Literasi di sekolah dasar sering kali masih dipahami secara sederhana sebagai kegiatan membaca buku selama beberapa menit sebelum pembelajaran dimulai. Padahal, kegiatan literasi memiliki ruang lingkup yang jauh lebih luas. Membaca merupakan salah satu bagian penting, tetapi peserta didik juga perlu belajar memahami informasi, menemukan gagasan utama, menyampaikan pendapat, menulis, berdiskusi, mencari informasi, serta menghasilkan karya berdasarkan apa yang telah dibacanya.
Pada kelas atas sekolah dasar, yaitu kelas IV, V, dan VI, kegiatan literasi perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan peserta didik. Pada tahap ini, siswa tidak lagi hanya diarahkan untuk mampu membaca dengan lancar. Mereka mulai perlu dilatih untuk memahami isi bacaan, menghubungkan informasi, memberikan tanggapan, menyimpulkan, membandingkan informasi, dan menggunakan informasi untuk menghasilkan sesuatu.
Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menempatkan literasi sebagai upaya menyeluruh yang melibatkan warga sekolah dan lingkungan pendidikan. Salah satu kegiatan yang dikenal dalam GLS adalah membaca buku nonpelajaran sebelum pembelajaran, tetapi pelaksanaan literasi di sekolah dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan yang sesuai dengan kondisi dan tahap perkembangan peserta didik.
Karena itu, program literasi untuk kelas IV, V, dan VI sebaiknya tidak dibuat monoton. Jika setiap hari siswa hanya diminta mengambil buku, membaca dalam diam, kemudian mengembalikannya tanpa tindak lanjut, kegiatan tersebut berisiko menjadi rutinitas administratif tanpa memberikan pengalaman literasi yang bermakna.
Kegiatan membaca tetap penting, tetapi perlu dilanjutkan dengan aktivitas lain. Misalnya, setelah membaca sebuah cerita, siswa dapat menceritakan kembali isi cerita, menemukan tokoh dan permasalahan, menuliskan pesan yang diperoleh, membuat pertanyaan, berdiskusi dengan teman, atau mengubah informasi yang diperoleh menjadi sebuah karya.
Dengan demikian, kegiatan literasi kelas atas dapat menjadi sarana untuk membangun budaya membaca sekaligus kemampuan berpikir dan berkomunikasi.
1. Mengapa Kegiatan Literasi Kelas Atas Perlu Dibedakan?
Peserta didik kelas IV, V, dan VI memiliki kemampuan yang berbeda dibandingkan siswa kelas I–III. Mereka umumnya sudah memiliki kemampuan membaca yang lebih berkembang sehingga kegiatan literasi dapat diarahkan pada tingkat pemahaman yang lebih tinggi.
Pada kelas bawah, kegiatan seperti mengenal buku, membaca gambar, mendengarkan cerita, membaca kalimat sederhana, dan menceritakan kembali secara singkat masih sangat relevan.
Sementara itu, kelas atas dapat mulai diarahkan pada kegiatan seperti:
- menemukan informasi penting;
- menentukan gagasan utama;
- membuat ringkasan;
- memberikan pendapat;
- membandingkan dua informasi;
- membuat pertanyaan berdasarkan bacaan;
- melakukan diskusi;
- membuat resensi sederhana;
- menulis cerita;
- mencari informasi dari sumber tertentu;
- mempresentasikan hasil membaca; dan
- menghasilkan karya berdasarkan informasi yang diperoleh.
Perbedaan tersebut penting agar kegiatan literasi tidak terlalu mudah bagi siswa kelas atas.
Program literasi juga sebaiknya tidak selalu berbentuk tugas tertulis. Peserta didik membutuhkan variasi aktivitas agar membaca tetap menjadi kegiatan yang menyenangkan. Dalam pengembangan GLS, terdapat berbagai cara membaca, termasuk membaca mandiri, membaca nyaring, membaca bersama, dan membaca terpandu.
Dengan demikian, guru dan pustakawan dapat memilih metode sesuai tujuan kegiatan.
