"Jelajahi perpustakaan: literasi, pengetahuan, dan rekomendasi bacaan tanpa batas!"

Senin, 18 Mei 2026

Memahami Standar AACR2 dan RDA dalam Katalogisasi Perpustakaan: Penjelasan Lengkap untuk Pustakawan dan Pengelola Perpustakaan Sekolah

 

Dalam dunia perpustakaan modern, kegiatan katalogisasi menjadi salah satu bagian terpenting dalam pengolahan bahan pustaka. Katalogisasi bukan hanya sekadar menulis judul buku dan nama pengarang, tetapi merupakan proses membuat identitas bibliografis yang teratur agar koleksi mudah ditemukan oleh pengguna.

Saat ini, pustakawan sering mendengar istilah:

  • AACR2,
  • RDA,
  • deskripsi bibliografis,
  • titik akses,
  • tajuk pengarang,
  • metadata,
  • dan katalog digital.

Namun tidak sedikit pustakawan sekolah, pengelola perpustakaan desa, maupun mahasiswa ilmu perpustakaan yang masih bingung mengenai:

  • apa itu AACR2,
  • apa itu RDA,
  • apa perbedaannya,
  • mengapa aturan tersebut digunakan,
  • dan bagaimana penerapannya di perpustakaan Indonesia saat ini.

Padahal pemahaman terhadap AACR2 dan RDA sangat penting, terutama karena hampir semua sistem otomasi perpustakaan modern menggunakan prinsip katalogisasi tersebut.

Artikel ini akan membahas secara lengkap dan detail mengenai standar AACR2 dan RDA dalam katalogisasi perpustakaan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.

Apa Itu Katalogisasi?

Katalogisasi adalah proses membuat catatan bibliografi suatu bahan pustaka agar koleksi perpustakaan dapat:

  • dicari,
  • ditemukan,
  • dikenali,
  • dan digunakan dengan mudah.

Data yang biasanya dibuat dalam katalogisasi meliputi:

  • nama pengarang,
  • judul buku,
  • penerbit,
  • tahun terbit,
  • edisi,
  • jumlah halaman,
  • ISBN,
  • subjek,
  • nomor klasifikasi,
  • dan informasi lainnya.

Hasil katalogisasi kemudian dimasukkan ke:

  • kartu katalog,
  • OPAC,
  • sistem otomasi perpustakaan,
  • atau database digital.

Mengapa Katalogisasi Harus Menggunakan Standar?

Bayangkan jika setiap perpustakaan menulis data buku dengan aturan berbeda.

Contoh:

  • satu perpustakaan menulis “Andrea Hirata”,
  • yang lain menulis “Hirata, Andrea”,
  • perpustakaan lain menulis “A. Hirata”.

Akibatnya:

  • data menjadi tidak seragam,
  • pencarian sulit,
  • pertukaran data gagal,
  • dan sistem komputer sulit membaca informasi.

Karena itu diperlukan standar internasional agar semua perpustakaan memiliki aturan yang sama.

Standar tersebut salah satunya adalah AACR2 dan kemudian berkembang menjadi RDA.

Apa Itu AACR2?

AACR2 adalah singkatan dari:

Anglo-American Cataloguing Rules Second Edition

AACR2 merupakan aturan katalogisasi internasional yang digunakan untuk membuat deskripsi bibliografi dan penentuan tajuk entri.

Standar ini disusun oleh:

  • American Library Association (ALA),
  • Canadian Library Association,
  • dan Chartered Institute of Library and Information Professionals.

AACR2 menjadi standar katalogisasi paling terkenal dan digunakan luas di dunia selama puluhan tahun.

Sejarah Singkat AACR2

AACR pertama kali diterbitkan tahun 1967.

Kemudian berkembang menjadi:

  • AACR2 pada tahun 1978,
  • direvisi beberapa kali,
  • dan edisi revisi paling banyak digunakan diterbitkan tahun 2002.

Di Indonesia, AACR2 mulai banyak digunakan sejak perpustakaan modern berkembang dan sistem otomasi mulai digunakan sekitar tahun 1980–1990-an.

Banyak perpustakaan di Indonesia, termasuk:

  • perpustakaan sekolah,
  • perpustakaan perguruan tinggi,
  • dan perpustakaan umum,
    menggunakan AACR2 sebagai dasar pengolahan koleksi hingga sekarang.

