Bagi pustakawan baru, mahasiswa ilmu perpustakaan, atau guru yang mendapat tugas tambahan mengelola perpustakaan sekolah, mengetahui bahwa buku harus diinventarisasi saja ternyata belum cukup.
Setelah mengetahui kondisi perpustakaan, menghitung koleksi, dan memisahkan buku berdasarkan jenisnya, muncul masalah baru:
“Setelah ini bukunya harus diapakan?”
Buku yang ada di meja semakin banyak. Ada buku baru, buku lama, buku cerita, buku pelajaran, kamus, atlas, dan berbagai jenis koleksi lainnya. Sebagian sudah memiliki nomor inventaris, sebagian belum. Ada buku yang memiliki label, tetapi tidak diketahui dari mana nomor tersebut berasal. Ada pula buku yang sudah lama berada di perpustakaan tetapi belum pernah dicatat secara lengkap.
Di sinilah banyak pengelola perpustakaan pemula mulai merasa bingung.
Apakah buku harus diberi stempel terlebih dahulu?
Apakah harus dicatat ke buku induk?
Setelah itu apakah langsung diberi nomor klasifikasi?
Bagaimana menentukan nomor klasifikasinya?
Apakah semua buku harus dibuat katalog?
Kapan buku boleh dimasukkan ke rak?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat wajar.
Pengolahan bahan perpustakaan memang memiliki beberapa tahapan yang saling berhubungan. Perpustakaan Nasional RI dalam pedoman pengolahan bahan perpustakaan menjelaskan kegiatan pengolahan sebagai proses yang dilakukan secara terstandar agar bahan perpustakaan dapat diorganisasikan dan informasi mengenai koleksi dapat ditemukan kembali dengan baik.
Bagi pemula, kuncinya bukan menghafalkan semua istilah sekaligus.
Kuncinya adalah memahami urutan pekerjaannya.
Apa Itu Pengolahan Bahan Perpustakaan?
Secara sederhana, pengolahan bahan perpustakaan adalah serangkaian pekerjaan untuk membuat sebuah buku atau bahan perpustakaan tercatat, dikenali, dikelompokkan, diberi identitas, dan ditempatkan sehingga mudah ditemukan kembali.
Jadi, ketika sebuah buku datang ke perpustakaan, pekerjaan belum selesai hanya karena buku tersebut sudah menjadi milik perpustakaan.
Buku tersebut perlu diproses agar dapat menjadi bagian dari koleksi yang terorganisasi.
Secara umum, pekerjaan pengolahan dapat meliputi:
pemeriksaan bahan;
inventarisasi;
pemberian stempel atau identitas kepemilikan;
katalogisasi;
klasifikasi;
penentuan tajuk subjek;
pemberian nomor panggil;
pelabelan;
penyelesaian fisik buku;
pemasangan barcode jika digunakan;
input ke sistem perpustakaan jika menggunakan otomasi; dan
shelving atau penempatan buku di rak.
Dalam bahan ajar untuk tenaga perpustakaan sekolah, pengolahan bahan perpustakaan juga dijelaskan mencakup inventarisasi, katalogisasi, klasifikasi, penyelesaian, serta pengaturan atau penempatan koleksi.
Dengan memahami gambaran tersebut, kita bisa melihat bahwa mengolah buku bukan sekadar menempelkan label pada punggung buku.
Mengapa Buku Harus Diolah?
Bayangkan sebuah perpustakaan memiliki 1.000 buku, tetapi semua buku hanya disusun berdasarkan ukuran.
Buku kecil di rak pertama.
Buku besar di rak kedua.
Buku berwarna merah di rak ketiga.
Buku berwarna biru di rak keempat.
Sekilas memang terlihat rapi.
Tetapi ketika seorang siswa bertanya:
“Bu, saya mau mencari buku tentang hewan. Ada di mana?”
Pustakawan akan kesulitan menjawab jika tidak ada sistem pengelolaan koleksi.
Itulah salah satu alasan buku perlu diolah.
