-->

Panduan Pustakawan dan Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi ruang tumbuhnya ide, karakter, dan masa depan. Setiap halaman yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar dalam hidup seseorang.

Cara Mengklasifikasikan Buku Perpustakaan dengan DDC: Langkah dan Contohnya

 

Perpustakaan yang tertata dengan baik akan memudahkan siswa dan guru menemukan buku yang dibutuhkan. Salah satu cara untuk menata koleksi adalah menggunakan sistem klasifikasi berdasarkan subjek atau bidang ilmu.

Sistem yang banyak digunakan dalam pengelolaan perpustakaan adalah Dewey Decimal Classification (DDC). Sistem ini mengelompokkan bahan pustaka berdasarkan subjeknya menggunakan notasi angka.

Bagi pustakawan dan pengelola perpustakaan sekolah, memahami cara mengklasifikasikan buku sangat penting agar penempatan koleksi lebih teratur dan konsisten.

Artikel ini membahas pengertian DDC, langkah menentukan nomor klasifikasi, contoh penerapan, serta kesalahan yang perlu dihindari.

Apa Itu DDC?

DDC merupakan singkatan dari Dewey Decimal Classification, yaitu sistem klasifikasi perpustakaan yang dikembangkan oleh Melvil Dewey. Sistem ini mengelompokkan pengetahuan ke dalam sepuluh kelas utama, mulai dari 000 hingga 900.

Berikut sepuluh kelas utama DDC.

NomorKelompok subjek
000Karya umum, informasi, dan komputer
100Filsafat dan psikologi
200Agama
300Ilmu sosial
400Bahasa
500Matematika dan ilmu pengetahuan alam
600Teknologi dan ilmu terapan
700Seni dan rekreasi
800Sastra
900Sejarah dan geografi

Sepuluh kelas tersebut merupakan gambaran umum. Setiap kelas dapat dibagi lagi menjadi kelompok yang lebih khusus. Oleh karena itu, nomor tiga digit di atas tidak selalu cukup untuk mewakili semua jenis buku.

Mengapa Klasifikasi Buku Diperlukan?

Klasifikasi membantu perpustakaan mengelompokkan buku berdasarkan kesamaan subjek. Dengan sistem yang konsisten, pengelola dapat menata koleksi dan menemukan kembali buku dengan lebih mudah.

Manfaat klasifikasi buku antara lain:

  1. Memudahkan pencarian koleksi. Buku dengan subjek sejenis dapat ditempatkan berdekatan.

  2. Menata rak lebih teratur. Penempatan buku mengikuti aturan yang jelas.

  3. Mendukung administrasi koleksi. Nomor klasifikasi dapat dicatat dalam data katalog.

  4. Memudahkan pengembalian buku ke rak. Petugas memiliki pedoman penempatan yang konsisten.

  5. Mendukung literasi informasi. Siswa dapat belajar memahami pengelompokan pengetahuan dan cara menemukan koleksi.

Langkah-Langkah Mengklasifikasikan Buku dengan DDC

1. Periksa Identitas Buku

Mulailah dengan memeriksa informasi buku, seperti:

  • Judul dan anak judul.

  • Nama pengarang.

  • Penerbit dan tahun terbit.

  • Daftar isi.

  • Kata pengantar atau sinopsis.

  • Isi buku yang relevan untuk menentukan subjek.

Judul dapat menjadi petunjuk awal, tetapi tidak selalu cukup untuk menentukan nomor klasifikasi. Buku perlu diperiksa agar subjek utamanya dapat diketahui dengan tepat.

2. Tentukan Subjek Utama Buku

Subjek merupakan bidang atau pokok bahasan yang dibicarakan dalam buku. Penentuan subjek harus didasarkan pada isi buku, bukan hanya pada jenjang sekolah, warna sampul, atau bentuk fisiknya.

Sebagai contoh, buku yang membahas perhitungan dan konsep matematika memiliki subjek matematika. Buku yang membahas sejarah suatu wilayah memiliki subjek sejarah atau sejarah wilayah tersebut, sesuai isi dan aturan klasifikasi yang digunakan.

Jika buku membahas beberapa bidang, perhatikan tujuan dan pembahasan yang paling dominan sebelum menentukan nomor.

3. Cari Nomor dalam Tabel DDC

Setelah mengetahui subjek, carilah nomor yang sesuai menggunakan tabel DDC dan indeks relatif yang tersedia pada edisi yang digunakan perpustakaan.

Jangan hanya mengandalkan daftar nomor singkat dari internet. Untuk klasifikasi yang lebih spesifik, periksa petunjuk dan catatan dalam tabel DDC agar nomor yang dipilih sesuai dengan aturan.

4. Periksa Kesesuaian Nomor

Sebelum menetapkan nomor, pastikan nomor tersebut benar-benar mewakili isi buku. Periksa apakah ada petunjuk khusus, pembatasan, atau pilihan nomor yang lebih tepat.

Jika belum yakin, bandingkan dengan koleksi sejenis yang sudah diklasifikasikan dengan benar atau konsultasikan dengan pustakawan yang memahami klasifikasi.

5. Susun Nomor Panggil

Nomor klasifikasi biasanya menjadi bagian dari nomor panggil buku. Perpustakaan dapat menambahkan kode pengarang dan huruf awal judul sesuai kebijakan yang digunakan.

Contoh ilustratif:

  • Nomor klasifikasi: 510

  • Kode pengarang: DEW

  • Huruf awal judul: M

Nomor panggil dapat ditulis dalam beberapa baris pada label punggung buku. Kode pengarang dan judul tersebut hanya contoh; penggunaannya harus disesuaikan dengan data buku yang sebenarnya.

6. Catat dalam Data Koleksi

Setelah nomor ditetapkan, masukkan data klasifikasi ke dalam katalog atau sistem inventaris perpustakaan. Pastikan informasi pada sistem sesuai dengan label yang ditempelkan pada buku.

