-->

Panduan Pustakawan dan Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi ruang tumbuhnya ide, karakter, dan masa depan. Setiap halaman yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar dalam hidup seseorang.

Papan Interaktif Digital (PID) sebagai Media Pembelajaran Interaktif di Sekolah

 


Digitalisasi pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan laptop, jaringan internet, atau berbagai aplikasi pembelajaran. Sekolah juga mulai memanfaatkan perangkat yang dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih visual, interaktif, dan kolaboratif. Salah satu perangkat tersebut adalah Papan Interaktif Digital (PID).

Papan Interaktif Digital dapat digunakan untuk menampilkan bahan ajar digital, menulis dan menggambar secara langsung pada layar, memberikan anotasi terhadap materi, menampilkan video atau simulasi, menghubungkan perangkat lain, serta menyimpan hasil pembelajaran. Dengan karakteristik tersebut, PID dapat menjadi salah satu bagian dari ekosistem pembelajaran digital di sekolah.

Dalam materi Bimtek Penguatan Digitalisasi Pembelajaran, PID diperkenalkan sebagai salah satu perangkat tampilan dan pembelajaran digital. Fungsinya tidak berhenti pada menampilkan materi di depan kelas, tetapi dapat digunakan untuk mendukung interaksi guru dan murid, kolaborasi, pemanfaatan multimedia, serta dokumentasi hasil pembelajaran.

Karena itu, keberadaan PID sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai pengganti papan tulis atau proyektor. Yang lebih penting adalah bagaimana guru memanfaatkan fitur perangkat tersebut untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Apa Itu Papan Interaktif Digital?

Papan Interaktif Digital adalah perangkat layar digital berukuran besar yang memungkinkan pengguna berinteraksi langsung dengan tampilan melalui sentuhan atau perangkat pena digital.

Berbeda dengan layar presentasi biasa, PID memiliki kemampuan interaktif. Guru tidak hanya menampilkan slide, tetapi dapat menulis, menggambar, menghapus, memindahkan objek, memberikan anotasi, membuka berbagai sumber belajar digital, dan mengajak murid berinteraksi langsung dengan materi.

Dalam materi Bimtek, perangkat digital pembelajaran dikelompokkan ke dalam beberapa kategori, antara lain perangkat tampilan dan presentasi kelas, perangkat komputasi, jaringan dan konektivitas, audio dan multimedia, perangkat perekaman, penyimpanan data, perangkat administrasi, serta perangkat keamanan dan proteksi. PID termasuk dalam kelompok perangkat tampilan dan presentasi kelas.

Namun, fungsi PID dapat melampaui fungsi perangkat presentasi apabila dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran yang dirancang secara interaktif.

Misalnya, ketika guru mengajarkan materi Bahasa Indonesia tentang struktur teks, guru dapat menampilkan sebuah teks pada PID kemudian meminta murid menandai bagian orientasi, isi, dan penutup secara langsung. Dalam pembelajaran matematika, guru dapat menggunakan papan digital untuk menampilkan soal, membuat gambar bangun, atau melakukan anotasi terhadap langkah penyelesaian.

Dengan demikian, nilai utama PID bukan hanya terletak pada spesifikasi perangkat, tetapi pada cara perangkat tersebut digunakan dalam proses pembelajaran.

Fitur Papan Interaktif Digital yang Mendukung Pembelajaran

Materi Bimtek mengenai pengenalan perangkat digital menjelaskan sejumlah fitur PID yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran. Fitur tersebut dapat dikelompokkan menjadi fitur interaksi dan kolaborasi, audio-visual, konektivitas, keamanan, serta integrasi dengan berbagai layanan digital.

1. Layar sentuh interaktif

Fitur layar sentuh memungkinkan guru dan murid melakukan berbagai aktivitas secara langsung pada layar.

Pengguna dapat:

  • menulis;

  • menggambar;

  • menghapus;

  • memindahkan objek;

  • memberikan tanda atau anotasi;

  • mengembangkan tampilan pembelajaran secara langsung.

Fitur ini membuat kegiatan pembelajaran menjadi lebih dinamis dibandingkan penggunaan media yang hanya ditampilkan secara satu arah.

Misalnya, guru menampilkan sebuah gambar pada layar kemudian meminta murid mengidentifikasi bagian-bagian tertentu. Murid dapat maju ke depan kelas dan memberikan tanda pada gambar tersebut.

Interaksi semacam ini membuat teknologi menjadi bagian dari aktivitas belajar, bukan sekadar alat untuk menyajikan informasi.

2. Papan tulis digital

PID juga memiliki fungsi sebagai papan tulis digital. Materi Bimtek menyebutkan berbagai alat bantu yang dapat digunakan, seperti penggaris, segitiga, busur derajat, dan pena digital.

Guru dapat memanfaatkan fitur tersebut sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.

Dalam matematika, misalnya, papan digital dapat digunakan untuk menggambar bangun geometri atau menjelaskan proses penyelesaian soal.

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, guru dapat menulis kata, kalimat, membuat bagan, atau memberikan anotasi terhadap teks.

Dalam IPAS, guru dapat membuat sketsa sederhana, memberikan label pada gambar, atau menjelaskan hubungan antarkomponen suatu sistem.

Keuntungan lainnya adalah hasil tulisan atau pembahasan dapat menjadi bagian dari dokumentasi pembelajaran apabila perangkat mendukung fungsi penyimpanan.

3. Kolaborasi secara langsung

Salah satu potensi penting PID adalah mendukung kolaborasi guru dan murid.

Guru dapat menampilkan permasalahan, kemudian murid secara bergantian memberikan jawaban, membuat anotasi, atau mempresentasikan hasil kerja kelompok.

Dengan pola tersebut, PID dapat menjadi ruang bersama untuk membangun pemahaman.

Hal ini sejalan dengan konsep interaktivitas dalam pengembangan media pembelajaran. Interaktivitas bukan sekadar membuat murid mengklik tombol, tetapi harus memberikan kesempatan untuk berpikir, memberikan respons, memperoleh umpan balik, dan terlibat dalam proses belajar.

Materi Bimtek mengenai media pembelajaran interaktif juga menekankan bahwa interaksi dapat berlangsung antara murid dengan konten, murid dengan murid, serta murid dengan guru.

4. Integrasi multimedia

PID dapat digunakan untuk menampilkan berbagai bentuk sumber belajar digital, seperti:

  • gambar;

  • video;

  • audio;

  • presentasi;

  • animasi;

  • simulasi;

  • bahan ajar digital;

  • sumber informasi berbasis web.

Integrasi berbagai media dapat membantu guru menjelaskan konsep yang sulit apabila hanya disampaikan melalui teks.

Penelitian tentang media pembelajaran interaktif di sekolah dasar juga menunjukkan bahwa media digital dapat dikembangkan untuk mendukung pemahaman dan keterlibatan peserta didik. Misalnya, penelitian Thohir, Renata, dan Utama (2024) mengenai video interaktif untuk siswa sekolah dasar menunjukkan bahwa media yang dikembangkan memperoleh penilaian validitas dan kepraktisan yang baik dalam konteks penelitian tersebut.

Artinya, perangkat seperti PID akan semakin bermanfaat apabila dipadukan dengan bahan ajar yang memang dirancang untuk mendukung tujuan pembelajaran.

5. Menyimpan dan membagikan hasil pembelajaran

Fitur penyimpanan juga penting dalam kegiatan pembelajaran.

Hasil diskusi yang ditulis pada papan digital dapat disimpan sebagai dokumentasi. Guru kemudian dapat menggunakannya kembali untuk kegiatan berikutnya atau membagikannya kepada murid apabila sistem dan perangkat yang digunakan memungkinkan.

Fungsi tersebut dapat membantu guru membangun dokumentasi proses belajar.

Misalnya, pada awal pembelajaran guru meminta murid membuat peta konsep tentang suatu materi. Setelah diskusi, peta konsep tersebut disempurnakan bersama dan disimpan. Pada pertemuan berikutnya, guru dapat membuka kembali hasil tersebut sebagai pengingat materi sebelumnya.

6. Akses terhadap sumber informasi digital

PID yang terhubung dengan internet dapat digunakan untuk mengakses berbagai sumber belajar digital.

Namun, akses informasi yang luas tetap perlu disertai kemampuan literasi digital. Guru perlu memilih sumber yang relevan, memeriksa kredibilitas informasi, dan menyesuaikan materi dengan usia serta kebutuhan murid.

Teknologi tidak otomatis membuat pembelajaran menjadi lebih baik. Kualitas pembelajaran tetap bergantung pada bagaimana guru memilih, mengolah, dan menggunakan sumber digital tersebut.

PID Bukan Sekadar Pengganti Papan Tulis

Salah satu kesalahan dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran adalah menggunakan perangkat baru dengan pola pembelajaran lama.

Misalnya, papan tulis biasa diganti dengan PID, tetapi seluruh proses pembelajaran tetap berupa guru menjelaskan dan murid mendengarkan.

Dalam kondisi seperti itu, kemampuan interaktif PID belum dimanfaatkan secara optimal.

PID seharusnya dapat digunakan untuk menciptakan aktivitas belajar yang lebih aktif.

Contohnya:

Pembelajaran satu arah:

Guru menampilkan materi → guru menjelaskan → murid mencatat.

Pembelajaran interaktif:

Guru menampilkan permasalahan → murid mengamati → murid berdiskusi → murid memberikan respons pada PID → guru memberikan umpan balik → kelas menyimpulkan hasil pembelajaran.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi pembelajaran bukan hanya perubahan alat, tetapi juga dapat mendorong perubahan cara menggunakan teknologi dalam pembelajaran.

Materi Bimtek sendiri menekankan bahwa digitalisasi tidak berhenti pada tersedianya perangkat. Kemampuan guru dalam menggunakan perangkat secara tepat untuk mendukung pembelajaran menjadi bagian penting dari proses digitalisasi.

Contoh Pemanfaatan PID dalam Pembelajaran

PID dapat digunakan pada berbagai mata pelajaran. Berikut beberapa contoh sederhana.

Bahasa Indonesia

Guru menampilkan sebuah teks bacaan.

Murid diminta:

  1. membaca teks;

  2. menemukan informasi penting;

  3. menandai kata kunci;

  4. mengidentifikasi gagasan utama;

  5. menyampaikan hasil temuan;

  6. memberikan anotasi pada teks melalui PID.

Dengan cara ini, PID menjadi alat untuk mendukung aktivitas literasi membaca.

Matematika

Guru menampilkan sebuah persoalan matematika.

Murid dapat maju ke depan untuk:

  • menuliskan langkah penyelesaian;

  • menggambar bangun;

  • memberikan tanda pada informasi penting;

  • membandingkan beberapa strategi penyelesaian.

Guru kemudian dapat mendiskusikan jawaban tersebut bersama seluruh kelas.

IPAS

Guru menampilkan gambar, video, atau simulasi.

Murid mengamati kemudian menjawab pertanyaan berdasarkan tampilan yang tersedia. Guru dapat menambahkan anotasi pada gambar untuk memperjelas konsep.

Pembelajaran berbasis proyek

PID juga dapat digunakan untuk mempresentasikan hasil proyek.

Kelompok murid dapat menampilkan produk digital, gambar, diagram, atau hasil penelitian sederhana. Kelompok lain memberikan pertanyaan dan tanggapan.

Dengan demikian, PID menjadi salah satu ruang presentasi dan kolaborasi.

PID dan Media Pembelajaran Interaktif

Penggunaan PID sebaiknya dipadukan dengan desain media pembelajaran yang baik.

Materi Bimtek mengenai perancangan media pembelajaran interaktif menjelaskan bahwa media harus mempertimbangkan karakteristik murid, materi, fasilitas sekolah, dan tujuan pembelajaran. Materi tersebut juga menekankan pentingnya menghindari tampilan yang terlalu ramai dan mengurangi beban kognitif yang tidak diperlukan.

Hal ini penting karena layar besar dengan banyak animasi, gambar, teks, suara, dan efek tidak selalu berarti pembelajaran lebih baik.

Guru tetap perlu mempertimbangkan:

  • Apa tujuan pembelajaran?

  • Informasi apa yang benar-benar diperlukan?

  • Aktivitas apa yang harus dilakukan murid?