Tujuan AACR2

AACR2 dibuat untuk:

  1. menyeragamkan katalog perpustakaan,
  2. memudahkan pencarian koleksi,
  3. membantu pertukaran data bibliografi,
  4. mempermudah kerja pustakawan,
  5. mendukung sistem otomasi perpustakaan.

Isi Pokok AACR2

AACR2 mengatur:

  • penulisan nama pengarang,
  • penulisan judul,
  • penulisan penerbit,
  • penulisan edisi,
  • penulisan data fisik buku,
  • penentuan tajuk subjek,
  • dan bentuk katalog.

Contoh Penerapan AACR2

Nama Pengarang

Nama dibalik berdasarkan unsur utama.

Contoh:

  • Andrea Hirata → Hirata, Andrea
  • Meita Feriana → Feriana, Meita

Judul Buku

Judul ditulis sesuai halaman judul utama.

Contoh:

Laskar Pelangi

Data Penerbit

Contoh:

Jakarta : Bentang Pustaka, 2020.

Kelebihan AACR2

AACR2 memiliki beberapa kelebihan:

  • mudah dipahami,
  • sangat terstruktur,
  • cocok untuk katalog cetak,
  • sudah digunakan luas,
  • kompatibel dengan banyak sistem lama.

Karena itu sampai sekarang masih banyak perpustakaan sekolah memakai prinsip AACR2.

Kelemahan AACR2

Walaupun sangat terkenal, AACR2 memiliki keterbatasan.

AACR2 dibuat pada masa:

  • katalog kartu,
  • koleksi cetak,
  • dan perpustakaan tradisional.

Sementara sekarang perpustakaan berkembang menjadi:

  • digital,
  • online,
  • multimedia,
  • dan berbasis internet.

AACR2 dianggap kurang fleksibel untuk:

  • ebook,
  • website,
  • video digital,
  • database online,
  • dan metadata modern.

Karena itu muncul standar baru bernama RDA.

Apa Itu RDA?

RDA adalah singkatan dari:

Resource Description and Access

RDA merupakan standar katalogisasi modern yang dikembangkan sebagai pengganti AACR2.

RDA mulai diperkenalkan sekitar tahun 2010 dan dirancang untuk menyesuaikan perkembangan:

  • perpustakaan digital,
  • internet,
  • metadata,
  • linked data,
  • dan teknologi informasi modern.

Mengapa RDA Dibuat?

Karena dunia informasi berubah sangat cepat.

Koleksi perpustakaan sekarang tidak hanya:

  • buku cetak,
  • majalah,
  • surat kabar.

Tetapi juga:

  • ebook,
  • jurnal online,
  • video streaming,
  • podcast,
  • file digital,
  • website,
  • repository,
  • dan koleksi multimedia.

AACR2 dianggap kurang mampu menangani format modern tersebut.

RDA hadir untuk menjawab kebutuhan katalogisasi era digital.

Perbedaan Utama AACR2 dan RDA

1. Fokus Sistem

AACR2

Fokus pada katalog tradisional.

RDA

Fokus pada akses informasi digital dan online.

2. Jenis Koleksi

AACR2

Lebih cocok untuk bahan cetak.

RDA

Cocok untuk semua format informasi.

3. Struktur Data

AACR2

Masih dipengaruhi katalog kartu.

RDA

Dirancang untuk metadata modern.

4. Fleksibilitas

AACR2

Lebih kaku.

RDA

Lebih fleksibel.

5. Teknologi

AACR2

Kurang mendukung linked data.

RDA

Mendukung teknologi perpustakaan digital modern.

Konsep Penting dalam RDA

RDA menggunakan konsep:

  • FRBR,
  • FRAD,
  • dan linked data.

Apa Itu FRBR?

FRBR adalah:

Functional Requirements for Bibliographic Records

FRBR membantu pengguna untuk:

  • menemukan,
  • mengidentifikasi,
  • memilih,
  • dan memperoleh informasi.

Empat Konsep Utama FRBR

1. Work

Ide intelektual.

Contoh:

  • Laskar Pelangi sebagai karya.

2. Expression

Bentuk ekspresi karya.

Contoh:

  • versi bahasa Indonesia,
  • versi bahasa Inggris.

3. Manifestation

Bentuk fisik/digital.

Contoh:

  • buku cetak,
  • ebook,
  • audiobook.

4. Item

Eksemplar tertentu.

