relevan dan dapat dimanfaatkan secara optimal.
9. Menguasai Administrasi dan Statistik Perpustakaan
Kemampuan administrasi sering kali dianggap sebagai pekerjaan sederhana, padahal sangat penting untuk menunjukkan perkembangan perpustakaan.
Pustakawan sekolah perlu mampu membuat dan menyimpan berbagai dokumen yang berkaitan dengan kegiatan perpustakaan.
Contohnya:
data koleksi;
data anggota;
data kunjungan;
data peminjaman;
data pengembalian;
daftar buku baru;
laporan kegiatan;
statistik layanan;
data koleksi rusak atau hilang; dan
dokumen pengembangan perpustakaan.
Data tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi layanan dan menyusun rencana pengembangan perpustakaan.
Misalnya, apabila data menunjukkan bahwa siswa kelas tertentu paling sering meminjam buku cerita, perpustakaan dapat mempertimbangkan penambahan koleksi bacaan sejenis.
Dengan demikian, statistik perpustakaan bukan sekadar angka untuk laporan, tetapi dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
10. Mampu Menggunakan Teknologi Perpustakaan
Keahlian teknis pustakawan sekolah saat ini juga berkaitan dengan teknologi.
Pustakawan perlu memiliki kemampuan menggunakan perangkat dan aplikasi yang mendukung kegiatan perpustakaan.
Teknologi dapat digunakan untuk:
katalogisasi;
sirkulasi;
pengelolaan anggota;
pencatatan inventaris;
pembuatan laporan;
penyimpanan data;
promosi perpustakaan;
komunikasi dengan pemustaka; dan
penyediaan akses terhadap sumber informasi digital.
Namun, pustakawan tidak harus menguasai semua aplikasi.
Lebih baik menguasai beberapa teknologi yang benar-benar digunakan daripada memiliki banyak aplikasi tetapi tidak mampu memanfaatkannya secara optimal.
Keahlian Teknis yang Sering Terlupakan: Stock Opname
Salah satu pekerjaan teknis yang perlu mendapat perhatian adalah stock opname.
Stock opname dilakukan untuk mencocokkan data koleksi yang tercatat dengan kondisi koleksi yang sebenarnya.
Dalam kegiatan ini, pustakawan dapat memeriksa apakah buku masih tersedia, berada di tempat yang seharusnya, sedang dipinjam, rusak, atau hilang.
Kegiatan tersebut membantu perpustakaan mengetahui kondisi koleksi secara nyata.
Stock opname juga dapat menjadi dasar untuk memperbaiki data koleksi dan menentukan tindakan berikutnya.
Misalnya, jika ditemukan banyak buku yang tidak lagi ada di rak tetapi masih tercatat sebagai koleksi, pustakawan perlu menelusuri penyebabnya.
Pustakawan Sekolah Perlu Menguasai Semuanya?
Tidak.
Pustakawan tidak harus langsung menguasai seluruh keahlian teknis secara sempurna.
Kemampuan dapat dikembangkan secara bertahap berdasarkan kebutuhan perpustakaan.
Pustakawan sekolah yang baru mulai mengelola perpustakaan dapat memprioritaskan kemampuan dasar seperti:
inventarisasi;
klasifikasi;
katalogisasi sederhana;
pelabelan;
layanan sirkulasi;
administrasi;
statistik; dan
pemeliharaan koleksi.
Setelah kemampuan dasar tersebut dikuasai, keterampilan dapat dikembangkan ke arah otomasi, pengelolaan koleksi digital, penelusuran informasi, pembuatan konten, dan layanan berbasis teknologi.
Yang penting adalah setiap keterampilan yang dipelajari benar-benar diterapkan dalam pekerjaan.
Perbedaan Keahlian Teknis dan Kompetensi Digital
Keahlian teknis perpustakaan dan kompetensi digital memang saling berhubungan, tetapi keduanya tidak sama.
Keahlian teknis berkaitan dengan pekerjaan inti perpustakaan, seperti klasifikasi, katalogisasi, inventarisasi, sirkulasi, pemeliharaan koleksi, dan administrasi.
Sementara itu, kompetensi digital berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi untuk mendukung pekerjaan tersebut.
Contohnya, seorang pustakawan harus memahami prinsip klasifikasi. Jika perpustakaan menggunakan aplikasi otomasi, pustakawan kemudian perlu mampu memasukkan data klasifikasi tersebut ke dalam sistem.
Jadi, teknologi seharusnya menjadi alat yang mendukung pekerjaan teknis, bukan menggantikan pemahaman pustakawan terhadap dasar-dasar pengelolaan perpustakaan.
Cara Meningkatkan Keahlian Teknis Pustakawan Sekolah
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan teknis.
Belajar dari standar dan pedoman perpustakaan
Pustakawan dapat mempelajari standar nasional, pedoman pengelolaan perpustakaan, serta berbagai bahan pembelajaran yang diterbitkan oleh lembaga yang berwenang.
Mengikuti pelatihan
Pelatihan merupakan salah satu cara efektif untuk meningkatkan keterampilan, terutama untuk kemampuan seperti klasifikasi, katalogisasi, otomasi, preservasi, dan layanan informasi.
Praktik secara langsung
Keahlian teknis tidak cukup dipelajari melalui teori.
Misalnya, setelah mempelajari klasifikasi, pustakawan dapat langsung mencoba menentukan nomor klasifikasi beberapa buku di perpustakaan.
Membuat SOP
Pekerjaan teknis akan lebih mudah dilakukan apabila perpustakaan memiliki prosedur yang jelas.
SOP dapat dibuat untuk berbagai kegiatan, seperti pengadaan, pengolahan buku, peminjaman, pengembalian, pelayanan anggota, pemeliharaan, dan penyiangan.
Melakukan evaluasi secara berkala
Pustakawan dapat mengevaluasi pekerjaan setiap beberapa bulan.
Apa yang sudah berjalan? Apa yang masih sulit? Data apa yang belum lengkap? Layanan apa yang belum dimanfaatkan siswa?
Evaluasi sederhana dapat menjadi dasar untuk menentukan keterampilan yang perlu ditingkatkan berikutnya.
Pustakawan Sekolah Bukan Sekadar Penjaga Buku
Persepsi bahwa pustakawan hanya bertugas menjaga buku sudah tidak sesuai dengan perkembangan perpustakaan saat ini.
Pustakawan sekolah memiliki pekerjaan yang jauh lebih luas.
Ia mengelola informasi, mengelola koleksi, memberikan layanan, membantu penelusuran informasi, mendukung kegiatan pembelajaran, mengembangkan literasi, menjaga administrasi, serta beradaptasi dengan teknologi.
Karena itu, penguasaan keahlian teknis menjadi bagian penting dari profesionalisme pustakawan sekolah.
Pustakawan yang mampu mengelola koleksi dengan baik akan membuat informasi lebih mudah ditemukan. Pustakawan yang mampu mengelola layanan dengan baik akan membuat siswa merasa nyaman menggunakan perpustakaan. Pustakawan yang mampu mengelola data dengan baik akan lebih mudah mengevaluasi perkembangan layanan.
Pada akhirnya, seluruh keahlian tersebut memiliki satu tujuan yang sama, yaitu membuat perpustakaan mampu memberikan layanan informasi yang efektif dan bermanfaat bagi warga sekolah.
Kesimpulan
Keahlian teknis pustakawan sekolah mencakup berbagai kemampuan yang berkaitan langsung dengan pengelolaan perpustakaan.
Sepuluh kemampuan yang penting antara lain:
seleksi dan pengadaan koleksi;
inventarisasi bahan pustaka;
klasifikasi;
katalogisasi dan pengelolaan data bibliografis;
pelabelan dan penyelesaian fisik buku;
layanan sirkulasi;
penelusuran informasi;
pemeliharaan dan penyiangan koleksi;
administrasi dan statistik perpustakaan; serta
penggunaan teknologi perpustakaan.
Tidak semua kemampuan tersebut harus dikuasai sekaligus. Pustakawan dapat mengembangkannya secara bertahap sesuai kebutuhan dan kondisi perpustakaan sekolah.
Yang terpenting adalah memiliki kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki pengelolaan perpustakaan.
Perpustakaan sekolah yang baik tidak hanya ditentukan oleh banyaknya jumlah buku, luas ruangan, atau tersedianya komputer. Kualitas pengelolaan dan kompetensi pustakawan juga menjadi faktor penting agar seluruh sumber daya perpustakaan benar-benar dapat dimanfaatkan oleh siswa dan guru.
Referensi
International Federation of Library Associations and Institutions. (2022). IFLA guidelines for continuing professional development: Principles and best practices. IFLA.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2024). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Reitz, J. M. (2014). Online dictionary for library and information science. ABC-CLIO.
Thanks for reading Keahlian Teknis Pustakawan Sekolah: 10 Kemampuan yang Wajib Dikuasai. Please share...!
0 Komentar untuk "Keahlian Teknis Pustakawan Sekolah: 10 Kemampuan yang Wajib Dikuasai"