"Jelajahi perpustakaan: literasi, pengetahuan, dan rekomendasi bacaan tanpa batas!"

Selasa, 13 Januari 2026

Tantangan Perpustakaan di Tahun 2026: Antara Minat Baca, Teknologi, dan Adaptasi Pustakawan

Tahun 2026 menjadi fase krusial bagi perkembangan perpustakaan di Indonesia. Di tengah perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang berlangsung cepat, perpustakaan dihadapkan pada berbagai tantangan yang tidak ringan. Jika pada masa lalu tantangan utama perpustakaan berkutat pada ketersediaan koleksi dan ruang baca, maka di era sekarang persoalan tersebut berkembang menjadi isu yang lebih kompleks. Minat baca masyarakat yang fluktuatif, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan anggaran, serta tuntutan adaptasi pustakawan terhadap perubahan zaman menjadi empat tantangan utama yang perlu dihadapi secara serius.

Artikel ini membahas secara mendalam tantangan-tantangan tersebut dengan pendekatan reflektif dan kontekstual, relevan untuk semua jenis perpustakaan—mulai dari perpustakaan sekolah dasar, perpustakaan umum, hingga perpustakaan perguruan tinggi. Pembahasan ini diharapkan dapat menjadi bahan pemikiran dan refleksi bagi pustakawan, pendidik, pengelola perpustakaan, serta pemerhati literasi dalam menyusun strategi pengembangan perpustakaan di tahun 2026 dan seterusnya.

A. Minat Baca yang Fluktuatif

1. Realitas Minat Baca Masyarakat

Minat baca masyarakat Indonesia kerap menjadi topik perdebatan yang tidak pernah selesai. Berbagai survei dan laporan menunjukkan bahwa minat baca masyarakat tidak bersifat statis, melainkan fluktuatif dan sangat dipengaruhi oleh konteks sosial, ekonomi, dan budaya. Di tahun 2026, fenomena ini semakin terasa ketika masyarakat dihadapkan pada berbagai pilihan hiburan dan sumber informasi alternatif di luar buku.

Perpustakaan menghadapi tantangan untuk tetap relevan di tengah kondisi ini. Banyak masyarakat yang sebenarnya tidak anti terhadap membaca, tetapi lebih memilih bentuk bacaan yang praktis, singkat, dan mudah diakses melalui perangkat digital. Akibatnya, perpustakaan sering kali dipersepsikan sebagai tempat yang kurang menarik atau tidak sesuai dengan gaya hidup masyarakat modern.

2. Perubahan Pola Membaca

Fluktuasi minat baca tidak dapat dilepaskan dari perubahan pola membaca. Masyarakat kini lebih sering membaca potongan teks pendek, ringkasan, atau konten visual yang disertai teks singkat. Membaca buku secara mendalam membutuhkan waktu, fokus, dan kesabaran—sesuatu yang semakin langka di tengah kesibukan dan distraksi digital.

Perpustakaan menghadapi dilema antara mempertahankan budaya membaca mendalam dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan membaca cepat. Tantangan ini menuntut perpustakaan untuk tidak hanya menyediakan koleksi, tetapi juga menciptakan pengalaman membaca yang lebih relevan dan bermakna.

3. Minat Baca Anak dan Remaja

Pada kelompok anak dan remaja, minat baca sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, sekolah, dan media. Di banyak kasus, perpustakaan sekolah belum menjadi ruang yang benar-benar menarik bagi siswa. Koleksi yang terbatas, ruang yang kurang nyaman, dan minimnya program literasi kreatif menjadi faktor yang memengaruhi rendahnya kunjungan ke perpustakaan.

Di tahun 2026, tantangan perpustakaan adalah bagaimana menumbuhkan minat baca sejak dini tanpa pendekatan yang bersifat memaksa. Perpustakaan perlu menjadi ruang yang ramah anak, menyenangkan, dan memberi ruang eksplorasi, sehingga membaca tidak dipersepsikan sebagai kewajiban semata.

