-->

"Jelajahi perpustakaan: literasi, pengetahuan, dan rekomendasi bacaan tanpa batas!"

Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi ruang tumbuhnya ide, karakter, dan masa depan. Setiap halaman yang dibaca adalah langkah kecil menuju perubahan besar dalam hidup seseorang.

Transformasi Digital Perpustakaan di Era AI: Pelajaran dari KPDI ke-16 Tahun 2025



Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah berbagai bidang kehidupan, termasuk cara masyarakat mencari, mengakses, mengolah, dan menggunakan informasi. Perpustakaan sebagai lembaga yang memiliki tugas penting dalam menyediakan akses pengetahuan tentu tidak dapat mengabaikan perubahan tersebut.

Jika dahulu transformasi digital perpustakaan sering dipahami sebatas mengubah koleksi cetak menjadi format digital, saat ini pengertiannya sudah jauh lebih luas. Perubahan juga menyentuh cara pustakawan memberikan layanan, cara pengguna menemukan informasi, bagaimana data dikelola, bagaimana keamanan sistem dijaga, serta bagaimana teknologi kecerdasan buatan dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-16 Tahun 2025 yang diselenggarakan di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada 19–21 Agustus 2025.

Konferensi tersebut mengangkat tema “Transformasi Digital: Peluang, Tantangan, dan Kesiapan Perpustakaan di Era Kecerdasan Buatan.” Kegiatan ini mempertemukan pustakawan, akademisi, pengelola perpustakaan, peneliti, pemerintah, serta berbagai pemangku kepentingan untuk membahas arah perkembangan perpustakaan di tengah perubahan teknologi.

Bagi perpustakaan di Indonesia, KPDI ke-16 tidak hanya menarik sebagai sebuah konferensi nasional. Gagasan yang dibahas di dalamnya dapat menjadi bahan refleksi bagi setiap pengelola perpustakaan, termasuk perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, perpustakaan perguruan tinggi, dan perpustakaan khusus.

Pertanyaannya bukan lagi apakah perpustakaan akan menggunakan teknologi digital.

Pertanyaannya adalah:

Seberapa siap perpustakaan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas layanan tanpa kehilangan nilai kemanusiaan, etika, keamanan, dan fungsi pendidikan?


KPDI ke-16: Momentum Membicarakan Masa Depan Perpustakaan

Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia atau KPDI merupakan salah satu forum yang mempertemukan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pengembangan perpustakaan digital di Indonesia.

KPDI ke-16 tahun 2025 diselenggarakan di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, yaitu 19 sampai 21 Agustus 2025. Konferensi ini dibuka oleh Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, E. Aminudin Aziz, dan dihadiri peserta dari berbagai institusi di Indonesia.

Perpusnas menyebutkan bahwa konferensi tersebut diikuti oleh 125 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari perpustakaan perguruan tinggi, kementerian dan lembaga, dinas perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah, hingga perwakilan perpustakaan Kedutaan Besar Australia.

Keberagaman peserta tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital bukan persoalan satu jenis perpustakaan saja.

Perpustakaan sekolah menghadapi tantangan digital.

Perpustakaan perguruan tinggi juga menghadapi tantangan digital.

Perpustakaan umum harus mengikuti perubahan perilaku masyarakat.

Begitu pula perpustakaan khusus yang harus menyediakan informasi sesuai kebutuhan organisasi masing-masing.

Dengan demikian, transformasi digital merupakan agenda bersama.


Digitalisasi Perpustakaan Bukan Sekadar Mengubah Buku Menjadi Digital

Salah satu gagasan penting yang disampaikan dalam KPDI ke-16 adalah perlunya memahami digitalisasi secara lebih luas.

Perpustakaan digital bukan sekadar perpustakaan yang memiliki koleksi dalam bentuk PDF, e-book, atau dokumen elektronik.

Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz menekankan bahwa ketika berbicara mengenai perpustakaan digital, seluruh layanan perlu memiliki orientasi digital. Artinya, perubahan tidak berhenti pada koleksi, tetapi juga menyangkut pola pikir dan desain layanan.

Pemahaman ini sangat penting.

Bayangkan sebuah perpustakaan memiliki ribuan dokumen digital, tetapi pengguna masih kesulitan menemukannya.

Atau perpustakaan sudah memiliki katalog daring, tetapi informasinya tidak diperbarui.