  • Apakah tampilan mudah dipahami?

  • Apakah media sesuai dengan usia murid?

  • Apakah teknologi benar-benar membantu mencapai tujuan pembelajaran?

Dengan pertanyaan tersebut, guru dapat menghindari penggunaan teknologi hanya karena perangkat tersedia.

Penelitian mengenai media pembelajaran interaktif di sekolah dasar juga menunjukkan bahwa berbagai bentuk media digital dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pembelajaran. Misalnya, penelitian Suwastini, Agung, dan Sujana (2022) mengembangkan LKPD interaktif untuk pembelajaran IPA sekolah dasar dan melaporkan hasil validasi serta uji coba yang menunjukkan kelayakan media dalam konteks penelitian tersebut.

Pemanfaatan PID untuk Literasi dan Numerasi

Salah satu arah penting digitalisasi pembelajaran adalah mendukung penguatan literasi dan numerasi.

PID dapat dimanfaatkan untuk membuat kegiatan literasi dan numerasi lebih visual dan interaktif.

Dalam literasi, misalnya, guru dapat menggunakan PID untuk:

  • membaca teks bersama;

  • menandai informasi penting;

  • menyusun peta konsep;

  • mengurutkan informasi;

  • membandingkan isi beberapa teks;

  • mendiskusikan makna kata;

  • menganalisis struktur teks.

Dalam numerasi, PID dapat digunakan untuk:

  • menampilkan tabel;

  • membuat diagram;

  • membaca grafik;

  • memvisualisasikan bangun;

  • mengurutkan bilangan;

  • memecahkan masalah kontekstual;

  • membandingkan strategi penyelesaian.

Dengan demikian, perangkat digital dapat menjadi sarana untuk mengubah konsep abstrak menjadi tampilan yang lebih mudah diamati dan didiskusikan.

Peran Guru Tetap Menjadi Kunci

Kehadiran PID tidak menghilangkan peran guru.

Justru, guru perlu memiliki kemampuan untuk menentukan kapan teknologi digunakan dan kapan tidak diperlukan.

Guru perlu memahami hubungan antara:

tujuan pembelajaran → aktivitas murid → media → teknologi → asesmen.

Jika tujuan pembelajaran adalah melatih kemampuan membaca kritis, maka PID dapat digunakan untuk menampilkan teks dan mendukung proses anotasi serta diskusi.

Jika tujuan pembelajaran adalah melatih kemampuan memecahkan masalah, PID dapat digunakan untuk menampilkan kasus, mengumpulkan strategi penyelesaian, dan membandingkan jawaban.

Jadi, perangkat mengikuti kebutuhan pembelajaran, bukan sebaliknya.

Penelitian mengenai kompetensi pedagogis digital guru juga menunjukkan pentingnya kemampuan guru dalam menghadapi perkembangan teknologi pembelajaran. Teknologi perlu diintegrasikan dengan kompetensi pedagogis agar penggunaannya tidak berhenti pada penguasaan perangkat.

Peran Perpustakaan dalam Mendukung Pemanfaatan PID

Sebagai pusat sumber belajar, perpustakaan sekolah juga dapat mengambil bagian dalam ekosistem pembelajaran digital.

Perpustakaan dapat membantu menyediakan dan mengorganisasi sumber belajar yang dapat digunakan bersama PID, seperti:

  • buku digital;

  • ensiklopedia digital;

  • koleksi gambar edukatif;

  • video pembelajaran;

  • sumber literasi;

  • bahan referensi;

  • katalog sumber belajar digital.

Perpustakaan juga dapat berkolaborasi dengan guru untuk membuat daftar sumber digital yang relevan dengan mata pelajaran tertentu.

Dengan demikian, PID tidak berdiri sendiri. Perangkat tersebut menjadi bagian dari ekosistem yang terdiri atas guru, murid, sumber belajar, perangkat digital, jaringan, dan pengelolaan sekolah.

Inilah alasan mengapa pembahasan PID relevan ditempatkan dalam konteks perpustakaan sekolah. Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan koleksi cetak, tetapi dapat berperan dalam mendukung akses dan pemanfaatan sumber belajar digital.

Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Menggunakan PID

Agar pemanfaatan PID berjalan baik, sekolah perlu memperhatikan beberapa hal.

1. Kesiapan perangkat

Perangkat harus diperiksa sebelum digunakan. Kabel, koneksi, layar, pena digital, dan sumber listrik perlu dipastikan berfungsi.

2. Kesiapan guru

Guru perlu mendapatkan kesempatan untuk berlatih menggunakan perangkat.

Pelatihan sebaiknya tidak hanya menjelaskan tombol dan fungsi teknis, tetapi juga memberikan contoh penggunaannya dalam pembelajaran.

3. Kesiapan bahan ajar

Materi yang ditampilkan harus disiapkan terlebih dahulu. Tampilan sebaiknya sederhana, jelas, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

4. Koneksi internet

Jika pembelajaran memerlukan akses internet, sekolah perlu mempertimbangkan kestabilan jaringan serta menyediakan alternatif apabila koneksi mengalami gangguan.

5. Keamanan dan privasi

Materi Bimtek juga memperkenalkan aspek keamanan dan kenyamanan perangkat, termasuk pengamanan kamera dan pengaturan perangkat.

Guru perlu memperhatikan data yang ditampilkan pada layar, terutama apabila menggunakan akun, dokumen, atau informasi pribadi murid.

6. Perawatan perangkat

PID merupakan fasilitas sekolah yang perlu dikelola dan dirawat.

Layar sentuh perlu dijaga kebersihannya, perangkat tidak boleh mendapat tekanan fisik berlebihan, dan penggunaan kabel serta aksesori perlu dilakukan dengan benar.

Jika terjadi gangguan, sekolah perlu memiliki prosedur sederhana untuk melakukan pemeriksaan awal atau melaporkan masalah kepada pihak yang bertanggung jawab.

Memulai Pemanfaatan PID di Sekolah

Sekolah yang baru mulai menggunakan PID tidak perlu langsung membuat pembelajaran yang sangat kompleks.

Langkah sederhana dapat dimulai dengan:

Pertama, kenali fungsi dasar perangkat.