Jika perpustakaan menggunakan aplikasi otomasi, lakukan pemeriksaan agar nomor klasifikasi tidak berbeda antara data digital dan buku fisik.

7. Tempatkan Buku di Rak

Susun buku berdasarkan aturan penempatan yang berlaku di perpustakaan. Nomor klasifikasi dapat membantu menentukan urutan koleksi, tetapi petugas juga perlu mengikuti kebijakan penyusunan nomor panggil yang digunakan.

Pastikan label mudah dibaca dan buku ditempatkan pada rak yang sesuai. Setelah buku dikembalikan, periksa kembali urutannya secara berkala.

Contoh Penerapan Klasifikasi Buku

Berikut beberapa contoh awal untuk menggambarkan cara berpikir dalam menentukan nomor klasifikasi. Nomor berikut merupakan contoh umum dan perlu diverifikasi dengan tabel DDC yang digunakan perpustakaan.

Jenis bukuSubjek utamaNomor awal yang dapat diperiksa
Buku matematika umumMatematika510
Buku fisika umumFisika530
Buku kimia umumKimia540
Buku biologi umumBiologi570
Buku tentang olahragaOlahraga796
Buku cerita rakyatCerita rakyat atau folklor398.2, bergantung pada isi dan aturan yang digunakan

Contoh tersebut tidak berarti setiap buku dengan judul serupa harus selalu menggunakan nomor yang sama. Pustakawan tetap perlu menganalisis isi buku dan memeriksa tabel klasifikasi.

Untuk panduan nomor DDC yang lebih terperinci bagi buku pelajaran SD, SMP, dan SMA, baca juga artikel terkait di blog ini: Daftar Nomor DDC Buku Mata Pelajaran SD, SMP, dan SMA Lengkap + Panduan Klasifikasi Perpustakaan.

Bagaimana Jika Buku Membahas Lebih dari Satu Subjek?

Sebagian buku membahas beberapa bidang sekaligus. Misalnya, buku tentang lingkungan dapat memuat pembahasan ilmu alam, kehidupan sosial, dan pelestarian lingkungan.

Dalam kondisi tersebut, pustakawan perlu mengidentifikasi subjek yang paling dominan dan mengikuti petunjuk dalam tabel DDC. Jangan langsung memilih nomor berdasarkan satu kata pada judul.

Untuk buku pelajaran terpadu, periksa tujuan penulisan, cakupan materi, serta pembagian isi buku. Jika belum dapat menentukan nomor yang tepat, gunakan pedoman klasifikasi yang tersedia atau minta bantuan pustakawan yang berpengalaman.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

Beberapa kesalahan dalam klasifikasi buku antara lain:

1. Menentukan nomor hanya berdasarkan judul.

Judul tidak selalu menunjukkan keseluruhan isi buku. Periksa daftar isi dan pembahasannya.

2. Menggunakan nomor yang sama untuk semua buku pendidikan.

Buku yang dipakai dalam kegiatan belajar tidak otomatis masuk ke kelas pendidikan. Nomor klasifikasi mengikuti subjek buku.

3. Menganggap tingkat kelas siswa menentukan nomor DDC.

Buku matematika kelas IV dan kelas V tetap memiliki subjek matematika. Perbedaan jenjang dapat dicatat dalam data katalog atau kode tambahan, bukan otomatis mengubah nomor DDC.

4. Mengubah aturan penomoran tanpa alasan.

Perubahan yang tidak konsisten dapat membuat buku sejenis tersebar di tempat berbeda. Gunakan kebijakan klasifikasi yang jelas.

5. Tidak mencocokkan label dengan data katalog.

Perbedaan nomor pada buku fisik dan sistem digital dapat menyulitkan pencarian. Lakukan pemeriksaan setelah pengolahan koleksi.

Tips Menerapkan DDC di Perpustakaan Sekolah

Agar penerapan DDC berjalan lebih teratur, pengelola perpustakaan dapat melakukan langkah berikut:

  • Siapkan tabel DDC atau pedoman klasifikasi yang dapat dijadikan rujukan.

  • Buat prosedur kerja sederhana untuk menentukan subjek dan nomor klasifikasi.

  • Gunakan aturan yang sama untuk koleksi sejenis.

  • Periksa kembali nomor klasifikasi sebelum mencetak label.

  • Lakukan pemeriksaan rak secara berkala.

  • Catat perubahan nomor klasifikasi jika terdapat koreksi.

  • Pelajari fitur katalog pada aplikasi otomasi jika perpustakaan menggunakannya.

Perpustakaan dengan jumlah koleksi terbatas dapat memulai pengelolaan secara bertahap. Namun, kesederhanaan prosedur tetap harus disertai konsistensi dan ketepatan dalam menentukan subjek.

Kesimpulan

Klasifikasi buku menggunakan DDC membantu perpustakaan mengelompokkan koleksi berdasarkan subjek sehingga lebih mudah ditata dan ditemukan kembali.

Prosesnya dimulai dari memeriksa identitas dan isi buku, menentukan subjek utama, mencari nomor dalam tabel DDC, memeriksa kesesuaiannya, menyusun nomor panggil, mencatat data koleksi, dan menempatkan buku di rak.

Kunci keberhasilan klasifikasi bukan sekadar menghafal nomor, melainkan memahami isi buku dan menerapkan aturan secara konsisten. Dengan pengelolaan yang baik, perpustakaan sekolah dapat menyediakan koleksi yang lebih teratur dan mendukung kebutuhan belajar siswa maupun guru.



Referensi

Dewey, M. (2011). Dewey Decimal Classification and Relative Index (23rd ed.). OCLC.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (n.d.). Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. https://www.perpusnas.go.id/

Catatan: Untuk pengolahan katalog secara rinci, gunakan tabel DDC edisi yang tersedia dan petunjuk resminya. Pastikan edisi serta detail bibliografi referensi sesuai dengan sumber yang benar-benar digunakan.