Atau perpustakaan memiliki media sosial, tetapi tidak digunakan untuk memberikan informasi yang bermanfaat.

Dalam kondisi tersebut, perpustakaan memang sudah menggunakan teknologi, tetapi belum tentu mengalami transformasi digital secara menyeluruh.

Transformasi digital seharusnya menjawab beberapa kebutuhan.

Bagaimana pengguna menemukan informasi?

Bagaimana pengguna mendapatkan bantuan?

Bagaimana layanan dapat diakses lebih mudah?

Bagaimana data dimanfaatkan untuk memperbaiki layanan?

Bagaimana keamanan informasi dijaga?

Bagaimana pustakawan menyesuaikan kompetensinya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar pertanyaan:

“Apakah perpustakaan sudah memiliki aplikasi?”

Mengapa AI Menjadi Perhatian Penting bagi Perpustakaan?

Kecerdasan buatan berkembang sangat cepat.

Masyarakat kini dapat menggunakan AI untuk membuat teks, menerjemahkan informasi, meringkas dokumen, mencari ide, menganalisis data, hingga berinteraksi melalui chatbot.

Perubahan tersebut juga memengaruhi perilaku pencarian informasi.

Pengguna perpustakaan mungkin tidak selalu membuka katalog, membaca daftar pustaka, atau melakukan pencarian secara manual seperti sebelumnya.

Mereka dapat bertanya kepada sistem:

“Buku apa yang cocok untuk saya?”

“Carikan referensi tentang perubahan iklim.”

“Apa saja koleksi perpustakaan tentang sejarah Indonesia?”

“Jelaskan isi dokumen ini.”

Kondisi tersebut membuka peluang baru bagi perpustakaan.

AI dapat digunakan untuk membantu pengguna menemukan informasi secara lebih cepat.

Namun, AI juga membawa tantangan.

Informasi yang dihasilkan AI tidak selalu benar.

AI dapat menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan tetapi ternyata keliru.

AI juga dapat menimbulkan persoalan mengenai privasi, hak cipta, keamanan data, bias, dan etika penggunaan informasi.

Karena itu, perpustakaan tidak hanya perlu menggunakan AI, tetapi juga perlu mengajarkan masyarakat bagaimana menggunakan AI secara kritis dan bertanggung jawab.

Isu Strategis yang Dibahas dalam KPDI ke-16

Menurut Perpusnas, KPDI ke-16 membahas sejumlah isu strategis yang berkaitan dengan masa depan perpustakaan digital. Di antaranya adalah literasi media, data dan AI, pemberdayaan masyarakat, penguatan peran pustakawan, perilaku dan etika informasi, penggunaan AI, robotika dan aplikasi di perpustakaan, pelestarian dokumenter berbasis AI, serta ketahanan dan keamanan perpustakaan digital.

Dari berbagai isu tersebut, terdapat beberapa pelajaran yang sangat relevan untuk pengelola perpustakaan.

1. Literasi AI Menjadi Bagian dari Literasi Informasi

Pada masa lalu, literasi informasi banyak membahas kemampuan menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan sumber informasi.

Sekarang, kemampuan tersebut perlu diperluas.

Pengguna juga perlu memahami:

  • bagaimana AI menghasilkan jawaban;

  • bagaimana memeriksa kebenaran informasi;

  • bagaimana membandingkan jawaban AI dengan sumber terpercaya;

  • bagaimana menggunakan AI secara etis;

  • bagaimana menjaga data pribadi;

  • bagaimana menghindari ketergantungan pada AI.

Di sinilah pustakawan dapat mengambil peran penting.

Pustakawan tidak harus menjadi ahli pemrograman.

Namun, pustakawan perlu memahami dasar penggunaan AI agar mampu membantu pengguna menghadapi lingkungan informasi yang semakin kompleks.

2. Pustakawan Perlu Beradaptasi, Bukan Tergantikan

Kemunculan AI terkadang menimbulkan kekhawatiran bahwa teknologi akan menggantikan pekerjaan pustakawan.

Namun, persoalannya tidak sesederhana itu.

AI dapat membantu pekerjaan tertentu, tetapi pustakawan tetap memiliki fungsi yang tidak mudah digantikan oleh mesin.

Pustakawan memahami konteks kebutuhan pengguna.

Pustakawan dapat membantu memilih sumber yang relevan.