Guru mencoba menulis, menghapus, membuka bahan ajar, memberikan anotasi, menyimpan hasil, dan menghubungkan perangkat lain.

Kedua, pilih satu materi pembelajaran.

Tidak perlu mengubah seluruh pembelajaran sekaligus. Pilih satu materi yang memang terbantu dengan visualisasi atau interaksi.

Ketiga, buat aktivitas sederhana.

Misalnya murid diminta mengamati gambar, menandai informasi, mengurutkan objek, menjawab soal, atau menjelaskan hasil diskusi.

Keempat, lakukan refleksi.

Guru melihat apakah PID benar-benar membantu murid memahami materi.

Kelima, kembangkan secara bertahap.

Setelah guru terbiasa, pemanfaatan PID dapat dikembangkan dengan video, simulasi, bahan ajar interaktif, diskusi kolaboratif, atau model pembelajaran digital lainnya.

Materi perencanaan pembelajaran juga menempatkan PID sebagai salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan bersama sumber belajar digital seperti Ruang Murid, e-learning, simulasi, dan teknologi lainnya.

Penutup

Papan Interaktif Digital merupakan salah satu perangkat yang dapat mendukung digitalisasi pembelajaran di sekolah. Fitur layar sentuh, papan tulis digital, integrasi multimedia, konektivitas, penyimpanan, dan kolaborasi memberikan peluang bagi guru untuk menciptakan pembelajaran yang lebih aktif dan visual.

Namun, keberadaan PID tidak otomatis menghasilkan pembelajaran yang interaktif.

Kunci utamanya tetap berada pada perencanaan pembelajaran, kompetensi guru, kualitas bahan ajar, aktivitas murid, serta kesesuaian teknologi dengan tujuan pembelajaran.

PID sebaiknya tidak hanya digunakan sebagai layar presentasi yang lebih modern. Perangkat ini dapat dimanfaatkan sebagai ruang bersama untuk berpikir, berdiskusi, mengeksplorasi informasi, memecahkan masalah, membuat anotasi, mempresentasikan hasil, dan mendokumentasikan proses belajar.

Dalam konteks perpustakaan sekolah, PID juga dapat dihubungkan dengan pengelolaan sumber belajar digital. Perpustakaan dapat membantu menyediakan sumber informasi yang dapat dimanfaatkan guru dan murid melalui perangkat digital.

Pada akhirnya, digitalisasi pembelajaran bukan tentang seberapa banyak perangkat yang dimiliki sekolah, tetapi tentang seberapa bermakna perangkat tersebut digunakan untuk mendukung proses belajar murid.






Referensi

Aprilia, T., Djono, D., & A'isyah, A. (2024). Utilization of interactive e-flipbook media oriented toward contextual approaches to learning in elementary schools. Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan, 11(2). https://doi.org/10.21831/jitp.v11i2.71434

Suwastini, N. M. S., Agung, A. A. G., & Sujana, I. W. (2022). LKPD sebagai media pembelajaran interaktif berbasis pendekatan saintifik dalam muatan IPA sekolah dasar. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, 6(2). https://doi.org/10.23887/jppp.v6i2.48304

Thohir, M. A., Renata, M. O., & Utama, C. (2024). Development of interactive video on material changes to improve learning outcomes of elementary school students. DIDAKTIKA: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, 7(1), 59–67. https://doi.org/10.21831/didaktika.v7i1.70129

Pemanfaatan Perangkat Digital dalam Pembelajaran: PID, Laptop, dan Penyimpanan Digital

 


Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan dalam cara sekolah melaksanakan pembelajaran. Jika sebelumnya proses belajar banyak mengandalkan buku cetak, papan tulis, dan media konvensional, kini sekolah memiliki lebih banyak pilihan perangkat untuk mendukung kegiatan belajar.

Laptop, Papan Interaktif Digital (PID), proyektor, jaringan internet, penyimpanan digital, perangkat audio, kamera, hingga berbagai perangkat pendukung lainnya dapat menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran.

Namun, keberadaan perangkat tersebut belum otomatis membuat pembelajaran menjadi digital.

Perangkat baru memberikan manfaat ketika digunakan secara tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Materi Bimbingan Teknis Penguatan Digitalisasi Pembelajaran menjelaskan bahwa perangkat digital pembelajaran merupakan alat berbasis teknologi yang digunakan untuk membantu guru dan peserta didik dalam mengakses, menampilkan, mengolah, menyimpan, serta membagikan informasi pembelajaran secara lebih interaktif, efektif, dan bermakna.

Karena itu, pemanfaatan perangkat digital di sekolah perlu dipahami tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi pembelajaran.

Apa Saja Perangkat Digital Pembelajaran?

Perangkat digital pembelajaran tidak hanya berupa laptop atau komputer.

Dalam materi Bimtek, perangkat digital sekolah dikelompokkan ke dalam beberapa kategori, yaitu perangkat tampilan dan presentasi kelas, perangkat komputasi dan pembelajaran, jaringan dan konektivitas internet, audio dan pendukung multimedia, perangkat perekaman dan produksi konten, perangkat cetak dan administrasi, penyimpanan data dan backup, serta perangkat keamanan dan proteksi.

Pengelompokan tersebut menunjukkan bahwa ekosistem digital sekolah sebenarnya cukup luas.

Beberapa perangkat yang umum dijumpai antara lain:

  • Papan Interaktif Digital atau PID;

  • laptop;

  • komputer;

  • tablet;

  • proyektor;

  • smart TV;

  • router;

  • access point;

  • modem;

  • speaker;

  • mikrofon;

  • kamera;

  • webcam;

  • hard disk eksternal;

  • SSD;

  • flashdisk;

  • cloud drive;

  • printer;

  • scanner;

  • UPS atau stabilizer; dan

  • perangkat keamanan lainnya.

Masing-masing perangkat memiliki fungsi yang berbeda.

Guru dan tenaga kependidikan perlu memahami fungsi tersebut agar perangkat tidak hanya tersedia, tetapi benar-benar dimanfaatkan secara optimal.

Papan Interaktif Digital sebagai Media Pembelajaran

Salah satu perangkat yang semakin menarik perhatian dalam digitalisasi pembelajaran adalah Papan Interaktif Digital (PID).

PID bukan sekadar layar besar yang digunakan untuk menampilkan presentasi. Berdasarkan materi Bimtek, perangkat ini memiliki fitur interaktif dan kolaboratif yang memungkinkan pengguna menulis, menggambar, menghapus, serta memindahkan objek langsung pada layar. PID juga dapat digunakan sebagai papan tulis digital dan mendukung berbagai sumber multimedia.

Fitur tersebut memberikan peluang bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih aktif.

Misalnya, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, guru dapat menampilkan sebuah teks bacaan pada layar. Murid kemudian dapat diajak menandai gagasan utama, menemukan informasi tertentu, mengelompokkan kata, atau membahas struktur teks secara bersama-sama.

Dalam pembelajaran matematika, guru dapat menampilkan gambar, tabel, grafik, atau objek tertentu untuk kemudian dianalisis bersama.

Dengan demikian, PID dapat menjadi ruang interaksi antara guru, murid, dan materi pembelajaran.

PID Bukan Sekadar Pengganti Proyektor

Hal penting yang perlu dipahami adalah perbedaan antara menampilkan materi dan menggunakan teknologi secara interaktif.

Jika PID hanya digunakan untuk menampilkan slide presentasi, fungsi interaktifnya belum dimanfaatkan secara optimal.

Sebaliknya, guru dapat memanfaatkan fitur PID untuk melibatkan murid.

Contohnya:

Aktivitas membaca

Guru menampilkan sebuah bacaan. Murid secara bergantian menemukan informasi penting dan menandainya pada layar.

Aktivitas mengelompokkan

Guru menampilkan beberapa kata atau informasi. Murid mengelompokkannya sesuai kategori yang telah ditentukan.

Aktivitas memecahkan masalah

Guru menampilkan sebuah permasalahan. Murid memberikan alternatif penyelesaian dan mendiskusikannya bersama.

Aktivitas refleksi

Guru menampilkan beberapa pertanyaan reflektif. Murid memberikan jawaban dan membahasnya bersama teman.

Aktivitas tersebut membuat PID menjadi bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar perangkat presentasi.

Laptop sebagai Perangkat Kerja Guru dan Murid

Laptop merupakan salah satu perangkat komputasi yang dapat mendukung berbagai aktivitas pembelajaran.

Guru dapat menggunakan laptop untuk menyiapkan bahan ajar, membuat presentasi, mengolah data, mencari sumber belajar, membuat media pembelajaran, mengelola asesmen, serta menyimpan dokumen.

Murid juga dapat menggunakan laptop untuk membaca sumber digital, mengerjakan tugas, membuat produk, melakukan pencarian informasi, atau mengikuti aktivitas pembelajaran tertentu.

Namun, pemanfaatan laptop perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.

Tidak semua kegiatan belajar harus menggunakan laptop.

Guru perlu mempertimbangkan apakah penggunaan laptop memang memberikan manfaat terhadap aktivitas belajar yang sedang dirancang.

Jika tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan diskusi, membaca buku, pengamatan lingkungan, atau praktik langsung, penggunaan laptop tidak harus dipaksakan.

Sebaliknya, ketika teknologi dapat membantu menghadirkan sumber informasi, visualisasi, pengolahan data, atau aktivitas interaktif yang sulit dilakukan secara konvensional, laptop dapat menjadi perangkat yang sangat membantu.

Penyimpanan Digital: Bagian yang Sering Terlupakan

Ketika membicarakan perangkat digital, pembahasan sering berfokus pada laptop atau layar interaktif.

Padahal, penyimpanan data juga merupakan bagian penting dari ekosistem digital sekolah.

Materi Bimtek memasukkan hard disk eksternal, NAS, SSD, flashdisk, dan cloud drive sebagai contoh perangkat penyimpanan data dan backup.

Penyimpanan digital diperlukan karena guru dan sekolah menghasilkan berbagai macam data.

Contohnya:

  • bahan ajar;

  • modul;

  • presentasi;

  • video pembelajaran;

  • foto kegiatan;

  • dokumen administrasi;

  • hasil pekerjaan murid;

  • instrumen asesmen;

  • hasil asesmen;

  • dokumen kegiatan sekolah; dan

  • berbagai sumber belajar digital.

Jika data tersebut hanya tersimpan pada satu laptop atau satu flashdisk, risiko kehilangan data akan lebih besar.

Karena itu, sekolah perlu mulai membangun kebiasaan melakukan pencadangan data.

Mengapa Backup Data Penting?

Bayangkan seorang guru telah membuat bahan ajar selama beberapa minggu.

Semua file tersimpan dalam satu laptop.

Kemudian laptop mengalami kerusakan.

Jika tidak ada salinan cadangan, bahan ajar tersebut dapat hilang.

Masalah serupa dapat terjadi ketika flashdisk rusak, file terhapus secara tidak sengaja, atau perangkat mengalami gangguan.

Karena itu, data penting sebaiknya memiliki salinan cadangan.

Pencadangan dapat dilakukan menggunakan perangkat penyimpanan eksternal maupun penyimpanan berbasis awan (cloud storage), sesuai fasilitas dan kebijakan yang berlaku di sekolah.

Yang terpenting bukan hanya memiliki tempat penyimpanan, tetapi memiliki kebiasaan pengelolaan data yang teratur.

Pengelolaan File yang Rapi Memudahkan Pembelajaran

Pemanfaatan penyimpanan digital juga perlu diikuti dengan pengelolaan file yang baik.

Guru dapat membuat struktur folder yang sederhana dan konsisten.

Misalnya:

Pembelajaran

→ Kelas 4
→ Bahasa Indonesia
→ Modul Ajar
→ Media
→ Asesmen
→ Hasil Pekerjaan Murid

Dengan struktur seperti itu, guru akan lebih mudah menemukan dokumen ketika dibutuhkan.

Penamaan file juga sebaiknya dibuat konsisten.

Contohnya:

Modul_Ajar_Bahasa_Indonesia_Kelas_4_Teks_Narasi

atau

Asesmen_Bahasa_Indonesia_Kelas_4_Materi_Teks_Narasi

Kebiasaan sederhana seperti ini menjadi semakin penting ketika jumlah dokumen digital semakin banyak.