2. Membaca Buku Nonpelajaran Secara Rutin
Kegiatan pertama yang tetap menjadi dasar adalah membaca buku nonpelajaran.
Buku yang digunakan tidak harus selalu berupa cerita. Siswa kelas atas dapat membaca:
- cerita anak;
- novel anak;
- kumpulan cerpen;
- biografi sederhana;
- ensiklopedia anak;
- buku pengetahuan populer;
- buku tentang lingkungan;
- buku budaya;
- buku sejarah populer;
- buku keterampilan;
- majalah anak; atau
- bahan bacaan lain yang sesuai usia.
Kegiatan membaca dapat dilakukan selama waktu tertentu secara rutin.
Namun, guru dan pustakawan perlu memperhatikan bahwa tujuan kegiatan bukan sekadar membuat siswa "duduk dan membaca". Siswa perlu diberi kesempatan memilih bacaan sesuai minatnya.
Misalnya, siswa yang menyukai hewan dapat memilih ensiklopedia hewan, sedangkan siswa yang menyukai cerita dapat memilih buku fiksi.
Kebebasan memilih bacaan dapat membantu membangun hubungan positif antara siswa dan buku.
3. Jurnal Membaca
Jurnal membaca sangat sesuai diterapkan pada kelas IV–VI.
Jurnal tidak perlu dibuat rumit. Siswa dapat mencatat:
- tanggal membaca;
- judul buku;
- nama penulis;
- halaman yang dibaca;
- informasi penting;
- kata baru;
- hal menarik dari bacaan; dan
- kesimpulan atau tanggapan pribadi.
Untuk kelas IV, format dapat dibuat sederhana.
Untuk kelas V, siswa dapat mulai menambahkan tanggapan terhadap bacaan.
Untuk kelas VI, jurnal dapat dikembangkan menjadi catatan reflektif yang meminta siswa menjelaskan alasan mereka menyukai atau tidak menyukai suatu bacaan.
Jurnal membaca juga bermanfaat bagi guru dan pustakawan karena dapat menjadi salah satu bukti bahwa kegiatan membaca benar-benar dilaksanakan.
4. Menceritakan Kembali Isi Buku
Kegiatan berikutnya adalah menceritakan kembali.
Setelah membaca buku, siswa diberi kesempatan menyampaikan isi bacaan menggunakan bahasa sendiri.
Kegiatan ini dapat dilakukan secara:
- individu;
- berpasangan;
- kelompok kecil; atau
- presentasi di depan kelas.
Guru tidak perlu menuntut siswa menghafalkan seluruh isi cerita.
Yang lebih penting adalah siswa mampu menjelaskan informasi utama secara runtut.
Misalnya:
"Buku yang saya baca bercerita tentang seorang anak yang menemukan anak kucing. Masalahnya adalah anak kucing tersebut tidak diketahui pemiliknya. Tokoh utama kemudian berusaha mencari pemiliknya..."
Kegiatan semacam ini melatih kemampuan memahami bacaan sekaligus kemampuan berbicara.
5. Membuat Ringkasan Bacaan
Ringkasan merupakan kegiatan yang sangat cocok untuk kelas IV–VI.
Siswa membaca sebuah teks kemudian menentukan bagian yang dianggap penting.
Setelah itu, informasi tersebut ditulis kembali menggunakan kalimat sendiri.
Guru dapat mengajarkan bahwa ringkasan bukan sekadar menyalin seluruh isi buku.
Siswa perlu belajar membedakan antara:
informasi utama dan informasi tambahan.
Contohnya, setelah membaca teks tentang manfaat menjaga kebersihan lingkungan, siswa dapat diminta menemukan:
- masalah yang dibahas;
- penyebab masalah;
- dampak;
- solusi; dan
- kesimpulan.
Kemampuan membuat ringkasan akan berguna tidak hanya dalam kegiatan literasi, tetapi juga ketika siswa belajar berbagai mata pelajaran.
6. Menemukan Gagasan Utama
Kelas atas juga dapat diberikan kegiatan mencari gagasan utama.