4. Strategi Menghadapi Fluktuasi Minat Baca

Menghadapi minat baca yang fluktuatif, perpustakaan dituntut untuk lebih kreatif dan adaptif. Program literasi tidak lagi bisa bersifat seragam, melainkan perlu disesuaikan dengan karakteristik pemustaka. Pendekatan berbasis komunitas, kolaborasi dengan sekolah dan keluarga, serta pemanfaatan media sosial menjadi strategi penting untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.

B. Perkembangan Teknologi dan Artificial Intelligence (AI)

1. Teknologi sebagai Tantangan dan Peluang

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa dampak besar bagi dunia perpustakaan. Di satu sisi, teknologi membuka peluang untuk memperluas akses informasi. Di sisi lain, teknologi juga menjadi tantangan serius yang dapat menggeser peran tradisional perpustakaan.

Di tahun 2026, teknologi digital dan AI semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Mesin pencari, platform pembelajaran daring, dan aplikasi berbasis AI memungkinkan pengguna mendapatkan informasi secara instan tanpa harus datang ke perpustakaan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan kritis tentang relevansi perpustakaan di era digital.

2. Artificial Intelligence dan Akses Informasi

AI menghadirkan kemudahan luar biasa dalam pencarian dan pengolahan informasi. Namun, kemudahan ini juga membawa risiko berupa penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, bias algoritma, dan ketergantungan berlebihan pada teknologi. Perpustakaan di tahun 2026 menghadapi tantangan untuk menempatkan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti peran manusia dalam proses literasi.

Perpustakaan perlu mengambil posisi strategis sebagai penjaga kualitas informasi. Literasi informasi dan literasi digital menjadi semakin penting untuk membekali masyarakat agar mampu menggunakan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.

3. Kesenjangan Teknologi Antar Perpustakaan

Tidak semua perpustakaan memiliki akses dan kemampuan yang sama dalam memanfaatkan teknologi. Perpustakaan di daerah perkotaan cenderung lebih siap menghadapi transformasi digital dibandingkan perpustakaan di daerah terpencil. Kesenjangan ini menjadi tantangan besar dalam upaya pemerataan layanan perpustakaan.

Di tahun 2026, banyak perpustakaan masih berjuang dengan keterbatasan infrastruktur teknologi, mulai dari perangkat keras, koneksi internet, hingga sistem otomasi perpustakaan. Kondisi ini menuntut kebijakan dan dukungan yang lebih berpihak pada penguatan perpustakaan di daerah.

4. Adaptasi Layanan Perpustakaan Berbasis Teknologi

Perpustakaan dituntut untuk menyesuaikan layanan dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya. Layanan hybrid—yang menggabungkan layanan fisik dan digital—menjadi salah satu solusi yang relevan. Namun, implementasi layanan ini membutuhkan perencanaan, pelatihan SDM, dan dukungan anggaran yang memadai.

C. Keterbatasan Sumber Daya Manusia dan Anggaran

1. Tantangan SDM Perpustakaan

Sumber daya manusia merupakan faktor kunci dalam keberhasilan perpustakaan. Di tahun 2026, banyak perpustakaan masih menghadapi keterbatasan jumlah pustakawan profesional. Tidak sedikit perpustakaan yang dikelola oleh tenaga non-pustakawan dengan beban kerja rangkap.

Keterbatasan SDM berdampak pada kualitas layanan, inovasi program, dan keberlanjutan kegiatan literasi. Pustakawan sering kali dihadapkan pada tuntutan kerja yang kompleks tanpa diimbangi dengan dukungan yang memadai.

2. Tantangan Anggaran

Selain SDM, keterbatasan anggaran menjadi tantangan klasik yang belum sepenuhnya teratasi. Banyak perpustakaan bergantung pada anggaran yang minim, sehingga sulit melakukan pengembangan koleksi, peningkatan fasilitas, atau pelatihan pustakawan.