Perangkat Digital Membutuhkan Jaringan

Perangkat digital juga berkaitan dengan konektivitas.

Materi Bimtek menyebutkan beberapa perangkat jaringan seperti router, access point Wi-Fi, modem, switch, kabel LAN, dan repeater.

Jaringan memungkinkan perangkat terhubung dengan internet maupun perangkat lainnya sesuai konfigurasi yang digunakan sekolah.

Dalam pembelajaran, konektivitas dapat digunakan untuk mengakses sumber belajar, platform pendidikan, sumber informasi, maupun layanan digital lainnya.

Namun, sekolah perlu mempertimbangkan kondisi jaringan yang tersedia.

Tidak semua kegiatan pembelajaran harus bergantung pada internet.

Guru dapat menyiapkan bahan pembelajaran yang dapat digunakan secara luring apabila koneksi internet tidak tersedia atau mengalami gangguan.

Dengan demikian, pembelajaran tetap dapat berjalan.

Perangkat Digital Juga Membutuhkan Perawatan

Perangkat digital merupakan aset sekolah yang perlu dikelola.

Pemanfaatan perangkat secara terus-menerus tanpa perawatan dapat menyebabkan penurunan kinerja atau kerusakan.

Perawatan dapat dimulai dari hal-hal sederhana.

Misalnya:

  • menjaga kebersihan perangkat;

  • menggunakan perangkat sesuai petunjuk;

  • menjaga kabel dan konektor;

  • menyimpan perangkat pada tempat yang aman;

  • menghindari benturan;

  • menjaga perangkat dari cairan;

  • menggunakan sumber listrik yang sesuai;

  • melakukan pencadangan data;

  • melakukan pemeriksaan perangkat secara berkala; dan

  • melaporkan kerusakan kepada pihak yang bertanggung jawab.

Perawatan tidak hanya menjadi tugas teknisi.

Guru sebagai pengguna juga memiliki peran dalam menjaga perangkat yang digunakan untuk pembelajaran.

Pengelolaan Perangkat Perlu Didukung Inventarisasi

Selain perawatan, sekolah juga perlu mengetahui perangkat apa saja yang dimiliki.

Inventarisasi membantu sekolah mengetahui:

  • jenis perangkat;

  • jumlah perangkat;

  • lokasi perangkat;

  • kondisi perangkat;

  • pengguna atau penanggung jawab;

  • kelengkapan perangkat; dan

  • kebutuhan pemeliharaan.

Data inventaris juga dapat membantu sekolah menentukan prioritas ketika akan melakukan perbaikan, pengadaan, atau pengembangan sarana digital.

Pengelolaan perangkat yang baik membuat sekolah tidak hanya mengetahui berapa banyak perangkat yang dimiliki, tetapi juga mengetahui seberapa jauh perangkat tersebut digunakan dan dalam kondisi seperti apa.

Keamanan Perangkat dan Data

Digitalisasi pembelajaran juga membawa tanggung jawab terhadap keamanan.

Perangkat digital dapat menyimpan data penting. Karena itu, sekolah perlu memperhatikan keamanan fisik perangkat maupun keamanan data.

Materi Bimtek memasukkan CCTV, kunci perangkat, UPS atau stabilizer, lemari penyimpanan, dan perangkat lunak sebagai bagian dari keamanan dan proteksi perangkat digital.

Guru juga perlu memiliki kebiasaan sederhana untuk menjaga keamanan data.

Misalnya:

  • tidak membagikan kata sandi secara sembarangan;

  • tidak meninggalkan perangkat dalam kondisi terbuka;

  • mencadangkan data penting;

  • berhati-hati terhadap file atau tautan yang tidak dikenal;

  • menjaga data pribadi murid;

  • menggunakan perangkat sesuai kewenangan; dan

  • memastikan file penting tidak mudah diakses oleh pihak yang tidak berkepentingan.

Keamanan menjadi semakin penting ketika sekolah semakin banyak menggunakan teknologi digital.

Bagaimana Memanfaatkan Perangkat Digital untuk Literasi?

Perangkat digital dapat digunakan untuk mendukung kegiatan literasi.

Guru dapat menggunakan laptop atau PID untuk menghadirkan berbagai jenis teks.

Misalnya:

  • cerita;

  • artikel;

  • berita;

  • infografis;

  • poster;

  • teks prosedur;

  • teks informasi; dan

  • berbagai bahan bacaan lainnya.

Murid tidak hanya diminta membaca.

Guru dapat merancang aktivitas untuk menemukan informasi, membandingkan isi teks, mengidentifikasi gagasan utama, menarik kesimpulan, atau menyampaikan pendapat.

Dengan demikian, teknologi menjadi sarana untuk memperluas pengalaman literasi.

Perpustakaan sekolah juga dapat mengambil peran dalam menyediakan dan mengorganisasi sumber belajar digital yang dapat digunakan guru dan murid.

Hal tersebut membuka peluang bagi perpustakaan untuk berkembang sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran digital sekolah.

Bagaimana Memanfaatkan Perangkat Digital untuk Numerasi?

Pemanfaatan perangkat digital juga dapat mendukung numerasi.

Guru dapat menampilkan data dalam bentuk:

  • tabel;

  • diagram;

  • grafik;

  • gambar;

  • angka;

  • ukuran; dan

  • informasi kuantitatif lainnya.

Murid kemudian dapat diajak membaca, membandingkan, menghitung, menganalisis, dan mengambil kesimpulan berdasarkan data.

Contohnya, guru menampilkan data jumlah buku yang dipinjam siswa selama satu minggu.

Murid dapat diminta menentukan hari dengan jumlah peminjaman tertinggi, menghitung selisih peminjaman, mencari rata-rata sederhana, atau membuat grafik berdasarkan data tersebut.

Aktivitas seperti ini dapat menghubungkan pembelajaran dengan situasi nyata.

Perpustakaan Dapat Mendukung Ekosistem Digital Sekolah

Dalam konteks perpustakaan sekolah, perkembangan perangkat digital memberikan peluang baru.

Perpustakaan tidak hanya mengelola koleksi buku fisik.

Perpustakaan dapat turut mendukung pengelolaan dan pemanfaatan sumber belajar digital sesuai dengan kebijakan sekolah dan ketersediaan fasilitas.

Sumber belajar digital dapat membantu guru menemukan bahan pendukung pembelajaran.

Murid juga dapat memperoleh akses terhadap bahan bacaan atau sumber informasi yang relevan.

Dengan demikian, perpustakaan dapat berkembang sebagai salah satu pusat sumber belajar yang mendukung pembelajaran digital.

Peran tersebut menjadi semakin penting ketika sekolah mulai mengembangkan budaya belajar yang memanfaatkan berbagai sumber informasi.

Jangan Mengukur Digitalisasi dari Jumlah Perangkat

Sekolah yang memiliki banyak perangkat belum tentu telah berhasil melakukan digitalisasi pembelajaran.

Sebaliknya, sekolah dengan perangkat yang lebih terbatas tetap dapat memanfaatkan teknologi secara bermakna apabila guru mampu menggunakannya sesuai kebutuhan.

Karena itu, beberapa pertanyaan berikut dapat digunakan untuk melakukan refleksi:

Apakah perangkat digunakan secara rutin?

Apakah pengguna memahami fungsi perangkat?

Apakah perangkat digunakan untuk aktivitas belajar murid?

Apakah perangkat dirawat dengan baik?

Apakah data pembelajaran dikelola dan dicadangkan?

Apakah guru memperoleh dukungan untuk meningkatkan kompetensi digital?

Pertanyaan tersebut membantu sekolah melihat digitalisasi dari sisi pemanfaatan, bukan hanya pengadaan.

Strategi Memulai Pemanfaatan Perangkat Digital

Sekolah tidak perlu mengubah seluruh pembelajaran sekaligus.

Pemanfaatan perangkat digital dapat dikembangkan secara bertahap.

Tahap pertama: memetakan perangkat

Catat perangkat yang tersedia dan kondisi masing-masing.

Tahap kedua: mengenali fungsi

Guru perlu memahami fungsi dasar setiap perangkat yang digunakan.

Tahap ketiga: menentukan kebutuhan pembelajaran

Tentukan kegiatan pembelajaran yang dapat terbantu oleh perangkat digital.

Tahap keempat: mencoba pada kegiatan sederhana

Mulai dengan satu aktivitas pembelajaran.

Tahap kelima: melakukan refleksi

Amati apakah teknologi benar-benar membantu proses belajar.

Tahap keenam: mengembangkan pemanfaatan

Jika penggunaan awal berhasil, guru dapat mengembangkan aktivitas yang lebih beragam.

Pendekatan bertahap dapat membantu guru membangun kepercayaan diri dalam menggunakan teknologi.

Kolaborasi Guru dan Pengelola Sekolah

Pemanfaatan perangkat digital tidak dapat dibebankan kepada satu orang.

Sekolah perlu membangun kerja sama antara kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, pengelola sarana prasarana, dan pihak lain yang terkait.

Guru dapat memberikan informasi tentang kebutuhan pembelajaran.

Pengelola sarana dapat membantu memastikan perangkat tersedia dan terawat.

Perpustakaan dapat mendukung penyediaan sumber belajar.

Pimpinan sekolah dapat mendorong pengembangan kompetensi dan pemanfaatan teknologi secara berkelanjutan.

Dengan kolaborasi tersebut, perangkat digital dapat dikelola sebagai bagian dari ekosistem sekolah.

Penutup

Perangkat digital memiliki peran yang semakin penting dalam mendukung pembelajaran di sekolah.

PID dapat digunakan untuk menghadirkan pembelajaran interaktif. Laptop dapat mendukung guru dan murid dalam mengakses, membuat, dan mengolah berbagai sumber belajar. Perangkat penyimpanan membantu menjaga dokumen dan data pembelajaran. Jaringan memungkinkan berbagai perangkat terhubung dan mengakses sumber digital.

Namun, semua perangkat tersebut tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila hanya berhenti pada pengadaan.

Digitalisasi pembelajaran membutuhkan pemanfaatan, pengelolaan, perawatan, keamanan, dan integrasi dengan tujuan pembelajaran.

Materi Bimtek menegaskan bahwa digitalisasi pembelajaran tidak berhenti pada tersedianya perangkat, tetapi pada kemampuan guru memanfaatkannya secara tepat untuk mendukung proses belajar.

Bagi sekolah, tantangannya bukan hanya menyediakan perangkat digital, tetapi membangun kebiasaan menggunakan perangkat secara bertanggung jawab dan bermakna.

Bagi guru, tantangannya bukan menguasai sebanyak mungkin teknologi, melainkan memilih dan menggunakan teknologi yang benar-benar membantu murid belajar.

Sementara bagi perpustakaan sekolah, perkembangan digital membuka peluang untuk memperkuat perannya sebagai pusat sumber belajar yang menyediakan dan mendukung akses terhadap berbagai sumber informasi.

Pada akhirnya, perangkat hanyalah sarana. Nilai pendidikan muncul dari bagaimana perangkat tersebut digunakan untuk membantu guru mengajar dan murid belajar.




Referensi 

Prasetyo, E. B. (2015). Pola pemanfaatan teknologi informasi di sekolah dasar. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan, 7(2). https://doi.org/10.21831/jpipfip.v7i2.4916

Ningsih, I. W., Widodo, A., & Asrin, A. (2021). Urgensi kompetensi literasi digital dalam pembelajaran pada masa pandemi Covid-19. Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan, 8(2), 132–139. https://doi.org/10.21831/jitp.v8i1.35912

Bentri, A., Hidayati, A., Saputra, A., & Arina, N. (2025). The analysis of teacher digital pedagogical competencies in facing technological development in learning. Cakrawala Pendidikan, 44(2). https://doi.org/10.21831/cp.v44i2.70839

Pemanfaatan E-Book dan Jurnal Online untuk Siswa dan Guru



Dalam dunia pendidikan modern, kehadiran teknologi digital telah mengubah cara siswa dan guru mengakses informasi. Jika dahulu bahan belajar hanya tersedia dalam bentuk cetak, kini berbagai sumber belajar dapat dijangkau melalui perangkat digital seperti ponsel, tablet, dan laptop. Dua sumber digital yang paling bermanfaat adalah e-book dan jurnal online, yang menyediakan materi belajar berkualitas, mutakhir, dan mudah diakses kapan saja.