Cara Membuat Kartu Buku Perpustakaan Sekolah: Format, Fungsi, dan Contohnya

 


Kartu buku merupakan salah satu perlengkapan administrasi yang dapat digunakan dalam pengelolaan perpustakaan sekolah. Meskipun saat ini banyak perpustakaan mulai menggunakan pencatatan berbasis komputer, kartu buku masih dapat membantu perpustakaan yang pengelolaannya dilakukan secara manual maupun menggunakan sistem sederhana.

Bagi perpustakaan sekolah dasar (SD), kartu buku dapat menjadi alat bantu untuk mengetahui riwayat peminjaman sebuah buku. Ketika seorang siswa meminjam buku, informasi peminjaman dapat dicatat pada kartu yang ditempatkan di dalam buku tersebut. Dengan demikian, petugas dapat melihat siapa yang sedang meminjam buku, kapan buku dipinjam, dan kapan buku seharusnya dikembalikan.

Pembuatan kartu buku sebenarnya tidak sulit. Perpustakaan tidak perlu menggunakan desain yang rumit. Yang terpenting adalah informasi yang dicantumkan cukup untuk membantu proses administrasi dan mudah dibaca oleh petugas.

Dalam artikel ini akan dibahas pengertian kartu buku, fungsi, informasi yang perlu dicantumkan, cara membuatnya, contoh format kartu buku, cara penggunaannya, serta perbedaannya dengan kartu anggota dan buku peminjaman.

Apa Itu Kartu Buku Perpustakaan?

Kartu buku adalah kartu yang ditempatkan pada sebuah buku perpustakaan dan digunakan untuk mencatat transaksi peminjaman buku tersebut.

Kartu ini melekat pada buku, bukan pada anggota perpustakaan.

Artinya, jika perpustakaan memiliki 100 buku, setiap buku yang menggunakan sistem kartu buku memiliki kartu yang berkaitan dengan buku tersebut. Ketika buku dipinjam, petugas mencatat informasi peminjam pada kartu.

Contohnya, sebuah buku cerita memiliki nomor inventaris:

00025

Maka kartu buku yang berada di dalam buku tersebut juga mencantumkan nomor inventaris 00025.

Jika buku dipinjam oleh siswa bernama Rani, petugas dapat mencatat:

Nama peminjam: Rani
Tanggal pinjam: 10 September 2026
Tanggal kembali: 17 September 2026

Ketika buku dikembalikan, petugas dapat memberikan tanda bahwa transaksi tersebut telah selesai.

Dengan demikian, kartu buku berfungsi sebagai catatan sederhana mengenai perjalanan peminjaman sebuah buku.

Apa Fungsi Kartu Buku di Perpustakaan Sekolah?

Kartu buku memiliki beberapa fungsi yang cukup membantu, terutama pada perpustakaan sekolah yang masih menggunakan administrasi manual.

1. Mencatat riwayat peminjaman buku

Fungsi utama kartu buku adalah mencatat siapa yang meminjam sebuah buku.

Petugas dapat melihat catatan tersebut ketika buku dikembalikan atau ketika terjadi masalah dalam peminjaman.

2. Membantu mengetahui buku sedang dipinjam siapa

Jika sebuah buku tidak berada di rak, petugas dapat memeriksa kartu buku untuk mengetahui siapa yang terakhir meminjamnya.

Misalnya buku dengan nomor inventaris 00025 tidak ditemukan di rak. Setelah diperiksa, pada kartu buku terdapat catatan bahwa buku tersebut dipinjam oleh siswa kelas V.

Informasi tersebut membantu petugas melakukan penelusuran.

3. Membantu pencatatan administrasi

Kartu buku menjadi salah satu dokumen pendukung dalam kegiatan layanan sirkulasi.

Pencatatan tersebut dapat digunakan bersama dengan buku peminjaman atau sistem administrasi lainnya.

4. Memudahkan pengelolaan perpustakaan secara manual

Tidak semua perpustakaan sekolah memiliki aplikasi perpustakaan yang lengkap. Pada kondisi tersebut, kartu buku dapat menjadi alat bantu yang sederhana dan murah.

5. Menjadi catatan yang melekat pada buku

Berbeda dengan buku peminjaman yang berisi banyak transaksi dari berbagai koleksi, kartu buku secara khusus berkaitan dengan satu buku.

Karena ditempatkan di dalam buku, petugas dapat langsung menghubungkan catatan dengan koleksi yang bersangkutan.

Apakah Setiap Buku Harus Memiliki Kartu Buku?

Tidak ada keharusan bahwa setiap perpustakaan sekolah harus menggunakan kartu buku dengan format tertentu.

Kartu buku merupakan salah satu bentuk administrasi layanan sirkulasi. Perpustakaan dapat menyesuaikan sistem administrasinya dengan kondisi, kebutuhan, dan teknologi yang digunakan.

Jika perpustakaan sudah menggunakan aplikasi yang mencatat seluruh transaksi peminjaman secara digital, kartu buku mungkin tidak terlalu diperlukan.

Namun, bagi perpustakaan sekolah yang masih menggunakan sistem manual atau semi-digital, kartu buku masih dapat digunakan sebagai alat bantu.

Perpustakaan juga dapat memilih hanya menggunakan kartu buku pada koleksi tertentu apabila memang diperlukan.

Hal yang lebih penting adalah adanya sistem pencatatan yang memungkinkan petugas mengetahui koleksi apa yang dipinjam, siapa yang meminjam, dan kapan buku harus dikembalikan.

Apa Saja Isi Kartu Buku?

Kartu buku sebaiknya dibuat sederhana tetapi informatif.

Beberapa informasi yang dapat dicantumkan antara lain:

  1. Nama perpustakaan

  2. Judul buku

  3. Nomor inventaris

  4. Nomor panggil jika digunakan

  5. Kolom nama atau identitas peminjam

  6. Tanggal peminjaman

  7. Tanggal pengembalian

  8. Paraf atau tanda petugas

  9. Keterangan jika diperlukan

Tidak semua informasi tersebut wajib dimasukkan. Perpustakaan dapat menyesuaikannya dengan kebutuhan.

