-->

"Jelajahi perpustakaan: literasi, pengetahuan, dan rekomendasi bacaan tanpa batas!"

Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi ruang tumbuhnya ide, karakter, dan masa depan. Setiap halaman yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar dalam hidup seseorang.

Perbedaan Klasifikasi dan Kategorisasi Buku di Perpustakaan Sekolah



Perpustakaan sekolah merupakan salah satu sarana penting dalam mendukung kegiatan belajar mengajar. Melalui perpustakaan, siswa dapat mengakses berbagai sumber pengetahuan yang membantu mereka memahami materi pelajaran maupun memperluas wawasan. Agar koleksi buku dapat dimanfaatkan secara maksimal, perpustakaan perlu menerapkan sistem pengelolaan koleksi yang teratur dan mudah dipahami oleh pengguna.

Salah satu aspek penting dalam pengelolaan koleksi perpustakaan adalah pengaturan buku berdasarkan sistem tertentu. Dalam praktik pengelolaan perpustakaan, terdapat dua istilah yang sering digunakan yaitu klasifikasi buku dan kategorisasi buku. Kedua istilah ini sering dianggap sama, padahal sebenarnya memiliki konsep dan tujuan yang berbeda.

Memahami perbedaan antara klasifikasi dan kategorisasi buku sangat penting terutama bagi pustakawan sekolah. Dengan memahami kedua konsep ini, perpustakaan dapat mengatur koleksi secara lebih efektif dan memudahkan siswa dalam menemukan buku yang mereka butuhkan.

Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai perbedaan klasifikasi dan kategorisasi buku di perpustakaan sekolah, termasuk pengertian masing masing konsep, tujuan penggunaannya, serta bagaimana kedua sistem tersebut dapat diterapkan secara bersamaan dalam pengelolaan koleksi perpustakaan.

Pengertian Klasifikasi Buku

Klasifikasi buku adalah proses pengelompokan buku berdasarkan bidang ilmu pengetahuan tertentu dengan menggunakan sistem klasifikasi yang terstruktur. Sistem ini bertujuan untuk mengatur koleksi buku secara sistematis sehingga memudahkan pengguna dalam menemukan informasi.

Dalam dunia perpustakaan, salah satu sistem klasifikasi yang paling banyak digunakan adalah Dewey Decimal Classification atau yang sering disingkat dengan DDC. Sistem ini membagi seluruh pengetahuan manusia ke dalam sepuluh kelompok utama.

Sebagai contoh, kelompok 000 digunakan untuk karya umum, kelompok 100 untuk filsafat dan psikologi, kelompok 300 untuk ilmu sosial, kelompok 500 untuk ilmu pengetahuan alam, dan kelompok 800 untuk sastra.

Melalui sistem ini, setiap buku diberi nomor klasifikasi tertentu yang mencerminkan bidang ilmu yang dibahas di dalam buku tersebut. Nomor ini kemudian ditempatkan pada label punggung buku sehingga memudahkan proses penataan di rak.

Tujuan Klasifikasi Buku

Klasifikasi buku memiliki beberapa tujuan penting dalam pengelolaan perpustakaan. Tujuan utama klasifikasi adalah mengelompokkan buku berdasarkan bidang ilmu pengetahuan yang sama.

Dengan adanya klasifikasi, buku yang membahas topik serupa dapat ditempatkan berdekatan di rak. Hal ini memudahkan pengguna perpustakaan dalam menemukan berbagai buku yang berkaitan dengan topik yang mereka cari.

Selain itu, klasifikasi juga membantu pustakawan dalam mengatur koleksi secara sistematis. Setiap buku memiliki tempat yang jelas sesuai dengan nomor klasifikasinya.

Klasifikasi juga mendukung sistem katalog perpustakaan. Nomor klasifikasi menjadi salah satu informasi penting dalam data katalog yang membantu proses pencarian buku.

Pengertian Kategorisasi Buku

Berbeda dengan klasifikasi, kategorisasi buku merupakan proses pengelompokan buku berdasarkan tema atau kategori tertentu yang lebih sederhana dan fleksibel. Kategorisasi biasanya disesuaikan dengan kebutuhan pengguna perpustakaan.

Dalam perpustakaan sekolah, kategorisasi sering digunakan untuk mempermudah siswa dalam memahami jenis koleksi yang tersedia. Misalnya buku dapat dikelompokkan menjadi kategori buku cerita, buku pengetahuan, buku referensi, atau buku pelajaran.

Kategorisasi tidak selalu mengikuti sistem klasifikasi ilmiah seperti DDC. Sistem ini lebih bersifat praktis dan bertujuan untuk memudahkan pengguna dalam mengenali jenis buku.

Sebagai contoh, buku tentang hewan, tumbuhan, dan alam dapat dimasukkan ke dalam kategori buku ilmu pengetahuan. Pendekatan ini lebih mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar.

Tujuan Kategorisasi Buku

Kategorisasi buku bertujuan untuk mempermudah pengguna dalam mengenali jenis koleksi perpustakaan. Sistem ini membantu siswa menemukan buku berdasarkan tema yang mereka minati.

Selain itu, kategorisasi juga membantu menciptakan tampilan rak buku yang lebih menarik dan mudah dipahami. Pengelompokan berdasarkan kategori dapat disertai dengan label atau papan petunjuk yang jelas.

Kategorisasi juga sering digunakan dalam program literasi sekolah. Misalnya perpustakaan dapat menyediakan kategori khusus untuk buku cerita anak, buku motivasi, atau buku petualangan.

Pendekatan ini membuat siswa lebih tertarik untuk menjelajahi koleksi perpustakaan.

Perbedaan Utama antara Klasifikasi dan Kategorisasi

Meskipun sama sama bertujuan untuk mengelompokkan buku, klasifikasi dan kategorisasi memiliki beberapa perbedaan mendasar.

Perbedaan pertama terletak pada sistem yang digunakan. Klasifikasi menggunakan sistem ilmiah yang terstruktur seperti Dewey Decimal Classification. Sementara itu, kategorisasi menggunakan pengelompokan yang lebih sederhana dan fleksibel.

Perbedaan kedua terletak pada tujuan penggunaannya. Klasifikasi bertujuan untuk mengatur koleksi berdasarkan bidang ilmu pengetahuan secara sistematis. Kategorisasi bertujuan untuk memudahkan pengguna mengenali jenis buku secara praktis.

Perbedaan ketiga terletak pada bentuk penandaan buku. Dalam klasifikasi, buku diberi nomor klasifikasi yang dicantumkan pada label punggung buku. Dalam kategorisasi, buku biasanya diberi label kategori atau ditempatkan pada rak tertentu yang menunjukkan jenis koleksi.

Perbedaan lainnya adalah tingkat kompleksitas sistem. Klasifikasi membutuhkan pemahaman tentang sistem klasifikasi ilmiah, sedangkan kategorisasi lebih mudah diterapkan karena hanya menggunakan pengelompokan tema.

Contoh Penerapan Klasifikasi di Perpustakaan Sekolah

Di banyak perpustakaan sekolah, sistem klasifikasi DDC digunakan untuk mengatur koleksi buku. Setiap buku diberi nomor klasifikasi yang sesuai dengan bidang ilmu yang dibahas.

Sebagai contoh, buku tentang matematika ditempatkan pada kelompok 500 atau 510, buku tentang sejarah Indonesia berada pada kelompok 900, sedangkan buku sastra berada pada kelompok 800.

Nomor klasifikasi tersebut dicantumkan pada label punggung buku dan digunakan sebagai dasar dalam penataan rak.

Dengan sistem ini, buku yang membahas topik serupa akan berada pada lokasi yang sama sehingga memudahkan pengguna menemukan buku terkait.

Contoh Penerapan Kategorisasi di Perpustakaan Sekolah

Selain klasifikasi, perpustakaan sekolah juga sering menggunakan kategorisasi untuk mempermudah siswa menemukan buku.

Sebagai contoh, perpustakaan dapat menyediakan rak khusus untuk buku cerita anak, rak buku ilmu pengetahuan, rak buku referensi, serta rak buku pelajaran.

Setiap rak dapat dilengkapi dengan papan petunjuk yang jelas agar siswa mudah mengenali kategori buku yang tersedia.

Pendekatan ini sangat efektif untuk siswa sekolah dasar yang belum memahami sistem klasifikasi secara mendalam.

Menggabungkan Klasifikasi dan Kategorisasi

Dalam praktiknya, perpustakaan sekolah dapat menggabungkan sistem klasifikasi dan kategorisasi untuk menciptakan sistem pengelolaan koleksi yang lebih efektif.

Klasifikasi tetap digunakan sebagai dasar pengolahan koleksi secara ilmiah, sedangkan kategorisasi digunakan untuk mempermudah siswa memahami susunan koleksi.

Sebagai contoh, buku dapat diberi nomor klasifikasi sesuai sistem DDC, tetapi juga ditempatkan dalam kategori tertentu seperti buku cerita atau buku pengetahuan.

Pendekatan ini memberikan keseimbangan antara ketertiban sistem klasifikasi dan kemudahan penggunaan bagi siswa.

Peran Pustakawan dalam Mengelola Sistem Pengelompokan Buku

Pustakawan memiliki peran penting dalam menentukan sistem pengelompokan buku di perpustakaan sekolah. Mereka perlu memahami prinsip klasifikasi sekaligus mempertimbangkan kebutuhan pengguna perpustakaan.

Selain itu, pustakawan juga perlu memberikan edukasi kepada siswa mengenai cara mencari buku di perpustakaan. Dengan pemahaman yang baik, siswa dapat memanfaatkan koleksi perpustakaan secara lebih optimal.

Pustakawan juga perlu melakukan evaluasi secara berkala terhadap sistem pengelompokan buku yang digunakan. Jika sistem yang ada kurang efektif, perpustakaan dapat melakukan penyesuaian agar lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Penutup

Klasifikasi dan kategorisasi merupakan dua konsep penting dalam pengelolaan koleksi perpustakaan sekolah. Klasifikasi berfungsi mengelompokkan buku berdasarkan bidang ilmu pengetahuan dengan menggunakan sistem yang terstruktur seperti Dewey Decimal Classification. Sementara itu, kategorisasi berfungsi mengelompokkan buku berdasarkan tema atau jenis koleksi yang lebih sederhana.

Meskipun memiliki perbedaan, kedua sistem ini dapat digunakan secara bersamaan untuk menciptakan pengelolaan koleksi yang lebih efektif. Klasifikasi memberikan struktur yang sistematis, sedangkan kategorisasi memberikan kemudahan bagi siswa dalam menemukan buku.

Dengan pengelolaan koleksi yang baik, perpustakaan sekolah dapat menjadi tempat yang lebih nyaman dan menarik bagi siswa untuk belajar dan membaca. Sistem pengelompokan buku yang jelas juga akan membantu meningkatkan pemanfaatan koleksi perpustakaan serta mendukung perkembangan budaya literasi di lingkungan sekolah.


Referensi

  • Basuki, S. (1993). Pengantar ilmu perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Lasa HS. (2009). Manajemen perpustakaan sekolah. Yogyakarta: Pinus Book Publisher.
  • Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2018). Pedoman pengelolaan perpustakaan sekolah. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.
  • Suwarno, W. (2011). Dasar dasar ilmu perpustakaan. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.
  • Undang Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.

Klasifikasi Bahan Pustaka: Mengenal DDC dan UDC dalam Pengelolaan Perpustakaan

 


Klasifikasi bahan pustaka adalah proses mengelompokkan buku dan sumber daya lainnya berdasarkan subjek atau tema tertentu. Tujuannya adalah memudahkan pengguna dalam menemukan dan mengakses informasi. Dua sistem klasifikasi yang paling banyak digunakan di dunia adalah DDC (Dewey Decimal Classification) dan UDC (Universal Decimal Classification). Artikel ini akan membahas perbedaan, kelebihan, serta penerapan kedua sistem klasifikasi ini dalam pengelolaan perpustakaan.

Apa Itu Klasifikasi Bahan Pustaka?

Klasifikasi bahan pustaka adalah metode pengorganisasian koleksi perpustakaan berdasarkan subjek, tema, atau kategori tertentu. Sistem klasifikasi membantu:

Memudahkan pencarian bahan pustaka.

Menyusun buku secara sistematis di rak.

Mengelola koleksi perpustakaan dengan lebih efisien.

DDC (Dewey Decimal Classification)

DDC adalah sistem klasifikasi yang dikembangkan oleh Melvil Dewey pada tahun 1876. Sistem ini menggunakan angka desimal untuk mengelompokkan bahan pustaka ke dalam 10 kelas utama.

Struktur DDC

DDC membagi pengetahuan manusia ke dalam 10 kelas utama, yang masing-masing dibagi lagi menjadi 10 divisi, dan seterusnya. Berikut adalah 10 kelas utama DDC:

000 - Komputer, Informasi, dan Referensi Umum

100 - Filsafat dan Psikologi

200 - Agama

300 - Ilmu Sosial

400 - Bahasa

500 - Sains dan Matematika

600 - Teknologi

700 - Seni dan Rekreasi

800 - Sastra

900 - Sejarah dan Geografi

Kelebihan DDC

  • Sederhana dan Mudah Dipahami: Sistem angka desimal membuat DDC mudah dipelajari dan diterapkan.
  • Fleksibel: DDC dapat diperluas untuk mencakup subjek baru.
  • Digunakan Secara Global: DDC adalah sistem klasifikasi paling populer di dunia, digunakan di lebih dari 135 negara.

Kekurangan DDC

  • Bias Barat: DDC dikembangkan di Amerika Serikat dan cenderung bias terhadap perspektif Barat.
  • Terbatas untuk Subjek Tertentu: Beberapa subjek, seperti agama atau budaya lokal, mungkin tidak terwakili dengan baik.

UDC (Universal Decimal Classification)

UDC adalah sistem klasifikasi yang dikembangkan pada akhir abad ke-19 sebagai perluasan dari DDC. UDC menggunakan kombinasi angka dan simbol untuk mengklasifikasikan bahan pustaka.

Struktur UDC

UDC juga menggunakan angka desimal, tetapi lebih fleksibel dengan menambahkan simbol seperti tanda tambah (+), garis miring (/), dan titik dua (:). Berikut adalah contoh struktur UDC:

  • 5 - Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
  • 53 - Fisika
  • 539 - Fisika Atom dan Molekul

Kelebihan UDC

  • Lebih Detail: UDC memungkinkan klasifikasi yang lebih spesifik dan rinci.
  • Cocok untuk Berbagai Format: UDC dapat digunakan untuk mengklasifikasikan buku, artikel, dokumen digital, dan lainnya.
  • Digunakan di Perpustakaan Khusus: UDC sering digunakan di perpustakaan ilmiah, teknis, dan khusus.

Kekurangan UDC

  • Kompleks: Penggunaan simbol dan struktur yang rumit membuat UDC lebih sulit dipelajari.
  • Kurang Populer: UDC tidak sepopuler DDC, terutama di perpustakaan umum.

Perbedaan Utama antara DDC dan UDC

Aspek

DDC

UDC

Struktur

Angka desimal (0-9)

Angka desimal + simbol (+, /, :)

Tingkat Detail

Umum

Lebih rinci dan spesifik

Fleksibilitas

Fleksibel, tetapi terbatas

Sangat fleksibel

Penggunaan

Perpustakaan umum

Perpustakaan khusus dan ilmiah

Popularitas

Sangat populer secara global

Kurang populer, tetapi diakui

 

Penerapan DDC dan UDC di Perpustakaan

  • Perpustakaan Umum: DDC lebih sering digunakan karena kemudahan dan popularitasnya.
    • Contoh: Perpustakaan sekolah, perpustakaan kota.
  • Perpustakaan Khusus dan Ilmiah: UDC lebih cocok karena kemampuannya mengklasifikasikan subjek yang kompleks.
    • Contoh: Perpustakaan universitas, perpustakaan penelitian.

Tantangan dalam Menggunakan DDC dan UDC

  • Perubahan Subjek: Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memerlukan pembaruan sistem klasifikasi.
  • Pelatihan Staf: Staf perpustakaan perlu dilatih untuk memahami dan menerapkan sistem klasifikasi dengan benar.
  • Integrasi dengan Teknologi: Perpustakaan perlu memastikan sistem klasifikasi dapat diintegrasikan dengan sistem manajemen perpustakaan modern.

Mengapa Klasifikasi Bahan Pustaka Penting?

  • Memudahkan Pencarian: Pengguna dapat menemukan buku dengan cepat berdasarkan subjek.
  • Mengorganisir Koleksi: Buku disusun secara sistematis, memudahkan pengelolaan.
  • Meningkatkan Efisiensi: Staf perpustakaan dapat mengelola koleksi dengan lebih efektif.
  • Mendukung Literasi Informasi: Klasifikasi membantu pengguna memahami struktur pengetahuan.

Contoh Penerapan DDC dan UDC

  • DDC di Perpustakaan Sekolah:
    • Buku tentang sejarah Indonesia akan diklasifikasikan di nomor 959.8.
    • Buku tentang matematika dasar akan diklasifikasikan di nomor 510.
  • UDC di Perpustakaan Universitas:
    • Artikel tentang fisika kuantum akan diklasifikasikan di nomor 530.145.
    • Jurnal tentang bioteknologi akan diklasifikasikan di nomor 577.1.

Kesimpulan

Sistem klasifikasi bahan pustaka seperti DDC dan UDC adalah alat penting dalam pengelolaan perpustakaan. Meskipun DDC lebih populer dan mudah digunakan, UDC menawarkan fleksibilitas dan detail yang lebih besar, terutama untuk perpustakaan khusus. Pemilihan sistem klasifikasi harus disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis perpustakaan.

Dengan memahami dan menerapkan sistem klasifikasi yang tepat, perpustakaan dapat meningkatkan efisiensi, aksesibilitas, dan kualitas layanan kepada pengguna. Jika Anda memiliki pengalaman atau pertanyaan tentang DDC dan UDC, jangan ragu untuk berbagi di kolom komentar! Selamat mengklasifikasikan! 

 

Jenis dan Klasifikasi Bahan Pustaka, Dasar Pengelolaan Koleksi Perpustakaan




Klasifikasi adalah mengelompokkan benda yang memiliki beberapa ciri yang sama dan memisahkan benda yang tidak sama. Dalam konteks perpustakaan, klasifikasi adalah kegiatan mengelompokkan bahan pustaka berdasarkan kesamaan subyek/topiknya dengan berpedoman pada metode/sistem tertentu. 
Menurut Qolyubi dkk (2003) sistem pengelompokan atau klasifikasi perpustakaan dapat dibedakan menjadi:
  • Klasifikasi Artifisial
Klasifikasi artifisial adalah sistem pengelompokkan atau klasifikasi koleksi berdasarkan ciri fisik koleksi, seperti ukuran, warna ataupun data fisik lainnya.
  • Klasifikasi Fundamental
Klasifikasi fundamental adalah sistem pengelompokkan atau klasifikasi koleksi berdasarkan subjek yang terkandung dalam sebuah koleksi. 

Kedua sistem klasifikasi tersebut diaplikasikan dalam kegiatan pengelolaan perpustakaan. Pengelola perpustakaan akan mengelompokkan koleksi berdasarkan ciri fisik koleksi, artinya pengelola perpustakaan mengaplikasikan klasifikasi artifisial. Selanjutnya, setelah dikelompokkan berdasarkan ciri fisik koleksi, kemudian koleksi dikelompokkan lagi berdasarkan subjek dari koleksi.   Dengan demikian Koleksi yang memiliki subjek sama akan saling berdekatan, artinya pengelola perpustakaan telah menggunakan klasfikasi fundamental dalam kegiatan klasifikasi.   

Dalam kegiatan klasifikasi fundamental, seseorang akan mengelompokkan koleksi berdasarkan subjek bahan pustaka. Dalam kegiatan klasifikasi ini ada dua tahapan yang dilakukan yaitu analisis subjek serta penentuan notasi atau nomor klas subjek. Berikut ini penjelasan dari masing-masing tahapan.

2.1. Analisis Subjek
Untuk dapat menentukan subjek sebuah koleksi atau bahan pustaka maka perlu dilakukan proses analisis subjek. Analisis subjek adalah kegiatan atau proses penentuan subjek atau isi yang terkandung dalam sebuah koleksi.
Dalam kegiatan analisis subjek ada dua hal penting yang harus diperhatikan, yaitu jenis konsep dan jenis subjek. Jenis konsep dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :
a.    Fenomena
Merupakan masalah yang menjadi bahasan utama di dalam bahan Pustaka. Fenomena dibedakan menjadi objek konkret dan objek abstrak. Objek konkret contohnya adalah Perpustakaan, Komputer. Sedangkan objek abstrak contohnya antara lain budaya dan agama.
b.    Disiplin Ilmu
Merupakan disiplin ilmu utama atau cabang dari disiplin ilmu utama yang dibahas dalam sebuah bahan pustaka. Disiplin ilmu diutama disebut juga dengan istilah disiplin ilmu fundamental dan cabang disiplin ilmu disebut subdisiplin.  Misalnya ilmu sosial maka cabang disiplin ilmu tersebut antara lain sosiologi, ilmu politik ilmu hukum, administrasi dan lain sebagainya.
c.    Bentuk Penyajian
Merupakan organisasi penyajian subjek dalam bahan pustaka menurut bentuk fisik,  sistematika penyajian dan bentuk intelektual.  Seperti Majalah, Kamus, Ensiklopedi, Direktori, Statistik.