Pustakawan dapat memberikan pendampingan.

Pustakawan dapat mengajarkan etika informasi.

Pustakawan juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga koleksi, data, layanan, dan hubungan dengan masyarakat.

Karena itu, teknologi sebaiknya dipandang sebagai alat bantu untuk memperkuat pekerjaan pustakawan, bukan semata-mata sebagai pengganti manusia.

Justru, semakin berkembang teknologi, semakin penting kemampuan pustakawan untuk memahami informasi secara kritis.

3. Chatbot AI Mulai Menjadi Salah Satu Bentuk Inovasi Layanan

Salah satu contoh konkret yang menarik dari KPDI ke-16 datang dari UPT Perpustakaan Universitas Brawijaya (UB).

Perpustakaan UB mempresentasikan lima makalah dalam KPDI ke-16. Salah satu makalah mereka meraih penghargaan tingkat nasional melalui inovasi chatbot AI untuk perpustakaan.

Makalah tersebut berjudul:

“Deployment Chatbot AI yang Efektif Biaya di Perpustakaan: Pendekatan Berbasis Docker Menggunakan Llama Model LLM untuk Peningkatan Aksesibilitas Informasi dan Pengalaman Pengguna.”

Menurut Perpustakaan UB, chatbot tersebut menggunakan pendekatan berbasis Docker, Ollama, Open WebUI, dan model bahasa besar Llama 3.1. Sistem dapat dijalankan secara lokal tanpa bergantung pada server eksternal dan mampu memberikan jawaban kontekstual berdasarkan dokumen perpustakaan dengan akurasi hingga 85 persen dalam pengujian yang mereka laporkan.

Inovasi tersebut menarik bukan karena kata “AI”-nya saja.

Yang lebih penting adalah masalah layanan apa yang ingin diselesaikan.

Chatbot dapat diarahkan untuk membantu pengguna memperoleh informasi dasar secara lebih cepat.

Misalnya:

“Bagaimana cara meminjam buku?”

“Di mana menemukan koleksi skripsi?”

“Apa saja koleksi tentang pendidikan?”

“Bagaimana cara menggunakan layanan perpustakaan?”

Dengan demikian, teknologi AI dapat menjadi lapisan tambahan dalam layanan referensi.

Namun, chatbot tidak seharusnya menjadi satu-satunya sumber informasi.

Untuk pertanyaan kompleks, pengguna tetap perlu mendapatkan akses kepada pustakawan atau sumber informasi yang lebih lengkap.

Apa yang Bisa Dipelajari Perpustakaan Sekolah?

Contoh chatbot AI dari perpustakaan perguruan tinggi tentu tidak dapat langsung diterapkan begitu saja di perpustakaan sekolah.

Kebutuhan, anggaran, infrastruktur, usia pengguna, dan kemampuan SDM berbeda.

Namun, prinsipnya dapat diadaptasi.

Perpustakaan sekolah dapat memulai dari teknologi yang sederhana.

Misalnya:

Katalog Digital

Siswa dapat mengetahui koleksi yang tersedia tanpa harus membuka rak satu per satu.

Barcode

Proses peminjaman dan pengembalian dapat dilakukan lebih cepat.

Database Anggota

Data anggota dapat dikelola secara lebih terstruktur.

Formulir Digital

Pendaftaran anggota atau survei kepuasan dapat dilakukan secara daring.

Media Sosial

Informasi buku baru dan kegiatan literasi dapat dipublikasikan secara berkala.

Asisten AI

Jika infrastruktur memungkinkan, AI dapat dimanfaatkan secara terbatas untuk membantu membuat rekomendasi bacaan atau menjawab pertanyaan sederhana dengan tetap melalui pengawasan pustakawan.

Artinya, transformasi digital tidak harus langsung besar-besaran.

Perpustakaan dapat memilih bagian layanan yang paling membutuhkan perbaikan.

Transformasi Digital Harus Dimulai dari Masalah

Kesalahan yang sering terjadi dalam modernisasi perpustakaan adalah memulai dari teknologi.

Misalnya:

“Kita harus punya AI.”

“Kita harus punya aplikasi.”

“Kita harus punya chatbot.”

Padahal pertanyaan yang seharusnya muncul lebih dahulu adalah:

“Masalah layanan apa yang ingin kita selesaikan?”