Untuk perpustakaan SD, kartu buku yang sederhana justru lebih mudah digunakan.

Contoh Format Kartu Buku Perpustakaan

Format kartu buku dapat dibuat seperti berikut:

PERPUSTAKAAN SEKOLAH

KARTU BUKU

Judul Buku : __________________________

Nomor Inventaris : ____________________

Nomor Panggil : _______________________

No.Nama PeminjamKelasTanggal PinjamTanggal KembaliParaf
1
2
3
4
5

Format tersebut sudah cukup untuk digunakan dalam administrasi peminjaman sederhana.

Jika ingin lebih praktis, kolom nomor panggil juga dapat dihilangkan dan hanya menggunakan nomor inventaris sebagai identitas buku.

Kartu Buku Harus Mengikuti Nomor Inventaris

Salah satu hal penting dalam pembuatan kartu buku adalah mencantumkan nomor inventaris.

Nomor inventaris membuat kartu dapat dihubungkan dengan data pada buku induk.

Misalnya perpustakaan menggunakan sistem:

Buku bacaan: 00001

Buku pelajaran: BP-00001

Maka kartu buku juga dapat mencantumkan nomor tersebut.

Contohnya:

Judul: Kumpulan Cerita Anak
Nomor Inventaris: 00001

Untuk buku pelajaran:

Judul: Matematika Kelas V
Nomor Inventaris: BP-00001

Jika pada stempel inventaris digunakan format yang lebih lengkap, misalnya:

2026/PS/00001

atau:

2026/PS/BP-00001

nomor tersebut juga dapat dicantumkan pada kartu buku apabila perpustakaan menghendakinya.

Dengan demikian, terdapat hubungan antara buku fisik, kartu buku, dan buku induk.

Apakah Nomor Inventaris dan Nomor Panggil Harus Dicantumkan Bersama?

Tidak selalu.

Nomor inventaris dan nomor panggil memiliki fungsi berbeda.

Nomor inventaris digunakan untuk identitas administrasi koleksi, sedangkan nomor panggil digunakan untuk membantu penempatan dan pencarian buku di rak.

Jika perpustakaan telah menerapkan sistem klasifikasi dan nomor panggil, keduanya dapat dicantumkan pada kartu buku.

Contohnya:

Nomor Inventaris: 00025

Nomor Panggil: 398.2

Namun, apabila perpustakaan sekolah masih menggunakan sistem sederhana dan belum menerapkan nomor panggil secara lengkap, kartu buku dapat cukup mencantumkan nomor inventaris.

Cara Membuat Kartu Buku Perpustakaan Sekolah

Pembuatan kartu buku dapat dilakukan secara manual menggunakan kertas atau dibuat menggunakan komputer.

Berikut langkah-langkah sederhananya.

Langkah 1: Tentukan ukuran kartu

Gunakan ukuran yang cukup kecil agar kartu dapat ditempatkan di dalam buku tanpa mengganggu kenyamanan pembaca.

Ukuran dapat disesuaikan dengan ukuran buku. Tidak perlu terlalu besar.

Misalnya menggunakan kertas berukuran sekitar seperempat atau sepertiga halaman A4.

Yang terpenting, kartu memiliki ruang yang cukup untuk mencatat beberapa transaksi peminjaman.

Langkah 2: Buat identitas buku

Pada bagian atas kartu tuliskan:

PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Kemudian tuliskan judul buku dan nomor inventaris.

Contoh:

Judul: Aku Suka Membaca
Nomor Inventaris: 00035

Jika diperlukan, dapat ditambahkan nomor panggil.

Langkah 3: Buat tabel transaksi

Buat beberapa kolom untuk mencatat transaksi peminjaman.

Kolom yang paling sederhana adalah:

Nama Peminjam | Kelas | Tanggal Pinjam | Tanggal Kembali | Paraf

Kolom tersebut dapat disesuaikan dengan sistem layanan perpustakaan.

Langkah 4: Cetak kartu

Jika jumlah koleksi cukup banyak, kartu sebaiknya dibuat menggunakan Microsoft Word atau Excel agar formatnya seragam.

Petugas kemudian dapat mencetak kartu sesuai jumlah buku.

Langkah 5: Masukkan kartu ke dalam buku

Kartu buku dapat ditempatkan pada kantong kartu yang ditempel di bagian dalam sampul belakang buku.

Dengan demikian, kartu tidak mudah terlepas.

Perpustakaan dapat membuat kantong kartu dari kertas atau menggunakan kantong khusus yang sesuai.

Cara Menggunakan Kartu Buku Saat Ada Peminjaman

Ketika siswa meminjam buku, petugas mencatat transaksi pada kartu buku.

Misalnya:

Nama: Siti
Kelas: V
Tanggal Pinjam: 11 September 2026
Tanggal Kembali: 18 September 2026

Petugas juga dapat memberikan paraf atau tanda sesuai prosedur perpustakaan.

Saat buku dikembalikan, petugas memastikan tanggal pengembalian tercatat.

Jika perpustakaan menggunakan kartu buku secara manual, pencatatan harus dilakukan secara rutin agar tidak ada transaksi yang terlewat.

Apakah Nama Peminjam Harus Ditulis Lengkap?

Sebaiknya nama peminjam ditulis dengan cukup jelas sehingga petugas dapat mengenali siswa tersebut.

Untuk perpustakaan SD, nama lengkap dapat digunakan.

Jika diperlukan, kolom kelas juga penting karena siswa dalam satu sekolah dapat memiliki nama yang sama.

Contohnya:

Andi – V A

lebih mudah dibedakan daripada hanya menulis:

Andi

Perpustakaan juga dapat menambahkan nomor anggota apabila memiliki sistem kartu anggota.

Perbedaan Kartu Buku dan Kartu Anggota

Kartu buku sering dianggap sama dengan kartu anggota, padahal keduanya berbeda.

Kartu buku berkaitan dengan koleksi.

Kartu anggota berkaitan dengan pemustaka atau anggota perpustakaan.