Guru atau pustakawan menyediakan teks pendek yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.
Kemudian siswa menjawab pertanyaan seperti:
- Apa yang menjadi pokok pembahasan?
- Informasi apa yang paling penting?
- Apa yang ingin disampaikan penulis?
- Kalimat mana yang mendukung gagasan tersebut?
Kegiatan ini melatih siswa membaca dengan tujuan.
Siswa tidak hanya membaca setiap kata, tetapi belajar memahami struktur informasi.
7. Membuat Pertanyaan dari Bacaan
Salah satu kegiatan sederhana tetapi efektif adalah meminta siswa membuat pertanyaan sendiri.
Setelah membaca teks, siswa membuat lima pertanyaan berdasarkan bacaan.
Contohnya:
- Siapa tokoh utama dalam cerita?
- Di mana peristiwa terjadi?
- Mengapa masalah tersebut terjadi?
- Bagaimana tokoh menyelesaikan masalah?
- Apa pesan yang dapat diambil?
Untuk kelas V dan VI, tingkat pertanyaan dapat dinaikkan.
Siswa tidak hanya membuat pertanyaan "siapa", "kapan", dan "di mana", tetapi juga pertanyaan yang membutuhkan alasan dan pendapat.
8. Diskusi Buku
Diskusi buku merupakan kegiatan yang sangat baik untuk kelas atas.
Siswa dapat membaca satu buku atau teks yang sama kemudian mendiskusikannya dalam kelompok.
Beberapa hal yang dapat dibahas antara lain:
- tokoh;
- karakter tokoh;
- masalah;
- alur;
- latar;
- pesan;
- informasi penting;
- bagian yang menarik; dan
- pendapat siswa.
Guru dapat memberikan aturan sederhana bahwa setiap anggota kelompok harus memiliki kesempatan berbicara.
Dengan cara tersebut, literasi tidak hanya mengembangkan kemampuan membaca tetapi juga kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi.
9. Presentasi Buku
Siswa kelas IV–VI dapat diberikan kesempatan melakukan presentasi buku sederhana.
Setiap siswa memilih satu buku yang telah dibaca.
Kemudian siswa menyampaikan:
Identitas buku → isi singkat → bagian menarik → pesan → pendapat pribadi.
Untuk kelas IV, presentasi dapat berlangsung sekitar 3–5 menit.
Kelas V dapat diberikan waktu lebih panjang.
Kelas VI dapat diarahkan untuk membuat presentasi yang lebih sistematis.
Kegiatan ini sangat baik untuk melatih keberanian berbicara di depan orang lain.
10. Resensi Buku Sederhana
Resensi buku dapat mulai diterapkan terutama pada kelas V dan VI.
Siswa tidak harus langsung membuat resensi seperti orang dewasa.
Format sederhana dapat terdiri atas:
- judul buku;
- penulis;
- penerbit;
- isi atau ringkasan;
- kelebihan buku;
- kekurangan buku;
- pesan yang diperoleh; dan
- rekomendasi.
Guru perlu menjelaskan bahwa memberikan penilaian terhadap buku harus disertai alasan.
Misalnya, bukan hanya:
"Bukunya bagus."
Tetapi:
"Saya menyukai buku ini karena bahasanya mudah dipahami dan ceritanya dekat dengan kehidupan anak."
Dengan demikian, siswa belajar mengemukakan pendapat disertai alasan.
11. Berburu Informasi di Perpustakaan
Kegiatan ini sangat cocok untuk menguatkan fungsi perpustakaan sebagai sumber belajar.
Guru memberikan sebuah tema atau pertanyaan.
Contohnya:
"Cari tiga informasi tentang hewan yang hidup di Indonesia."
Siswa kemudian mencari informasi dari buku yang tersedia di perpustakaan.
Mereka mencatat:
- judul sumber;
- informasi yang ditemukan; dan
- halaman tempat informasi tersebut ditemukan.
Kegiatan ini melatih keterampilan mencari informasi sekaligus mengenalkan siswa pada penggunaan koleksi referensi.
