-->

"Jelajahi perpustakaan: literasi, pengetahuan, dan rekomendasi bacaan tanpa batas!"

Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi ruang tumbuhnya ide, karakter, dan masa depan. Setiap halaman yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar dalam hidup seseorang.

Kompetensi Digital Pustakawan Masa Kini: 10 Keterampilan yang Wajib Dikuasai

 


Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat mencari, menemukan, mengakses, dan menggunakan informasi. Jika dahulu perpustakaan identik dengan rak buku, katalog kartu, dan layanan peminjaman secara langsung, saat ini layanan perpustakaan telah berkembang jauh lebih luas. Koleksi dapat hadir dalam bentuk digital, informasi dapat disebarkan melalui media sosial, layanan referensi dapat dilakukan secara daring, dan berbagai pekerjaan perpustakaan dapat dibantu oleh sistem informasi.

Perubahan tersebut membuat kompetensi digital pustakawan menjadi semakin penting. Pustakawan masa kini tidak cukup hanya memahami pengelolaan koleksi dan pelayanan pemustaka secara konvensional. Pustakawan juga perlu memiliki kemampuan menggunakan teknologi, mengelola informasi digital, membuat konten, menjaga keamanan data, serta membantu pemustaka menghadapi derasnya arus informasi di internet.

Perpustakaan Nasional RI melalui Peraturan Perpustakaan Nasional Nomor 4 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah juga menempatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan perpustakaan. Standar tersebut mencakup antara lain koleksi, sarana prasarana, pelayanan, tenaga, penyelenggaraan, dan pengelolaan perpustakaan.

Lalu, apa saja kompetensi digital yang perlu dimiliki pustakawan masa kini?

Apa yang Dimaksud dengan Kompetensi Digital Pustakawan?

Kompetensi digital pustakawan dapat dipahami sebagai kemampuan pustakawan dalam menggunakan teknologi digital secara efektif, aman, kritis, dan bertanggung jawab untuk melaksanakan pekerjaan serta memberikan layanan informasi kepada pemustaka.

Kompetensi ini bukan sekadar kemampuan mengoperasikan komputer. Pustakawan perlu memahami bagaimana teknologi digunakan untuk mendukung seluruh kegiatan perpustakaan, mulai dari pengelolaan informasi, pelayanan, komunikasi, promosi, pendidikan pemustaka, hingga pengembangan layanan baru.

Dalam lingkungan informasi yang semakin kompleks, pustakawan bahkan memiliki peran penting dalam membantu masyarakat memahami informasi digital. IFLA menekankan bahwa perpustakaan dapat membantu masyarakat mengembangkan keterampilan digital dan literasi informasi agar mampu menghadapi lingkungan informasi yang semakin kompleks.

Dengan demikian, kompetensi digital bukan berarti pustakawan harus menjadi ahli teknologi informasi. Yang lebih penting adalah mampu memilih dan memanfaatkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan perpustakaan dan pemustaka.

Mengapa Kompetensi Digital Penting bagi Pustakawan?

Ada beberapa alasan mengapa pustakawan perlu terus meningkatkan kompetensi digital.

Pertama, perilaku pemustaka telah berubah. Banyak orang kini terbiasa mencari informasi melalui mesin pencari, media sosial, video, aplikasi, dan berbagai platform digital. Perpustakaan perlu menyesuaikan cara memberikan layanan agar tetap relevan.

Kedua, sumber informasi semakin beragam. Pemustaka tidak hanya menggunakan buku cetak, tetapi juga jurnal elektronik, buku digital, situs web, repositori, basis data, dan berbagai sumber informasi lainnya.

Ketiga, pustakawan tidak hanya bertugas menyediakan informasi. Pustakawan juga perlu membantu pemustaka menentukan apakah suatu informasi dapat dipercaya, bagaimana menemukan sumber yang tepat, serta bagaimana menggunakan informasi secara bertanggung jawab.

Keempat, teknologi dapat membuat pekerjaan perpustakaan menjadi lebih efektif. Pengolahan data, katalogisasi, pencatatan anggota, statistik kunjungan, promosi koleksi, hingga komunikasi dengan pemustaka dapat dilakukan dengan bantuan berbagai aplikasi digital.

