Masuk ke ruang perpustakaan untuk pertama kalinya sebagai orang yang bertanggung jawab mengelolanya bisa membuat bingung.
Rak penuh dengan buku yang tidak beraturan. Sebagian buku mungkin belum memiliki label. Ada buku yang belum diketahui asalnya. Data koleksi tidak lengkap. Buku pelajaran bercampur dengan buku cerita. Administrasi belum tertata. Kartu anggota mungkin tidak tersedia. Bahkan, bisa jadi tidak ada yang tahu berapa sebenarnya jumlah buku yang dimiliki perpustakaan.
Di sisi lain, sekolah mungkin berharap perpustakaan segera berjalan dan dapat digunakan siswa.
Situasi seperti ini cukup sering terjadi.
Pustakawan yang baru ditempatkan, mahasiswa ilmu perpustakaan yang sedang mulai belajar praktik, atau guru yang mendapat tugas tambahan mengelola perpustakaan dapat merasa bingung harus memulai dari mana.
Haruskah langsung menata buku?
Haruskah membuat kartu anggota?
Haruskah memasukkan semua buku ke komputer?
Atau langsung membuat program literasi?
Jawabannya: jangan mengerjakan semuanya sekaligus.
Pengelolaan perpustakaan sebaiknya dilakukan secara bertahap dan berurutan. Langkah pertama bukan membuat perpustakaan terlihat cantik, melainkan mengetahui terlebih dahulu kondisi sebenarnya dari perpustakaan tersebut.
Artikel ini membahas langkah praktis yang dapat dilakukan oleh pustakawan pemula, mahasiswa perpustakaan, maupun guru yang mendapat tugas tambahan mengelola perpustakaan sekolah.
Mengapa Pustakawan Baru Sering Bingung Saat Pertama Kali Mengelola Perpustakaan?
Salah satu penyebabnya adalah pekerjaan perpustakaan sangat banyak dan saling berkaitan.
Perpustakaan bukan hanya tentang buku.
Ada pengadaan, inventarisasi, klasifikasi, katalogisasi, pelabelan, penyusunan koleksi, layanan sirkulasi, administrasi anggota, pemeliharaan, penyiangan, statistik, promosi, kegiatan literasi, hingga evaluasi.
Jika semuanya dilihat sekaligus, pekerjaan tersebut memang terlihat sangat besar.
Padahal, pekerjaan perpustakaan dapat dipecah menjadi beberapa tahap.
Perpustakaan Nasional RI dalam berbagai kegiatan pembinaan perpustakaan sekolah juga menekankan pentingnya pengetahuan manajerial dan keahlian teknis dasar bagi pengelola perpustakaan sekolah/madrasah.
Bahkan, penelitian mengenai pembinaan perpustakaan SD di Kecamatan Gajahmungkur Semarang menunjukkan bahwa materi yang perlu dikuasai pengelola antara lain inventarisasi, katalogisasi, klasifikasi, tajuk subjek, layanan sirkulasi, layanan referensi, dan manajemen perpustakaan.
Jadi, kebingungan di awal sebenarnya wajar.
Yang dibutuhkan bukan langsung bekerja lebih cepat, tetapi mengetahui urutan pekerjaan yang benar.
Langkah 1: Jangan Langsung Menata Buku, Kenali Dulu Kondisi Perpustakaan
Kesalahan yang cukup sering dilakukan pengelola baru adalah langsung memindahkan dan menata semua buku.
Padahal, sebelum menata koleksi, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang sebenarnya ada di perpustakaan.
Luangkan waktu untuk melakukan observasi.
Lihat seluruh ruangan.
Periksa:
kondisi ruangan;
jumlah rak;
meja dan kursi;
komputer;
printer;
jaringan internet;
lemari;
koleksi buku;
buku yang rusak;
buku yang belum diolah;
buku yang tidak sesuai;
dokumen administrasi;
serta kondisi layanan perpustakaan.
Jangan terburu-buru membuang atau memindahkan buku.
Catat dulu apa yang ditemukan.
Buatlah daftar sederhana seperti:
| Yang Dicek | Kondisi |
|---|---|
| Ruang perpustakaan | Baik/cukup/perlu diperbaiki |
| Rak buku | Jumlah dan kondisi |
| Buku | Belum diketahui jumlah pasti |
| Komputer | Ada/tidak |
| Printer | Ada/tidak |
| Administrasi | Lengkap/tidak |
| Kartu anggota | Ada/tidak |
| Buku inventaris | Ada/tidak |
| Sistem peminjaman | Manual/digital/tidak ada |
Langkah pertama ini penting karena Anda akan memiliki peta masalah perpustakaan.