Misalnya, jika masalahnya adalah pengguna sulit menemukan buku, solusinya dapat berupa katalog digital.

Jika masalahnya adalah pencatatan peminjaman masih lambat, solusinya dapat berupa otomasi sirkulasi.

Jika masalahnya adalah pengguna tidak mengetahui kegiatan perpustakaan, solusinya dapat berupa sistem komunikasi digital.

Jika masalahnya adalah pertanyaan pengguna sangat banyak dan berulang, barulah chatbot dapat dipertimbangkan.

Dengan pendekatan ini, teknologi menjadi solusi, bukan tujuan.

Tantangan Infrastruktur: Tidak Semua Wilayah Memiliki Akses yang Sama

Salah satu persoalan penting yang muncul dalam KPDI ke-16 adalah masalah infrastruktur.

Kepulauan Riau memberikan contoh yang menarik karena wilayahnya terdiri atas banyak pulau.

Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji, Agung Dhamar Syakti, menyoroti pentingnya infrastruktur, terutama akses internet, sebagai prasyarat transformasi digital. Tantangannya adalah memastikan masyarakat di wilayah yang tersebar, termasuk pulau-pulau terjauh, dapat menikmati akses terhadap informasi digital secara merata.

Persoalan ini sebenarnya juga relevan bagi banyak daerah di Indonesia.

Tidak semua sekolah memiliki jaringan internet stabil.

Tidak semua perpustakaan memiliki komputer yang memadai.

Tidak semua pustakawan mendapatkan pelatihan teknologi.

Tidak semua pengguna memiliki perangkat digital sendiri.

Karena itu, modernisasi perpustakaan harus memperhatikan kesenjangan digital.

Jangan sampai perpustakaan digital justru hanya dapat dimanfaatkan oleh pengguna yang sudah memiliki akses teknologi.

Perpustakaan tetap perlu mempertahankan layanan yang dapat digunakan oleh masyarakat yang memiliki keterbatasan perangkat maupun koneksi internet.

Keamanan Siber Menjadi Bagian dari Modernisasi Perpustakaan

Semakin banyak layanan perpustakaan dipindahkan ke sistem digital, semakin besar pula perhatian yang harus diberikan terhadap keamanan.

Data anggota, data peminjaman, dokumen digital, repositori, dan sistem informasi perpustakaan merupakan aset yang harus dilindungi.

KPDI ke-16 juga memasukkan ketahanan dan keamanan perpustakaan digital sebagai salah satu isu strategis.

Perpustakaan UPI bahkan mempresentasikan materi mengenai ancaman brute force berbasis bot AI terhadap repositori institusi. Materi tersebut menunjukkan bahwa ancaman digital bukan sekadar persoalan teknis yang hanya perlu diperhatikan oleh bagian teknologi informasi. Pengelola perpustakaan juga perlu memahami risiko keamanan yang berkaitan dengan sistem dan data yang mereka kelola.

Bagi perpustakaan sekolah, keamanan dapat dimulai dari hal sederhana.

Misalnya:

  • gunakan kata sandi yang kuat;

  • jangan menggunakan satu kata sandi untuk semua akun;

  • batasi akses terhadap data anggota;

  • lakukan pencadangan data secara berkala;

  • perbarui perangkat lunak;

  • jangan sembarangan membagikan data pribadi siswa;

  • gunakan akun resmi untuk pengelolaan perpustakaan;

  • lakukan pengaturan hak akses sesuai kebutuhan.

Hal-hal sederhana tersebut merupakan bagian dari budaya keamanan digital.

Etika AI: Teknologi Tidak Boleh Menghilangkan Tanggung Jawab Manusia

Kemampuan AI menghasilkan jawaban dalam hitungan detik tidak berarti semua jawaban tersebut dapat langsung dipercaya.

AI dapat membuat kesalahan.

AI dapat menghasilkan informasi yang tidak lengkap.

AI juga dapat memberikan jawaban yang bias tergantung pada data dan sistem yang digunakan.

Karena itu, pengguna harus memiliki kemampuan verifikasi informasi.

Perpustakaan dapat mengambil peran penting dengan mengajarkan prinsip sederhana:

Jangan langsung percaya.

Periksa sumbernya.

Bandingkan dengan referensi lain.

Pastikan informasi masih relevan.

Gunakan sumber yang kredibel.

Prinsip tersebut sangat penting terutama bagi pelajar.