Untuk jenis subjek dibedakan ke dalam empat jenis. Keempat jenis subjek tersebut adalah:
a. Subjek Dasar
Adalah jenis subjek bahan pustaka  yang terdiri dari satu disiplin ilmu. Misalnya politik, pendidikan, ekonomi dan lain-lain.
b. Subjek Sederhana
Adalah subyek bahan pustaka terdiri dari satu faset pembagian dari satu disiplin ilmu, Misalnya pendidikan dasar
c. Subjek majemuk
Adalah jenis subyek bahan pustaka terdiri dari lebih satu faset pembagian dari disiplin ilmu. Misalnya Pendidikan Dasar di Indonesia
d. Subjek Kompleks
Adalah jenis subjek suatu bahan pustaka yang terdiri dua subjek atau lebih yang saling berinteraksi dari satu disiplin ilmu atau lebih, contoh pengaruh narkoba terhadap kenakalan remaja.
Hasil analisis subjek adalah deskripsi tentang subjek sebuah koleksi. Untuk melakukan proses analisis subjek sehingga menghasilkan deskripsi subjek sebuah koleksi, dilakukan dengan cara:
a.   Membaca judul dari bahan pustaka, jika dirasa bahwa judul telah merefleksikan subjek sebuah buku
b. Membaca halaman sebalik halaman judul (halaman verso). Di dalam halaman judul terdapat katalog dalam terbitan yang dapat menampilkan subjek dari sebuah bahan pustaka
c.    Membaca daftar isi jika dengan membaca judul dan halaman kolofon belum diketaui subjek dari sebuah koleksi.
d.   Membaca kata pengantar dari sebuah koleksi
e.    Membaca ringkasan buku yang biasanya terdapat pada halaman belakang buku.
f.  Membaca buku secara keseluruhan jika dengan melakukan berbagai instruksi di atas belum ditemukan subjek dari koleksi tersebut.
g.   Menggunakan sumber-sumber lain seperti bibliografi, kamus.
h.  Bertanya kepada  subjek spesialis jika semua langkah telah dilakukan belum mampu menentukan subjek dari sebuah koleksi.
2.2. Menentukan Notasi atau Nomor Klas
Notasi atau nomor klas dapat diartikan sebagai simbol atau kode yang mewakili sebuah subjek bahan pustaka dalam bagan klasifikasi. Notasi dapat berupa huruf, angka bahkan warna. Namun diantara ketiga jenis notasi tersebut, angka merupakan jenis notasi yang banyak digunakan oleh perpustakaan. Motivasi perpustakaan memanfaatkan angka sebagai notasi salah satunya karena notasi angka memiliki bagan yang berlaku secara internasional seperti Dewey Decimal Classification, Universal Decimal Classification dan Library of Conggress.
Berikut ini adalah penjelasan tentang ketiga jenis notasi yang dapat digunakan oleh perpustakaan:
a.    Warna
Apabila perpustakaan akan menggunakan warna sebagai identitas klasifikasi maka subjek dari koleksi diwakili oleh satu jenis warna untuk setiap subjeknya. Misalnya warna putih untuk subjek karya umum, merah untuk ilmu sosial, biru untuk subjek ilmu terapan dan seterusnya. Akan tetapi notasi warna ini memiliki beberapa kelemahan yaitu terbatasnya jumlah warna padahal subjek ilmu terus bertambah, selain itu klasifikasi warna tidak optimal keberadaannya jika digunakan untuk yang memiliki masalah dengan buta warna.
b.    Huruf
Pada prinsipnya penggunaan abjad  sebagai notasi hampir sama dengan penggunaan warna dalam sistem klasifikasi, dimana setiap abjad mewakili subjek tertentu. Misalnya huruf A mewakili subjek pengetahuan umum, B mewakili subjek filsafat, C mewakili subjek agama dan seterusnya.
Dalam penggunaan sistem abjad dapat juga digunakan inisial atau singkatan dari sebuah subjek. Misalnya peu untuk subjek pengetahuan umum, Fil untuk subjek filsafat, slg untuk subjek sosiologi, pol untuk subjek politik dan masih banyak lagi.
c.    Angka atau nomor klasifikasi.
Jenis notasi yang terakhir adalah notasi dengan menggunakan angka. Notasi angka diperoleh dari sistem klasifikas yang ada. Saat ini ada berberapa sistem klasifikasi yang familiar digunakan di Indonesia. Sistem tersebut antara lain Dewey Decimal Classification (DDC), Universal Decimal Classification (UDC), Library of Conggress (LC) dan Colon Classification.  Disini hanya akan dijelaskan satu sistem klasifikasi yaitu DDC karena sistem klasifikasi ini adalah sistem klasifikasi yang paling banyak digunakan.
Dewey Decimal Classification  atau DDC merupakan salah satu sistem klasifikasi yang familiar digunakan oleh banyak perpustakaan di Tanah Air. Sistem ini menyangkut seluruh subjek ilmu pengetahuan yang disusun secara sistematis dan teratur. Pembagian ilmu (subjek ilmu pengetahuan) dimulai dari subjek yang bersifat umum menuju subjek bersifat khusus.
Pembagian subjek dalam sistem ini dimulai dari subjek besar atau umum yang disebut dengan kelas utama, kemudian diperinci menjadi divisi, selanjutnya divisi diperinci menjadi sub divisi dan lebih rinci lagi menjadi tabel lengkap. Contohnya adalah sebagai berikut
Sepuluh kelas utama dalam DDC terdiri dari:
- 000            untuk karya umum
- 100            untuk filsafat dan psikologi
- 200            untuk agama
- 300            untuk ilmu sosial
- 400            untuk bahasa
- 500            untuk ilmu murni (sains)
- 600            untuk teknologi/ilmu terapan
- 700            untuk kesenian dan olahraga
- 800            untuk kesusastraan
- 900            untuk sejarah dan geografi

                        Divisi atau ringkasan ke II
-    300 untuk ilmu sosial
-    310 untuk statistik
-    320 untuk ilmu politik
-    330 untuk ekonomi
-    340 untuk hukum
-    350 untuk administrasi publik, ilmu kemiliteran
-    360 untuk masalah dan jasa sosial
-    370 untuk pendidikan
-    380 untuk perdagangan, komunikasi dan perhubungan
-    390 untuk adat istiadat, etiket dan folklor

