Setiap hari kita berhadapan dengan informasi. Saat membuka mesin pencari, membaca berita, melihat unggahan media sosial, menonton video, atau menerima pesan dari grup percakapan, ada begitu banyak informasi yang dapat ditemukan dalam waktu singkat.
Kemudahan tersebut tentu sangat membantu. Ketika membutuhkan informasi tentang pelajaran, pekerjaan, kesehatan, teknologi, perpustakaan, atau berbagai hal lainnya, kita tidak perlu selalu mencari buku secara langsung. Cukup mengetik kata kunci pada mesin pencari, berbagai informasi akan muncul dalam hitungan detik.
Namun, banyaknya informasi tidak selalu berarti semua informasi tersebut benar.
Ada informasi yang sudah kedaluwarsa, kurang lengkap, dibuat tanpa sumber yang jelas, mengandung pendapat pribadi, bahkan sengaja dibuat untuk menyesatkan pembaca. Karena itu, kemampuan mencari informasi saja belum cukup. Kita juga perlu mengetahui bagaimana cara memilih, memeriksa, memahami, dan menggunakan informasi dengan tepat.
Kemampuan tersebut dikenal sebagai literasi informasi.
Literasi informasi membantu seseorang menjadi pengguna informasi yang lebih kritis dan bertanggung jawab. UNESCO juga menempatkan literasi media dan informasi sebagai salah satu kompetensi penting agar masyarakat mampu berinteraksi secara kritis dengan informasi dan menggunakan lingkungan digital secara lebih aman.
Apa yang Dimaksud dengan Literasi Informasi?
Secara sederhana, literasi informasi adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui kapan informasi dibutuhkan, menemukan informasi yang sesuai, menilai kualitas informasi, serta menggunakan dan mengomunikasikannya secara bertanggung jawab.
Jadi, literasi informasi bukan sekadar kemampuan menggunakan Google atau menemukan artikel di internet.
Seseorang dapat dikatakan memiliki literasi informasi apabila tidak langsung mempercayai informasi yang ditemukan. Ia terbiasa bertanya:
Siapa yang membuat informasi ini?
Dari mana informasi tersebut berasal?
Apakah sumbernya dapat dipercaya?
Kapan informasi tersebut diterbitkan?
Apakah informasinya masih relevan?
Apakah ada sumber lain yang mendukung?
Apakah informasi tersebut berupa fakta atau pendapat?
Bolehkah informasi tersebut digunakan atau disebarluaskan?
Kebiasaan sederhana seperti itu sangat penting, terutama ketika sebagian besar aktivitas mencari informasi sekarang dilakukan melalui internet.
Dalam Framework for Information Literacy for Higher Education, Association of College and Research Libraries (ACRL) menekankan bahwa pencarian informasi merupakan proses yang bersifat strategis dan bahwa kewenangan suatu sumber perlu dilihat berdasarkan konteksnya.
Mengapa Literasi Informasi Penting di Era Digital?
Dulu, ketika membutuhkan informasi, seseorang mungkin mencari buku di perpustakaan, membaca koran, bertanya kepada guru, atau berkonsultasi dengan orang yang dianggap ahli.
Sekarang sumber informasi jauh lebih beragam.
Satu topik dapat ditemukan dalam bentuk artikel blog, berita online, video, unggahan media sosial, jurnal ilmiah, buku digital, dokumen pemerintah, situs sekolah, dan berbagai bentuk sumber lainnya.
Kondisi tersebut memberikan banyak keuntungan, tetapi juga membuat kita perlu lebih berhati-hati.
Misalnya, seorang siswa mendapat tugas mencari informasi tentang lingkungan. Ia mengetik kata kunci di mesin pencari dan menemukan sebuah artikel. Karena artikelnya berada di halaman pertama hasil pencarian, ia langsung menganggap informasi tersebut benar.
Padahal, posisi sebuah halaman dalam hasil pencarian bukan jaminan bahwa seluruh isinya akurat.
Di sinilah literasi informasi diperlukan.
Kemampuan ini membantu kita membedakan antara informasi yang dapat digunakan sebagai rujukan dan informasi yang sebaiknya diperiksa kembali.
UNESCO menjelaskan bahwa literasi media dan informasi berkaitan dengan kemampuan untuk menghadapi berbagai persoalan seperti misinformasi, disinformasi, privasi daring, dan perubahan lingkungan komunikasi digital.
1. Tentukan Informasi yang Benar-Benar Dibutuhkan
Langkah pertama dalam mencari informasi adalah menentukan kebutuhan informasi.
Jangan langsung membuka mesin pencari dan mengetik kata yang terlalu umum.
Misalnya, seseorang ingin mengetahui manfaat membaca bagi anak sekolah dasar.
Pencarian dengan kata kunci:
membaca
akan menghasilkan informasi yang sangat luas.
Pencarian dapat dibuat lebih spesifik menjadi:
manfaat membaca bagi siswa sekolah dasar
atau:
pengaruh kebiasaan membaca terhadap kemampuan siswa SD
Kata kunci yang lebih spesifik biasanya membantu kita menemukan informasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan.
Sebelum mencari, biasakan menjawab tiga pertanyaan:
Informasi apa yang saya butuhkan?
Untuk tujuan apa informasi tersebut digunakan?
Sumber seperti apa yang paling sesuai?
Jika kebutuhan informasi sudah jelas, proses pencarian akan menjadi lebih terarah.
2. Gunakan Kata Kunci yang Tepat
Kata kunci merupakan salah satu bagian penting dalam pencarian informasi.
Kesalahan memilih kata kunci dapat membuat hasil pencarian terlalu luas atau justru tidak sesuai dengan kebutuhan.
Misalnya, jika ingin mencari informasi mengenai pengelolaan perpustakaan sekolah, kata kunci seperti:
perpustakaan
terlalu umum.
Kita dapat mempersempitnya menjadi:
pengelolaan perpustakaan sekolah dasar
atau:
administrasi perpustakaan sekolah SD
Jika membutuhkan informasi tentang literasi:
program literasi sekolah dasar
akan lebih spesifik dibandingkan hanya menggunakan kata:
literasi.
Selain menggunakan kata kunci yang spesifik, kita juga dapat menggunakan tanda kutip untuk mencari frasa tertentu. Misalnya:
"literasi informasi"
Teknik tersebut dapat membantu ketika kita ingin menemukan halaman yang menggunakan frasa tertentu.
Untuk pencarian yang lebih kompleks, beberapa mesin pencari juga menyediakan fitur penyaringan berdasarkan waktu, bahasa, jenis dokumen, atau sumber tertentu.
Namun, teknik pencarian hanyalah langkah awal. Hasil pencarian tetap harus diperiksa kembali.
3. Periksa Siapa yang Membuat Informasi
Setelah menemukan informasi yang sesuai, jangan langsung menyalin atau membagikannya.
Periksa terlebih dahulu siapa penulis atau lembaga yang menerbitkannya.
Misalnya, kita menemukan artikel mengenai kesehatan. Apakah artikel tersebut ditulis oleh tenaga kesehatan, lembaga resmi, organisasi yang kredibel, atau hanya akun pribadi tanpa identitas yang jelas?
Begitu pula ketika mencari informasi pendidikan.
Informasi dari kementerian, perguruan tinggi, sekolah, organisasi profesi, atau lembaga pendidikan tertentu dapat memiliki konteks dan tingkat kewenangan yang berbeda dengan unggahan anonim di media sosial.
Bukan berarti informasi dari blog pribadi selalu salah. Namun, semakin penting suatu informasi bagi keputusan yang akan dibuat, semakin penting pula memeriksa sumbernya.
4. Perhatikan Tanggal Publikasi
Informasi juga memiliki usia.
Informasi tentang teknologi, kebijakan, aplikasi, pendidikan, peraturan, dan berbagai bidang lainnya dapat berubah seiring waktu.
Karena itu, periksa kapan informasi tersebut diterbitkan atau diperbarui.