Di tahun 2026, tantangan anggaran semakin kompleks karena perpustakaan dituntut untuk beradaptasi dengan teknologi yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Tanpa perencanaan dan dukungan kebijakan yang kuat, perpustakaan berisiko tertinggal dalam persaingan informasi.

3. Dampak Keterbatasan SDM dan Anggaran

Keterbatasan SDM dan anggaran tidak hanya berdampak pada layanan perpustakaan, tetapi juga pada persepsi masyarakat terhadap perpustakaan. Perpustakaan yang kurang terawat, minim kegiatan, dan tidak inovatif cenderung ditinggalkan oleh pemustaka.

Kondisi ini menciptakan lingkaran masalah: rendahnya pemanfaatan perpustakaan memperkuat anggapan bahwa perpustakaan tidak penting, yang pada akhirnya berdampak pada minimnya dukungan anggaran dan kebijakan.

4. Upaya Mengatasi Keterbatasan

Menghadapi keterbatasan SDM dan anggaran, perpustakaan perlu mengembangkan strategi kreatif. Kolaborasi dengan komunitas, relawan, dan lembaga pendidikan dapat menjadi solusi alternatif. Selain itu, pemanfaatan teknologi secara tepat guna dapat membantu meningkatkan efisiensi layanan.

D. Adaptasi Pustakawan terhadap Perubahan Zaman

1. Perubahan Peran Pustakawan

Di tahun 2026, pustakawan tidak lagi hanya berperan sebagai pengelola koleksi. Pustakawan dituntut menjadi fasilitator literasi, pendamping belajar, dan agen perubahan sosial. Perubahan peran ini membutuhkan kesiapan mental, kompetensi, dan kemauan untuk terus belajar.

2. Tantangan Kompetensi Pustakawan

Adaptasi terhadap perubahan zaman menjadi tantangan besar bagi pustakawan, terutama di tengah keterbatasan pelatihan dan pengembangan profesional. Tidak semua pustakawan memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan kompetensi, khususnya dalam bidang teknologi dan literasi digital.

3. Pustakawan sebagai Pembelajar Sepanjang Hayat

Di tengah perubahan cepat, pustakawan perlu memposisikan diri sebagai pembelajar sepanjang hayat. Kesediaan untuk terus belajar, bereksperimen, dan berinovasi menjadi kunci agar pustakawan tetap relevan di tahun 2026.

4. Membangun Budaya Adaptif di Perpustakaan

Adaptasi tidak hanya menjadi tanggung jawab individu pustakawan, tetapi juga budaya organisasi perpustakaan. Dukungan pimpinan, kebijakan yang progresif, dan lingkungan kerja yang terbuka terhadap perubahan sangat diperlukan untuk mendorong inovasi dan kreativitas pustakawan.

Penutup

Tantangan perpustakaan di tahun 2026 mencerminkan dinamika masyarakat yang terus berubah. Minat baca yang fluktuatif, perkembangan teknologi dan AI, keterbatasan SDM dan anggaran, serta tuntutan adaptasi pustakawan merupakan tantangan nyata yang tidak dapat dihindari.

Namun, di balik tantangan tersebut terdapat peluang besar bagi perpustakaan untuk bertransformasi dan memperkuat perannya sebagai pusat literasi, ruang belajar sepanjang hayat, dan mitra strategis pendidikan serta masyarakat. Dengan komitmen bersama, dukungan kebijakan, dan inovasi berkelanjutan, perpustakaan dapat tetap relevan dan berdaya guna di tahun 2026 dan masa depan.



Daftar Referensi 

American Library Association. (2023). Libraries and reading engagement in the digital age.

IFLA. (2022). Global vision for libraries: Challenges and opportunities.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2024). Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2025). Tantangan dan pengembangan perpustakaan di era digital.

UNESCO. (2021). Reimagining our futures together: A new social contract for education.

UNESCO Institute for Lifelong Learning. (2022). Literacy, technology, and lifelong learning.

logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar