-->

"Jelajahi perpustakaan: literasi, pengetahuan, dan rekomendasi bacaan tanpa batas!"

Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi ruang tumbuhnya ide, karakter, dan masa depan. Setiap halaman yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar dalam hidup seseorang.

Bolehkah Anak SD Menggunakan AI? Ini yang Perlu Diketahui Orang Tua

 


Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan anak-anak. Jika dahulu AI terasa seperti teknologi yang hanya digunakan para ahli, sekarang anak dapat menemukannya dalam mesin pencari, aplikasi belajar, permainan, penerjemah, pembuat gambar, hingga chatbot yang mampu menjawab pertanyaan dalam hitungan detik.

Situasi ini membuat banyak orang tua bertanya: bolehkah anak SD menggunakan AI?

Pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab hanya dengan “boleh” atau “tidak boleh”. AI dapat menjadi alat yang membantu anak belajar, mencari ide, memahami suatu konsep, dan mengenal teknologi. Namun, jika digunakan tanpa pendampingan, AI juga dapat membuat anak terlalu bergantung pada jawaban instan, menerima informasi yang belum tentu benar, atau membagikan data pribadi tanpa memahami risikonya.

Karena itu, persoalan utamanya bukan sekadar apakah anak boleh menggunakan AI, tetapi bagaimana anak mengenal dan menggunakan AI secara aman, bijak, dan sesuai dengan tahap perkembangannya.

Orang tua tidak perlu menjadi ahli teknologi untuk mendampingi anak. Yang lebih penting adalah memahami manfaat, risiko, batasan, serta kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan ketika anak berinteraksi dengan AI.

Apa Itu AI dan Mengapa Anak Perlu Mengenalnya?

AI adalah teknologi yang memungkinkan komputer atau sistem digital melakukan berbagai tugas yang biasanya membutuhkan kemampuan manusia, seperti mengenali pola, memahami bahasa, memberikan rekomendasi, atau menghasilkan suatu konten.

Salah satu bentuk AI yang kini banyak dikenal adalah AI generatif. Teknologi ini dapat menghasilkan teks, gambar, suara, dan berbagai bentuk konten berdasarkan perintah yang diberikan pengguna.

Bagi anak, keberadaan teknologi tersebut tentu menarik.

Anak dapat bertanya tentang tata surya, meminta penjelasan mengenai hewan, mencari ide cerita, meminta contoh soal matematika, atau belajar kosakata bahasa asing. Dalam konteks tertentu, AI dapat menjadi teman belajar yang membantu menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang lebih sederhana.

Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami: AI bukan guru, bukan orang tua, dan bukan sumber kebenaran yang selalu benar.

AI dapat memberikan jawaban yang terlihat meyakinkan tetapi ternyata keliru. Anak yang belum memiliki kemampuan cukup untuk memeriksa informasi akan lebih mudah menganggap jawaban AI sebagai fakta.

Di sinilah peran orang dewasa menjadi penting.

Anak tidak hanya perlu belajar menggunakan AI, tetapi juga perlu belajar mempertanyakan jawaban AI.

Jadi, Bolehkah Anak SD Menggunakan AI?

Jawabannya perlu disesuaikan dengan usia anak, jenis AI yang digunakan, tujuan penggunaan, serta pendampingan orang dewasa.

Untuk anak SD, penggunaan AI sebaiknya tidak diarahkan pada kebebasan menggunakan chatbot tanpa batas. Anak perlu mendapatkan pendampingan dan aturan yang jelas.

UNESCO dalam Guidance for Generative AI in Education and Research merekomendasikan agar penggunaan AI generatif dalam pendidikan memperhatikan perlindungan data pribadi dan menetapkan batas usia yang sesuai. Panduan tersebut menyebutkan usia minimum 13 tahun sebagai salah satu rekomendasi untuk penggunaan AI generatif di lingkungan pendidikan.

Artinya, orang tua sebaiknya tidak menganggap semua aplikasi AI cocok digunakan sendiri oleh anak SD.

Untuk anak yang masih kecil, pendekatan yang lebih aman adalah orang dewasa menjadi pendamping.

Misalnya, ketika anak ingin mengetahui mengapa hujan turun, orang tua dapat membuka AI bersama anak. Anak mengajukan pertanyaan, kemudian orang tua mengajak anak membaca jawabannya.

Setelah itu, jangan berhenti pada jawaban AI.

Orang tua dapat bertanya:

“Menurut kamu, jawaban ini masuk akal tidak?”

atau:

“Kita coba cari tahu dari buku juga, ya.”

Dengan cara seperti ini, AI tidak menggantikan proses belajar. Sebaliknya, AI menjadi pintu masuk untuk membuat anak bertanya, membaca, membandingkan, dan berpikir.

AI Bisa Membantu Anak Belajar

Jika digunakan secara tepat, AI mempunyai sejumlah manfaat dalam kegiatan belajar.

1. Membantu menjelaskan materi yang sulit

Anak terkadang memahami suatu materi setelah mendapatkan penjelasan dengan cara yang berbeda.

Misalnya, anak belum memahami pecahan.

Daripada hanya meminta AI memberikan jawaban soal, orang tua dapat meminta penjelasan sederhana:

“Jelaskan pecahan dengan contoh kue untuk anak kelas 4 SD.”

AI dapat memberikan ilustrasi verbal yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Namun, orang tua tetap perlu memeriksa penjelasan tersebut.

2. Membantu menemukan ide

AI juga dapat digunakan untuk mencari ide awal.

Misalnya, anak mendapatkan tugas membuat cerita tentang lingkungan.

Anak dapat berdiskusi dengan orang tua dan menggunakan AI untuk mencari beberapa kemungkinan tema cerita.

Setelah mendapatkan ide, anak tetap harus membuat ceritanya sendiri.

Hal ini penting karena tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan tugas yang selesai. Anak perlu belajar menyusun gagasan, memilih kata, membuat kalimat, dan mengembangkan kreativitas.

3. Membantu belajar bahasa

AI dapat digunakan sebagai sarana latihan kosakata.

Anak dapat meminta contoh kalimat sederhana dalam bahasa Inggris atau meminta penjelasan arti suatu kata.

Namun, kegiatan tersebut sebaiknya tetap dilanjutkan dengan membaca, menulis, berbicara, dan latihan menggunakan kata tersebut dalam konteks nyata.

4. Membantu membuat pertanyaan belajar

AI juga dapat membantu orang tua membuat pertanyaan latihan.

Misalnya setelah anak membaca sebuah cerita, orang tua dapat meminta AI membuat beberapa pertanyaan berdasarkan cerita tersebut.

Tetapi ada cara yang lebih baik.

Setelah anak menjawab, orang tua dapat mengajak anak menjelaskan mengapa jawabannya demikian.

Dengan begitu, anak tidak sekadar mencari jawaban benar, tetapi belajar memahami isi bacaan.

5. Mendorong rasa ingin tahu

Anak-anak memiliki banyak pertanyaan.

Mengapa bulan terlihat berubah bentuk?

Mengapa laut asin?

Bagaimana pesawat bisa terbang?

Mengapa tanaman membutuhkan cahaya?

Pertanyaan seperti itu dapat menjadi awal pembelajaran yang menyenangkan.

AI dapat membantu memberikan penjelasan awal, tetapi anak tetap perlu diarahkan untuk membaca sumber lain, melakukan pengamatan, atau berdiskusi dengan orang dewasa.

Jangan Jadikan AI sebagai “Mesin Jawaban”

Ini mungkin bagian terpenting yang perlu diperhatikan orang tua.

Ketika anak mengetahui bahwa sebuah pertanyaan dapat dijawab AI dalam beberapa detik, muncul risiko bahwa anak terbiasa mengambil jalan tercepat.

Ada tugas membuat cerita?

Tanyakan kepada AI.

Ada pekerjaan rumah?

Tanyakan kepada AI.

Ada pertanyaan dari guru?

Tanyakan kepada AI.

Akhirnya, anak memang mendapatkan jawaban, tetapi belum tentu mendapatkan proses belajar.

Padahal proses belajar sering kali justru terjadi ketika anak mencoba, salah, berpikir ulang, mencari informasi, lalu memperbaiki jawabannya.

Karena itu, jangan membiasakan anak berkata:

“AI, kerjakan tugas saya.”

Lebih baik biasakan:

“AI, bantu saya memahami bagian yang belum saya mengerti.”

Perbedaan kalimat tersebut terlihat sederhana, tetapi cara berpikir di belakangnya sangat berbeda.

Yang pertama menjadikan AI sebagai pengganti usaha anak.

Yang kedua menjadikan AI sebagai alat bantu belajar.

Anak Perlu Belajar Bahwa Jawaban AI Bisa Salah

AI dapat menghasilkan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan.

Kalimatnya rapi.

Penjelasannya panjang.

Bahkan kadang-kadang disertai nama, angka, atau sumber.

Tetapi hal tersebut tidak otomatis membuat jawabannya benar.

Inilah salah satu kemampuan penting yang perlu diperkenalkan kepada anak: kemampuan memeriksa informasi.

Misalnya anak bertanya tentang seorang tokoh sejarah melalui AI.

Setelah mendapatkan jawaban, orang tua dapat mengajak anak mencari informasi yang sama melalui buku perpustakaan, ensiklopedia anak, situs lembaga resmi, atau sumber terpercaya lainnya.

Kemudian bandingkan.

Apakah informasinya sama?

Apakah ada bagian yang berbeda?

Mana yang lebih dapat dipercaya?

Kegiatan sederhana seperti ini sebenarnya merupakan latihan literasi informasi.

Anak belajar bahwa memperoleh informasi bukanlah akhir dari proses belajar.

Memeriksa informasi adalah bagian dari belajar.

Bahaya Anak Menggunakan AI Tanpa Pendampingan

AI bukan teknologi yang harus ditakuti. Namun, bukan berarti penggunaannya tanpa risiko.

UNICEF menempatkan keselamatan, privasi, kepentingan terbaik anak, serta perlindungan hak anak sebagai bagian penting dalam pengembangan dan penggunaan AI yang berhubungan dengan anak.

Beberapa hal berikut perlu diperhatikan.

1. Informasi yang tidak benar

AI dapat memberikan informasi yang keliru.

Anak mungkin tidak mengetahui bahwa sebuah jawaban salah karena jawabannya terlihat meyakinkan.

Karena itu, semakin muda usia anak, semakin penting pendampingan orang dewasa.

2. Ketergantungan pada jawaban instan

Jika setiap pertanyaan langsung diberikan kepada AI, anak bisa kehilangan kebiasaan mencari tahu secara mandiri.

Padahal rasa ingin tahu seharusnya mendorong anak untuk membaca, mengamati, bertanya, dan mencoba.

3. Data pribadi

Anak perlu memahami bahwa tidak semua informasi boleh dimasukkan ke dalam aplikasi AI.

Ajarkan anak untuk tidak sembarangan memasukkan:

  • nama lengkap;

  • alamat rumah;

  • nomor telepon;

  • kata sandi;

  • data sekolah yang bersifat pribadi;

  • foto pribadi;

  • informasi keluarga;

  • dan data lain yang dapat mengidentifikasi dirinya.

UNESCO juga menekankan pentingnya perlindungan data dan privasi dalam penggunaan GenAI di pendidikan.

4. Konten yang tidak sesuai usia

Tidak semua sistem AI dirancang khusus untuk anak.

Karena itu, orang tua perlu memeriksa layanan yang digunakan anak dan memahami aturan usia serta ketentuan layanan tersebut.

5. Berkurangnya interaksi dengan manusia

Belajar bukan hanya tentang memperoleh informasi.

Anak juga belajar melalui percakapan, permainan, membaca bersama, bekerja sama, bertanya kepada guru, dan berinteraksi dengan teman.

AI seharusnya menambah pengalaman belajar, bukan menggantikan hubungan manusia.

Bagaimana Cara Mendampingi Anak Menggunakan AI?

Orang tua tidak perlu membuat aturan yang rumit.

Beberapa kebiasaan sederhana sudah dapat menjadi dasar.

Pertama, tentukan tujuan

Sebelum membuka AI, tanyakan:

“Kita mau menggunakan AI untuk apa?”

Apakah untuk mencari ide?

Memahami materi?

Berlatih?

Mencari penjelasan?

Jika tujuannya jelas, penggunaan AI menjadi lebih terarah.

Kedua, gunakan bersama-sama

Untuk anak SD, terutama yang masih kecil, pendampingan langsung lebih baik daripada membiarkan anak menggunakan AI sendirian.

Orang tua dapat duduk bersama anak dan ikut melihat pertanyaan serta jawaban yang muncul.

Ketiga, jangan langsung percaya

Ajarkan tiga pertanyaan sederhana:

Apa jawabannya?

Dari mana informasi itu berasal?

Bagaimana kita tahu bahwa informasi itu benar?

Kebiasaan tersebut dapat menjadi dasar literasi digital anak.

Keempat, bandingkan dengan buku

Ini justru menjadi kesempatan yang sangat baik untuk menghidupkan kembali perpustakaan di rumah maupun sekolah.

Misalnya anak bertanya tentang hewan.

Setelah memperoleh penjelasan dari AI, ajak anak mencari buku tentang hewan.

Bandingkan informasi dari AI dengan buku.

Anak akan belajar bahwa teknologi baru tidak berarti buku menjadi tidak berguna.

Keduanya dapat digunakan bersama.

Kelima, biarkan anak tetap berpikir

Jangan buru-buru memberikan AI ketika anak mengalami kesulitan.

Berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba.

Jika belum berhasil, bantu dengan pertanyaan kecil.

“Bagian mana yang membuatmu bingung?”

“Menurutmu jawabannya apa?”

“Coba cari petunjuk dari buku.”

Barulah AI digunakan jika memang diperlukan.

Bagaimana dengan Tugas Sekolah?

Ini merupakan persoalan yang sering membuat orang tua bingung.

Jika anak mendapatkan tugas menulis cerita, misalnya, apakah boleh menggunakan AI?

Jawabannya bergantung pada aturan guru dan sekolah.

Yang paling penting adalah membedakan antara menggunakan AI sebagai alat bantu dan menyerahkan seluruh pekerjaan kepada AI.

Contohnya, anak diminta membuat cerita tentang persahabatan.

Penggunaan yang kurang baik:

“Buatkan cerita persahabatan untuk tugas kelas 5.”

Kemudian seluruh hasil AI disalin dan dikumpulkan.

Penggunaan yang lebih mendidik:

Anak membuat ide sendiri terlebih dahulu.

Kemudian AI digunakan untuk mencari beberapa kemungkinan judul atau membantu menjelaskan kata yang belum dipahami.

Setelah itu, anak menulis cerita dengan bahasanya sendiri.

Dengan cara tersebut, AI membantu proses belajar tanpa mengambil alih pekerjaan anak.

AI Tidak Harus Menjadi Musuh Buku

Ada kekhawatiran bahwa kehadiran AI akan membuat anak semakin jarang membaca buku.

Kekhawatiran tersebut dapat terjadi jika teknologi digunakan sebagai pengganti membaca.

Tetapi sebenarnya bisa terjadi hal sebaliknya.

AI justru dapat digunakan untuk mengantar anak menuju buku.

Misalnya anak bertanya:

“Buku apa yang cocok kalau saya suka cerita tentang petualangan?”

AI dapat membantu memberikan beberapa ide.

Setelah itu, anak mencari buku yang tersedia di perpustakaan.

Dari sana, anak mulai membaca.

Setelah selesai membaca, anak dapat berdiskusi mengenai tokoh, alur, konflik, atau pesan cerita.

Dengan demikian, AI menjadi pintu masuk menuju kegiatan membaca, bukan pengganti membaca.

Inilah salah satu pendekatan yang menarik bagi perpustakaan sekolah.

Perpustakaan tidak perlu bersaing dengan teknologi.

Perpustakaan dapat menjadi tempat yang membantu anak belajar menggunakan teknologi sekaligus tetap mencintai buku.

Peran Perpustakaan di Era AI

Perpustakaan sekolah memiliki peran yang semakin menarik di tengah perkembangan teknologi.

Dahulu, perpustakaan sering dipandang sebagai tempat untuk mencari buku.

Sekarang, perpustakaan juga dapat menjadi tempat anak belajar mencari, memilih, memeriksa, dan menggunakan informasi.

Ketika AI memberikan jawaban, anak perlu belajar memeriksa.

Ketika internet memberikan banyak informasi, anak perlu belajar memilih.

Ketika media sosial menyebarkan berbagai klaim, anak perlu belajar membedakan fakta dan opini.

Semua kemampuan tersebut berhubungan dengan literasi informasi.

UNESCO melalui AI Competency Framework for Students juga menempatkan kemampuan memahami AI, menerapkannya secara tepat, menciptakan dengan AI, serta membangun pola pikir yang berpusat pada manusia dan refleksi kritis sebagai bagian dari kompetensi siswa.

Artinya, pendidikan AI bukan hanya tentang mengajarkan anak cara menggunakan sebuah aplikasi.

Yang jauh lebih penting adalah membangun cara berpikir ketika berhadapan dengan teknologi.

7 Aturan Sederhana Anak Menggunakan AI

Orang tua dapat membuat aturan yang mudah diingat.

1. Gunakan AI untuk belajar, bukan untuk bermalas-malasan.

2. Jangan memasukkan data pribadi.

3. Jangan langsung percaya semua jawaban AI.

4. Periksa informasi dari sumber lain.

5. Jangan menyalin seluruh jawaban AI untuk tugas sekolah.

6. Tetap membaca buku dan berdiskusi dengan manusia.

7. Gunakan AI dengan pendampingan orang dewasa sesuai usia dan aturan layanan.

Aturan tersebut tidak harus ditempel sebagai larangan.

Lebih baik dijadikan kebiasaan sehari-hari.

Bagaimana Jika Anak Sudah Terlanjur Sering Menggunakan AI?

Tidak perlu panik.

Orang tua tidak harus langsung melarang semua penggunaan AI.

Yang perlu dilakukan adalah mengubah pola penggunaannya.

Jika selama ini anak selalu meminta AI mengerjakan tugas, perlahan ubah menjadi kegiatan diskusi.

Jika anak terbiasa langsung percaya jawaban AI, mulai biasakan memeriksa sumber.

Jika anak sering menggunakan AI untuk membuat tulisan, mintalah ia menjelaskan kembali dengan kata-katanya sendiri.

Jika anak mendapatkan informasi menarik dari AI, ajak mencari informasi tersebut dalam buku.

Dengan demikian, orang tua tidak hanya mengatakan “jangan”, tetapi mengajarkan “bagaimana”.

Pendekatan seperti ini jauh lebih membantu anak menghadapi dunia digital yang terus berubah.

Tidak Perlu Menunggu Anak Dewasa untuk Mengenal AI

AI akan menjadi bagian dari kehidupan anak-anak sekarang.

Karena itu, mungkin bukan pilihan terbaik jika anak sama sekali tidak dikenalkan dengan teknologi tersebut.

Namun, mengenal AI tidak berarti anak harus bebas menggunakan semua aplikasi AI.

Anak dapat mulai mengenal konsep AI melalui percakapan sederhana.

Misalnya:

“Menurutmu, bagaimana komputer bisa mengenali suara?”

“Mengapa aplikasi bisa memberikan rekomendasi?”

“Apakah komputer selalu benar?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi awal pembelajaran.

Anak tidak harus langsung belajar istilah teknis.

Yang perlu dibangun terlebih dahulu adalah rasa ingin tahu dan sikap kritis.

Kesimpulan: Bukan Soal Boleh atau Tidak Boleh

Jadi, bolehkah anak SD menggunakan AI?

Jawabannya bukan sekadar boleh atau tidak boleh.

Untuk anak SD, penggunaan AI perlu mempertimbangkan usia, keamanan, tujuan penggunaan, aturan layanan, serta pendampingan orang dewasa. UNESCO merekomendasikan batas usia 13 tahun untuk penggunaan GenAI di lingkungan pendidikan dan menekankan perlindungan data pribadi. Sementara itu, UNICEF menekankan pentingnya pendekatan yang menempatkan keselamatan dan hak anak sebagai perhatian utama dalam pengembangan dan penggunaan AI.

Bagi anak, AI sebaiknya menjadi alat untuk bertanya, mengeksplorasi, dan belajar, bukan mesin yang mengerjakan semua hal.

Anak tetap perlu membaca buku.

Tetap perlu bertanya kepada guru.

Tetap perlu berdiskusi dengan orang tua.

Tetap perlu mencoba sendiri.

Tetap perlu mengalami kesalahan.

Dan yang paling penting, anak perlu belajar bahwa teknologi yang pintar tidak berarti manusia boleh berhenti berpikir.

Justru di era AI, kemampuan untuk membaca dengan cermat, mempertanyakan informasi, memeriksa sumber, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab akan menjadi semakin penting.

Mungkin inilah cara terbaik memperkenalkan AI kepada anak:

Bukan dengan membuat mereka takut pada teknologi, tetapi dengan mengajarkan mereka untuk tetap menjadi manusia yang berpikir ketika menggunakan teknologi.

Referensi

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025). Panduan pemanfaatan kecerdasan artifisial: Untuk guru pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Pusat Kurikulum dan Pembelajaran & Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2025). Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Nomor 127/P/2025 tentang Pedoman Implementasi Koding dan Kecerdasan Artifisial pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2026). SKB Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial

Labels: literasi

Thanks for reading Bolehkah Anak SD Menggunakan AI? Ini yang Perlu Diketahui Orang Tua. Please share...!

0 Komentar untuk "Bolehkah Anak SD Menggunakan AI? Ini yang Perlu Diketahui Orang Tua"

Back To Top