Contohnya, seseorang mencari panduan penggunaan sebuah aplikasi. Ia menemukan artikel yang ditulis lima tahun lalu. Artikel tersebut mungkin masih bermanfaat, tetapi belum tentu sesuai dengan tampilan atau fitur aplikasi saat ini.
Hal yang sama berlaku ketika mencari peraturan atau kebijakan.
Jangan hanya melihat isi artikelnya. Perhatikan juga apakah informasi tersebut masih berlaku.
5. Bedakan Fakta, Pendapat, dan Klaim
Tidak semua kalimat dalam sebuah artikel merupakan fakta.
Ada kalimat yang berisi data, ada yang merupakan pendapat penulis, dan ada pula yang berupa klaim yang masih perlu dibuktikan.
Contohnya:
"Membaca buku selama 15 menit setiap hari dapat meningkatkan kemampuan semua anak secara otomatis."
Kalimat tersebut terdengar meyakinkan, tetapi perlu diperiksa. Apakah ada penelitian yang mendukung klaim tersebut? Siapa yang melakukan penelitian? Bagaimana metode penelitiannya?
Sebaliknya, kalimat:
"Menurut hasil penelitian X, terdapat hubungan antara kebiasaan membaca dan kemampuan tertentu."
lebih mudah ditelusuri karena menyebutkan sumber yang dapat diperiksa.
Kebiasaan membedakan fakta, pendapat, dan klaim akan membantu pembaca tidak mudah menerima semua informasi sebagai kebenaran.
6. Bandingkan dengan Sumber Lain
Salah satu cara sederhana untuk mengecek informasi adalah melakukan perbandingan.
Jangan hanya menggunakan satu sumber, terutama untuk informasi yang penting atau kontroversial.
Misalnya, kita menemukan informasi tentang perubahan suatu kebijakan pendidikan. Sebelum menyebarkannya, kita dapat mencari informasi yang sama pada situs resmi lembaga terkait.
Jika informasi berasal dari artikel ilmiah, kita dapat melihat penelitian atau publikasi lain yang membahas topik serupa.
Perbandingan sumber tidak selalu berarti semua sumber harus mengatakan hal yang sama. Justru perbedaan informasi dapat menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Kemampuan mencari dan membandingkan sumber inilah yang membuat pencarian informasi menjadi sebuah proses, bukan sekadar kegiatan mengetik kata di mesin pencari.
7. Waspadai Judul yang Terlalu Sensasional
Di internet, judul sering dibuat untuk menarik perhatian.
Misalnya:
"TERNYATA INI PENYEBAB UTAMA ANAK TIDAK SUKA MEMBACA!"
Judul seperti itu mungkin membuat orang penasaran. Namun, jangan langsung menganggap isinya benar.
Baca keseluruhan isi artikel dan periksa apakah klaim dalam judul benar-benar didukung oleh data atau sumber yang jelas.
Hal yang sama perlu dilakukan terhadap video pendek dan unggahan media sosial. Informasi yang disampaikan dalam waktu beberapa detik sering kali tidak memberikan konteks secara lengkap.
Jangan menilai kebenaran informasi hanya berdasarkan banyaknya orang yang menyukai, membagikan, atau memberikan komentar.
Sebuah informasi dapat menjadi viral dan tetap saja tidak benar.
8. Periksa Alamat Situs dan Sumber Aslinya
Saat menemukan informasi di internet, perhatikan dari mana informasi tersebut berasal.
Jika sebuah artikel menyebutkan penelitian, kebijakan, data, atau pernyataan seseorang, usahakan mencari sumber aslinya.
Misalnya, sebuah artikel blog mengatakan bahwa "menurut penelitian tertentu". Jangan berhenti pada artikel blog tersebut. Jika memungkinkan, telusuri penelitian yang dimaksud.
Begitu pula dengan berita. Jika sebuah berita mengutip pernyataan pejabat atau lembaga, sumber resmi dapat digunakan untuk melakukan pengecekan.
Kebiasaan kembali ke sumber asli merupakan salah satu cara untuk mengurangi kesalahan ketika menggunakan informasi.
9. Jangan Langsung Menyalin Informasi
Literasi informasi juga berkaitan dengan etika.
Ketika menemukan artikel yang bagus, bukan berarti kita boleh menyalin seluruh isinya dan mengakuinya sebagai tulisan sendiri.
Jika informasi digunakan untuk tugas, artikel, makalah, atau konten, sumber perlu dicantumkan sesuai kebutuhan.
Mencantumkan sumber menunjukkan bahwa kita menghargai karya orang lain dan membantu pembaca menemukan informasi yang menjadi rujukan.
Dalam lingkungan pendidikan, kebiasaan mencantumkan sumber juga membantu siswa belajar membuat karya yang bertanggung jawab.
Literasi informasi dengan demikian tidak berhenti pada kemampuan menemukan informasi. Kita juga perlu memahami bahwa informasi memiliki nilai dan penggunaannya memiliki konsekuensi. ACRL memasukkan konsep Information Has Value sebagai salah satu bagian penting dalam kerangka literasi informasi.
10. Pahami Hak Cipta dan Privasi
Informasi yang tersedia di internet bukan berarti bebas digunakan tanpa batas.
Foto, tulisan, ilustrasi, video, buku digital, dan berbagai karya lainnya dapat memiliki hak cipta.
Karena itu, sebelum menggunakan karya orang lain, periksa ketentuan penggunaannya.
Selain hak cipta, privasi juga perlu diperhatikan.
Jangan menyebarkan nomor telepon, alamat, foto pribadi, dokumen, atau informasi seseorang tanpa mempertimbangkan izin dan kepentingan orang tersebut.
Hal ini semakin penting ketika menggunakan media sosial dan berbagai platform digital.
Literasi informasi bukan hanya tentang "benar atau salah", tetapi juga tentang bagaimana kita menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
11. Cara Sederhana Mengecek Informasi Sebelum Membagikannya
Sebelum meneruskan informasi kepada orang lain, kita dapat menggunakan pemeriksaan sederhana berikut:
Kebiasaan sederhana tersebut dapat diterapkan oleh siswa, guru, pustakawan, orang tua, maupun pengguna internet secara umum.
Literasi Informasi untuk Siswa Sekolah
Literasi informasi sebaiknya diperkenalkan sejak anak mulai terbiasa mencari informasi.
Di sekolah, kegiatan ini tidak harus selalu dilakukan melalui pelajaran khusus.
Guru dan pustakawan dapat mengajarkannya melalui kegiatan sederhana.
Misalnya, siswa diminta mencari informasi tentang hewan tertentu dari internet. Setelah menemukan beberapa halaman, siswa tidak langsung menyalinnya.
Mereka dapat diminta membandingkan:
siapa penulisnya;
kapan artikel diterbitkan;
dari situs mana informasi berasal;
apakah ada sumber pendukung;
apakah informasi dari dua situs berbeda sama;
bagian mana yang merupakan fakta dan mana yang merupakan pendapat.
Kegiatan seperti ini dapat dilakukan dalam waktu singkat dan sekaligus melatih kemampuan membaca kritis.
Perpustakaan sekolah juga dapat mengambil peran dengan menyediakan buku, sumber digital, serta kegiatan literasi informasi yang sesuai dengan usia siswa.
UNESCO menempatkan perpustakaan, lembaga pendidikan, dan berbagai penyedia informasi sebagai bagian penting dalam ekosistem literasi media dan informasi.
Peran Pustakawan dalam Literasi Informasi
Pustakawan tidak hanya bertugas mengelola koleksi dan melayani peminjaman buku.
Dalam perkembangan lingkungan informasi digital, pustakawan juga dapat membantu pengguna menemukan dan menggunakan sumber informasi secara tepat.
Di sekolah, peran tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana, misalnya:
mengenalkan cara mencari informasi di katalog perpustakaan;
mengajarkan cara menggunakan kata kunci;
mengajak siswa membandingkan buku dan sumber internet;
mengenalkan sumber informasi yang dapat dipercaya;
mengajarkan cara mencantumkan sumber;
membuat kegiatan cek fakta sederhana;
mengenalkan etika menggunakan informasi digital.
Kegiatan tersebut tidak harus selalu berupa pelatihan formal. Literasi informasi dapat disisipkan dalam aktivitas membaca, tugas sekolah, diskusi, dan layanan perpustakaan.
Literasi Informasi Bukan Berarti Tidak Boleh Mempercayai Internet
Ada anggapan bahwa literasi informasi berarti kita harus selalu mencurigai semua informasi di internet.
Sebenarnya bukan demikian.
Tujuan literasi informasi bukan membuat seseorang menjadi curiga terhadap semua sumber, melainkan membuat seseorang mampu mengambil keputusan berdasarkan pemeriksaan yang masuk akal.
Internet menyediakan banyak sumber informasi yang sangat bermanfaat. Situs pemerintah, perpustakaan digital, perguruan tinggi, jurnal ilmiah, lembaga pendidikan, dan berbagai organisasi menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk belajar.
Yang diperlukan adalah kebiasaan memilih dan memeriksa.
Dengan kata lain, masalahnya bukan apakah informasi berasal dari internet atau bukan. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menilai dan menggunakan informasi tersebut.
Kebiasaan Kecil untuk Meningkatkan Literasi Informasi
Kemampuan literasi informasi tidak harus dipelajari sekaligus.
Kita dapat memulainya dari kebiasaan sederhana.
Setiap kali menemukan informasi menarik, biasakan bertanya:
"Dari mana informasi ini berasal?"
Kemudian lanjutkan dengan:
"Apakah ada sumber lain yang mendukung?"
Jika informasi digunakan untuk tugas atau tulisan, tambahkan pertanyaan:
"Apakah saya sudah mencantumkan sumbernya?"
Jika informasi akan dibagikan:
"Apakah informasi ini sudah saya periksa?"
Empat pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi kebiasaan yang membantu kita lebih berhati-hati dalam menggunakan informasi.
Penutup
Di tengah banyaknya informasi yang tersedia, kemampuan mencari informasi saja tidak lagi cukup. Kita perlu memiliki kemampuan untuk menentukan kebutuhan informasi, menggunakan kata kunci yang tepat, memeriksa sumber, melihat tanggal publikasi, membandingkan informasi, membedakan fakta dan pendapat, serta menggunakan informasi secara etis.
Itulah bagian penting dari literasi informasi.
Bagi siswa, kemampuan ini membantu mereka mengerjakan tugas dengan sumber yang lebih baik. Bagi guru, literasi informasi dapat mendukung proses pembelajaran. Bagi pustakawan, kemampuan ini dapat menjadi bagian dari layanan dan program literasi perpustakaan. Sementara bagi masyarakat umum, literasi informasi membantu menghadapi banyaknya informasi yang beredar setiap hari.
Pada akhirnya, menjadi pengguna informasi yang baik bukan berarti mengetahui semua hal. Yang lebih penting adalah mengetahui cara mencari, memeriksa, memahami, dan menggunakan informasi dengan benar.
Referensi
Association of College and Research Libraries. (2016). Framework for information literacy for higher education. American Library Association.
Grizzle, A., Wilson, C., Gordon, D., Tuazon, R., Cheung, C. K., Lau, J., Fischer, R., Akyempong, K., Singh, J., Carr, P. R., Stewart, K., Tayie, S., Suraj, O., Jaakkola, M., Thésée, G., Gulston, C., Andzongo Menyeng, B. P., & Fama, P. A. (2021). Media and information literate citizens: Think critically, click wisely! Media & information literacy curriculum for educators & learners. UNESCO.
UNESCO. (2021). Media and information literacy for global communication and learning. UNESCO.
Thanks for reading Literasi Informasi: Cara Mencari, Mengecek, dan Menggunakan Informasi dengan Benar. Please share...!
0 Komentar untuk "Literasi Informasi: Cara Mencari, Mengecek, dan Menggunakan Informasi dengan Benar"