Pengolahan membuat koleksi menjadi lebih teratur dan membantu pustakawan maupun pemustaka menemukan informasi yang dibutuhkan.
Dalam standar kompetensi pustakawan, pengolahan bahan perpustakaan juga merupakan salah satu kompetensi yang mencakup katalogisasi, klasifikasi, dan penentuan tajuk subjek.
Jangan Langsung Mengolah Semua Buku Sekaligus
Ini merupakan hal penting bagi pemula.
Jika perpustakaan memiliki ratusan atau ribuan buku, jangan langsung mengambil semua buku dari rak dan mengolahnya sekaligus.
Cara tersebut justru dapat membuat pekerjaan semakin membingungkan.
Gunakan sistem batch atau kelompok kecil.
Misalnya:
Hari ini: 20 buku
Besok:
20 buku lagi
Hari berikutnya:
20 buku lagi
Dengan cara tersebut, Anda dapat memastikan setiap buku melewati seluruh tahapan dengan benar.
Jangan sampai 100 buku sudah diberi nomor klasifikasi, tetapi belum dicatat inventarisnya.
Atau 100 buku sudah diberi label, tetapi belum memiliki data yang jelas.
Prinsip yang baik untuk pemula adalah:
Selesaikan satu buku dari awal sampai akhir sebelum melanjutkan ke kelompok berikutnya.
Dengan begitu, Anda akan lebih mudah memahami alurnya.
Urutan Pengolahan Buku Perpustakaan untuk Pemula
Agar tidak bingung, gunakan alur berikut:
Buku diterima
↓
Periksa kondisi dan kelengkapan
↓
Inventarisasi
↓
Stempel kepemilikan
↓
Katalogisasi
↓
Analisis subjek
↓
Klasifikasi
↓
Tentukan nomor panggil
↓
Buat label
↓
Penyelesaian fisik
↓
Input ke sistem/katalog jika ada
↓
Shelving
↓
Buku siap dilayankan
Urutan tersebut dapat disesuaikan dengan sistem yang digunakan perpustakaan. Namun, bagi pemula, alur seperti ini sangat membantu agar pekerjaan tidak terlewat.
Sekarang mari kita bahas satu per satu.
1. Periksa Buku Sebelum Diolah
Jangan langsung menulis nomor inventaris.
Pertama, periksa kondisi buku.
Lihat apakah:
sampul lengkap;
halaman lengkap;
tidak ada halaman yang hilang;
tidak rusak berat;
tulisan masih terbaca;
informasi bibliografis tersedia;
dan buku memang sesuai untuk menjadi koleksi perpustakaan.
Periksa juga apakah buku tersebut merupakan buku baru atau sudah pernah menjadi koleksi.
Hal ini penting karena buku yang sudah pernah dicatat tidak boleh sembarangan diberi nomor inventaris baru.
Untuk buku yang baru diperoleh, periksa pula sumber perolehannya.
Misalnya:
pembelian;
bantuan;
hibah;
sumbangan;
atau sumber lain.
Informasi tersebut akan berguna ketika melakukan inventarisasi.
2. Beri Stempel Kepemilikan
Setelah buku diperiksa, salah satu pekerjaan yang dapat dilakukan adalah memberikan tanda bahwa buku tersebut merupakan milik perpustakaan.
Biasanya digunakan stempel atau cap perpustakaan.
Stempel dapat ditempatkan pada bagian tertentu yang konsisten, misalnya halaman judul atau halaman tertentu sesuai kebijakan perpustakaan.
Tujuannya adalah memberikan identitas kepemilikan.
Jangan menempatkan stempel sembarangan sampai menutupi informasi penting pada buku.
Untuk perpustakaan sekolah, sebaiknya tentukan aturan sederhana:
“Setiap buku milik perpustakaan diberi stempel pada lokasi yang sama.”
Konsistensi jauh lebih penting daripada membuat aturan yang rumit.
3. Lakukan Inventarisasi
Setelah buku diperiksa, lakukan inventarisasi.