Jika siswa terbiasa meminta jawaban AI tanpa memeriksa sumber, kemampuan berpikir kritis dapat melemah.

Sebaliknya, jika siswa diajarkan menggunakan AI sebagai alat bantu untuk menemukan ide kemudian melakukan verifikasi, AI dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran yang lebih baik.

Perpustakaan Perlu Menjadi Tempat Belajar tentang AI

Menariknya, perkembangan AI justru memberikan peluang baru bagi perpustakaan.

Perpustakaan dapat menjadi tempat masyarakat belajar mengenai teknologi tersebut.

Misalnya, perpustakaan sekolah dapat membuat kegiatan:

“Mengenal AI untuk Belajar”

Materinya dapat meliputi:

  • apa itu AI;

  • bagaimana AI bekerja secara sederhana;

  • manfaat AI untuk belajar;

  • keterbatasan AI;

  • cara memeriksa jawaban AI;

  • etika menggunakan AI;

  • keamanan data pribadi;

  • hak cipta dan AI.

Untuk masyarakat umum, program dapat dikembangkan menjadi:

“AI untuk Kehidupan Sehari-hari”

Misalnya membahas penggunaan AI untuk membuat ide usaha, menulis, merangkum dokumen, belajar bahasa, atau mengolah informasi.

Dalam konteks tersebut, perpustakaan tidak lagi hanya menjadi tempat untuk mencari informasi.

Perpustakaan menjadi tempat belajar bagaimana menghadapi dunia informasi baru.

Modernisasi Perpustakaan Tidak Harus Mahal

Pelajaran penting dari transformasi digital adalah bahwa modernisasi tidak selalu berarti membeli teknologi mahal.

Perpustakaan dapat memulai dari tahap yang paling sederhana.

Tahap 1: Digitalisasi Administrasi

Mulai dari data anggota, inventaris, dan pencatatan layanan.

Tahap 2: Digitalisasi Katalog

Pengguna dapat mencari koleksi melalui sistem katalog.

Tahap 3: Penguatan Komunikasi Digital

Perpustakaan memiliki media komunikasi yang aktif.

Tahap 4: Koleksi Digital

Jika memiliki hak dan sumber daya yang memadai, perpustakaan menyediakan akses terhadap koleksi digital.

Tahap 5: Analisis Data

Data peminjaman dan kunjungan digunakan untuk memahami kebutuhan pengguna.

Tahap 6: AI sebagai Pendukung

AI mulai dimanfaatkan untuk kebutuhan tertentu setelah sistem dasar siap.

Urutan tersebut lebih realistis dibandingkan langsung membeli sistem AI tanpa membangun fondasi digital terlebih dahulu.

Data Perpustakaan Dapat Menjadi Dasar Pengambilan Keputusan

Salah satu peluang besar dari transformasi digital adalah pemanfaatan data.

Perpustakaan sebenarnya memiliki banyak data.

Misalnya:

  • jumlah pengunjung;

  • buku yang paling banyak dipinjam;

  • buku yang jarang digunakan;

  • kelas yang paling aktif;

  • waktu kunjungan;

  • jenis koleksi yang diminati;

  • kegiatan yang paling banyak diikuti.

Data tersebut dapat digunakan untuk mengambil keputusan.

Jika data menunjukkan siswa kelas tertentu paling banyak membaca buku cerita, perpustakaan dapat menambah koleksi sejenis.

Jika buku tertentu tidak pernah dipinjam, pustakawan dapat mengevaluasi apakah buku tersebut tidak relevan atau justru tidak diketahui keberadaannya.

Jika kunjungan meningkat setelah kegiatan tertentu, program tersebut dapat dikembangkan.

Dengan demikian, teknologi bukan hanya membuat pekerjaan lebih cepat.

Teknologi dapat membantu perpustakaan mengambil keputusan berdasarkan data.

Masa Depan Pustakawan: Dari Penjaga Koleksi Menjadi Pengelola Ekosistem Informasi

Transformasi digital juga mengubah kompetensi yang dibutuhkan pustakawan.

Pustakawan masa kini tidak cukup hanya memahami pengolahan koleksi.

Pustakawan perlu memiliki kemampuan tambahan seperti:

  • literasi digital;

  • literasi data;

  • pemahaman AI;

  • keamanan informasi;

  • komunikasi digital;

  • analisis kebutuhan pengguna;

  • pengelolaan konten;

  • pemanfaatan media sosial;

  • kemampuan melakukan pelatihan.

Hal ini bukan berarti semua pustakawan harus menjadi programmer.

Tidak.

Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperbaiki layanan perpustakaan.

Jika teknologi tertentu terlalu kompleks, pustakawan dapat bekerja sama dengan tenaga IT.

Kolaborasi menjadi semakin penting.

Apa yang Harus Disiapkan Perpustakaan Indonesia?

Jika pelajaran dari KPDI ke-16 diterjemahkan menjadi agenda praktis, setidaknya ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan.

1. Peta Kondisi Digital

Perpustakaan perlu mengetahui kondisi saat ini.

Apakah sudah memiliki katalog digital?

Apakah data sudah tersimpan dengan baik?

Apakah koneksi internet memadai?

Apakah perangkat tersedia?

2. Peningkatan Kompetensi SDM

Pustakawan perlu mendapatkan pelatihan secara bertahap.

Tidak harus langsung belajar teknologi yang rumit.

Mulai dari kemampuan yang paling dibutuhkan.

3. Penguatan Keamanan

Sistem digital harus memiliki perlindungan yang memadai.

4. Kebijakan Pemanfaatan AI

Perpustakaan sebaiknya mulai menyusun aturan internal mengenai penggunaan AI, terutama terkait data, privasi, hak cipta, dan verifikasi informasi.

5. Pengembangan Layanan Berdasarkan Kebutuhan

Jangan membuat teknologi hanya karena sedang populer.

Pastikan ada masalah pengguna yang ingin diselesaikan.

6. Kolaborasi

Bekerja sama dengan sekolah, perguruan tinggi, komunitas, pemerintah daerah, dan lembaga teknologi dapat mempercepat proses transformasi.


Bagaimana Perpustakaan Sekolah Bisa Memulai Transformasi Digital?

Untuk perpustakaan sekolah dengan sumber daya terbatas, strategi bertahap jauh lebih realistis.

Misalnya, tahun pertama fokus pada:

25% koleksi masuk ke sistem digital.

Kemudian dilanjutkan dengan:

database anggota.

Berikutnya:

barcode koleksi.

Kemudian:

otomasi sirkulasi.

Setelah sistem dasar berjalan, perpustakaan dapat mulai memanfaatkan data layanan.

Barulah kemudian mempertimbangkan penggunaan AI.

Dengan pola bertahap, transformasi digital menjadi lebih terukur.

Yang penting bukan seberapa cepat perpustakaan menggunakan AI.

Yang lebih penting adalah seberapa baik teknologi tersebut meningkatkan layanan kepada pengguna.

KPDI ke-16 dan Pesan untuk Perpustakaan Indonesia

KPDI ke-16 memberikan gambaran bahwa perpustakaan Indonesia sedang menghadapi perubahan besar.

Perubahan tersebut bukan hanya mengenai perangkat teknologi.

Ada perubahan perilaku pengguna.

Ada perubahan cara memperoleh informasi.

Ada perubahan kebutuhan kompetensi pustakawan.

Ada tantangan keamanan.

Ada persoalan etika.

Ada kesenjangan akses.

Dan ada peluang besar untuk menciptakan layanan yang lebih cepat, mudah, dan relevan.

Konferensi tersebut diharapkan menjadi salah satu pijakan dalam pengembangan perpustakaan digital Indonesia yang modern, inklusif, dan berkelanjutan.

Pesan penting yang dapat diambil adalah bahwa perpustakaan tidak boleh tertinggal dari perkembangan teknologi, tetapi juga tidak boleh kehilangan orientasi kemanusiaannya.

Teknologi harus membantu manusia mendapatkan informasi dengan lebih baik.

AI harus digunakan secara bertanggung jawab.

Data harus dilindungi.

Pustakawan harus terus belajar.

Dan pengguna harus dibekali kemampuan untuk berpikir kritis.

Kesimpulan

Transformasi digital perpustakaan di era kecerdasan buatan bukan lagi sekadar pilihan jangka panjang. Perubahan teknologi telah memengaruhi cara masyarakat mencari dan menggunakan informasi sehingga perpustakaan perlu menyesuaikan layanan agar tetap relevan.