Contoh:

  • satu buku yang ada di rak perpustakaan.

Mengapa RDA Penting untuk Masa Depan?

RDA membantu perpustakaan:

  • terhubung dengan internet,
  • mendukung metadata global,
  • mempermudah pencarian digital,
  • mendukung interoperabilitas data,
  • dan meningkatkan akses pengguna.

Karena itu banyak perpustakaan besar dunia mulai beralih ke RDA.

Apakah Indonesia Sudah Menggunakan RDA?

Ya, tetapi penerapannya masih bertahap.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mulai menyesuaikan praktik katalogisasi menuju RDA sejak sekitar tahun 2015.

Namun di lapangan:

  • banyak perpustakaan masih menggunakan AACR2,
  • sebagian menggabungkan AACR2 dan RDA,
  • terutama perpustakaan sekolah yang sistemnya masih sederhana.

Bagaimana Praktik di Perpustakaan Sekolah?

Di perpustakaan sekolah biasanya:

  • prinsip AACR2 masih dominan,
  • terutama pada penulisan nama pengarang,
  • penentuan tajuk,
  • dan deskripsi bibliografi dasar.

Namun beberapa aplikasi otomasi terbaru mulai mendukung prinsip RDA.

Contoh Penulisan Nama Pengarang Indonesia

Meita Feriana

Karena tidak memiliki nama keluarga resmi:

  • ditulis → Feriana, Meita

Andrea Hirata

  • Hirata, Andrea

Tere Liye

  • Liye, Tere

Pramoedya

Tetap:

  • Pramoedya

karena hanya satu nama.

Mengapa Pustakawan Harus Memahami AACR2 dan RDA?

Karena katalogisasi adalah dasar pengelolaan perpustakaan.

Tanpa katalogisasi yang benar:

  • koleksi sulit dicari,
  • data tidak rapi,
  • OPAC membingungkan,
  • dan pertukaran data antar perpustakaan menjadi sulit.

Pemahaman AACR2 dan RDA juga membantu pustakawan:

  • lebih profesional,
  • memahami standar internasional,
  • mengelola perpustakaan digital,
  • dan mengikuti perkembangan teknologi informasi.

Tantangan Penerapan RDA di Indonesia

Beberapa kendala yang masih terjadi:

  • kurangnya pelatihan,
  • keterbatasan SDM,
  • sistem lama masih berbasis AACR2,
  • keterbatasan anggaran,
  • dan belum semua pustakawan memahami RDA.

Karena itu proses peralihan masih berjalan bertahap.

Masa Depan Katalogisasi Perpustakaan

Ke depan, katalogisasi akan semakin terhubung dengan:

  • artificial intelligence,
  • metadata otomatis,
  • linked data,
  • perpustakaan digital,
  • dan pencarian berbasis internet.

Karena itu pemahaman RDA akan semakin penting.

Walaupun demikian, AACR2 masih tetap dipelajari karena menjadi dasar penting memahami katalogisasi modern.

Penutup

AACR2 dan RDA merupakan standar penting dalam dunia katalogisasi perpustakaan. AACR2 menjadi fondasi utama katalogisasi tradisional yang sudah digunakan puluhan tahun di berbagai perpustakaan Indonesia. Sementara RDA hadir sebagai pengembangan modern yang menyesuaikan kebutuhan perpustakaan digital dan teknologi informasi masa kini.

Dalam praktik terbaru di Indonesia, banyak perpustakaan masih menggunakan prinsip AACR2 sambil mulai menyesuaikan diri dengan RDA, terutama dalam sistem otomasi dan pengelolaan metadata digital.

Bagi pustakawan sekolah maupun pengelola perpustakaan, memahami AACR2 dan RDA sangat penting agar pengolahan koleksi lebih rapi, profesional, dan sesuai standar nasional maupun internasional.



Referensi 

Anglo-American Cataloguing Rules. (2002). Anglo-American cataloguing rules (2nd ed., rev.). Chicago, IL: American Library Association.

Functional Requirements for Bibliographic Records. (1998). Functional requirements for bibliographic records: Final report. München: K. G. Saur.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Resource Description and Access. (2010). RDA: Resource description and access. Chicago, IL: American Library Association.

Sulistyo-Basuki. (1991). Pengantar ilmu perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Yusuf, P. M. (2016). Pengolahan bahan pustaka. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka

logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar