Cara Mengklasifikasikan Buku Perpustakaan dengan DDC: Langkah dan Contohnya
Perpustakaan yang tertata dengan baik akan memudahkan siswa dan guru menemukan buku yang dibutuhkan. Salah satu cara untuk menata koleksi adalah menggunakan sistem klasifikasi berdasarkan subjek atau bidang ilmu.
Sistem yang banyak digunakan dalam pengelolaan perpustakaan adalah Dewey Decimal Classification (DDC). Sistem ini mengelompokkan bahan pustaka berdasarkan subjeknya menggunakan notasi angka.
Bagi pustakawan dan pengelola perpustakaan sekolah, memahami cara mengklasifikasikan buku sangat penting agar penempatan koleksi lebih teratur dan konsisten.
Artikel ini membahas pengertian DDC, langkah menentukan nomor klasifikasi, contoh penerapan, serta kesalahan yang perlu dihindari.
Apa Itu DDC?
DDC merupakan singkatan dari Dewey Decimal Classification, yaitu sistem klasifikasi perpustakaan yang dikembangkan oleh Melvil Dewey. Sistem ini mengelompokkan pengetahuan ke dalam sepuluh kelas utama, mulai dari 000 hingga 900.
Berikut sepuluh kelas utama DDC.
| Nomor | Kelompok subjek |
|---|---|
| 000 | Karya umum, informasi, dan komputer |
| 100 | Filsafat dan psikologi |
| 200 | Agama |
| 300 | Ilmu sosial |
| 400 | Bahasa |
| 500 | Matematika dan ilmu pengetahuan alam |
| 600 | Teknologi dan ilmu terapan |
| 700 | Seni dan rekreasi |
| 800 | Sastra |
| 900 | Sejarah dan geografi |
Sepuluh kelas tersebut merupakan gambaran umum. Setiap kelas dapat dibagi lagi menjadi kelompok yang lebih khusus. Oleh karena itu, nomor tiga digit di atas tidak selalu cukup untuk mewakili semua jenis buku.
Mengapa Klasifikasi Buku Diperlukan?
Klasifikasi membantu perpustakaan mengelompokkan buku berdasarkan kesamaan subjek. Dengan sistem yang konsisten, pengelola dapat menata koleksi dan menemukan kembali buku dengan lebih mudah.
Manfaat klasifikasi buku antara lain:
Memudahkan pencarian koleksi. Buku dengan subjek sejenis dapat ditempatkan berdekatan.
Menata rak lebih teratur. Penempatan buku mengikuti aturan yang jelas.
Mendukung administrasi koleksi. Nomor klasifikasi dapat dicatat dalam data katalog.
Memudahkan pengembalian buku ke rak. Petugas memiliki pedoman penempatan yang konsisten.
Mendukung literasi informasi. Siswa dapat belajar memahami pengelompokan pengetahuan dan cara menemukan koleksi.
Langkah-Langkah Mengklasifikasikan Buku dengan DDC
1. Periksa Identitas Buku
Mulailah dengan memeriksa informasi buku, seperti:
Judul dan anak judul.
Nama pengarang.
Penerbit dan tahun terbit.
Daftar isi.
Kata pengantar atau sinopsis.
Isi buku yang relevan untuk menentukan subjek.
Judul dapat menjadi petunjuk awal, tetapi tidak selalu cukup untuk menentukan nomor klasifikasi. Buku perlu diperiksa agar subjek utamanya dapat diketahui dengan tepat.
2. Tentukan Subjek Utama Buku
Subjek merupakan bidang atau pokok bahasan yang dibicarakan dalam buku. Penentuan subjek harus didasarkan pada isi buku, bukan hanya pada jenjang sekolah, warna sampul, atau bentuk fisiknya.
Sebagai contoh, buku yang membahas perhitungan dan konsep matematika memiliki subjek matematika. Buku yang membahas sejarah suatu wilayah memiliki subjek sejarah atau sejarah wilayah tersebut, sesuai isi dan aturan klasifikasi yang digunakan.