Inilah bagian yang sering disebut buku induk atau buku inventaris koleksi.
Dalam materi tenaga perpustakaan sekolah, inventarisasi meliputi pemeriksaan bahan perpustakaan, pemberian stempel, pencatatan koleksi dalam buku induk, dan pemberian nomor induk. Setiap eksemplar diberikan nomor induk tersendiri.
Data inventaris dapat mencakup:
nomor inventaris;
tanggal diterima;
judul;
pengarang;
penerbit;
tahun terbit;
sumber perolehan;
harga jika tersedia;
dan keterangan.
Misalnya:
| No. | Tanggal | Judul | Pengarang | Penerbit | Tahun | Sumber |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 001 | 28-08-2026 | Petualangan di Hutan | A. Budi | Pustaka Anak | 2025 | Pembelian |
Nomor inventaris harus dibuat konsisten.
Jangan hari ini menggunakan:
001
besok:
B-002
kemudian:
INV/03/2026
kecuali perpustakaan memang memiliki sistem penomoran tertentu.
Untuk perpustakaan kecil, sistem sederhana dan konsisten lebih mudah dikelola.
4. Pahami Perbedaan Nomor Inventaris dan Nomor Klasifikasi
Ini adalah salah satu kebingungan terbesar bagi pemula.
Nomor inventaris bukan nomor klasifikasi.
Keduanya memiliki fungsi berbeda.
Nomor inventaris
Menunjukkan identitas sebuah eksemplar dalam administrasi koleksi.
Misalnya:
001
Nomor klasifikasi
Menunjukkan subjek atau kelompok ilmu tempat buku tersebut berada.
Misalnya sebuah buku tentang ilmu hewan dapat memperoleh nomor klasifikasi tertentu berdasarkan sistem klasifikasi yang digunakan.
Jadi, satu buku bisa memiliki:
Nomor inventaris: 001
dan
Nomor klasifikasi: 590
Keduanya bukan hal yang sama.
Memahami perbedaan ini akan membuat pekerjaan pengolahan menjadi jauh lebih mudah.
5. Lakukan Katalogisasi
Setelah inventarisasi, tahap berikutnya adalah katalogisasi.
Bagi pemula, kata “katalogisasi” terdengar menakutkan.
Padahal, secara sederhana, katalogisasi adalah proses membuat deskripsi mengenai sebuah koleksi agar koleksi tersebut dapat dikenali dan ditemukan kembali.
Informasi yang dicatat antara lain:
judul;
pengarang;
edisi;
penerbit;
tempat terbit;
tahun terbit;
jumlah halaman;
ukuran buku;
ISBN jika ada;
dan informasi lain yang diperlukan.
Perpustakaan Nasional RI memiliki Pedoman Pengolahan Bahan Perpustakaan yang membahas berbagai aspek pengolahan dan katalogisasi. Pedoman tersebut digunakan sebagai acuan agar pengolahan dapat dilakukan secara lebih akurat dan konsisten.
6. Jangan Menentukan Klasifikasi Hanya dari Judul
Setelah data bibliografis dicatat, masuk ke tahap yang sering dianggap paling sulit:
klasifikasi.
Kesalahan yang sering dilakukan pemula adalah melihat judul buku kemudian langsung menentukan nomor klasifikasi.
Padahal, judul belum tentu menunjukkan keseluruhan isi buku.
Contohnya, sebuah buku berjudul:
“Petualangan di Hutan”
Belum tentu merupakan buku ilmu kehutanan.
Bisa saja buku tersebut merupakan cerita anak.
Karena itu, sebelum menentukan klasifikasi, pahami isi buku.
Lihat:
halaman judul;
daftar isi;
kata pengantar;
pendahuluan;
isi buku;
dan informasi lain yang membantu memahami subjek.
Prinsip sederhananya:
Klasifikasi ditentukan berdasarkan isi atau subjek utama buku, bukan sekadar judulnya.
Perpusnas memiliki panduan klasifikasi yang menggunakan DDC dan juga membahas teknik analisis subjek serta penentuan tajuk subjek.
7. Kenali DDC Sebelum Mengklasifikasikan Buku
Salah satu sistem klasifikasi yang dikenal luas di perpustakaan adalah Dewey Decimal Classification (DDC).
DDC mengelompokkan pengetahuan ke dalam sepuluh kelas utama.
Secara umum:
000 – Karya umum, ilmu komputer, informasi
100 – Filsafat dan psikologi
200 – Agama
300 – Ilmu sosial
400 – Bahasa
500 – Ilmu murni
600 – Teknologi dan ilmu terapan
700 – Seni dan rekreasi
800 – Sastra
900 – Sejarah dan geografi
Bagi pemula, jangan langsung berusaha menghafalkan seluruh angka.
Yang lebih penting adalah memahami logikanya.
Misalnya:
Buku tentang matematika masuk kelompok ilmu murni.
Buku tentang bahasa masuk kelompok bahasa.
Buku tentang sastra masuk kelompok sastra.
Setelah memahami kelas utama, barulah belajar nomor yang lebih spesifik.
8. Analisis Subjek Sebelum Menentukan Nomor Klasifikasi
Sebelum membuka tabel DDC, tanyakan:
“Buku ini sebenarnya membahas apa?”
Misalnya buku berjudul:
“Mengenal Tata Surya untuk Anak”
Subjek utamanya adalah tata surya atau astronomi.
Berbeda dengan buku:
“Cerita Petualangan di Planet Mars”
Walaupun sama-sama berbicara tentang planet, buku kedua merupakan karya sastra/cerita.
Artinya, judul atau kata tertentu dalam buku tidak otomatis menentukan klasifikasi.
Inilah alasan pustakawan perlu membaca dan memahami isi koleksi.
9. Tentukan Tajuk Subjek
Selain nomor klasifikasi, pustakawan dapat menentukan tajuk subjek.
Tajuk subjek membantu menggambarkan topik yang dibahas dalam koleksi.
Misalnya sebuah buku membahas:
Kucing
Tajuk subjeknya dapat diarahkan pada istilah yang sesuai dengan pedoman yang digunakan.
Bagi perpustakaan sekolah kecil, pemula tidak perlu langsung membuat sistem tajuk subjek yang sangat kompleks.
Yang terpenting adalah memahami konsep dasarnya.
Ketika kemampuan sudah meningkat, barulah pengelola dapat mempelajari pedoman tajuk subjek secara lebih mendalam.
10. Tentukan Nomor Panggil
Setelah klasifikasi ditentukan, tahap berikutnya adalah membuat nomor panggil.
Nomor panggil merupakan identitas yang membantu menentukan lokasi buku di rak.
Umumnya nomor panggil dapat terdiri atas nomor klasifikasi dan unsur lain seperti tiga huruf nama pengarang atau unsur judul, sesuai sistem yang digunakan perpustakaan.
Misalnya secara sederhana:
590
KUS
Artinya, buku tersebut ditempatkan berdasarkan kelompok 590 dan kode pengarang yang digunakan.
Namun, jangan membuat format sendiri secara sembarangan.
Tentukan satu pola dan gunakan secara konsisten.
Tujuan akhirnya sederhana:
Ketika buku dicari, pustakawan dapat mengetahui di rak mana buku tersebut harus berada.
11. Buat Label Buku
Setelah nomor panggil ditentukan, nomor tersebut dapat dibuat menjadi label.
Label biasanya ditempel pada bagian punggung buku agar mudah dilihat ketika buku berada di rak.
Contoh sederhana:
590
KUS
Label harus ditempel dengan rapi dan konsisten.
Jika semua buku menggunakan posisi label yang sama, pustakawan akan lebih mudah melakukan shelving dan siswa lebih mudah mengenali posisi buku.
12. Lakukan Penyelesaian Fisik Buku
Buku yang sudah diberi label belum tentu langsung siap masuk rak.
Periksa kembali kondisi fisiknya.
Jika diperlukan, lakukan:
pelapisan sampul;
pemasangan kantong buku jika sistem menggunakannya;
pemasangan kartu buku jika masih menggunakan sistem manual;
pemasangan barcode;
penguatan bagian tertentu;
atau tindakan lain sesuai kebutuhan.
Untuk perpustakaan yang sudah menggunakan sistem otomasi, barcode dapat digunakan untuk membantu transaksi sirkulasi.
Namun, perpustakaan tidak harus memaksakan semua teknologi sekaligus.
Jika belum menggunakan barcode, sistem manual yang tertib masih dapat digunakan sesuai kondisi perpustakaan.
13. Input Data ke Aplikasi Jika Perpustakaan Menggunakan Otomasi
Jika perpustakaan menggunakan aplikasi otomasi, data koleksi kemudian dimasukkan ke dalam sistem.
Misalnya:
judul;
pengarang;
penerbit;
tahun;
ISBN;
klasifikasi;
subjek;
nomor panggil;
dan informasi lainnya.
Katalog yang dapat ditelusuri secara daring dikenal sebagai OPAC atau Online Public Access Catalog. Pedoman pengolahan Perpusnas juga membahas katalog terpasang atau katalog terbacakan mesin untuk mendukung penelusuran koleksi secara daring.
Namun, jangan menganggap bahwa semua perpustakaan sekolah harus langsung menggunakan sistem otomasi yang kompleks.
Yang terpenting adalah data koleksi terorganisasi dan dapat ditemukan kembali.
14. Shelving: Buku Baru Boleh Masuk Rak
Setelah semua tahap pengolahan selesai, buku dapat ditempatkan di rak.
Inilah yang disebut shelving.
Shelving bukan sekadar memasukkan buku ke ruang rak.
Buku harus ditempatkan berdasarkan sistem yang sudah ditentukan.
Misalnya:
000 → 100 → 200 → 300 → dan seterusnya.
Di dalam kelompok yang sama, susun sesuai aturan yang digunakan perpustakaan.
Pastikan nomor panggil terlihat.
Jangan menempatkan buku secara terbalik atau terlalu padat.
Untuk perpustakaan SD, tinggi rak juga perlu diperhatikan agar koleksi tertentu dapat dijangkau siswa dengan aman.
Jangan Campurkan Buku yang Sudah dan Belum Diolah
Ini merupakan tips sederhana tetapi sangat penting.
Buat dua area:
BUKU BELUM DIOLAH
dan
BUKU SUDAH DIOLAH
Jika buku yang sudah diolah bercampur dengan buku yang belum diolah, Anda akan terus bertanya:
“Buku ini sudah pernah saya proses atau belum?”
Akhirnya ada risiko satu buku diolah dua kali atau justru tidak pernah diolah.
Sediakan satu meja atau rak khusus untuk koleksi yang belum selesai.
Setelah selesai, pindahkan ke area koleksi siap rak.
Bagaimana Jika Buku Lama Tidak Memiliki Nomor Inventaris?
Ini masalah yang sering ditemukan ketika seseorang baru mengambil alih perpustakaan.
Jangan langsung memberikan nomor baru kepada semua buku.
Pertama, periksa apakah ada buku induk atau daftar inventaris lama.
Kemudian cocokkan buku dengan data yang tersedia.
Jika nomor lama masih dapat ditelusuri dan sistemnya masih digunakan, pertimbangkan untuk mempertahankannya.
Jika data lama tidak dapat diverifikasi atau sistem inventaris perlu dibenahi, lakukan penataan administrasi secara terencana.
Jangan menghapus sejarah koleksi tanpa alasan yang jelas.
Buku lama tetap merupakan bagian dari riwayat perpustakaan.
Bagaimana Jika Buku Sudah Memiliki Label tetapi Tidak Ada Data?
Ini juga sering terjadi.
Misalnya di punggung buku tertulis:
372.6
tetapi tidak ada data inventaris.
Jangan langsung menganggap label tersebut benar.
Periksa:
isi buku;
data lama;
nomor inventaris;
daftar koleksi;
sistem klasifikasi yang digunakan.
Jika nomor tersebut benar, data dapat disesuaikan.
Jika ternyata tidak sesuai, lakukan koreksi.
Prinsipnya:
Jangan mempertahankan kesalahan hanya karena sudah terlanjur ditempel.
Bagaimana dengan Buku Pelajaran?
Buku pelajaran membutuhkan perhatian khusus.
Di perpustakaan sekolah biasanya terdapat buku teks, buku pengayaan, buku referensi, dan berbagai jenis koleksi lainnya.
Peraturan Perpusnas No. 4 Tahun 2024 membedakan antara buku teks pelajaran, buku teks utama, buku pengayaan, dan buku referensi dalam standar perpustakaan SD/MI.
Karena itu, jangan mencampurkan seluruh buku tanpa mempertimbangkan jenis koleksinya.
Pustakawan perlu mengetahui fungsi masing-masing koleksi.
Misalnya, buku teks yang digunakan untuk pembelajaran dapat memiliki pengelolaan yang berbeda dari buku bacaan umum atau buku cerita.
Apakah Semua Buku Harus Dibuat Katalog?
Secara prinsip, koleksi perlu memiliki data yang dapat digunakan untuk identifikasi dan temu kembali.
Namun, cara pengelolaannya dapat berbeda sesuai kondisi perpustakaan.
Perpustakaan yang masih kecil mungkin menggunakan daftar koleksi sederhana.
Perpustakaan yang sudah berkembang dapat menggunakan katalog elektronik.
Yang penting adalah data tersebut:
akurat;
konsisten;
mudah diperbarui;
dan mudah digunakan untuk menemukan koleksi.
Jangan membuat sistem yang terlalu rumit sehingga pengelola sendiri kesulitan menggunakannya.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Pemula dalam Mengolah Buku
Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.
1. Langsung memberi label
Buku langsung diberi nomor tanpa inventarisasi dan analisis subjek.
Akibatnya, ketika data diperiksa kembali, nomor tersebut sulit ditelusuri.
2. Menentukan klasifikasi hanya dari judul
Judul belum tentu menggambarkan subjek utama.
3. Mengolah terlalu banyak buku sekaligus
Akibatnya pekerjaan sulit dikontrol.
4. Tidak mencatat sumber buku
Padahal sumber perolehan penting untuk administrasi.
5. Membuat nomor inventaris dan nomor klasifikasi menjadi satu
Keduanya memiliki fungsi berbeda.
6. Menggunakan sistem yang berubah-ubah
Hari ini menggunakan satu format, bulan berikutnya menggunakan format lain.
7. Tidak mencatat perubahan
Jika nomor klasifikasi diperbaiki, perubahan sebaiknya diperbarui pada data koleksi.
8. Menganggap pengolahan selesai setelah buku masuk rak
Sebenarnya setelah buku masuk rak, pekerjaan berlanjut pada pemeliharaan, layanan, penyusunan kembali, dan evaluasi koleksi.
Contoh Pengolahan Satu Buku dari Awal sampai Akhir
Agar lebih mudah dipahami, mari kita gunakan contoh sederhana.
Misalnya perpustakaan menerima sebuah buku:
Tahap 1 – Pemeriksaan
Buku diperiksa.
Kondisinya baik.
Tahap 2 – Stempel
Buku diberi stempel perpustakaan.
Tahap 3 – Inventarisasi
Buku diberi nomor inventaris:
001
Data dicatat dalam buku induk atau sistem.
Tahap 4 – Katalogisasi
Data bibliografis buku dicatat.
Tahap 5 – Analisis subjek
Setelah membaca isi buku, diketahui bahwa buku membahas berbagai jenis hewan.
Tahap 6 – Klasifikasi
Pustakawan menentukan nomor klasifikasi berdasarkan pedoman yang digunakan.
Tahap 7 – Nomor panggil
Nomor klasifikasi digabung dengan kode pengarang sesuai sistem perpustakaan.