Contohnya, satu buku cerita memiliki satu kartu buku.

Sementara satu siswa yang menjadi anggota perpustakaan memiliki satu kartu anggota.

Jika siswa bernama Budi meminjam tiga buku, maka tiga buku tersebut masing-masing memiliki kartu buku sendiri.

Kartu anggota Budi tetap hanya satu.

Perbedaan ini penting agar administrasi perpustakaan tidak tercampur.

Perbedaan Kartu Buku dan Buku Peminjaman

Kartu buku juga berbeda dengan buku peminjaman.

Buku peminjaman biasanya digunakan untuk mencatat transaksi dari banyak buku dan banyak anggota.

Sedangkan kartu buku hanya berkaitan dengan satu koleksi.

Misalnya:

Buku peminjaman mencatat:

Budi meminjam buku A.

Siti meminjam buku B.

Rina meminjam buku C.

Sementara kartu buku A hanya mencatat riwayat peminjaman buku A.

Dengan demikian, keduanya dapat saling melengkapi apabila perpustakaan menggunakan sistem manual.

Bagaimana Jika Perpustakaan Menggunakan Excel?

Kartu buku tetap dapat digunakan meskipun administrasi perpustakaan sudah menggunakan Excel.

Misalnya data utama transaksi dicatat dalam Excel, sedangkan kartu buku digunakan sebagai identitas fisik buku.

Dalam Excel dapat dibuat tabel:

No.Nomor InventarisJudulPeminjamKelasTanggal PinjamTanggal Kembali
100001Cerita NusantaraSitiV10/09/202617/09/2026
2BP-00001Matematika VBudiV10/09/202617/09/2026

Dengan sistem tersebut, pencatatan digital dan kartu fisik dapat berjalan bersama.

Namun, jika perpustakaan sudah menggunakan aplikasi yang secara otomatis mencatat seluruh transaksi, petugas perlu mempertimbangkan apakah kartu buku masih diperlukan atau tidak.

Kartu Buku untuk Buku Pelajaran

Buku pelajaran juga dapat dibuatkan kartu buku apabila buku tersebut diperlakukan sebagai koleksi perpustakaan dan dapat dipinjam.

Misalnya:

Judul: Bahasa Indonesia Kelas VI

Nomor Inventaris: BP-00015

Maka kartu bukunya mencantumkan:

Nomor Inventaris: BP-00015

Pada bagian transaksi dapat dicatat siswa yang meminjam buku tersebut.

Hal ini juga dapat membantu ketika sekolah memiliki banyak eksemplar buku pelajaran.

Misalnya terdapat sepuluh buku Matematika dengan nomor:

BP-00001 sampai BP-00010

Masing-masing eksemplar dapat memiliki identitas yang jelas.

Apakah Semua Koleksi Harus Diberi Kartu Buku?

Tidak selalu.

Perpustakaan dapat menyesuaikan penggunaannya berdasarkan sistem layanan.

Kartu buku paling bermanfaat untuk koleksi yang memang sering dipinjam melalui layanan sirkulasi.

Untuk koleksi referensi yang hanya boleh dibaca di tempat, perpustakaan dapat menggunakan sistem pencatatan yang berbeda.

Jadi, pembuatan kartu buku sebaiknya tidak sekadar dilakukan karena mengikuti kebiasaan perpustakaan lain, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan koleksi.

Tips Agar Kartu Buku Tidak Mudah Rusak

Karena kartu buku sering berada di dalam buku dan dapat disentuh berkali-kali, bahan yang digunakan sebaiknya cukup kuat.

Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

  • menggunakan kertas yang cukup tebal;

  • mencetak dengan tulisan yang jelas;

  • tidak membuat tabel terlalu kecil;

  • menempatkan kartu pada bagian dalam buku;

  • menggunakan kantong kartu agar kartu tidak mudah jatuh;

  • mengganti kartu jika sudah penuh atau rusak;

  • memastikan nomor inventaris pada kartu sesuai dengan buku.

Jika kartu sudah penuh, perpustakaan dapat membuat kartu lanjutan tanpa mengubah identitas buku.

Apakah Kartu Buku Masih Relevan di Era Digital?

Masih bisa relevan, terutama bagi perpustakaan sekolah yang belum menggunakan sistem otomasi secara penuh.

Teknologi memang dapat membuat pencatatan peminjaman menjadi lebih cepat. Namun, tidak semua perpustakaan sekolah memiliki fasilitas, perangkat, atau sumber daya manusia yang sama.

Pada perpustakaan dengan administrasi sederhana, kartu buku dapat menjadi alat bantu yang praktis.

Sebaliknya, jika perpustakaan sudah menggunakan sistem otomasi yang lengkap, petugas dapat mengandalkan sistem digital dan menggunakan kartu buku hanya jika memang dianggap perlu.

Jadi, keberadaan kartu buku tidak harus dipandang sebagai kewajiban yang harus selalu ada, tetapi sebagai salah satu alat administrasi yang dapat digunakan sesuai kebutuhan.

Kesimpulan

Kartu buku perpustakaan sekolah merupakan kartu yang berkaitan langsung dengan sebuah koleksi dan dapat digunakan untuk mencatat transaksi peminjaman buku.

Pembuatan kartu buku tidak harus rumit. Untuk perpustakaan SD, format sederhana yang berisi judul buku, nomor inventaris, nama peminjam, kelas, tanggal peminjaman, tanggal pengembalian, dan paraf sudah dapat menjadi pilihan praktis.

Nomor inventaris sebaiknya dicantumkan agar kartu buku dapat dihubungkan dengan buku fisik dan data dalam buku induk. Jika perpustakaan menggunakan sistem seperti 00001 untuk koleksi umum dan BP-00001 untuk buku pelajaran, sistem tersebut dapat diterapkan pula pada kartu buku.

Kartu buku berbeda dengan kartu anggota. Kartu buku melekat pada koleksi, sedangkan kartu anggota berkaitan dengan pemustaka. Kartu buku juga berbeda dengan buku peminjaman yang mencatat transaksi berbagai koleksi.