Subdivisi atau ringkasan ke III
-   370  untuk  Pendidikan
-   371 untuk  Pendidikan secara umum
-   372  untuk  Pendidikan dasar
-   373  untuk  Pendidikan menengah
-   374  untuk  Pendidikan dewasa
-   375 untuk  Kurikulum
-   376  untuk Pendidikan wanita
-   377  untuk Sekolah dan agama
-   378  untuk Pendidikan tinggi
-   379  untuk Pendidikan dan negara

DDC terdiri dari beberapa unsur-unsur pokok. Unsur-unsur tersebut antara lain sistematika, notasi, indeks relatif dan tabel pembantu. Berikut ini penjelasan dari masing-masing unsur tersebut
a.    Sistematika
Berupa bagan yang berisi pembagian ilmu didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu.
b.   Notasi
adalah angka yang mewakili subjek-subjek tertentu. Angka dalam notasi DDC mewakili sebuah subjek. Angka atau notasi juga disebut dengan nomor
c.    Indeks relatif
Adalah sejumlah tajuk subjek yang disertai rincian aspek-aspeknya dan disusun secara alfabetis lengkap dengan nomor klasifikasi
d.   Tabel Pembantu
Merupakan notasi khusus yang digunakan untuk menyatakan aspek tertentu. Tabel pembantu yang ada dalam DDC terdiri dari:
Tabel 1: Subdivisi standar
Tabel 2: Wilayah
Tabel 3: Subdivisi sastra
Tabel 4: Subdivisi bahasa
Tabel 5: Ras, etnik, kebangsaan
Tabel 6: Bangsa dan etnis
Tabel 7: Bahasa

Setelah pengetahui unsur-unsur DDC lalu bagaimana memanfaatkan atau cara menggunakan sistem klasifikasi ini sehingga mampu menentukan nomor klasifikasi yang benar. Langkah-langkah menggunakan DDC adalah sebagai berikut:
a. Lakukan Anasis subjek
Langkah pertama yang dilakukan untuk dapat menggunakan DDC adalah dengan menuntukan subjek koleksi dengan melakukan analisis subjek. Analisis subjek dilakukan dengan membaca judul, halaman judul, kata pengantar, daftar isi, isi buku dan kesimpulan. Perhatikan hasil analisis subjek, apakah subjek tersebut termasuk dalam kategori subjek dasar, subjek sederhana, subjek majemuk dan subjek kompleks .
b. Gunakan Indeks relatif untuk mencari nomor klasifikasi dengan cepat
Setelah menemukan subjek koleksi, selanjutnya cari nomor klasifikasi subjek dengan bantuan indeks relatif. Indeks relatif akan membantu menemukan nomor klasifikasi secara cepat karena indeks relatif menyusun subjek (tajuk subjek) urut alfabetis.
c. Periksa bagan klasifikasi
Setelah menemukan nomor klasifikasi subjek pada indeks relatif selanjutnya periksa nomor tersebut pada bagan klasifikasi untuk memastikan bahwa nomor klasifikasi yang diperoleh tepat. Perhatikan juga instruksi yang ditampilkan pada bagan. Apabila tidak ada instruksi maka silahkan gunakan nomor tersebut untuk subjek yang telah anda tentukan dalam proses analisis subjek

Setelah melakukan klasifikasi deskriptif (analisis subjek dan menentukan notasi) sehingga diperoleh notasi yang mewakili subjek ilmu sebuah koleksi, selanjutnya hasil notasi tersebut (baik warna, huruf ataupun angka) diletakkan dibagian paling atas dari nomor panggil atau call number. Nomor panggil minimal terdiri dari 3 bagian, yaitu notasi, tiga huruf pertama nama pengarang (entri utama) dan satu hurup pertama judul. Nomor panggil diletakkan dipunggung koleksi atau buku dan menjadi alat identifikasi koleksi di jajaran rak koleksi. Selain itu nomor panggil juga diletakkan dalam kartu katalog yang berfungsi sebagai wakil dokumen yang memungkinkan penguna perpustakaan menemukan koleksi yang dibutuhkan secara cepat dan tepat.

Back To Top