KPDI ke-16 Tahun 2025 di Tanjungpinang menjadi salah satu momentum penting untuk membahas persoalan tersebut. Konferensi ini mengangkat berbagai isu, mulai dari literasi media, data dan AI, etika informasi, aplikasi AI dan robotika, pelestarian digital, hingga keamanan perpustakaan digital.

Salah satu contoh konkret yang menarik adalah inovasi chatbot AI dari Perpustakaan Universitas Brawijaya. Inovasi tersebut menunjukkan bahwa AI dapat dikembangkan sebagai bagian dari layanan perpustakaan untuk membantu pengguna memperoleh informasi secara lebih mudah.

Namun, tidak semua perpustakaan harus langsung membuat chatbot.

Transformasi dapat dimulai dari hal sederhana.

Digitalisasi administrasi.

Katalog daring.

Database anggota.

Barcode.

Otomasi sirkulasi.

Media sosial.

Koleksi digital.

Analisis data.

Barulah kemudian teknologi AI dapat diterapkan sesuai kebutuhan.

Yang terpenting adalah teknologi harus mengikuti kebutuhan layanan, bukan sebaliknya.

Perpustakaan juga harus memastikan bahwa transformasi digital tidak menciptakan kesenjangan baru. Akses internet, perangkat, kompetensi SDM, keamanan data, dan literasi digital perlu menjadi bagian dari perencanaan.

Pada akhirnya, masa depan perpustakaan bukan tentang memilih antara manusia atau teknologi.

Masa depan perpustakaan adalah bagaimana manusia menggunakan teknologi dengan cerdas, kritis, etis, dan bertanggung jawab untuk memperluas akses terhadap pengetahuan.

Pustakawan tetap memiliki peran penting.

Buku tetap memiliki nilai.

Ruang perpustakaan tetap dibutuhkan.

Namun, semuanya perlu beradaptasi dengan lingkungan informasi yang baru.

Karena perpustakaan yang siap menghadapi era AI bukanlah perpustakaan yang paling banyak menggunakan teknologi.

Perpustakaan yang siap adalah perpustakaan yang mampu menggunakan teknologi untuk membuat layanan lebih mudah, informasi lebih terpercaya, pengguna lebih berdaya, dan pengetahuan semakin mudah diakses.




Referensi

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepulauan Riau. (2025, 20 Agustus). Bersama KPDI ke-16, transformasi digital peluang, tantangan dan kesiapan perpustakaan di era kecerdasan buatan. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. https://dpk.kepriprov.go.id/

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepulauan Riau. (2025, 20 Agustus). Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia ke-16 tahun 2025 di Tanjungpinang resmi dibuka. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. https://dpk.kepriprov.go.id/

Forum Perpustakaan Digital Indonesia. (2025). Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia ke-16. Forum Perpustakaan Digital Indonesia.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2025, 21 Agustus). Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia ke-16: Dorong transformasi perpustakaan di era kecerdasan buatan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. https://www.perpusnas.go.id/

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2025, 19 Agustus). Kepala Perpusnas buka KPDI ke-16 di Tanjungpinang: Perpustakaan hadapi transformasi di era kecerdasan buatan. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. https://www.perpusnas.go.id/

Pusat Data dan Teknologi Informasi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025, 20 Agustus). Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia ke-16 tahun 2025. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. https://pusdatin.kemendikdasmen.go.id/

Universitas Brawijaya, UPT Perpustakaan. (2025). Lima paper Perpus UB tembus KPDI, chatbot AI raih juara nasional. Universitas Brawijaya. https://lib.ub.ac.id/

Universitas Pendidikan Indonesia, UPI Central Library. (2025, 25 Agustus). Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia ke-16: Menggali peluang dan tantangan dalam transformasi digital perpustakaan di era kecerdasan buatan. Universitas Pendidikan Indonesia. https://perpustakaan.upi.edu/

Universitas Maritim Raja Ali Haji. (2025, 21 Agustus). KPDI ke-16 di Kepri: Bahas transformasi digital pada perpustakaan di era kecerdasan buatan. Universitas Maritim Raja Ali Haji. https://umrah.ac.id/

Labels: digital

Thanks for reading Transformasi Digital Perpustakaan di Era AI: Pelajaran dari KPDI ke-16 Tahun 2025. Please share...!

0 Komentar untuk "Transformasi Digital Perpustakaan di Era AI: Pelajaran dari KPDI ke-16 Tahun 2025"

Back To Top