Karena itu, peningkatan kompetensi digital seharusnya menjadi bagian dari pengembangan profesional pustakawan secara berkelanjutan.

10 Kompetensi Digital Pustakawan Masa Kini

1. Kemampuan Mengoperasikan Perangkat Digital

Kompetensi paling dasar adalah kemampuan menggunakan perangkat digital yang mendukung pekerjaan.

Pustakawan setidaknya perlu terbiasa menggunakan komputer atau laptop, printer, scanner, perangkat penyimpanan, jaringan internet, dan perangkat digital lainnya yang tersedia di perpustakaan.

Kemampuan dasar ini penting karena hampir semua aktivitas administrasi perpustakaan saat ini berkaitan dengan perangkat digital.

Namun, kemampuan tersebut sebaiknya tidak berhenti pada sekadar bisa menggunakan perangkat. Pustakawan juga perlu memahami cara mengelola file, membuat folder secara sistematis, melakukan pencadangan data, menggunakan penyimpanan awan, dan menjaga keamanan perangkat.

2. Menguasai Sistem Informasi Perpustakaan

Perpustakaan modern semakin banyak menggunakan sistem informasi untuk membantu pengelolaan koleksi dan layanan.

Pustakawan perlu memahami cara menggunakan aplikasi perpustakaan sesuai dengan sistem yang digunakan oleh lembaganya. Misalnya, penginputan data koleksi, pencarian katalog, pengelolaan anggota, transaksi peminjaman, pengembalian, serta pembuatan laporan.

Kemampuan menggunakan sistem informasi membuat pekerjaan menjadi lebih terstruktur dan mengurangi ketergantungan pada pencatatan manual.

Bagi pustakawan sekolah, kemampuan ini juga dapat dikembangkan secara bertahap sesuai dengan kondisi sekolah. Tidak semua perpustakaan memiliki sistem yang sama. Oleh karena itu, yang paling penting bukan menguasai sebanyak mungkin aplikasi, tetapi mampu menggunakan sistem yang benar-benar dibutuhkan.

3. Literasi Informasi Digital

Pustakawan merupakan salah satu profesi yang sangat dekat dengan informasi. Karena itu, pustakawan perlu memiliki kemampuan untuk mencari, menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi digital.

Kemampuan ini sangat penting karena internet menyediakan informasi dalam jumlah yang sangat besar, tetapi tidak semua informasi memiliki kualitas yang sama.

Pustakawan perlu mampu mengenali sumber yang kredibel, membandingkan beberapa sumber, memeriksa penulis dan penerbit, melihat tanggal publikasi, memahami konteks informasi, serta mengenali kemungkinan adanya informasi yang menyesatkan.

Kemampuan tersebut kemudian dapat diteruskan kepada pemustaka melalui kegiatan literasi informasi.

Dalam lingkungan sekolah, misalnya, pustakawan dapat mengajarkan siswa cara mencari informasi untuk tugas, membedakan sumber yang dapat dipercaya dengan informasi yang tidak jelas, serta menggunakan informasi dari internet secara bertanggung jawab.

4. Kemampuan Mengelola Koleksi Digital

Koleksi perpustakaan saat ini tidak lagi terbatas pada buku cetak.

Perpustakaan dapat memiliki buku elektronik, dokumen digital, foto, video, rekaman suara, dan berbagai bentuk sumber informasi digital lainnya.

Pustakawan perlu memahami dasar-dasar pengelolaan koleksi tersebut. Hal yang perlu diperhatikan antara lain penyimpanan, penamaan file, pengelompokan, akses pengguna, pencadangan, serta perlindungan terhadap kerusakan atau kehilangan data.

Pustakawan juga perlu memahami bahwa koleksi digital memiliki persoalan tersendiri, terutama berkaitan dengan hak cipta dan izin penggunaan.

Dengan pengelolaan yang baik, koleksi digital dapat menjadi pelengkap koleksi tercetak dan memperluas akses pemustaka terhadap sumber informasi.

5. Kemampuan Membuat Konten Digital

Pustakawan masa kini juga perlu mampu berkomunikasi melalui berbagai media digital.

Perpustakaan dapat memanfaatkan media sosial, blog, website, video pendek, poster digital, maupun infografis untuk memperkenalkan koleksi dan kegiatan perpustakaan.

Kemampuan membuat konten tidak berarti pustakawan harus menjadi desainer profesional. Pustakawan dapat memulai dari hal sederhana seperti membuat poster kegiatan, rekomendasi buku, kutipan menarik dari buku, informasi layanan, atau tips mencari informasi.

Konten yang baik seharusnya tidak selalu berisi promosi perpustakaan. Konten edukatif justru dapat memberikan manfaat lebih besar bagi pemustaka.

Misalnya:

  • Tips memilih buku bacaan.

  • Cara mencari buku di katalog.

  • Cara mengenali berita palsu.

  • Rekomendasi buku untuk siswa.

  • Cara mencari sumber belajar di internet.

  • Manfaat membaca.

  • Tips merawat buku.

  • Pengenalan koleksi baru.

Dengan cara tersebut, perpustakaan dapat hadir di ruang digital pemustaka, bukan hanya menunggu pemustaka datang ke ruang perpustakaan.

6. Kemampuan Menggunakan Media Sosial secara Profesional

Media sosial dapat menjadi salah satu sarana komunikasi perpustakaan yang efektif.

Namun, pustakawan perlu memahami bahwa akun media sosial perpustakaan bukan sekadar tempat mengunggah foto kegiatan. Media sosial dapat menjadi sarana edukasi, promosi koleksi, komunikasi layanan, dan membangun hubungan dengan pemustaka.

Pustakawan perlu memahami dasar-dasar penulisan caption, pemilihan gambar, penggunaan video, jadwal publikasi, serta etika berkomunikasi di ruang digital.

Konten sebaiknya disesuaikan dengan karakter pemustaka. Perpustakaan sekolah tentu memiliki gaya komunikasi yang berbeda dengan perpustakaan perguruan tinggi atau perpustakaan umum.

7. Memahami Keamanan Digital dan Privasi

Semakin banyak pekerjaan dilakukan secara digital, semakin penting pula kemampuan menjaga keamanan data.

Pustakawan dapat menangani berbagai informasi yang perlu dilindungi, seperti data anggota, riwayat peminjaman, dokumen administrasi, maupun data internal perpustakaan.

Karena itu, pustakawan perlu memahami dasar-dasar keamanan digital.

Contohnya adalah menggunakan kata sandi yang kuat, tidak membagikan kata sandi kepada orang lain, berhati-hati terhadap tautan mencurigakan, melakukan pencadangan data, menggunakan perangkat lunak yang terpercaya, serta memahami pentingnya menjaga kerahasiaan data pemustaka.

Kompetensi digital yang baik bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.

8. Mampu Memanfaatkan Kecerdasan Buatan secara Bijak

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menghadirkan peluang baru bagi perpustakaan.

AI dapat membantu pekerjaan tertentu, seperti membuat ide konten, menyusun kerangka informasi, membantu merangkum teks, mengembangkan materi literasi, atau membantu proses brainstorming.

Namun, pustakawan tidak seharusnya menerima begitu saja informasi yang dihasilkan AI.

Pustakawan tetap perlu melakukan verifikasi terhadap informasi, membandingkan dengan sumber terpercaya, dan memastikan bahwa penggunaan AI tidak melanggar hak cipta maupun privasi.

Dengan demikian, kompetensi AI bagi pustakawan bukan sekadar kemampuan menggunakan aplikasi AI, tetapi juga kemampuan memahami keterbatasan dan risiko penggunaannya.

Perkembangan AI bahkan menjadi salah satu alasan mengapa pengembangan kompetensi profesional secara berkelanjutan semakin penting bagi pekerja perpustakaan. IFLA pada pembaruan pedoman pengembangan profesional tahun 2025 menekankan pentingnya adaptasi, literasi digital, pembelajaran berkelanjutan, dan perkembangan teknologi seperti AI.

9. Kemampuan Komunikasi dan Layanan Digital

Layanan perpustakaan tidak selalu harus dilakukan secara tatap muka.

Pustakawan dapat berkomunikasi dengan pemustaka melalui email, pesan instan, media sosial, formulir daring, atau platform lainnya.

Karena itu, pustakawan perlu memahami etika komunikasi digital.

Jawaban kepada pemustaka harus tetap ramah, jelas, singkat, dan profesional. Informasi yang diberikan juga perlu dipastikan kebenarannya.

Kemampuan komunikasi digital semakin penting karena pemustaka dapat menghubungi perpustakaan dari tempat dan waktu yang berbeda.

10. Kemampuan Belajar dan Beradaptasi

Kompetensi digital yang paling penting mungkin bukan kemampuan menguasai aplikasi tertentu, tetapi kemampuan untuk terus belajar.

Teknologi berubah dengan cepat. Aplikasi yang populer saat ini dapat berubah beberapa tahun kemudian. Sistem perpustakaan juga dapat mengalami pembaruan.

Karena itu, pustakawan perlu memiliki sikap terbuka terhadap perubahan.

Tidak perlu mempelajari semua teknologi sekaligus. Pustakawan dapat memilih teknologi yang paling relevan dengan kebutuhan pekerjaannya.

Misalnya, bulan ini belajar membuat desain sederhana. Bulan berikutnya belajar mengelola media sosial. Setelah itu belajar menggunakan spreadsheet untuk statistik perpustakaan. Selanjutnya belajar dasar keamanan digital.

Belajar sedikit demi sedikit tetapi konsisten jauh lebih realistis daripada mencoba menguasai semuanya sekaligus.

Kompetensi Digital Pustakawan Tidak Berarti Harus Menjadi Ahli IT

Ada anggapan bahwa pustakawan masa kini harus menguasai teknologi tingkat tinggi. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Pustakawan tidak harus menjadi programmer atau ahli jaringan komputer.

Yang dibutuhkan adalah kemampuan memahami teknologi dari sudut pandang kebutuhan perpustakaan.

Seorang pustakawan mungkin tidak membuat aplikasi perpustakaan sendiri, tetapi harus mampu menggunakan aplikasi tersebut.

Pustakawan mungkin tidak membuat website dari awal, tetapi dapat mengelola informasi yang ditampilkan di website.

Pustakawan mungkin bukan desainer profesional, tetapi dapat membuat poster sederhana untuk kegiatan literasi.

Pustakawan juga tidak harus menjadi ahli AI, tetapi perlu memahami cara menggunakan AI secara kritis dan bertanggung jawab.

Dengan kata lain, kompetensi digital pustakawan adalah tentang memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pekerjaan dan layanan informasi.

Bagaimana Cara Meningkatkan Kompetensi Digital Pustakawan?

Peningkatan kompetensi dapat dilakukan secara bertahap.

Mulai dari kebutuhan pekerjaan

Identifikasi pekerjaan yang paling sering dilakukan. Apakah pengolahan koleksi masih manual? Apakah promosi perpustakaan belum berjalan? Apakah data perpustakaan belum tertata?

Dari masalah tersebut, tentukan keterampilan digital yang paling dibutuhkan.

Mengikuti pelatihan

Pustakawan dapat mengikuti pelatihan, webinar, kursus daring, seminar, maupun kegiatan pengembangan profesional lainnya.

Pelatihan tidak harus selalu mahal. Banyak sumber belajar digital yang tersedia secara gratis.

Belajar melalui praktik

Kemampuan digital akan lebih cepat berkembang apabila langsung dipraktikkan.

Setelah mempelajari suatu aplikasi, gunakan untuk pekerjaan nyata di perpustakaan. Misalnya membuat katalog sederhana, poster kegiatan, formulir pemustaka, atau laporan statistik.

Belajar dari pustakawan lain

Berbagi pengalaman dengan sesama pustakawan juga sangat bermanfaat. Satu perpustakaan mungkin memiliki solusi sederhana yang dapat diterapkan di perpustakaan lain.

Kolaborasi dapat mempercepat proses belajar dan mengurangi kebutuhan untuk memulai semuanya dari nol.

Membuat target belajar

Pustakawan dapat membuat target sederhana, misalnya mempelajari satu keterampilan digital baru setiap bulan.

Dalam satu tahun, pustakawan sudah memiliki banyak keterampilan baru yang dapat diterapkan dalam pekerjaan.

Tantangan Pustakawan dalam Mengembangkan Kompetensi Digital

Pengembangan kompetensi digital tentu tidak selalu mudah.

Beberapa perpustakaan masih menghadapi keterbatasan perangkat, jaringan internet, anggaran, waktu, maupun kesempatan mengikuti pelatihan.

Selain itu, ada pula pustakawan yang merasa kurang percaya diri ketika harus mempelajari teknologi baru.

Kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti belajar.

Pengembangan kompetensi dapat dilakukan sesuai kondisi masing-masing perpustakaan. Perpustakaan dengan fasilitas terbatas pun dapat memulai dari teknologi sederhana yang tersedia.

Hal yang penting adalah adanya kemauan untuk beradaptasi.

Perpusnas sendiri pada Agustus 2026 sedang mendorong pembaruan kompetensi melalui rancangan SKKNI Bidang Perpustakaan yang disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan kerja, teknologi, dan transformasi digital perpustakaan. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi dan profesionalisme SDM perpustakaan semakin mendapat perhatian dalam menghadapi perubahan zaman.

Pustakawan Masa Kini adalah Pustakawan yang Terus Belajar

Perubahan teknologi tidak menghilangkan peran pustakawan. Justru perubahan tersebut membuat peran pustakawan semakin berkembang.

Pustakawan tidak hanya menjadi pengelola koleksi, tetapi juga menjadi pengelola informasi, pendamping pemustaka, pengajar literasi informasi, pembuat konten, penghubung antara pengguna dengan sumber informasi, dan fasilitator pembelajaran sepanjang hayat.

IFLA juga menempatkan kemampuan digital sebagai bagian penting dalam menghadapi lingkungan informasi modern. Pustakawan memiliki posisi strategis karena perpustakaan dipercaya masyarakat dan dapat membantu pengguna memahami serta menggunakan teknologi secara bermakna.

Oleh karena itu, kompetensi digital pustakawan sebaiknya tidak dipandang sebagai tuntutan tambahan yang membebani pekerjaan. Kompetensi digital justru dapat menjadi alat untuk membuat pekerjaan pustakawan lebih mudah, layanan lebih luas, dan keberadaan perpustakaan semakin relevan.

Pada akhirnya, pustakawan masa kini tidak harus menguasai semua teknologi. Pustakawan hanya perlu memiliki kemauan untuk terus belajar, beradaptasi, berpikir kritis, dan memilih teknologi yang benar-benar bermanfaat bagi pemustaka.

Teknologi terus berubah, tetapi tujuan perpustakaan tetap sama: membantu masyarakat menemukan, memahami, dan menggunakan informasi dengan sebaik-baiknya.

Kesimpulan

Kompetensi digital pustakawan masa kini mencakup lebih dari sekadar kemampuan menggunakan komputer. Pustakawan perlu mengembangkan kemampuan menggunakan sistem informasi perpustakaan, mengelola koleksi digital, mencari dan mengevaluasi informasi, membuat konten, menggunakan media sosial, menjaga keamanan data, memahami AI, memberikan layanan digital, serta terus belajar mengikuti perkembangan teknologi.

Sepuluh kompetensi tersebut tidak harus dikuasai sekaligus. Pustakawan dapat memulainya dari kemampuan yang paling dibutuhkan dalam pekerjaan sehari-hari.

Perpustakaan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan digital akan memiliki peluang lebih besar untuk tetap dekat dengan pemustaka. Sebaliknya, pustakawan yang terus meningkatkan kompetensinya akan semakin siap menghadapi perubahan dunia informasi.

Karena itu, menjadi pustakawan masa kini berarti menjadi pustakawan yang mau belajar, mau beradaptasi, dan mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai utama profesinya: memberikan akses informasi yang bermanfaat bagi masyarakat.




Referensi

International Federation of Library Associations and Institutions. (2017). IFLA statement on digital literacy. IFLA.

International Federation of Library Associations and Institutions. (2025). Empowering library workers in the digital age: Revised IFLA CPD guidelines. IFLA.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2024). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah/Madrasah. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Labels: profesi

Thanks for reading Kompetensi Digital Pustakawan Masa Kini: 10 Keterampilan yang Wajib Dikuasai. Please share...!

0 Komentar untuk "Kompetensi Digital Pustakawan Masa Kini: 10 Keterampilan yang Wajib Dikuasai"

Back To Top