Apa Itu E-Book dan Jurnal Online?

E-Book

E-book (electronic book) adalah buku dalam format digital yang dapat dibaca melalui perangkat elektronik. E-book mencakup berbagai genre dan bidang ilmu, seperti pendidikan, sains, sejarah, sastra, hingga buku pelajaran.

Jurnal Online

Jurnal online adalah publikasi ilmiah digital yang memuat hasil penelitian terbaru dari berbagai disiplin ilmu. Jurnal ini biasanya diterbitkan oleh universitas, lembaga penelitian, dan penerbit akademik. Banyak jurnal tersedia secara terbuka (open access), sehingga siswa dan guru dapat mengunduhnya tanpa biaya.

Manfaat E-Book untuk Siswa dan Guru

1. Akses Mudah dan Praktis

E-book dapat dibaca kapan saja tanpa harus membawa banyak buku fisik. Guru dapat menyimpan banyak referensi sekaligus, sementara siswa dapat belajar secara fleksibel di rumah.

2. Hemat Biaya

Banyak e-book pendidikan tersedia secara gratis melalui platform seperti

  • Google Books

  • Perpustakaan Nasional RI (iPusnas)

  • Aplikasi perpustakaan digital sekolah

Hal ini mengurangi perluasan anggaran pembelian buku cetak.

3. Mendukung Pembelajaran Mandiri

E-book memungkinkan siswa belajar sesuai kecepatan masing-masing. Guru juga dapat memberikan rekomendasi bacaan tambahan tanpa harus menyalin materi dari buku cetak.

4. Fitur Interaktif

Beberapa e-book memiliki fitur seperti pencarian kata, catatan digital, bookmark, hingga audio. Hal ini membuat proses belajar lebih mudah dan menarik.

Manfaat Jurnal Online untuk Siswa dan Guru

1. Mendapatkan Sumber Ilmiah Terbaru

Jurnal online menyajikan penelitian terkini yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Guru dapat memperkaya bahan ajar berdasarkan temuan terbaru, sedangkan siswa menggunakan jurnal sebagai referensi tugas atau proyek penelitian.

2. Membantu Menumbuhkan Literasi Informasi

Dengan membaca jurnal, siswa terbiasa menganalisis data, memahami metode penelitian, dan menilai kualitas sumber. Ini sangat mendukung pembelajaran berbasis proyek (PBL).

3. Memperluas Wawasan Guru

Guru dapat mengakses artikel tentang pedagogi, strategi pembelajaran, literasi, manajemen kelas, dan penilaian. Pengetahuan ini membantu meningkatkan kualitas pengajaran.

4. Mendorong Pengembangan Budaya Riset

Akses terhadap jurnal online memicu siswa dan guru untuk melakukan riset sederhana di sekolah, seperti studi literatur, analisis data, atau proyek sains.

Platform E-Book dan Jurnal Online yang Dapat Dimanfaatkan Siswa dan Guru

1. iPusnas (Perpustakaan Nasional RI)

Platform digital resmi pemerintah Indonesia yang menyediakan ribuan e-book gratis.

2. Google Scholar

Mesin pencari literatur ilmiah untuk menemukan jurnal, tesis, buku, dan laporan penelitian.

3. DOAJ (Directory of Open Access Journals)

Direktori jurnal ilmiah yang menyediakan artikel berkualitas secara gratis.

4. SINTA (Science and Technology Index)

Portal milik Kemdikbud yang menghimpun jurnal Indonesia.

5. Portal E-Library Sekolah atau Perpustakaan Daerah

Banyak sekolah dan pemerintah daerah menyediakan akses e-library sebagai sumber belajar digital.

Cara Mengoptimalkan Pemanfaatan E-Book dan Jurnal Online

1. Gunakan Kata Kunci Pencarian yang Tepat

Misalnya: “pembelajaran literasi kelas 4 SD”, “model pembelajaran kooperatif”, “manajemen perpustakaan sekolah”.

2. Periksa Kredibilitas Sumber

Pastikan jurnal diterbitkan oleh lembaga resmi atau terindeks, serta penulis memiliki rekam akademik jelas.

3. Buat Daftar Pustaka Otomatis

Manfaatkan fitur sitasi otomatis di Google Scholar untuk menulis daftar referensi.

4. Simpan E-Book dan Artikel di Folder Khusus

Agar mudah diakses ketika mengajar atau menyusun tugas.

5. Manfaatkan dalam Pembelajaran

Guru dapat:

  • memberikan tugas membaca e-book

  • meminta siswa membuat rangkuman jurnal

  • menggunakan gambar atau data dari artikel ilmiah untuk diskusi kelas

Tantangan dan Solusinya

1. Keterbatasan Gawai

Solusi: sekolah dapat menyediakan pojok literasi digital atau komputer perpustakaan.

2. Akses Internet yang Tidak Stabil

Solusi: unduh e-book dan jurnal terlebih dahulu untuk dibaca secara offline.

3. Kemampuan Literasi Digital yang Beragam

Solusi: guru dapat memberikan pelatihan sederhana tentang cara menggunakan Google Scholar dan aplikasi e-library.

Pemanfaatan e-book dan jurnal online memberikan banyak manfaat bagi siswa dan guru, mulai dari ketersediaan informasi yang luas, akses praktis, hingga dukungan untuk pembelajaran abad 21. Dengan memanfaatkan platform seperti iPusnas, DOAJ, dan Google Scholar, kegiatan belajar menjadi lebih kaya, interaktif, dan berbasis data. Digitalisasi sumber belajar ini juga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan literasi informasi di sekolah.



Daftar Referensi

  1. Rowlands, I., et al. (2011). E-book use and reading behaviour in academia. Insights: The UKSG Journal.

  2. Tenopir, C., & King, D. (2008). Electronic Journals and Changes in Scholarly Article Seeking and Reading Patterns. D-Lib Magazine.

  3. Nicholas, D., et al. (2010). E-books: How are users responding? Emerald Group Publishing.

  4. Google (2024). Google Scholar Help Center.

  5. Perpustakaan Nasional RI. (2024). iPusnas Digital Library.

Back To Top