Untuk kelas VI, kegiatan dapat dikembangkan menjadi pencarian informasi dari beberapa sumber.
12. Membandingkan Dua Bacaan
Kelas atas dapat dilatih membandingkan informasi.
Misalnya siswa diberikan dua teks tentang lingkungan.
Siswa diminta mencari:
| Aspek | Bacaan 1 | Bacaan 2 |
|---|---|---|
| Topik | ... | ... |
| Informasi utama | ... | ... |
| Persamaan | ... | ... |
| Perbedaan | ... | ... |
| Kesimpulan | ... | ... |
Kegiatan ini membantu siswa memahami bahwa satu topik dapat dijelaskan dengan cara berbeda.
13. Menulis Cerita Pendek
Literasi membaca sebaiknya dapat menghasilkan kegiatan menulis.
Setelah membaca beberapa cerita, siswa dapat diminta membuat cerita sendiri.
Tema dapat disesuaikan dengan kehidupan mereka, misalnya:
- persahabatan;
- pengalaman di sekolah;
- menjaga lingkungan;
- keluarga;
- kejujuran;
- perpustakaan;
- hewan peliharaan; atau
- cita-cita.
Guru dapat memberikan struktur sederhana:
awal cerita → muncul masalah → penyelesaian → akhir cerita.
Hasil karya dapat dikumpulkan menjadi kumpulan cerpen siswa.
Ini juga dapat menjadi produk literasi sekolah yang menarik untuk dipajang di perpustakaan.
14. Menulis Puisi
Puisi juga dapat menjadi bagian kegiatan literasi kelas atas.
Tema dapat dibuat sederhana dan dekat dengan kehidupan siswa.
Contohnya:
- sekolahku;
- guruku;
- perpustakaan;
- buku;
- alam;
- ibu;
- persahabatan;
- cita-cita; dan
- lingkungan.
Puisi siswa dapat dipajang di Pojok Literasi atau Mading Perpustakaan.
Kegiatan tersebut memberikan penghargaan terhadap hasil karya siswa sehingga mereka merasa bahwa membaca dan menulis memiliki hasil nyata.
15. Membuat Komik Berdasarkan Bacaan
Kegiatan komik cocok bagi siswa yang menyukai gambar.
Siswa membaca sebuah cerita kemudian mengubah bagian penting cerita menjadi beberapa panel gambar.
Setiap panel dapat berisi:
- gambar;
- dialog;
- keterangan singkat.
Kegiatan ini mengajarkan siswa memilih informasi penting dan mengubahnya ke dalam bentuk visual.
16. Mading Literasi
Mading dapat menjadi media publikasi karya siswa.
Isi mading dapat berupa:
- puisi;
- cerpen;
- resensi;
- informasi buku baru;
- rekomendasi bacaan;
- kata-kata inspiratif;
- hasil gambar;
- komik;
- artikel siswa; dan
- informasi kegiatan perpustakaan.
Mading sebaiknya diperbarui secara berkala agar siswa memiliki alasan untuk terus melihatnya.
Karya yang ditampilkan juga dapat digilir sehingga kesempatan diberikan kepada berbagai siswa.
17. Tantangan Membaca
Program Tantangan Membaca dapat dilakukan setiap semester.
Misalnya:
"Baca 5 Buku dalam 1 Semester."
Target tidak perlu dibuat terlalu tinggi.
Yang penting adalah target dapat dicapai dan siswa memiliki pengalaman membaca berbagai jenis buku.
Untuk membuatnya menarik, perpustakaan dapat menyediakan kartu atau lembar pemantauan.
Setelah menyelesaikan buku, siswa mengisi:
- judul buku;
- tanggal selesai;
- kesan singkat; dan
- tanda tangan guru/pustakawan.
Program tersebut dapat diakhiri dengan pemberian apresiasi kepada siswa yang aktif membaca.
18. Literasi Digital
Literasi kelas atas juga dapat diperluas ke kemampuan menggunakan informasi digital secara bijak.
Siswa dapat dikenalkan pada pertanyaan:
- Dari mana informasi diperoleh?
- Siapa yang membuat informasi?
- Apakah informasi tersebut dapat dipercaya?
- Apakah informasi berasal dari sumber yang jelas?
- Apakah informasi tersebut sesuai dengan fakta?
Kegiatan tidak harus menggunakan internet setiap saat.
Guru dapat memberikan dua informasi sederhana dan meminta siswa membandingkannya.
Tujuannya adalah membangun kebiasaan bahwa siswa tidak langsung percaya terhadap semua informasi yang mereka lihat.
19. Kegiatan Literasi Berbasis Proyek
Kelas V dan VI dapat diberikan proyek literasi sederhana.
Contohnya:
Proyek "Mengenal Lingkungan Sekolah"
Siswa:
- membaca informasi tentang lingkungan;
- mengamati lingkungan sekolah;
- mencatat temuan;
- mencari informasi tambahan dari buku;
- membuat tulisan;
- membuat poster; dan
- mempresentasikan hasilnya.
Kegiatan tersebut menggabungkan membaca, mencari informasi, menulis, berbicara, dan menghasilkan karya.
20. Bedah Buku
Bedah buku tidak harus dilakukan dengan cara formal.
Pustakawan dapat memilih satu buku yang sesuai dengan usia siswa.
Kemudian kegiatan dilakukan dengan pertanyaan sederhana:
Sebelum membaca
- Apa yang dapat kalian perkirakan dari judul?
- Apa yang kalian lihat dari sampul?
Saat membaca
- Apa masalah yang muncul?
- Siapa tokoh utamanya?
Setelah membaca
- Apa pesan buku?
- Bagian mana yang paling menarik?
- Apakah kalian setuju dengan tindakan tokoh?
- Apa yang akan kalian lakukan jika mengalami hal yang sama?
Pertanyaan semacam ini membantu siswa membaca secara lebih aktif.
21. Pekan Literasi Sekolah
Sekolah juga dapat membuat kegiatan khusus berupa Pekan Literasi.
Kegiatan dapat berlangsung selama satu minggu.
Contohnya:
Kelas IV, V, dan VI dapat diberikan kegiatan yang lebih menantang dibandingkan kelas I–III.
Pekan literasi juga dapat menjadi sarana memperkenalkan koleksi perpustakaan kepada siswa.
22. Peran Pustakawan dalam Literasi Kelas Atas
Program literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab guru kelas.
Pustakawan dapat berperan sebagai penggerak kegiatan literasi di sekolah.
Beberapa tugas yang dapat dilakukan antara lain:
- menyiapkan koleksi bacaan;
- membantu siswa memilih buku;
- membuat jadwal kunjungan;
- mencatat peminjaman;
- membuat rekomendasi buku;
- mengelola pojok literasi;
- mendokumentasikan kegiatan;
- memajang karya siswa;
- mengadakan kegiatan literasi perpustakaan; dan
- bekerja sama dengan guru dalam pelaksanaan program.
Panduan GLS sendiri menekankan bahwa gerakan literasi merupakan upaya yang melibatkan warga sekolah dan bukan pekerjaan satu pihak saja.
Oleh karena itu, kerja sama antara kepala sekolah, guru, pustakawan, peserta didik, dan orang tua akan membuat program lebih berkelanjutan.
23. Contoh Jadwal Literasi Kelas Atas
Agar program mudah diterapkan, kegiatan dapat dibuat sederhana seperti berikut:
| Waktu | Kegiatan |
|---|---|
| Setiap hari/terjadwal | Membaca buku nonpelajaran |
| Minggu ke-1 | Kunjungan dan pemilihan buku |
| Minggu ke-2 | Jurnal membaca |
| Minggu ke-3 | Menceritakan/presentasi buku |
| Minggu ke-4 | Diskusi atau kegiatan kreatif |
| Setiap bulan | Rekap kegiatan literasi |
| Setiap semester | Pameran karya |
| Setiap semester | Tantangan membaca |
| Setiap tahun | Pekan Literasi |
Jadwal tersebut tentu dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah.