Jangan merasa harus menyelesaikan semuanya dalam satu hari.
Langkah 2: Cari dan Periksa Dokumen Perpustakaan yang Sudah Ada
Setelah melihat kondisi fisik, langkah berikutnya adalah mencari dokumen.
Tanyakan kepada kepala sekolah atau pengelola sebelumnya:
Apakah perpustakaan sudah memiliki buku inventaris?
Apakah ada daftar koleksi?
Apakah ada data anggota?
Apakah ada catatan peminjaman?
Apakah pernah dilakukan stock opname?
Apakah ada surat keputusan pengelola perpustakaan?
Apakah ada program kerja?
Apakah ada laporan kegiatan sebelumnya?
Apakah ada SOP?
Dokumen lama jangan langsung dianggap tidak berguna.
Walaupun belum rapi, dokumen tersebut dapat menjadi titik awal untuk mengetahui sejarah pengelolaan perpustakaan.
Jika ditemukan data lama, cocokkan dengan kondisi sebenarnya.
Misalnya, daftar inventaris menunjukkan 1.000 eksemplar buku.
Tetapi setelah diperiksa, buku yang terlihat hanya sekitar 700 eksemplar.
Jangan langsung mengubah angka 1.000 menjadi 700.
Cari tahu terlebih dahulu ke mana 300 buku lainnya.
Bisa jadi sedang dipinjam, tersimpan di kelas, rusak, dipindahkan, atau memang sudah tidak ada.
Langkah 3: Lakukan Stock Opname atau Cacah Ulang Koleksi
Setelah mengetahui kondisi awal dan dokumen yang tersedia, langkah berikutnya adalah menghitung dan mencocokkan koleksi.
Dalam Peraturan Perpustakaan Nasional Nomor 4 Tahun 2024, cacah ulang atau stock opname didefinisikan sebagai kegiatan penghitungan kembali koleksi yang dimiliki perpustakaan untuk mengetahui jumlah koleksi sebenarnya sesuai dengan daftar inventaris koleksi.
Inilah salah satu pekerjaan penting yang sebaiknya dilakukan ketika mengambil alih perpustakaan.
Jangan langsung membuat katalog dari buku yang ada sebelum mengetahui jumlah dan kondisi koleksi.
Buat daftar sementara.
Misalnya:
| No. | Judul | Pengarang | Kondisi | Ada/Tidak |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Buku A | Penulis A | Baik | Ada |
| 2 | Buku B | Penulis B | Rusak | Ada |
| 3 | Buku C | Penulis C | Baik | Tidak ditemukan |
Pada tahap awal, Anda tidak perlu membuat data yang terlalu rumit.
Tujuan pertama adalah mengetahui:
“Sebenarnya perpustakaan ini memiliki koleksi apa saja?”
Langkah 4: Pisahkan Koleksi Berdasarkan Jenis dan Kondisinya
Setelah koleksi diketahui, jangan langsung memasukkannya kembali ke rak.
Pisahkan terlebih dahulu.
Misalnya menjadi beberapa kelompok:
Kelompok 1: Buku pelajaran
Buku yang digunakan untuk mendukung pembelajaran.
Kelompok 2: Buku pengayaan
Buku yang memperluas pengetahuan siswa di luar buku teks.
Kelompok 3: Buku cerita
Novel anak, dongeng, cerita rakyat, fabel, dan bacaan sejenis.
Kelompok 4: Buku referensi
Misalnya kamus, ensiklopedia, atlas, dan sumber referensi lainnya.
Kelompok 5: Koleksi yang rusak
Buku yang masih mungkin diperbaiki dipisahkan untuk diperbaiki.
Kelompok 6: Koleksi yang perlu dievaluasi
Buku yang sudah sangat lama, tidak sesuai, rusak berat, atau memiliki alasan lain untuk ditinjau kembali.
Tahap ini membuat pekerjaan berikutnya jauh lebih mudah.
Langkah 5: Periksa Buku yang Belum Memiliki Data Inventaris
Setelah koleksi dipisahkan, fokus pada inventarisasi.
Inventarisasi merupakan pencatatan koleksi yang dimiliki perpustakaan.
Perpustakaan Nasional juga mengenali inventarisasi bahan pustaka sebagai bagian dari kegiatan pengelolaan koleksi.
Data yang dicatat dapat disesuaikan dengan sistem yang digunakan perpustakaan.
Misalnya:
nomor inventaris;
tanggal diterima;
judul;
pengarang;
penerbit;
tahun terbit;
sumber perolehan;
harga jika ada;
keterangan.
Untuk buku lama yang tidak memiliki informasi lengkap, jangan mengarang datanya.
Gunakan informasi yang benar-benar tersedia pada buku atau dokumen pendukung.
Jika sumber perolehan tidak diketahui, lebih baik dicatat sebagai tidak diketahui daripada dibuat-buat.
Langkah 6: Baru Belajar Pengolahan Buku
Setelah inventarisasi mulai tertata, barulah masuk ke pekerjaan pengolahan bahan pustaka.
Tahap ini biasanya membuat pustakawan pemula merasa paling takut.
Istilah seperti klasifikasi, katalogisasi, tajuk subjek, nomor panggil, dan DDC mungkin terdengar rumit.
Namun, pekerjaan tersebut dapat dipelajari secara bertahap.
Pengolahan bahan pustaka pada dasarnya bertujuan membuat koleksi terorganisasi sehingga dapat ditemukan dan dimanfaatkan oleh pemustaka.
Perpusnas pada 2025 juga menyelenggarakan kegiatan peningkatan kompetensi pengatalogan dan menjelaskan bahwa pengolahan mencakup pengorganisasian informasi agar koleksi dapat diakses dengan baik.
Langkah 7: Pelajari Klasifikasi Secara Bertahap
Salah satu kemampuan dasar yang perlu dipelajari adalah klasifikasi.
Bagi pemula, jangan langsung mencoba mengklasifikasikan ratusan buku sekaligus.
Ambil 10 buku terlebih dahulu.
Perhatikan judulnya.
Baca daftar isi.
Lihat kata pengantar.
Pahami isi buku.
Kemudian tentukan subjek utamanya.
Setelah mengetahui subjek, barulah menentukan nomor klasifikasi sesuai sistem yang digunakan.
Banyak perpustakaan menggunakan DDC sebagai dasar klasifikasi.
Kesalahan yang sering terjadi adalah menentukan nomor klasifikasi hanya berdasarkan judul buku.
Padahal, judul belum tentu menggambarkan subjek utama secara lengkap.
Karena itu, biasakan melihat isi buku sebelum menentukan klasifikasi.
Langkah 8: Buat Nomor Panggil dan Label Buku
Setelah nomor klasifikasi ditentukan, koleksi perlu diberi identitas agar mudah ditempatkan dan ditemukan kembali.
Salah satunya adalah nomor panggil.
Nomor panggil membantu menunjukkan posisi sebuah buku di rak.
Setelah itu, buat label yang ditempel pada bagian buku sesuai sistem yang digunakan perpustakaan.
Jika perpustakaan menggunakan barcode, barcode juga dapat ditambahkan.
Namun, jangan merasa bahwa perpustakaan harus langsung menggunakan barcode hanya karena perpustakaan lain sudah menggunakannya.
Jika jumlah koleksi masih sedikit dan fasilitas terbatas, sistem sederhana tetap dapat digunakan.
Yang paling penting adalah sistemnya konsisten.
Langkah 9: Tata Buku di Rak dengan Sistem yang Jelas
Setelah buku selesai diolah, barulah koleksi disusun ke rak.
Jangan menyusun buku berdasarkan warna sampul atau ukuran buku saja.
Susun berdasarkan sistem klasifikasi yang digunakan.
Pastikan nomor panggil berurutan.
Berikan ruang yang cukup agar buku mudah diambil dan dikembalikan.
Untuk perpustakaan SD, pertimbangkan juga kemampuan siswa.
Siswa kelas rendah mungkin membutuhkan penataan yang lebih sederhana dan mudah dipahami.
Pustakawan dapat memberikan tanda atau petunjuk sederhana pada rak.
Misalnya:
CERITA
HEWAN
SAINS
AGAMA
SEJARAH
PENGETAHUAN UMUM
Petunjuk sederhana dapat membantu anak menemukan koleksi tanpa selalu harus bertanya kepada pustakawan.
Langkah 10: Siapkan Layanan Peminjaman
Setelah koleksi mulai tertata, perpustakaan dapat mulai membangun layanan sirkulasi.
Tentukan terlebih dahulu aturan dasar.
Misalnya:
siapa yang boleh meminjam;
jumlah buku yang boleh dipinjam;
lama peminjaman;
prosedur pengembalian;
apa yang dilakukan jika buku hilang;
apa yang dilakukan jika buku rusak;
bagaimana mencatat transaksi.
Sistem dapat dibuat sederhana.
Perpustakaan kecil tidak harus langsung menggunakan aplikasi yang kompleks.
Yang penting setiap transaksi dapat diketahui.
Minimal pustakawan mengetahui:
Siapa yang meminjam?
Buku apa yang dipinjam?
Kapan dipinjam?
Kapan harus dikembalikan?
Data tersebut nantinya menjadi dasar statistik layanan.
Langkah 11: Buat Administrasi Dasar
Setelah layanan berjalan, susun administrasi perpustakaan.
Pustakawan pemula tidak perlu membuat puluhan dokumen sekaligus.
Mulailah dari dokumen yang benar-benar dibutuhkan.
Misalnya:
Buku inventaris koleksi.
Data anggota.
Data peminjaman.
Data pengembalian.
Data kunjungan.
Daftar koleksi.
Buku atau formulir pengadaan.
Catatan koleksi rusak/hilang.
Program kerja.
Laporan kegiatan.
Administrasi yang sederhana tetapi rutin jauh lebih baik daripada administrasi yang sangat banyak tetapi tidak pernah diperbarui.
Langkah 12: Buat SOP Sederhana
Setelah pekerjaan dasar diketahui, buat prosedur kerja.
SOP tidak perlu menggunakan bahasa yang sulit.
Buat berdasarkan pekerjaan nyata.
Misalnya:
SOP Peminjaman Buku
Siswa memilih buku.
Pustakawan memeriksa kondisi buku.
Data peminjaman dicatat.
Buku diserahkan kepada siswa.
Pustakawan mencatat tanggal pengembalian.
SOP Pengembalian
Siswa menyerahkan buku.
Pustakawan memeriksa kondisi.
Data pengembalian dicatat.
Jika terlambat, dicatat sesuai ketentuan.
Buku dikembalikan ke rak.
SOP membantu pekerjaan tetap berjalan meskipun suatu saat pengelola perpustakaan berganti.
Langkah 13: Jangan Lupa Menata Ruang
Setelah sistem dasar berjalan, perhatikan ruangan.
Ruang perpustakaan tidak harus mahal atau mewah.
Yang penting:
bersih;
aman;
terang;
cukup nyaman;
rak tertata;
jalur berjalan tidak terhalang;
koleksi mudah ditemukan;
meja dan kursi sesuai kebutuhan;
serta memiliki suasana yang mendukung kegiatan membaca.
Standar Nasional Perpustakaan SD/MI juga mencakup standar sarana dan prasarana serta memperhatikan aspek kenyamanan, keamanan, dan kemudahan penggunaan.
Jadi, penataan ruang bukan sekadar membuat perpustakaan terlihat bagus.
Tujuannya adalah membuat perpustakaan mudah digunakan.
Langkah 14: Baru Mulai Mengembangkan Kegiatan Literasi
Setelah pengelolaan dasar mulai tertata, jangan berhenti pada kegiatan peminjaman buku.
Perpustakaan sekolah memiliki peran dalam mendukung literasi siswa.
Perpusnas juga menekankan bahwa pengelola perpustakaan sekolah perlu dibekali kemampuan menyusun program literasi yang melibatkan perpustakaan secara aktif dan berkelanjutan.
Kegiatan tidak harus besar.
Pustakawan dapat memulai dari:
membaca bersama;
membaca nyaring;
storytelling;
rekomendasi buku;
buku pilihan minggu ini;
pojok baca;
jurnal membaca;
pameran buku;
kuis sederhana;
kegiatan berbagi cerita;
atau kunjungan kelas secara terjadwal.
Yang terpenting adalah kegiatan tersebut sesuai dengan kondisi sekolah.
Urutan Pekerjaan Perpustakaan untuk Pemula
Jika Anda benar-benar baru ditugaskan mengelola perpustakaan dan tidak tahu harus mulai dari mana, gunakan urutan sederhana berikut:
1. Kenali kondisi perpustakaan
↓
2. Cari dokumen yang sudah ada
↓
3. Cek dan hitung koleksi
↓
4. Pisahkan koleksi berdasarkan jenis dan kondisi
↓
5. Rapikan data inventaris
↓
6. Lakukan pengolahan koleksi
↓
7. Klasifikasi dan beri label
↓
8. Susun buku di rak
↓
9. Buat sistem peminjaman
↓
10. Rapikan administrasi
↓
11. Buat SOP
↓
12. Tata ruang
↓
13. Kembangkan layanan
↓
14. Jalankan kegiatan literasi
↓
15. Evaluasi secara berkala
Urutan ini tidak berarti semua perpustakaan harus mengikuti persis urutan tersebut. Kondisi setiap sekolah berbeda.
Namun, prinsip utamanya adalah:
Rapikan data sebelum memperbanyak program.
Apa yang Harus Dikerjakan pada Minggu Pertama?
Jika Anda baru mendapat tugas mengelola perpustakaan, berikut contoh pekerjaan realistis selama minggu pertama.
Hari pertama
Fokus pada observasi.
Jangan mengubah terlalu banyak.
Lihat kondisi ruangan, koleksi, dokumen, fasilitas, dan sistem yang sudah berjalan.
Hari kedua
Mulai mengumpulkan dokumen dan membuat daftar masalah.
Pisahkan masalah menjadi:
mendesak – penting – dapat dilakukan nanti.
Hari ketiga
Mulai menghitung dan mencocokkan koleksi.
Tidak perlu menyelesaikan seluruh koleksi jika jumlahnya banyak.
Hari keempat
Mulai memisahkan buku berdasarkan jenis dan kondisi.
Hari kelima
Buat daftar pekerjaan lanjutan.
Misalnya:
200 buku belum diinventarisasi;
300 buku belum diberi label;
data anggota belum tersedia;
belum ada buku kunjungan;
belum ada SOP peminjaman.
Dengan cara ini, minggu pertama tidak perlu menghasilkan perpustakaan yang langsung sempurna.
Target minggu pertama adalah mengetahui masalah dan membuat rencana kerja.
Bagaimana Jika Koleksi Perpustakaan Sangat Berantakan?
Jangan panik.
Jika kondisi sangat berantakan, jangan mencoba menata seluruh buku dalam satu hari.
Gunakan metode bertahap.
Misalnya, perpustakaan memiliki 2.000 buku.
Anda dapat mengolah 20–30 buku per hari.
Jika dilakukan secara konsisten, dalam beberapa bulan koleksi akan jauh lebih tertata.
Yang penting jangan mencampur buku yang sudah diolah dengan buku yang belum diolah.
Buat area:
“Belum Diolah”
dan
“Sudah Diolah”
Dengan demikian, pekerjaan tidak berulang.
Bagaimana Jika Tidak Mengerti Klasifikasi dan Katalogisasi?
Jangan malu mengakui bahwa Anda belum menguasainya.
Bahkan mahasiswa perpustakaan pun membutuhkan latihan sebelum benar-benar terbiasa.
Mulailah dari buku yang sederhana.
Pelajari satu konsep setiap hari.
Cari pedoman yang dapat dipercaya.
Ikuti pelatihan.
Tanyakan kepada pustakawan yang lebih berpengalaman.
Perpusnas sendiri menyediakan pembinaan dan penguatan kompetensi teknis, termasuk pengatalogan praktis.
Jangan mengambil jalan pintas dengan membuat data koleksi secara asal hanya agar terlihat selesai.
Data yang salah akan menjadi masalah yang lebih besar di kemudian hari.
Bagaimana Jika Pengelolanya Guru yang Tidak Memiliki Latar Belakang Ilmu Perpustakaan?
Ini merupakan kondisi yang masih dapat ditemui di sekolah.
Perpusnas pada 2024 juga menyampaikan bahwa salah satu kendala perpustakaan sekolah adalah masih minimnya tenaga perpustakaan yang memiliki latar belakang pendidikan perpustakaan atau berstatus pustakawan.
Jika guru mendapat tugas tambahan mengelola perpustakaan, tidak perlu langsung merasa harus menguasai seluruh ilmu perpustakaan.
Mulailah dari pekerjaan dasar.
Pahami:
bagaimana koleksi dicatat;
bagaimana buku dikelompokkan;
bagaimana layanan peminjaman dilakukan;
bagaimana data anggota dicatat;
bagaimana statistik dibuat;
dan bagaimana perpustakaan mendukung pembelajaran.
Setelah itu, kemampuan teknis dapat ditingkatkan melalui pelatihan atau belajar mandiri.
Jangan Terjebak Ingin Membuat Perpustakaan Terlihat Bagus Dahulu
Salah satu godaan terbesar ketika mengelola perpustakaan adalah terlalu fokus pada dekorasi.
Membuat dinding penuh poster, memasang hiasan, membuat papan literasi, atau membeli perabot baru memang dapat membuat ruangan terlihat menarik.
Tetapi perpustakaan yang indah belum tentu terkelola dengan baik.
Lebih penting memiliki:
data koleksi yang jelas;
buku yang mudah ditemukan;
layanan peminjaman yang berjalan;
administrasi yang tertib;
ruang yang nyaman;
dan kegiatan yang bermanfaat.
Setelah sistem dasar berjalan, barulah dekorasi dan inovasi dapat dikembangkan.
Jangan mempercantik kekacauan. Rapikan sistemnya terlebih dahulu.
Jangan Langsung Membuat Banyak Program
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah membuat terlalu banyak program pada awal pengelolaan.
Misalnya langsung membuat:
lomba membaca;
pojok literasi;
jurnal membaca;
resensi buku;
storytelling;
kunjungan kelas;
pameran buku;
dan berbagai kegiatan lainnya.
Padahal koleksi belum tertata dan sistem peminjaman belum berjalan.
Akibatnya, pengelola menjadi kewalahan.
Lebih baik pilih satu atau dua kegiatan yang realistis.
Misalnya:
Program membaca 15 menit dan kunjungan perpustakaan terjadwal.
Setelah kegiatan berjalan dengan baik, barulah dikembangkan.
Prinsip Penting: Benahi Dasar, Kemudian Kembangkan
Perpustakaan yang baik dibangun dari dasar yang kuat.
Dasar tersebut meliputi:
Koleksi → Pengolahan → Penataan → Layanan → Administrasi → Program → Evaluasi.
Jika koleksi belum diketahui jumlahnya, jangan buru-buru membuat program besar.
Jika buku belum tertata, jangan terlalu fokus pada dekorasi.
Jika peminjaman belum tercatat, jangan hanya mengejar jumlah kunjungan.
Jika administrasi belum ada, jangan menunggu sampai akhir tahun untuk membuat laporan.
Kerjakan sedikit demi sedikit.
Checklist Pustakawan Baru: Apa yang Harus Dicek?
Berikut checklist sederhana yang dapat digunakan ketika pertama kali menerima tugas mengelola perpustakaan.
A. Kondisi Ruang
☐ Ruang bersih
☐ Rak tersedia
☐ Meja dan kursi tersedia
☐ Pencahayaan cukup
☐ Sirkulasi udara baik
☐ Keamanan ruangan diperhatikan
B. Koleksi
☐ Jumlah koleksi diketahui
☐ Koleksi sudah diinventarisasi
☐ Buku rusak dipisahkan
☐ Buku belum diolah dipisahkan
☐ Koleksi dikelompokkan
☐ Koleksi tersusun di rak
C. Pengolahan
☐ Inventarisasi
☐ Klasifikasi
☐ Katalogisasi
☐ Nomor panggil
☐ Label buku
D. Layanan
☐ Data anggota
☐ Peminjaman
☐ Pengembalian
☐ Kunjungan
☐ Aturan layanan
E. Administrasi
☐ Buku inventaris
☐ Daftar koleksi
☐ Statistik
☐ Program kerja
☐ SOP
☐ Laporan kegiatan
F. Pengembangan
☐ Kegiatan literasi
☐ Promosi koleksi
☐ Kerja sama dengan guru
☐ Evaluasi layanan
Tidak harus semua kotak tercentang dalam satu minggu.
Checklist ini justru digunakan untuk mengetahui mana yang sudah ada dan mana yang masih perlu dikerjakan.
Berapa Lama Sampai Perpustakaan Benar-Benar Tertata?
Tidak ada waktu yang sama untuk setiap perpustakaan.
Perpustakaan dengan 300 buku tentu berbeda dengan perpustakaan yang memiliki 5.000 buku.
Jumlah tenaga, waktu kerja, fasilitas, dan kondisi awal juga berpengaruh.
Karena itu, jangan membandingkan perpustakaan yang baru Anda kelola dengan perpustakaan yang sudah dikelola selama bertahun-tahun.
Tetapkan target yang realistis.
Misalnya:
Bulan pertama: mengetahui kondisi dan menata data.
Bulan kedua: menyelesaikan inventarisasi dan pengolahan sebagian koleksi.
Bulan ketiga: memperbaiki layanan sirkulasi dan administrasi.
Bulan keempat: mulai mengembangkan kegiatan literasi.
Setelah itu dilakukan evaluasi dan dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Menjadi Pengelola Perpustakaan Tidak Harus Langsung Sempurna
Jika Anda baru pertama kali masuk ke perpustakaan dan merasa bingung, sebenarnya itu hal yang sangat wajar.
Pekerjaan perpustakaan memang memiliki banyak istilah dan tahapan.
Anda tidak harus langsung menjadi ahli klasifikasi, katalogisasi, layanan, teknologi, administrasi, dan literasi dalam waktu bersamaan.
Mulailah dari satu pertanyaan sederhana:
“Apa kondisi perpustakaan saya saat ini?”
Kemudian lanjutkan dengan pertanyaan:
“Apa yang paling mendesak untuk dibenahi?”
Setelah itu:
“Apa yang harus saya kerjakan terlebih dahulu?”
Dari sinilah pengelolaan perpustakaan dapat dimulai.
Kesimpulan
Bagi pustakawan baru, mahasiswa ilmu perpustakaan, atau guru yang mendapat tugas tambahan mengelola perpustakaan sekolah, kebingungan ketika pertama kali masuk perpustakaan adalah hal yang sangat wajar.
Jangan merasa harus langsung menyelesaikan semuanya.
Langkah pertama adalah mengamati kondisi perpustakaan dan mengumpulkan informasi yang sudah ada.
Setelah itu, lakukan secara bertahap:
mengenali kondisi perpustakaan;
mencari dokumen yang tersedia;
melakukan stock opname;
memisahkan koleksi;
merapikan inventarisasi;
mempelajari pengolahan bahan pustaka;
melakukan klasifikasi dan pelabelan;
menata buku;
membuat layanan peminjaman;
menata administrasi;
membuat SOP;
memperbaiki ruang;
mengembangkan layanan;
menjalankan kegiatan literasi; dan
melakukan evaluasi.
Perpustakaan tidak perlu langsung sempurna.
Yang jauh lebih penting adalah bergerak dari kondisi tidak tertata menjadi lebih tertata setiap hari.
Satu rak yang selesai ditata, satu kelompok buku yang selesai diinventarisasi, satu prosedur yang berhasil dibuat, atau satu siswa yang mulai rutin meminjam buku merupakan kemajuan.
Pada akhirnya, mengelola perpustakaan bukan pekerjaan yang selesai dalam satu hari.
Perpustakaan adalah pekerjaan yang dibangun sedikit demi sedikit melalui data yang tertib, koleksi yang terorganisasi, layanan yang konsisten, dan kemauan untuk terus belajar.
Bagi Anda yang baru mendapat tugas mengelola perpustakaan, tidak perlu takut melihat banyaknya pekerjaan.
Jangan bertanya, “Bagaimana saya menyelesaikan semuanya?”
Mulailah dengan bertanya:
“Apa satu pekerjaan perpustakaan yang harus saya selesaikan hari ini?”
Dari satu pekerjaan itulah perpustakaan yang lebih tertata akan mulai terbentuk.
Referensi
Dachliyani, L. (2019). Manajemen informasi perpustakaan: Tuntunan praktis untuk perpustakaan umum dan perpustakaan sekolah. Bee Media Pustaka.
Murgono, M. (2020). Pembinaan perpustakaan sekolah dasar di Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang. Media Pustakawan, 15(3), 114–119. https://doi.org/10.37014/medpus.v15i3.952
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2024). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2024). Norma, standar, prosedur, dan kriteria (NSPK) perpustakaan sekolah/madrasah. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2025). Dorong penguatan pengelolaan bahan pustaka, Perpusnas fasilitasi kompetensi pengatalogan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Thanks for reading Baru Mengelola Perpustakaan Sekolah? Ini 10 Langkah yang Harus Dilakukan Pustakawan Pemula. Please share...!
0 Komentar untuk "Baru Mengelola Perpustakaan Sekolah? Ini 10 Langkah yang Harus Dilakukan Pustakawan Pemula"