Jika buku membahas beberapa bidang, perhatikan tujuan dan pembahasan yang paling dominan sebelum menentukan nomor.
3. Cari Nomor dalam Tabel DDC
Setelah mengetahui subjek, carilah nomor yang sesuai menggunakan tabel DDC dan indeks relatif yang tersedia pada edisi yang digunakan perpustakaan.
Jangan hanya mengandalkan daftar nomor singkat dari internet. Untuk klasifikasi yang lebih spesifik, periksa petunjuk dan catatan dalam tabel DDC agar nomor yang dipilih sesuai dengan aturan.
4. Periksa Kesesuaian Nomor
Sebelum menetapkan nomor, pastikan nomor tersebut benar-benar mewakili isi buku. Periksa apakah ada petunjuk khusus, pembatasan, atau pilihan nomor yang lebih tepat.
Jika belum yakin, bandingkan dengan koleksi sejenis yang sudah diklasifikasikan dengan benar atau konsultasikan dengan pustakawan yang memahami klasifikasi.
5. Susun Nomor Panggil
Nomor klasifikasi biasanya menjadi bagian dari nomor panggil buku. Perpustakaan dapat menambahkan kode pengarang dan huruf awal judul sesuai kebijakan yang digunakan.
Contoh ilustratif:
Nomor klasifikasi:
510Kode pengarang:
DEWHuruf awal judul:
M
Nomor panggil dapat ditulis dalam beberapa baris pada label punggung buku. Kode pengarang dan judul tersebut hanya contoh; penggunaannya harus disesuaikan dengan data buku yang sebenarnya.
6. Catat dalam Data Koleksi
Setelah nomor ditetapkan, masukkan data klasifikasi ke dalam katalog atau sistem inventaris perpustakaan. Pastikan informasi pada sistem sesuai dengan label yang ditempelkan pada buku.
Jika perpustakaan menggunakan aplikasi otomasi, lakukan pemeriksaan agar nomor klasifikasi tidak berbeda antara data digital dan buku fisik.
7. Tempatkan Buku di Rak
Susun buku berdasarkan aturan penempatan yang berlaku di perpustakaan. Nomor klasifikasi dapat membantu menentukan urutan koleksi, tetapi petugas juga perlu mengikuti kebijakan penyusunan nomor panggil yang digunakan.
Pastikan label mudah dibaca dan buku ditempatkan pada rak yang sesuai. Setelah buku dikembalikan, periksa kembali urutannya secara berkala.
Contoh Penerapan Klasifikasi Buku
Berikut beberapa contoh awal untuk menggambarkan cara berpikir dalam menentukan nomor klasifikasi. Nomor berikut merupakan contoh umum dan perlu diverifikasi dengan tabel DDC yang digunakan perpustakaan.
| Jenis buku | Subjek utama | Nomor awal yang dapat diperiksa |
|---|---|---|
| Buku matematika umum | Matematika | 510 |
| Buku fisika umum | Fisika | 530 |
| Buku kimia umum | Kimia | 540 |
| Buku biologi umum | Biologi | 570 |
| Buku tentang olahraga | Olahraga | 796 |
| Buku cerita rakyat | Cerita rakyat atau folklor | 398.2, bergantung pada isi dan aturan yang digunakan |
Contoh tersebut tidak berarti setiap buku dengan judul serupa harus selalu menggunakan nomor yang sama. Pustakawan tetap perlu menganalisis isi buku dan memeriksa tabel klasifikasi.
Untuk panduan nomor DDC yang lebih terperinci bagi buku pelajaran SD, SMP, dan SMA, baca juga artikel terkait di blog ini: Daftar Nomor DDC Buku Mata Pelajaran SD, SMP, dan SMA Lengkap + Panduan Klasifikasi Perpustakaan.
Bagaimana Jika Buku Membahas Lebih dari Satu Subjek?