Tidak semua kegiatan harus dilakukan setiap minggu. Justru lebih baik memiliki program yang sederhana, konsisten, terdokumentasi, dan dapat dilaksanakan daripada membuat program terlalu banyak tetapi tidak berjalan.
24. Perbedaan Kegiatan Kelas IV, V, dan VI
Agar program tidak terasa sama setiap tahun, tingkat kesulitan dapat dinaikkan secara bertahap.
Kelas IV
Fokus pada:
- membaca pemahaman;
- menemukan informasi;
- kosakata;
- ringkasan sederhana;
- menceritakan kembali;
- presentasi singkat;
- puisi dan cerita.
Kelas V
Fokus pada:
- membaca kritis sederhana;
- diskusi;
- resensi;
- mencari informasi;
- membandingkan bacaan;
- menulis cerita/artikel;
- presentasi.
Kelas VI
Fokus pada:
- analisis bacaan;
- literasi informasi;
- diskusi;
- bedah buku;
- resensi;
- pencarian informasi dari beberapa sumber;
- presentasi;
- karya literasi.
Dengan pembagian tersebut, kemampuan siswa dapat berkembang dari membaca dan memahami menuju menganalisis, menilai, mengolah, dan menghasilkan informasi.
Kesimpulan
Kegiatan literasi untuk kelas atas SD sebaiknya tidak berhenti pada kegiatan membaca buku. Membaca merupakan fondasi, tetapi pengalaman literasi dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan yang membuat siswa aktif menggunakan informasi.
Program yang dapat diterapkan antara lain membaca buku nonpelajaran, jurnal membaca, ringkasan, menceritakan kembali, menemukan gagasan utama, membuat pertanyaan, diskusi buku, presentasi, resensi, berburu informasi di perpustakaan, membandingkan bacaan, menulis cerpen, menulis puisi, membuat komik, mading literasi, tantangan membaca, literasi digital, proyek literasi, dan bedah buku.
Yang paling penting adalah kegiatan tersebut disesuaikan dengan usia dan kemampuan siswa.
Kelas IV dapat diarahkan untuk memperkuat pemahaman bacaan. Kelas V dapat mulai diberikan kegiatan yang membutuhkan pengolahan dan penilaian informasi. Kelas VI dapat diarahkan pada kegiatan literasi yang lebih kompleks, seperti analisis bacaan, pencarian informasi, diskusi, resensi, dan presentasi.
Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi dapat berkembang menjadi pusat kegiatan literasi sekolah.
Program literasi yang baik bukanlah program yang memiliki kegiatan paling banyak. Program yang baik adalah program yang dapat dilaksanakan secara konsisten, menyenangkan bagi siswa, memiliki tujuan yang jelas, menghasilkan karya atau pengalaman belajar, serta dapat didokumentasikan dan dievaluasi.
Panduan resmi GLS SD juga menempatkan sekolah sebagai lingkungan yang perlu membangun budaya literasi secara menyeluruh. Oleh sebab itu, kegiatan literasi kelas atas sebaiknya dirancang sebagai bagian dari budaya sekolah, bukan sekadar kegiatan tambahan.
Referensi
- Faizah, D. U., Sufyadi, S., Anggraini, L., Waluyo, W., Dewayani, S., Muldian, W., & Roosaria, R. (2016). Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
- Setiawan, R., Komalasari, K., Misiyanto, M., Mardianto, A., Islami, A., & Nurani, D. (2019). Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar (Edisi 2). Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
- Wiedarti, P., Laksono, K., & Retnaningsih, P. (2018). Desain induk Gerakan Literasi Sekolah (Edisi 2). Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Thanks for reading Kegiatan Literasi yang Sesuai untuk Kelas Atas SD: Contoh Program, Bentuk Kegiatan, dan Cara Pelaksanaannya. Please share...!
0 Komentar untuk "Kegiatan Literasi yang Sesuai untuk Kelas Atas SD: Contoh Program, Bentuk Kegiatan, dan Cara Pelaksanaannya"