Tahap 8 – Label
Nomor panggil ditempel pada punggung buku.
Tahap 9 – Penyelesaian fisik
Jika diperlukan, buku diberi sampul pelindung atau barcode.
Tahap 10 – Input sistem
Jika perpustakaan menggunakan aplikasi, data dimasukkan.
Tahap 11 – Shelving
Buku ditempatkan pada rak sesuai nomor panggil.
Sekarang buku tersebut bukan sekadar “buku yang dimiliki sekolah”.
Buku tersebut sudah menjadi koleksi perpustakaan yang terorganisasi dan dapat ditemukan kembali.
Apakah Pustakawan Pemula Harus Menguasai Semua Ini?
Tidak harus langsung.
Bahkan orang yang baru lulus dari program studi ilmu perpustakaan pun membutuhkan latihan praktik.
Begitu juga guru yang mendapat tugas tambahan.
Yang paling penting adalah memahami alur kerja.
Jika alurnya sudah dipahami, keterampilan teknis dapat dipelajari satu per satu.
Mulailah dengan:
inventarisasi → katalogisasi → analisis subjek → klasifikasi → nomor panggil → label → shelving.
Setelah memahami alur tersebut, barulah belajar lebih mendalam mengenai pedoman dan standar yang digunakan.
Jangan Takut Membuka Pedoman
Salah satu kesalahan pengelola baru adalah merasa harus hafal semuanya.
Tidak perlu.
Pustakawan profesional pun menggunakan pedoman.
Perpusnas menyediakan Pedoman Pengolahan Bahan Perpustakaan yang dapat menjadi salah satu rujukan untuk memahami proses pengolahan. Pedoman tersebut mencakup pengatalogan dan berbagai aspek pengorganisasian informasi.
Untuk klasifikasi, tersedia pula berbagai panduan Perpusnas yang membantu memahami penggunaan DDC dan analisis subjek.
Jadi, ketika ragu, jangan menebak.
Cari pedomannya.
Bagaimana Jika Hanya Mengelola Perpustakaan SD dengan Koleksi Sedikit?
Tidak masalah.
Prinsip pengelolaan tetap sama.
Perpustakaan dengan 300 buku tetap membutuhkan data yang jelas.
Bahkan koleksi yang sedikit seharusnya menjadi kesempatan untuk membangun sistem yang rapi sejak awal.
Misalnya, jika hanya memiliki 300 buku, pengelola dapat mengolah 10–20 buku setiap hari.
Dalam beberapa minggu, sebagian besar koleksi sudah tertata.
Setelah sistem terbentuk, buku baru yang datang akan lebih mudah diolah karena pengelola sudah memiliki pola kerja.
Buat Lembar Kontrol Pengolahan Buku
Agar tidak bingung, buat satu lembar kontrol.
Contohnya:
| No. | Judul | Inventaris | Katalog | Klasifikasi | Label | Shelving |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Buku A | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ |
| 2 | Buku B | ✓ | ✓ | ✓ | ✓ | - |
| 3 | Buku C | ✓ | - | - | - | - |
Dari tabel tersebut langsung terlihat buku mana yang belum selesai.
Cara sederhana seperti ini sangat membantu pustakawan pemula.
Urutan Sederhana yang Perlu Diingat
Jika semua penjelasan di atas terasa panjang, cukup ingat kalimat berikut:
PERIKSA → CATAT → KENALI → KELOMPOKKAN → BERI IDENTITAS → LENGKAPI → LETAKKAN
Atau dalam istilah perpustakaan:
Pemeriksaan → Inventarisasi → Katalogisasi → Klasifikasi → Nomor Panggil → Pelabelan → Penyelesaian → Shelving.
Jangan melompat-lompat terlalu banyak.
Setelah Buku Selesai Diolah, Apa Selanjutnya?
Jangan berhenti pada shelving.
Buku yang sudah masuk rak harus mulai dimanfaatkan.