Pada akhirnya, sistem administrasi perpustakaan sebaiknya dibuat sederhana, konsisten, mudah digunakan, dan mudah ditelusuri. Jika perpustakaan masih menggunakan sistem manual, kartu buku dapat menjadi salah satu alat bantu yang bermanfaat. Jika perpustakaan sudah menggunakan sistem digital, penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Dengan pengelolaan yang tertib, kartu buku bukan sekadar selembar kertas di dalam buku, tetapi dapat membantu petugas menjaga keteraturan administrasi dan mengetahui riwayat peminjaman koleksi perpustakaan.




Referensi

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2018). Pedoman pengolahan bahan perpustakaan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2022). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2022 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2022). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2022 tentang Pedoman Akreditasi Perpustakaan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Cara Memberi Nomor Inventaris Buku Perpustakaan: Penulisan di Buku Induk dan Stempel Inventaris

 


Pemberian nomor inventaris merupakan salah satu kegiatan penting dalam pengelolaan perpustakaan. Setiap buku yang menjadi koleksi perpustakaan sebaiknya memiliki identitas inventaris agar keberadaannya dapat dicatat, ditelusuri, dan dikendalikan dengan baik.

Bagi perpustakaan sekolah, terutama perpustakaan SD, pemberian nomor inventaris sebenarnya tidak harus dibuat rumit. Yang paling penting adalah adanya sistem yang jelas dan konsisten. Nomor inventaris yang tercatat di buku induk harus dapat dihubungkan dengan buku yang secara fisik berada di rak.

Dalam praktiknya, penulisan nomor inventaris dapat dibuat dalam dua model, yaitu penulisan nomor pada buku induk/inventaris dan penulisan nomor pada stempel inventaris yang ditempel atau dibubuhkan pada buku.

Keduanya tidak harus memiliki bentuk tulisan yang sama persis. Misalnya, dalam buku induk nomor inventaris dapat ditulis secara sederhana:

00001

atau untuk buku pelajaran:

BP-00001

Sedangkan pada stempel inventaris dapat ditulis dengan format yang lebih lengkap, misalnya:

2026/PS/00001

atau:

2026/PS/BP-00001

Sistem seperti ini dapat digunakan selama perpustakaan memiliki aturan internal yang jelas mengenai arti setiap bagian nomor tersebut.

Apa Itu Nomor Inventaris Buku?

Nomor inventaris adalah nomor identitas yang diberikan perpustakaan kepada setiap bahan pustaka yang telah menjadi bagian dari koleksi perpustakaan.

Nomor tersebut digunakan untuk mencatat dan mengidentifikasi buku dalam administrasi perpustakaan. Dengan adanya nomor inventaris, petugas dapat mengetahui buku mana yang tercatat dalam buku induk, kapan buku diperoleh, sumber perolehannya, serta informasi lain yang diperlukan.

Nomor inventaris berbeda dengan ISBN dan nomor panggil.

ISBN merupakan nomor standar yang melekat pada suatu terbitan atau edisi buku. ISBN bukan nomor yang dibuat oleh perpustakaan.

Sementara itu, nomor panggil digunakan untuk membantu penempatan dan pencarian buku berdasarkan sistem klasifikasi perpustakaan.

Adapun nomor inventaris merupakan identitas administrasi yang diberikan oleh perpustakaan terhadap koleksinya.

Jadi, sebuah buku dapat memiliki ISBN dari penerbit, nomor panggil dari perpustakaan, dan nomor inventaris dari perpustakaan secara bersamaan.

Apakah Nomor Inventaris Harus Sama Persis di Buku Induk dan Stempel?

Tidak harus sama dalam bentuk penulisannya, tetapi keduanya harus dapat dihubungkan dengan jelas.

Hal ini penting karena fungsi keduanya berbeda.

Pada buku induk, nomor inventaris merupakan bagian dari data administrasi. Karena petugas biasanya sudah memahami sistem penomoran yang digunakan, nomor dapat ditulis lebih sederhana.

Contohnya:

00001

Untuk buku pelajaran:

BP-00001

Sedangkan pada stempel inventaris, perpustakaan dapat memberikan informasi yang lebih lengkap sehingga buku tersebut lebih mudah dikenali apabila ditemukan di luar rak atau ketika dilakukan pengecekan.

Contohnya:

2026/PS/00001

atau:

2026/PS/BP-00001

Dengan demikian, pembaca perlu memahami bahwa nomor di buku induk dan nomor pada stempel inventaris tidak harus identik dalam panjang atau format, tetapi harus mempunyai hubungan yang jelas.

Misalnya:

JenisBuku IndukStempel Inventaris
Buku bacaan000012026/PS/00001
Buku bacaan000022026/PS/00002
Buku pelajaranBP-000012026/PS/BP-00001
Buku pelajaranBP-000022026/PS/BP-00002

Dari contoh tersebut, petugas tetap dapat mengetahui bahwa 00001 pada buku induk merupakan buku yang memiliki stempel 2026/PS/00001.

Dua Model Penulisan Nomor Inventaris

Agar pengelolaan koleksi lebih mudah dipahami, perpustakaan sekolah dapat menggunakan dua model penulisan berikut.

1. Penulisan Nomor Inventaris pada Buku Induk

Pada buku induk, nomor inventaris dapat dibuat sederhana karena buku induk berfungsi sebagai catatan administrasi utama.

Untuk buku bacaan, buku fiksi, buku pengayaan, ensiklopedia, dan koleksi umum lainnya, nomor dapat ditulis:

00001

00002

00003

dan seterusnya.

Sementara untuk buku pelajaran dapat diberikan kode khusus:

BP-00001

BP-00002

BP-00003

dan seterusnya.

Kode BP dapat digunakan sebagai singkatan internal untuk Buku Pelajaran.

Dengan cara ini, petugas dapat langsung membedakan buku pelajaran dari koleksi bacaan hanya dengan melihat nomor inventarisnya.