Sebagian buku membahas beberapa bidang sekaligus. Misalnya, buku tentang lingkungan dapat memuat pembahasan ilmu alam, kehidupan sosial, dan pelestarian lingkungan.
Dalam kondisi tersebut, pustakawan perlu mengidentifikasi subjek yang paling dominan dan mengikuti petunjuk dalam tabel DDC. Jangan langsung memilih nomor berdasarkan satu kata pada judul.
Untuk buku pelajaran terpadu, periksa tujuan penulisan, cakupan materi, serta pembagian isi buku. Jika belum dapat menentukan nomor yang tepat, gunakan pedoman klasifikasi yang tersedia atau minta bantuan pustakawan yang berpengalaman.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Beberapa kesalahan dalam klasifikasi buku antara lain:
1. Menentukan nomor hanya berdasarkan judul.
Judul tidak selalu menunjukkan keseluruhan isi buku. Periksa daftar isi dan pembahasannya.
2. Menggunakan nomor yang sama untuk semua buku pendidikan.
Buku yang dipakai dalam kegiatan belajar tidak otomatis masuk ke kelas pendidikan. Nomor klasifikasi mengikuti subjek buku.
3. Menganggap tingkat kelas siswa menentukan nomor DDC.
Buku matematika kelas IV dan kelas V tetap memiliki subjek matematika. Perbedaan jenjang dapat dicatat dalam data katalog atau kode tambahan, bukan otomatis mengubah nomor DDC.
4. Mengubah aturan penomoran tanpa alasan.
Perubahan yang tidak konsisten dapat membuat buku sejenis tersebar di tempat berbeda. Gunakan kebijakan klasifikasi yang jelas.
5. Tidak mencocokkan label dengan data katalog.
Perbedaan nomor pada buku fisik dan sistem digital dapat menyulitkan pencarian. Lakukan pemeriksaan setelah pengolahan koleksi.
Tips Menerapkan DDC di Perpustakaan Sekolah
Agar penerapan DDC berjalan lebih teratur, pengelola perpustakaan dapat melakukan langkah berikut:
Siapkan tabel DDC atau pedoman klasifikasi yang dapat dijadikan rujukan.
Buat prosedur kerja sederhana untuk menentukan subjek dan nomor klasifikasi.
Gunakan aturan yang sama untuk koleksi sejenis.
Periksa kembali nomor klasifikasi sebelum mencetak label.
Lakukan pemeriksaan rak secara berkala.
Catat perubahan nomor klasifikasi jika terdapat koreksi.
Pelajari fitur katalog pada aplikasi otomasi jika perpustakaan menggunakannya.
Perpustakaan dengan jumlah koleksi terbatas dapat memulai pengelolaan secara bertahap. Namun, kesederhanaan prosedur tetap harus disertai konsistensi dan ketepatan dalam menentukan subjek.
Kesimpulan
Klasifikasi buku menggunakan DDC membantu perpustakaan mengelompokkan koleksi berdasarkan subjek sehingga lebih mudah ditata dan ditemukan kembali.
Prosesnya dimulai dari memeriksa identitas dan isi buku, menentukan subjek utama, mencari nomor dalam tabel DDC, memeriksa kesesuaiannya, menyusun nomor panggil, mencatat data koleksi, dan menempatkan buku di rak.
Kunci keberhasilan klasifikasi bukan sekadar menghafal nomor, melainkan memahami isi buku dan menerapkan aturan secara konsisten. Dengan pengelolaan yang baik, perpustakaan sekolah dapat menyediakan koleksi yang lebih teratur dan mendukung kebutuhan belajar siswa maupun guru.
Referensi
Dewey, M. (2011). Dewey Decimal Classification and Relative Index (23rd ed.). OCLC.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (n.d.). Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. https://www.perpusnas.go.id/
Catatan: Untuk pengolahan katalog secara rinci, gunakan tabel DDC edisi yang tersedia dan petunjuk resminya. Pastikan edisi serta detail bibliografi referensi sesuai dengan sumber yang benar-benar digunakan.