Pastikan:
siswa mengetahui keberadaan buku;
guru mengetahui koleksi yang tersedia;
layanan peminjaman berjalan;
data transaksi dicatat;
buku dikembalikan ke rak dengan benar;
kondisi buku dipantau;
dan koleksi dievaluasi secara berkala.
Perpustakaan yang bukunya sangat rapi tetapi tidak pernah digunakan belum dapat dikatakan berhasil sepenuhnya.
Tujuan akhir pengolahan adalah membuat koleksi siap ditemukan dan siap dimanfaatkan.
Jangan Terburu-buru, yang Penting Benar
Bagi pengelola baru, melihat ratusan buku yang belum diolah memang dapat membuat stres.
Rasanya pekerjaan tidak akan pernah selesai.
Tetapi ingat:
Perpustakaan tidak dibangun dalam satu hari.
Anda tidak harus menyelesaikan 1.000 buku sekaligus.
Selesaikan 10 buku dengan benar.
Besok 10 buku lagi.
Kemudian 10 buku lagi.
Lama-kelamaan rak yang semula berantakan akan berubah menjadi koleksi yang tertata.
Lebih baik mengolah 20 buku dengan data yang benar daripada mengolah 200 buku tetapi nomor inventaris, klasifikasi, dan katalogisasinya tidak jelas.
Kesimpulan
Setelah melakukan inventarisasi dan mengetahui kondisi koleksi, pekerjaan pustakawan baru belum selesai.
Tahap berikutnya adalah pengolahan bahan perpustakaan.
Pengolahan bertujuan agar buku tidak hanya tercatat sebagai milik perpustakaan, tetapi juga dapat diidentifikasi, dikelompokkan, ditemukan, dan dimanfaatkan dengan mudah.
Bagi pemula, urutan pekerjaan dapat dipahami sebagai berikut:
memeriksa kondisi buku;
memberikan identitas kepemilikan;
melakukan inventarisasi;
melakukan katalogisasi;
menganalisis subjek;
menentukan klasifikasi;
menentukan nomor panggil;
membuat label;
melakukan penyelesaian fisik;
memasukkan data ke sistem jika menggunakan otomasi; dan
menempatkan buku di rak atau shelving.
Yang perlu diingat adalah nomor inventaris dan nomor klasifikasi memiliki fungsi berbeda.
Nomor inventaris berkaitan dengan pencatatan koleksi, sedangkan nomor klasifikasi membantu mengelompokkan koleksi berdasarkan subjek.
Pustakawan pemula juga tidak perlu langsung menguasai seluruh teknik pengolahan dalam satu waktu.
Mulailah dengan jumlah buku yang sedikit.
Gunakan pedoman.
Kerjakan secara konsisten.
Dan jangan takut untuk belajar kembali ketika menemukan buku yang sulit diklasifikasikan atau dikatalogisasi.
Karena tujuan akhir pengolahan bukan sekadar membuat buku terlihat rapi.
Tujuan pengolahan adalah membuat koleksi perpustakaan terorganisasi sehingga ketika seorang siswa bertanya, “Saya ingin mencari buku tentang hewan,” pustakawan dapat membantu menemukan bukunya dengan cepat.
Itulah alasan mengapa proses pengolahan menjadi salah satu pekerjaan penting dalam pengelolaan perpustakaan.
Buku yang belum diolah hanyalah kumpulan bahan bacaan.
Tetapi buku yang dicatat, diorganisasi, diberi identitas, dan ditempatkan dengan sistem yang jelas akan menjadi koleksi perpustakaan yang benar-benar dapat dimanfaatkan.
Referensi
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2018). Pedoman pengolahan bahan perpustakaan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2024). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2017). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2017 tentang Standar Kompetensi Tenaga Perpustakaan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Thanks for reading Cara Mengolah Buku Perpustakaan Sekolah untuk Pemula: Urutan dari Inventarisasi hingga Shelving. Please share...!
0 Komentar untuk "Cara Mengolah Buku Perpustakaan Sekolah untuk Pemula: Urutan dari Inventarisasi hingga Shelving"