Contohnya dalam buku induk:

No.Nomor InventarisJudul BukuJenis Koleksi
100001Cerita Rakyat NusantaraBuku Bacaan
200002Kumpulan Dongeng AnakBuku Fiksi
3BP-00001Buku Matematika Kelas VBuku Pelajaran
400003Ensiklopedia Sains AnakReferensi
5BP-00002Buku Bahasa Indonesia Kelas VIBuku Pelajaran

Sistem tersebut cukup sederhana dan tidak membuat semua jenis buku harus memiliki kode yang berbeda-beda.

2. Penulisan Nomor pada Stempel Inventaris

Pada buku fisik, nomor inventaris dapat ditulis lebih lengkap pada stempel inventaris.

Misalnya:

2026/PS/00001

Untuk buku pelajaran:

2026/PS/BP-00001

Format tersebut dapat memberikan informasi tambahan mengenai koleksi.

Sebagai contoh, kode:

2026/PS/00001

dapat ditafsirkan sebagai:

  • 2026 = tahun yang digunakan dalam sistem inventaris

  • PS = kode internal perpustakaan/sekolah

  • 00001 = nomor urut koleksi

Sedangkan:

2026/PS/BP-00001

dapat digunakan untuk menunjukkan:

  • 2026 = tahun

  • PS = kode internal perpustakaan/sekolah

  • BP = Buku Pelajaran

  • 00001 = nomor urut buku pelajaran

Arti kode tersebut dapat disesuaikan dengan sistem masing-masing perpustakaan. Tidak harus menggunakan singkatan PS apabila perpustakaan memiliki kode internal yang berbeda.

Mengapa Penulisan di Buku Induk Bisa Lebih Sederhana?

Buku induk merupakan dokumen administrasi yang digunakan untuk mencatat informasi koleksi secara lengkap. Di dalamnya tidak hanya terdapat nomor inventaris, tetapi juga judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit, asal perolehan, harga, jumlah eksemplar, dan keterangan lainnya.

Karena informasi tersebut sudah tersedia dalam satu tabel, nomor inventaris tidak harus terlalu panjang.

Misalnya, untuk buku bacaan cukup ditulis:

00001

Ketika petugas membuka buku induk, petugas dapat melihat bahwa nomor tersebut terkait dengan buku tertentu.

Hal yang sama berlaku untuk buku pelajaran:

BP-00001

Kode BP membantu petugas membedakan koleksi buku pelajaran dari koleksi bacaan.

Cara ini juga membuat pencatatan menjadi lebih praktis, terutama jika perpustakaan sekolah memiliki koleksi yang cukup banyak.

Mengapa Stempel Inventaris Bisa Menggunakan Nomor yang Lebih Lengkap?

Stempel inventaris terdapat langsung pada buku fisik. Buku tersebut bisa berpindah tangan, dipinjam siswa, dikembalikan, dipindahkan rak, atau ditemukan kembali setelah beberapa waktu.

Karena itu, memberikan identitas yang lebih lengkap pada stempel dapat membantu petugas mengenali asal administrasi buku.

Misalnya pada halaman tertentu buku terdapat stempel:

PERPUSTAKAAN SEKOLAH

No. Inventaris: 2026/PS/BP-00001

Ketika buku tersebut ditemukan, petugas dapat mencocokkannya dengan data pada buku induk.

Dengan demikian, stempel bukan sekadar tanda kepemilikan, tetapi juga dapat menjadi identitas administrasi koleksi.

Apakah Buku Bacaan Harus Diberi Kode Khusus?

Tidak harus.

Perpustakaan sekolah dapat memilih sistem yang sederhana. Untuk buku fiksi, cerita anak, buku pengayaan, pengetahuan umum, dan koleksi bacaan lainnya, nomor inventaris dapat menggunakan nomor urut biasa.

Contohnya:

00001

00002

00003

00004

dan seterusnya.

Tidak perlu membuat kode seperti BB-00001, F-00001, PG-00001, dan sebagainya apabila hal tersebut justru membuat sistem menjadi terlalu rumit.

Dengan sistem tersebut, kode khusus hanya digunakan untuk buku pelajaran:

BP-00001

Sementara koleksi umum tetap menggunakan nomor biasa.

Sistem ini dapat menjadi pilihan yang praktis bagi perpustakaan SD karena petugas tidak perlu menghafalkan terlalu banyak kode.

Contoh Hubungan Nomor Buku Induk dan Stempel

Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh penerapannya.

Buku Bacaan

Di buku induk:

Nomor Inventaris: 00001

Pada stempel buku:

No. Inventaris: 2026/PS/00001

Buku Fiksi

Di buku induk:

Nomor Inventaris: 00002

Pada stempel:

No. Inventaris: 2026/PS/00002

Buku Pelajaran

Di buku induk:

Nomor Inventaris: BP-00001

Pada stempel:

No. Inventaris: 2026/PS/BP-00001

Dengan pola tersebut, petugas dapat mencocokkan data dengan mudah.

Bagaimana Jika Satu Judul Buku Memiliki Banyak Eksemplar?

Setiap eksemplar yang menjadi koleksi perpustakaan sebaiknya memiliki identitas inventaris masing-masing.

Misalnya perpustakaan memiliki lima eksemplar buku Matematika kelas V.

Nomor inventarisnya dapat dibuat:

BP-00001

BP-00002

BP-00003

BP-00004

BP-00005

Sedangkan pada stempel dapat ditulis:

2026/PS/BP-00001

2026/PS/BP-00002

2026/PS/BP-00003

2026/PS/BP-00004

2026/PS/BP-00005

Hal ini akan memudahkan ketika ada satu eksemplar yang rusak, hilang, atau sedang dipinjam.

Petugas tidak hanya mengetahui jumlah buku berdasarkan judul, tetapi juga dapat mengetahui identitas setiap eksemplar.

Bagaimana Jika Buku Lama Sudah Memiliki Nomor Inventaris?

Buku lama tidak selalu harus diberi nomor baru apabila nomor inventarisnya masih dapat dibaca dan datanya masih dapat ditelusuri.

Jika perpustakaan sedang melakukan penataan ulang, petugas sebaiknya memeriksa terlebih dahulu data buku lama sebelum mengganti nomor.

Hal yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai satu buku memiliki dua nomor inventaris aktif yang membingungkan.

Jika perpustakaan memang memutuskan untuk melakukan inventarisasi ulang, sebaiknya dibuat catatan mengenai nomor lama dan nomor baru.

Contohnya:

Nomor lama: 125

Nomor baru: 00075

Dengan demikian, riwayat koleksi masih dapat ditelusuri.

Bagaimana Jika Buku Hilang atau Rusak?

Nomor inventaris tetap menjadi bagian penting dalam pencatatan buku yang hilang atau rusak.

Misalnya buku pelajaran memiliki nomor:

BP-00025

Jika buku tersebut hilang, petugas dapat memberikan keterangan pada buku induk bahwa eksemplar dengan nomor tersebut hilang.

Apabila buku rusak berat dan dikeluarkan dari koleksi, nomor tersebut juga sebaiknya tidak langsung digunakan untuk buku lain.

Hal ini penting agar riwayat inventaris tetap jelas.

Nomor inventaris pada dasarnya merupakan identitas administrasi suatu eksemplar, sehingga penggunaannya perlu dicatat dengan tertib.

Bagaimana Membuat Nomor Inventaris di Excel?

Sistem penomoran dapat dibuat secara sederhana menggunakan Microsoft Excel atau aplikasi pengelolaan perpustakaan.

Kolom yang dapat digunakan antara lain:

No.Nomor Buku IndukNomor StempelJudulPengarangTahunJenis KoleksiSumber PerolehanKeterangan
1000012026/PS/00001Cerita Anak Nusantara...2026BacaanPembelianBaik
2BP-000012026/PS/BP-00001Matematika Kelas V...2026PelajaranBantuanBaik
3000022026/PS/00002Ensiklopedia Sains...2026ReferensiHibahBaik

Dengan cara ini, petugas dapat melakukan pencarian berdasarkan nomor inventaris, jenis koleksi, judul, atau informasi lainnya.

Jangan Menyamakan Nomor Inventaris dengan Nomor Panggil

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menganggap nomor inventaris sama dengan nomor panggil.

Padahal keduanya memiliki fungsi yang berbeda.

Nomor inventaris digunakan untuk administrasi dan identitas koleksi.

Nomor panggil digunakan untuk menentukan lokasi dan susunan buku di rak berdasarkan sistem klasifikasi yang digunakan perpustakaan.

Sebagai contoh, sebuah buku dapat memiliki:

Nomor inventaris: 00025

Nomor stempel: 2026/PS/00025

Nomor panggil: 500

Ketiga informasi tersebut tidak perlu sama karena mempunyai fungsi yang berbeda.

Apakah Sistem 00001 dan BP-00001 Boleh Digunakan?

Boleh digunakan sebagai sistem internal perpustakaan, selama penerapannya konsisten dan terdokumentasi dengan jelas.

Untuk perpustakaan sekolah, sistem sederhana justru sering lebih mudah diterapkan daripada membuat terlalu banyak kode.

Salah satu pola yang praktis adalah:

Buku bacaan dan koleksi umum

Buku induk:

00001

Stempel:

2026/PS/00001

Buku pelajaran

Buku induk:

BP-00001

Stempel:

2026/PS/BP-00001

Dengan demikian, pembagian kode hanya dilakukan pada koleksi yang memang ingin dibedakan, yaitu buku pelajaran.

Sementara itu, buku fiksi, buku pengayaan, cerita anak, pengetahuan umum, dan koleksi bacaan lainnya tetap menggunakan nomor inventaris biasa.

Hal yang Paling Penting dalam Pemberian Nomor Inventaris

Apa pun bentuk nomor yang dipilih, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Pertama, jangan menggunakan nomor yang sama untuk dua buku yang berbeda.

Kedua, setiap eksemplar perlu dapat ditelusuri identitasnya.

Ketiga, nomor pada buku fisik harus dapat dicocokkan dengan data di buku induk.

Keempat, apabila menggunakan kode khusus seperti BP, arti kode tersebut harus diketahui oleh petugas perpustakaan.

Kelima, sistem penomoran harus diterapkan secara konsisten.

Keenam, perubahan sistem penomoran sebaiknya dicatat agar petugas berikutnya tidak kebingungan ketika melanjutkan pengelolaan perpustakaan.

Kesimpulan

Pemberian nomor inventaris buku perpustakaan tidak harus dibuat rumit. Perpustakaan sekolah dapat membuat sistem yang sederhana tetapi tetap mudah ditelusuri.

Dalam praktiknya, penulisan nomor di buku induk dan pada stempel inventaris dapat menggunakan dua bentuk yang berbeda.

Pada buku induk, nomor dapat dibuat sederhana, misalnya:

00001 untuk buku bacaan dan koleksi umum.

Sedangkan buku pelajaran dapat menggunakan:

BP-00001.

Pada stempel inventaris, nomor dapat ditulis lebih lengkap, misalnya:

2026/PS/00001

untuk koleksi umum dan:

2026/PS/BP-00001

untuk buku pelajaran.

Perbedaan tersebut tidak menjadi masalah selama ada hubungan yang jelas antara nomor pada buku induk dan nomor pada buku fisik.

Dengan sistem ini, administrasi perpustakaan tetap sederhana, tetapi petugas dapat lebih mudah membedakan buku pelajaran dengan koleksi bacaan lainnya. Yang terpenting bukan seberapa panjang atau rumit nomor inventaris yang dibuat, melainkan konsistensi pencatatan, ketepatan identifikasi, dan kemudahan penelusuran koleksi.



Referensi

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2018). Pedoman pengolahan bahan perpustakaan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2022). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2022 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2022). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2022 tentang Pedoman Akreditasi Perpustakaan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Back To Top